Makan Malam Poskolonial

Maukah kau menraktirku makan malam di bistro Western di bilangan Gondangdia? Di sana aku akan memesan Fanon, Mbembe, dan Spivak, seraya pelan-pelan membiarkan Soekarno memenuhi gendang telingaku. Di atas meja, saus sambal berdiri gagah di samping mustard. Dan aku akan menceritakanmu sebuah kisah dari Banda, ketika kapal-kapal VOC itu…

Piring-piring putih kemudian disajikan. Lengkap dengan makanan-makanan orang kulit putih. Daging babi kuiris-iris. Darahnya luber hingga menggenang ke lantai yang putih pula. Oh putih-putih ini terasa terlalu menyilaukan. Malam jadi terang benderang. Di meja sebelah, sepasang bule totok dan seorang Indo tertawa keras bersama aksen Limburg yang khas.

Di perutmu, kau akan menimbun kentang-kentang gendut yang dikemas ala Germania. Lalu, Thüringer Bratwurst akan menyelip di sela-sela gigimu yang bengkok oleh garpu, yang entah dibikin di pabrik mana, mungkin Cina atau Bangladesh. Secarik serbet akan mengelap sisa-sisa kolonialisme di bibirmu. Dan aku akan membersihkannya total dengan sebuah ciuman antikolonial.

Setelah makan adalah minum. Bintang kecil di langit yang tidak-biru, demikian kau bernyanyi dan bersendawa di atas meja. Dan aku mengaduk-aduk Carlsberg dengan jari telunjukku yang basah oleh neoliberalisme, dan jari tengahku oleh falsafah Skandinavia. Di balik kerongkongkan, aku membayangkan Tuborg yang kutenggak di Kopenhagen, pada 31 Desember, sebelum tahun baru memberiku alasan baru untuk membenci oligarki.

Haruskah kita memesan dessert? Semacam gelato artisanal yang kau genggam di Assisi, atau seperti stroopwafel yang meleleh di lidahku? Atau mungkin kita sebaiknya menyelesaikan makan malam ini dengan selembar manifesto dari periferi. Aku akan memindahkan Bandung ke utara, agar orang-orang Rusia dan Amerika paham soal jalan ketiga, keempat, kelima, etcetera. Agar anak-anak selatan tak lagi sungkan menyembah kura-kura.

Advertisements

USA & Jakarta

Tiba-tiba pikiran saya tiba di Modena, pada suatu sore musim panas yang cerah.

Saya hendak menuju Soliera untuk sebuah konser. Sambil menunggu teman datang menjemput, saya duduk-duduk di common room Ostello San Filippo Neri. Saat itu, televisi menyetel laga fase gugur Piala Dunia, Brazil vs Belgia. Saya duduk semeja dengan seorang ibu paruh baya. Saya berbasa-basi dengannya.

Pertanyaan basa-basi paling basa-basi di hostel-hostel adalah: where are you come from? (Belakangan saya menghindari pertanyaan semacam ini, yang rasanya mengabaikan berbagai pengalaman sosio-kultural kita yang kompleks dengan berbagai tempat. Seakan-akan dari mana berasal lebih penting dimana kau merasa berada di rumah.)

“I am from North America,” jawabnya. Dahi saya terkenyit. Amerika Utara?

Dia seperti membaca kernyit di dahi saya, lalu menimpali: “I’m from California”. Lega rasanya mendengar jawaban itu.

Lalu ia terus meracau tentang kenapa ia menjawab “North America”, bukan “USA” atau “US” seperti lazimnya pejalan-pejalan lain dari sana. Ia menyadari “USA” mengandung konotasi yang negatif di dunia. Seakan-akan menjadi “US citizen” adalah semacam dosa sejarah. Ia menyebut beberapa hal seperti perang, Hollywood, cultural imperialism, dan lain-lain. Ia menyadari posisinya sebagai seseorang yang berasal dari sebuah tempat yang (potensial) dipandang sebagai biang kerok oleh banyak orang lain di dunia.

Saya teringat waktu-waktu yang saya habiskan dalam perjalanan di banyak tempat di Indonesia. Ketika ditanya dari mana saya berasal, jawaban paling mudah tentu saja adalah “Jakarta”, karena orang-orang akan langsung mengetahuinya, walau sebenarnya saya tinggal di Depok. Depok, pikir saya, hanya akan mengundang pertanyaan lanjutan: “Dimana tuh Depok?” Dan, ujung-ujungnya saya akan menjawab “Jakarta”.

Jadi, seringkali, saya justru menyebut Bogor. “Saya dari Bogor, Jawa Barat,” ucap saya kepada banyak orang di daerah-daerah lain yang bukan di Jawa. Seakan-akan dengan jawaban itu saya melarikan diri dan menghindar dari konotasi negatif yang diemban Jakarta, dimana kekuasaan negara terpusat, dimana kebijakan-kebijakan didesain untuk mengatur (atau tidak mengatur) warga sipil, termasuk mereka yang ada di tempat-tempat yang amat jauh dari “pusat”.

Saya menegasikan relasi saya dengan Jakarta, seperti ibu paruh baya di Modena menegasikan relasinya dengan USA. Mungkin karena kami sama-sama menganggap dan menyadari bahwa daerah/negara asal kami bukan tempat yang syahdu dan lebih banyak mencetak petaka daripada harapan. Jakarta dan Amerika, dimana sinonim “pusat” sering diletakkan di atasnya, bukanlah kata yang kami suka.

Maka, ia menyebut “North America” dan saya menyebut “Bogor”. Begitulah.

(Cepu, 13 Juli 2019)

Semenjana #5

I see mediocrity as a neutral category to portray ontological projects of people living in urban context. Mediocrity, at best, is an escape from urban delirium. Work, traffic, and money have captured us, making us enjoying a state of being okay with un-okay stuffs on the road, inside the cubicle, and in front of the ATM.

Being mediocre, I begin to understand, is a wise tactic of surfing on the chaos. It’s okay to be not okay, as it happens to most people, especially the urban middle class. In this sense, we break away from the dreams we always revise and the misplaced hopes put on us by others (parents, universities, state, friends, bosses).

We were raised with too much superlatives, I suppose. Then, we were taught to accumulate anything, material things or immaterial desires. I blame a fallen Berlin wall that has given us this neoliberal mind of dreaming on accumulating, of accumulating the superlatives, of telling lies about changing the world.

Then comes the revelation: mediocrity. I use it as a heuristic method to understand the urban dwellings, in which I was/am a part of. After all the screams and spirits of revolutionizing anything (digital, economy, football, and else), we should now stop a bit. We talk/work/dream/change/accumulate too much anyway.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #4

Danijel Subotic. Saya membayangkan kenapa dia pergi meninggalkan Eropa dan berakhir di Kuwait. Pada sebuah malam, ia mencetak gol ke gawang Persipura. Gol itu yang membuat saya mula-mula merenungi soal kesemenjanaan ini. Apa salahnya menjadi medioker di dunia yang serba menuntut?

Subotic yang kosmopolit. Lahir di Zagreb, paspor Swiss & Serbia, malang-melintang di banyak negara. Ia memulai di Swiss, lari ke Inggris, lalu Italia, dan setelahnya berangkat ke timur: Romania, Ukraina, dan Azerbaijan. Hingga akhirnya ia tiba di Kuwait pada 2014. (Setelah itu Moldova, Korea, dan Kazakhstan.)

Saya membayangkan Subotic sebagai sampel. Anak-anak yang mengasah mimpinya untuk menjadi semacam Beckham atau Del Piero. Awalnya, semua baik-baik saja. Lalu usia bertambah, dan kenyataan tak bisa dikibuli. Mimpi-mimpi terus direvisi. Good bye, Becks, we are going east. We are going nowhere.

Apa salahnya menjadi biasa-biasa saja? Lewat golnya, di layar tv, Subotic seperti bertanya ke saya: apa salahya bermain di Qadsia dan membobol Persipura? Fuck the Alps, fuck Premier League. Dan semuanya baik-baik saja. Ia terus bermain bola dan mencari gawang berikutnya untuk dirobek. Tor!

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #3

Detil-detil yang mengosongkan kepalaku terjadi pada pukul 2.40 dinihari. Saat itu matahari belum tampak di timur dan kita terpaksa menyusun nyala dari lidi-lidi yang dirapatkan. Kita akan menanam pagi dengan puisi, dengan lukisan tentang perempuan yang buah dadanya menyala seperti api di Etna.

Ketika sepakbola dimainkan, aku melupakan hal-hal. Seperti ombak di Siberut. Kita perlu senjata untuk amnesia. Melupakan adalah sebuah seni yang masing-masing memelajarinya saat beranjak remaja. Ingatan itu mengerikan. Tapi, alzheimer juga. Kita terjebak pada dua kengerian yang terus menghimpit.

C’est la vie. Bangunan-bangunan tua di Lyon telah bicara tentang manusia yang terjebak nostalgi. Mereka bergerak maju dengan kepala yang diputar ke belakang. Sebenarnya, kita tak pernah hidup hari ini. Cuma kemarin atau lusa. Yang asing adalah sekarang. Mungkin karena itukah kita selalu bermuram durja?

Eropa membawaku ke sudut-sudut yang baru untuk mengerti misteri. Dan aku dibiarkannya tersesat di lorong-lorong gelap, penuh alkohol dan pelacur-pelacur dari Siberia. Saat aku keluar, aku menemukan diriku di belantara yang absurd. Di sana, cuma ada bayangan-bayangan samar tentang entah-apa.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #2

Perempuan itu terus melantur entah tentang apa. Bibirnya bicara a, tapi suaranya soal b. Semuanya surreal, seperti sebuah mimpi di malam yang becek. Jakarta Raya, pukul 7 petang, mengandung wangi keringat dan nestapa. Hari berakhir, dan gelas-gelas wiski diputar di dalam lingkaran. Hompimpaalaiumgambreng.

Adalah teduh pohon di samping warung Mang Kus. Ia telah jadi semacam refuge dari deadline, jadwal liputan, dan omong kosong bikinan hrd. Terduduklah kita di bangku seadanya di sana dan kita tak dituntut menjadi apa-apa. Kecuali manusia yang bercerita tentang aiueo dan xyz yang tak melulu soal kerja, kerja, kerja.

Melankolia telah kucampur dengan es dawet. Dan aku memesan teori dari Amerika untuk menjelaskan kenapa kota menjadi ruwet. Park dan Habermas mengisi layar komputer, lalu sistem mendadak mandek. Sebentar, mari kita pergi ke bawah dan memencet klakson. Tut, tut, tut. “Hai kota yang tua bangka.”

Seperti itulah hari-hariku terselip di laci, pada sebuah kubikel yang peyot di Bona Indah. Sebelas bulan terbaik. Tanpa hierarki yang mengular dari Palmerah sampai Panjang. Tanpa embel-embel #1, t.o.p, dan superlatif lain. Kita tak harus jadi apa-apa, kecuali manusia yang berbagi keluh kesah di sore merekah.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #1

Aku ingin mematikan lampu sekarang juga. Terang memberiku pening dan cahaya membuatku mengingat siang musim panas di Perugia. Tanah-tanah Umbria takkan baik untuk tidurku yang gusar, yang penuh mimpi-mimpi dari kecemasan yang menganga. Seperti seekor dinosaurus yang takut digusur epoch.

Tak ada anggur merah di sini. Tak ada kota-kota yang menangisi sunyi dengan patung di depan gereja. Dialog di kepalaku semakin menjadi-jadi. Arah mata angin melukis ulang namanya di buku catatan berjudul “Hari-hari yang Membosankan di Tenggara”. Dan kertas pun linglung, kompas berputar 27x per 3.5 detik.

Kubikelku di Kebon Jeruk masuk ke dalam memorabilia. Del Piero di kamarku menjadi saksi. Malam-malam yang panjang, dengan dengung televisi di belakang dan asap rokok di meja sebelah. Tik-tok-tik-tok. Keyboard komputer diinjak telunjuk. Layar berpindah kesana-kemari. Seperti berita yang berlari-lari.

Kill your darlings. Sebuah pesan di surel meletup. “Show me the man who both happy and sober.” Menjadi tua di kota ini adalah sebuah kesalahan yang tak bisa di-cancel. Apa jadinya undo di kehidupan nyata? Mungkin khaos. Mungkin damai sejahtera. Tapi, kita jadi tak butuh gereja untuk menangisi Yesus yang malang.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Para Peziarah di Santiago

Santiago de Compostela, pada sebuah musim dingin yang basah.

Stasiun basah. Apa-apa basah. Kota jadi murung. Saya melangkahi pusat kota dengan wangi burger yang menguar ke jalan. Di Parque de Alameda, segala jadi lebih sendu. Pohon-pohon tanpa daun menanti datangnya musim semi. Langit kian kelam, malam menjelang. Saya tiba di hostel sebelum gelap merayap.

Roots and Boots nama hostelnya. Saya naik ke dorm dan mendapati jendela yang menganga. Katedral ada di seberang. Ia tampak kecil dari lantai dua hostel. Gagah menjulang, meski ditopang besi-besi restorasi. Di Eropa, orang tergila-gila pada masa lalu. Maka, bangunan tua direstorasi dan nostalgia dipupuki.

Nostalgia. Itu juga yang membawa saya ke Galicia, di barat laut Spanyol. Tujuan awal saya ialah A Coruna, kota pesisir yang berbatasan langsung dengan Atlantik. Saya hendak mencari jejak Deportivo La Coruna, klub sepak bola yang ketika saya kecil hingga memasuki masa remaja sedang bagus-bagusnya.

Namun, tak ada penginapan murah di kota itu. Maka saya melipir ke Santiago. Menginap di sana dan ke A Coruna pulang-pergi naik kereta. Kedua kota ditempuh dalam 30 menit. Tapi, meski saya ‘tersasar’ di Santiago, bukan berarti kota ini tak punya apa-apa. Banyak orang mengenalnya karena Camino de Santiago.

DSC_1491

Camino de Santiago ialah salah satu jalur ziarah paling terkenal di dunia. Setiap tahunnya, manusia dari berbagai belahan dunia pergi menuju Santiago de Compostela dengan berjalan kaki. Jalur paling umum disebut Camino Frances, the French way. Para peziarah memulai dari kota Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis. Beberapa jalur lain dimulai dari Basque (Spanyol utara), Andalusia (Spanyol selatan), Lisbon (Portugal), dan sebagainya.

Sebenarnya tak ada aturan yang benar-benar kaku soal jalur. Ide utamanya adalah berjalan kaki menuju Santiago, biasanya melintasi kota-kota yang dianggap suci bagi umat Katolik. Meski begitu, sekarang ini banyak juga peziarah yang menggunakan sepeda untuk mencapai Santiago. Camino de Santiago terus berubah mengikuti jejak jaman. Ia bermula dari ziarah relijius umat Katolik menuju makam Santo Yakobus (Santiago, dalam bahasa Spanyol) dan kini berubah menjadi cara lain untuk traveling/berwisata.

Di hostel, saya sempat bertemu beberapa peziarah. Misalnya, dua anak muda Korea. Seperti banyak orang lain, mereka berangkat dari Saint-Jean-Pied-de-Port, melintasi berbagai kota di utara Spanyol, hingga akhirnya tiba di Santiago. Lebih dari satu bulan waktu yang mereka lalui untuk berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, mereka berhenti dan menginap di hostel-hostel peziarah. Harga per malam untuk peziarah lebih murah dibanding untuk turis lain. Selain itu, peziarah Camino memiliki semacam paspor yang diberi stempel setiap mereka melalui atau singgah di kota-kota penting.

Ada juga seorang pemuda yang terbang jauh dari Meksiko untuk menjalani Camino de Santiago. Ia datang sendirian, meski akhirnya sering bergabung bersama peziarah lain. Sama seperti dua orang Korea tadi, dia memulai dari Prancis. Sementara itu, saya bertemu seorang kakek yang memulai dari Basque dan seorang bapak yang berjalan kaki dari Italia. Peziarah bisa memulai dari mana-mana, tapi tujuan akhirnya satu: Santiago de Compostela.

Peziarah ada dimana-mana di Santiago. Bahkan, di tengah-tengah kota ada Museum Perziarahan (Museum of Pilgrimage). Ketika saya berjalan-jalan gontai di kota, tak sulit melihat orang-orang dengan tas punggung besar, sepatu gunung, dan tongkat. Terlebih di dekat Katedral. Para peziarah itu duduk-duduk di pelataran atau berdiri merenungi akhir perjalanan mereka. Betis-betis mereka tampak bengkak, hasil dari berjalan kaki ratusan kilometer. Mengapa mereka mau berjalan begitu jauhnya dalam Camino de Santiago?

Motifnya bisa macam-macam. Pada mulanya, ini soal kepercayaan iman Katolik untuk meningkatkan spiritualitas rohani. Lambat laun ia berubah jadi bentuk turisme yang populer. Dua anak muda Korea yang saya temui di hostel contohnya. Mereka terpengaruh melakukan Camino karena iklan tv. Kata mereka, iklan-iklan yang mempromosikan Camino de Santiago cukup marak di Korea Selatan. Mereka berdua hanya segelintir dari banyak orang Korea lain yang terpikat.

Ketika saya tanya apakah mereka melakukan Camino karena kaitan dengan iman Katolik, mereka menggeleng kepala. Bagi mereka pribadi, ini tak ada sangkut pautnya dengan agama. Mereka tertarik pada Camino de Santiago karena pengalaman berbeda yang ditawarkannya. Ini semacam jalan-jalan versi slow, pelan dan tak terburu-buru. Dengan itu pula keduanya mengapresiasi cara orang-orang Katolik jaman dulu dalam berziarah. Lagi pula, untuk apa tergesa-gesa?

(Januari 2019)

P.S.: Ditulis untuk Kawruh.

Calvin Stengs dkk.

12 November 2016. Musim sudah begitu dingin di Wageningen. Saya menyiapkan sarung tangan, kupluk, dan perlengkapan lain untuk melawan udara yang dingin. Hari itu temperatur tak pernah lebih dari 5 derajat. Dari kamar di Haarweg, saya bersepeda melewati jalan-jalan kecil nan sepi, melalui banyak peternakan, sebelum tiba di Veenendaal setelah lebih dari 12 km mengayuh.

Itu akhir pekan. Dan artinya sepak bola. Saya ke Veenendaal untuk itu. GVVV Veenendaal berhadapan dengan Jong AZ Alkmaar dalam lanjutan Tweede Divisie. Di tribun, saya tak sendirian kedinginan. Bapak, ibu, pemuda, pemudi, dan anak-anak, semua tampak menggigil. Tangan selalu ada di kantung jaket. Syal rapat melindungi leher dan kupluk menutup telinga. Semua siap.

Di lapangan, situasi berjalan payah bagi GVVV. Sempat unggul lebih dulu, tuan rumah menyerah 1-4 dari Jong AZ. Tak ada yang terlalu spesial di lapangan hari itu, kecuali satu pemain yang menarik perhatian saya sejak pertama kali bola berada di kakinya.

Namanya Calvin Stengs, dengan nomor 34 di punggungnya. Larinya kencang di sisi kanan penyerangan Jong AZ. Akselerasinya merepotkan pertahanan GVVV. Satu gol ia sumbang di laga itu, dan gol terakhir tak lepas dari key pass-nya. Tapi, terlepas dari semua catatan itu, pergerakannya yang membuat saya terpikat sejak awal. “Suatu hari dia akan jadi pemain besar,” pikir saya dalam hati.

12 Mei 2019. Saya menonton streaming laga antara AZ Alkmaar dan PSV Eindhoven. Selain Ajax vs Utrecht, laga itu akan menentukan juara Eredivisie tahun ini. Di lapangan, pemain nomor 7 tampak familiar. Lalu, komentator menyebut namanya: Stengs.

Seketika saya mengingat siang yang dingin di Veenendaal itu. Stengs telah beranjak dari Jong AZ ke tim senior. Pelan-pelan ia memantapkan posisinya di AZ. Ia naik tingkat ke tim utama sejak musim lalu, namun baru pada musim 2018-19 namanya sering menghiasi susunan pemain AZ. Terhitung 20 kali ia tampil di Eredivisie, 19 di antaranya sebagai starter. Tiga gol dihasilkannya. Mungkin, beberapa tahun lagi, tebakan saya di Veenendaal bukan sekadar bualan belaka.

DSC_0685

Stengs-Stengs lain

Saya memang punya kebiasaan seperti itu: menonton seorang pemain untuk kali pertama, langsung terpikat, lalu menebak ia akan jadi pemain besar. Stengs bukan yang pertama. Beberapa di antaranya jadi kenyataan, tapi ada pula yang malah mandek kariernya. Namanya juga manusia, cuma bisa menebak-nebak.

Fredy Guarin, misalnya. Saya lupa kapan dan pada laga apa pertama kali menyaksikan Guarin lewat tv. Saat itu ia masih di FC Porto. Di lapangan tengah, ia berlari tanpa lelah dari satu kotak ke kotak lain, dengan atau tanpa bola. Saat itu ia belum dikenal banyak orang, tapi saya yakin ia ditakdirkan untuk klub yang lebih besar. Inter Milan akhirnya merekrutnya, tapi rasanya cukup sampai di situ ‘puncak’ karier Guarin.

Terkait Inter, ada satu pemain lagi: Mathias Ezequiel Schelotto. Awal 2013 silam, saya sempat menulis tentang Schelotto dan membandingkan dia dengan Mauro Camoranesi, legenda Juventus. Secara fisik, keduanya mirip: awak yang kurus dan rambut gondrong. Keduanya juga sama dalam hal posisi (gelandang kanan), negara kelahiran (Argentina), dan tim nasional (Italia – karena punya dua kewarganegaraan).  Schelotto mulai melesat bersama Cesena, tapi di Atalanta-lah saya “mengendus” bakatnya. Ia lalu dipanggil ke timnas Italia (meski hanya sempat bermain selama empat menit di laga persahabatan). Saya pikir ia akan jadi Camoranesi jilid dua. Tapi, setelah pindah ke Inter, kariernya justru perlahan redup.

Cukup sudah yang sendu-sendu. Dua nama terakhir harusnya (akan) lebih benderang. Pertama, Willian kala masih berkostum Shakhtar Donetsk. Skuat Shakhtar saat itu diisi Fernandinho, Douglas Costa, Henrikh Mkhitaryan, dan Luiz Adriano. Bahkan, bersama nama-nama itu, Willian tampak begitu menonjol. Liukan-liukannya meyakinkan saya bahwa dia terlalu besar untuk Shakhtar. Benar saja. Setelah transit sebentar di Anzhi, Willian berlabuh di Chelsea hingga kini dan bakatnya tak kunjung padam.

Yang terakhir, Frenkie De Jong. Saya pertama kali sadar oleh bakat besar Frenkie saat menonton langsung laga ADO Den Haag versus Ajax, September 2017. Ajax tampil biasa saja siang itu dan akhirnya pulang dengan satu poin. Tapi, pendar sinar Frenkie sudah terlihat di sana. Ia bermain di “posisi Pirlo” dan dari sana ia mengalirkan bola ke rekan-rekannya. Saya menonton bersama teman dan ia juga sadar. “Siapa pemain nomor 21, Tor?” tanyanya. Musim ini, kita semua tahu siapa Frenkie.

(Mei 2019)