Aural

Suatu siang saya mengendarai motor di Depok, lalu melewati sepetak tanah lapang dimana orang-orang berkumpul, dan lagu Bojo Galak-nya Via Vallen didendangkan. Oh my god.

Seketika saya mengingat Wageningen. Di siang yang lain, di musim panas yang terik di utara, saya duduk-duduk di rumput antara Forum-Orion bersama berandalan mle-indo. Kami menyantap makan siang masing-masing. Setelahnya, seperti biasa kami ngobrol-ngobrol ndak jelas. Lalu tiba-tiba, saya lupa bagaimana awalnya, lagu Via Vallen diputar di Spotify. Dan kami berdendang. Alamak.

Memori itu tersimpan dan ditengahi oleh suara mbak Via Vallen yang manis. Entah bagaimana caranya, tapi sejak itu, setiap mendengar lagu si biduan, saya selalu mengingat siang di Wageningen itu.

Lambat laun, saya menyadari bahwa pengalaman aural lah yang menjembatani saya-di-Depok dengan memori-memori saya tentang Wageningen. Kisah Via Vallen tadi cuma salah satu. Di lain waktu, saat mendengar azan maghrib dari masjid dekat rumah, saya teringat Sarajevo. Di situ saya pertama kali mendengar bunyi azan di Eropa, pada sebuah subuh setelah beberapa gelas Sarajevsko.

Yang paling sering terasa, sebenarnya, adalah suara knalpot yang terlampau bising. Kala suara itu muncul, saya langsung memejamkan mata, sambil menahan pening di kepala. Lalu, imajinasi saya terbang ke kota kecil yang tak berisik itu. Bising knalpot nyaris tak terdengar di Wageningen, tapi tidak-ada itulah yang justru membuat saya mengingatnya. Di titik ini, ada dan tidak-ada menjelma makna.

Suara dan bukan-suara. Itulah yang menjadi tali yang menghubungkan Jakarta dan Belanda, Depok dan Eropa, selatan dan utara. Setidaknya dalam kasus saya. Dengan itu pula, saya mengingat Ingold dan cendekia-cendekia lain yang banyak menggali soal pengalaman indrawi — yang di dalamnya termasuk pengalaman aural. Bunyi dan telinga menjadi medium yang menghubungkan kota-kota.

Tapi, entahlah. Seperti kata Christal, mungkin saya hiperbolik. Atau terlalu romantis. Atau terlalu banyak waktu luang sehingga sempat-sempatnya memikirkan dan menulis hal-hal seperti ini.

Yuk, dengerin Via Vallen dulu.

Advertisements

Ambivalen(si)

~sebuah catatan akhir tahun.

Ambivalen(si) mungkin kata favorit saya tahun ini. Sejak Siberut hingga berbulan-bulan setelah predikat MSc diberikan di Wageningen, kata itu senantiasa diam di kepala. Ia telah menjadi semacam paradigma. Seperti kacamata yang lewatnya saya belajar memahami hal-hal di dalam dan sekitar saya. Tentu saja saya berhutang pada orang dan ombak Mentawai.

Saya menjalani turlap akhir tahun 2017 hingga awal tahun 2018 di Siberut. Penelitian itu untuk tesis saya. Dan salah satu temuan terpentingnya adalah ini: ambivalensi. Orang Mentawai berelasi dengan ombak dengan ambivalensi yang seringkali tak mudah dipahami. Saya membungkusnya lewat berbagai sub-bab.

Pertama adalah soal ombak bagus (maeru koat). Di Mentawai, ombak bagus bisa berarti tak banyak hal. Ia tak pernah tunggal, selalu ambivalen, dan seringkali kontradiktif. Ombak besar misalnya bagus buat surfing tapi tidak untuk memancing. Sebaliknya, ombak kecil bagus buat berpergian tapi tidak untuk aktivitas wisata selancar. Pada dasarnya, orang Mentawai selalu punya alasan untuk merayakan ombak (bagus).

Kedua adalah kontradiksi takut/menyenangkan. Ombak sejak dulu ditakuti orang-orang Mentawai. Ia bersinonim dengan badai dan kemalangan. Tapi, itu bukan narasi satu-satunya. Terlebih sejak kemunculan wisata selancar, orang-orang mulai belajar memahami ombak sebagai nonhuman agency yang menyenangkan. Ia asyik dan menakutkan secara bersamaan. Ambivalensi seperti ini akan sulit dipahami oleh Descartes.

Ketiga adalah apa yang saya konsepsikan sebagai avoidance/encounter. Artinya orang Mentawai menjalin hubungan dengan ombaknya lewat tegangan yang ambivalen untuk menemui/menghindari. Terlebih buat mereka yang tinggal di pesisir dan pulau-pulau, ombak mau tak mau harus ditemui. Juga untuk mereka yang doyan surfing. Tapi dalam pertemuan itu, mereka juga tahu bahwa menghindari adalah sebuah keharusan.

Keempat adalah hubungan asosiatif yang ambivalen antara ombak dengan badai dan kepiting (aggau). Di Mentawai, musim ombak adalah musim badai sekaligus musim aggau. Dua hal itu mengandung kontradiksi. Jika badai dihindari dan ditakuti karena berpotensi menghadirkan kemalangan, aggau justru dicari-cari dan dinanti karena bermakna rejeki. Dalam tensi antara bahaya dan nikmat itulah orang Mentawai hidup dengan ombaknya.

Terakhir adalah soal keintiman. Walau dihantui kengerian akan ombak, orang Mentawai menjalin relasi yang intim dengan ombaknya. Intim tak melulu harus yang manis-manis, atau yang romantis-romantis. Keintiman seringkali adalah kedekatan yang ambivalen, yang kontradiktif, yang tak mudah dimengerti. Ia adalah sebuah keharusan untuk merespon kehidupan.

Ambivalensi-ambivalensi itu membantu saya memahami banyak hal lain di luar Siberut, universitas, maupun jurnal-jurnal ilmiah. Ternyata kita tak pernah luput dari yang ambivalen-ambivalen di kehidupan sehari-hari. Tengoklah. Renungkanlah. Hidup itu nyatanya tak pernah hitam atau putih, baik atau buruk, rajin atau malas, pintar atau bodoh. Selama ini, cara-cara berpikir yang dualistik itu telah memenjara kewarasan kita.

Oleh karena itu, di awal saya menyebut ambivalen(si) sebagai paradigma. Ia membantu kita berpikir, memahami, merasa, melihat, mendengar, atau mengecap di luar konstruk-konstruk Cartesian. Dualisme-dualisme telah menyatron kehidupan kita, telah meng-over simplify hidup menjadi label-label dan garis-garis yang tegas. Padalah, kehidupan tak pernah sekaku dan semembosankan itu. Ia cair, tak berbentuk, dan bergaris putus-putus.

Garis putus-putus itu yang menjadi inti hidup. Ia menawarkan kemungkinan-kemungkinan yang tak terbatas. Kita bisa menjadi apa saja. Tak harus hitam, tak harus putih. Tak harus baik, tak harus buruk. Kita adalah keduanya, atau bukan sama sekali, atau campuran keduanya. Kita bisa baik dan jahat sekaligus, kita jenius dan bodoh sekaligus, kita bahagia dan sedih sekaligus. Sejak dulu begitu. Cuma kita lebih sering lupa akan kenyataan sederhana itu.

Maka, di penghujung tahun ini, saya ingin mengingat lagi soal itu. Saya ingin merekonsiliasi ontologi dan epistemologi kita yang selama ini disandera cara-cara berpikir Cartesian. Saya ingin merayakan hidup yang penuh ambivalensi ini. Bahwa hidup itu enak dan penuh onak secara bersamaan. Seperti orang Mentawai dan ombaknya, kita selalu punya alasan untuk merayakan kehidupan. Mari tertawa/menangis bersama-sama di bumi.

(Depok, 28 Desember 2018)

Siena

Bus antarkota yang saya tumpangi melaju kencang, melewati padang-padang Toscana yang manis. Bus stop La Colonna-Monteriggioni terlewat sudah, sedang saya lupa memencet bel tanda berhenti. Maka tubuh saya dibawa sampai ke halte Colle di Val d’Elsa, kira-kira 15 menit dari pemberhentian yang semestinya.

Tiket saya hangus. Cazzo. Dan saya harus membeli lagi di kios kecil dekat halte. Saya tak mau apes lagi. Hari sebelumnya, petugas bus menilang saya gara-gara saya lupa memvalidasi tiket yang sudah saya beli. Cazzo. Lebih dari 40 euro terkuras dari rekening bank. Karma mungkin benar eksis. Saya mengingat 9 hari di Torino tanpa membayar bus.

Jangan dicontoh. Secara umum, kota-kota Italia memberi kesempatan kita untuk ugal-ugalan. Klakson lebih sering terdengar daripada di Belanda. Makin ke selatan makin chaotic. Dan saya suka yang kacau-kacau. Membuat saya merindu Jakarta. Meski sedikit. Tapi lupakanlah soal tilang di Siena itu. Saya kapok tidak membayar bus.

Monteriggioni adalah semacam kota (atau mungkin desa) kecil di provinsi Siena. Saya tak tahu kenapa saya kesini. Malam sebelumnya, Raymundo mengajak saya keluar kota Siena dan berjalan-jalan ke kebun anggur di sana hingga ke San Gimignano yang konon adalah produsen wine terbaik di wilayah Toscana. Tapi saya ogah bangun pagi.

Maka, saya memulai pagi dengan rileks. Seperti biasa. Ketika saya bangun, cahaya matahari sudah merayap memasuki 2-bed dorm berbentuk tenda di campground Colleverde. Kira-kira macam glamping lah. Lengkap dengan kasur yang empuk, colokan listrik, wifi, lampu, dan sepasang meja-kursi di depan masing-masing tenda. Melenakan.

Nyamuk-nyamuk menghabisi sekujur tubuh. Saya sibuk menggaruk-garuk dan mengecek bagian mana yang memerah digigit nyamuk. Toscana di musim panas adalah padang bermain bagi nyamuk. Suhu yang hangat membuat mereka berkembang biak dengan rakus dan menjadi buas. Saya teringat malam penuh nyamuk di Firenze.

Lupakan nyamuk. Selesai mandi, saya naik bus ke kota. Saya mendapati petugas yang sama yang menilang saya kemarin. Cazzo. Kali ini saya punya tiket yang valid. Saya tersenyum pahit ketika dia memeriksa tiket saya. Di kota, turis-turis berjejalan. Mereka/kami membentuk simfoni yang ribut, gerak-gerik yang simbolik, dan foto-foto yang klise. Di depan Piazza del Campo, saya hanya termenung tanpa alasan.

Mungkin saya bosan. Maka saya teringat ajakan Raymundo. Kenapa tidak keluar kota? Saya ingin kabur dari gerombolan turis rupa warna ini. Maka, saya turun ke loket bus yang terletak di bawah tanah dekat terminal bus di tengah-tengah kota, dekat pula dengan Stadio Artemio Franchi. Saya membeli tiket pulang pergi ke Monteriggioni.

Di sana, satu-satunya yang saya lakukan pada dasarnya adalah berjalan kaki. Wilayah Toscana, termasuk Siena, memiliki banyak jalur camino. Awalnya, saya hendak menuju kastil yang entah apa namanya. Tapi saya malah tersesat di salah satu jalur camino yang mengasyikkan. Super sepi. Saya cuma sempat bertemu satu orang sepanjang jalan-jalan kaki santai di sana, kurang lebih tiga jam.

Tersesat mungkin cara terbaik untuk menikmati perjalanan. Lanskap yang luas, kadang ditambah pernik bunga warna-warni di beberapa sisinya. Kontur yang naik turun. Dan, yang utama, tak ada manusia. Siena, dengan turis-turisnya yang berjubel di pusat kota, terasa begitu jauh. Saya berjalan sendiri tanpa arah tanpa tujuan hingga ke kedalaman hutan, hingga saya mulai ketakutan dan memutuskan untuk kembali.

Di bus stop La Colonna-Monteriggioni, saya bertemu lagi dengan pria yang sempat saya temui di jalur camino tadi. Ia hendak menuju San Gimignano rupanya. Jalur kami bertolak belakang. Saya kembali ke Siena, dan bergegas secepatnya menuju campground untuk menonton laga perempatfinal Piala Dunia, Prancis vs Belgia. Oh pub akan segera penuh, pikir saya dalam hati.

Singkat cerita Prancis menang malam itu. Orang-orang Prancis yang singgah di campground itu berpesta pora. Orang-orang Belgia pulang ke caravan masing-masing dengan muka tertekuk. Saya kembali ke tenda bersama Raymundo dengan biasa-biasa saja. Kami cuma kelelahan dihantam siang yang terik, baik di San Gimignano maupun Monteriggioni.

Lalu, perlahan malam justru memanjang bagi saya. Ketika saya hendak tidur pulas, dan baru selesai menggosok gigi, Laurenz memanggil nama saya. “Sarani?” tanyanya ragu. Karena gelap saya mendekat dan mendapati dirinya sedang duduk memasak pasta, tepat di belakang tenda saya. Beberapa hari sebelumnya, saya bertemu dengannya di sebuah hostel di Bologna.

Jadi, demikianlah. Saya duduk dan mengobrol dengan anak Jerman itu hingga berjam-jam lamanya. Kami menghabiskan anggur putih yang ia bawa entah dari mana. Ia bercerita tentang perjalanannya di Ancona dan Roma. Ia begitu menyukai wilayah Marche, di pantai timur sana. Dan Roma begitu penuh oleh manusia. “But still beautiful,” tukasnya.

Bla bla bla bertukar. Saya menguap beberapa kali. Botol wine sudah kosong. Dan akhirnya good bye diutarakan. Dia akan ke utara, sedang saya akan ke selatan. Kami berpisah di depan tenda dan saya menikmati tidur yang pulas malam itu. Akumulasi dari mini camino, matahari musim panas, dan sebotol wine putih yang ditenggak dua orang.

Amstel

Kita berjalan di sepanjang Amstel, pada hari Minggu yang cerah di Amsterdam. Setelah menyesap Grolsch dan jus di rooftop Volkshotel, seraya mengunyah kalimat-kalimat elegis tentang keluarga, masa depan, dan peliknya menjadi anarko. Kita kehilangan banyak waktu dan kita mengejarnya. Tapi kita kelelahan.

Waktu memang jahanam, kata Silampukau, band asal Surabaya. Dan aku menelannya utuh-utuh saat kita berjalan melewati gang-gang sempit di sekitar sungai. Dan kau bawa diriku ke Massimo, “kedai es krim paling enak di Amsterdam”. Mungkin iya, mungkin tidak. Tapi yang jelas bibir kita belepotan di depan kedai, sambil menikmati kerumunan manusia yang menikmati akhir pekan yang asyik di kota.

Lalu kita bicara soal Italia. Kau soal Toscana, aku soal Umbria. Kita menyusun puzzle-puzzle yang menyusun imajinasi tentang sebuah negara di selatan, yang kita cintai dengan alasan dan retorika masing-masing. Aku calcio, kau bukit-bukit sunyi di Toscana. Tapi tentu saja Italia lebih dari itu. Ia rumit. Seperti kita.

Kau harus pulang dan mengayuh sepeda ke dekat pusat kota. Movie night. Kita berjalan melewati sebuah gedung jelek di pojok, sepertinya bekas gereja. Lalu bangunan-bangunan kecil, beberapa tampak miring. Dan kita berpegangan tangan sejenak di pinggir Amstel. Dan tertawa. Dan tersenyum. Dan aku (mungkin juga kau) akan mengingat senyum itu sebagai melankoli yang tak selesai.

Jumat Malam

Mari kita membayangkan jumat malam di sana.

Wageningen, pada sebuah malam 5 derajat di musim gugur. Ku duduk menghadap laptop, menyerong ke arah lukisan Buddha abu-abu di tembok biru laut. Aku dan Buddha berbagi kesunyian di Dijkgraaf.

Tak tik tak tik. Microsoft word terus berpacu. Seperti mesin ide. Jari-jari menari di keyboard. Seperti balerina. Puisi, tesis, dan omong kosong lainnya berjejalan di dokumen. Oh Wageningen yang melankolis, beri aku sepotong sunyi dari utara? Di sini, raung motor dan klakson-klakson menjadi koor yang sumbang.

Ping. Pesan whatsapp masuk. Di grup MLE 2016 kita membahas party di Loburg. ‘Who’s going?’ tanya Simo. Lalu pesan pribadinya masuk. Lalu berjejalan teks-teks dalam bahasa Inggris. Dan seruan. Dan ajakan. Dan gurauan. Dan canda. Oh Emily yang malang, kenapa kita harus berpisah di umur yang menua?

Dan kupacu sepedaku ke centrum. Diska mengikuti dari belakang. Dengan bunyi bising dari ban belakang sepedanya. Angin menepuk-nepuk pipi. Sunyi menepuk-nepuk kalbu. Wageningen, kota seribu satu sunyi. ‘Tempat mereka yang sudah selesai dengan dirinya sendiri,’ banggaku selalu ke manusia-manusia Randstad.

Setelahnya adalah euforia. Centrum menjelma lantai dansa. Dan bir-bir tumpah ke lantai. Kita menari sampai pagi di gelap yang kian beku. Botol-botol wine berpindah tangan. Dan kita bicara tentang nonsens di luar Loburg, atau di gang-gang sempit di Kerkstraat atau Kapelstraat. Sampai lelah menjelang.

Jelang pagi, berhamburan kita ke parkiran. Mencari sepeda masing-masing dengan kantuk di mata, dengan beban di kepala. Dan mulut yang terus melantur tentang dosen, harga pasta di Jumbo, atau puisi dari Persia. Lalu kita memecah malam dengan berteriak-teriak di atas sadel sepeda. Ciao ciao.

Bari

Saya tiba di Bari, pada suatu sore musim panas yang cerah. Saya tiba dari Napoli, menumpang bus yang melewati lembah-lembah indah Basilicata. Beberapa hari setelahnya, di Wageningen, saya bilang ke Simone, asal Mestre: “if I were you, if I am able to speak Italian, I would stop in Basilicata.” Sayangnya tidak. Maka saya menuju Bari saja, kota nan sibuk di semenanjung Puglia.

Pertama kali saya kenal Bari lewat sepakbola. AS Bari, Cassano, San Nicola, dan detil-detil lain. Cassano sudah lama bermasalah dan redup sinarnya. Ia tak punya klub hari ini. Sedangkan, AS Bari tak ada lagi sejak 2014. Bangkrut. Penggantinya, FC Bari pun bangkrut tahun ini. Mulai musim ini, yang ada SSC Bari. Mereka diusir dari Serie B dan diharuskan memulai ulang segalanya di Serie D.

Toh, saya datang ke Bari bukan untuk sepakbola. Untuk pulang. Pesawat akan membawa saya terbang dari Bari menuju Maastricht. Setelah berpekan-pekan dipanggang musim panas Italia, saya ingin kembali ke utara. Bari adalah akhir kembara.

***

“Selamat datang,” ucap seorang perempuan paruh baya, ketika saya tiba di hostel di Corso Luigi di Savoia dan menunjukkan paspor saya. Saya kaget. Ia penduduk asli Bari, tapi lama tinggal di Middelburg, Belanda. Lalu, saya bilang bahwa saya kuliah di Wageningen. “Spreek je Nederlands?” tanyanya. Dia sempat pacaran dengan pria berdarah Indonesia. Lalu kami bicara soal rendang dan sambal.

Setelah itu, saya keluar hostel. Lapar. Maka, saya berakhir di restoran kebab dekat Universitas Aldo Moro. Satu keluarga India duduk di meja di depan saya. Dan saya menyantap nasi briyani. Segalanya terasa familiar, tapi juga tidak. Saya pergi dengan perut yang senang, dan berjalan-jalan sore tanpa arah.

Lama saya terduduk di taman depan universitas. Dan saya melumat senja yang sederhana di sana. Di tengah orang-orang biasa di hari yang biasa-biasa saja. Di kota yang biasa saja. Setelah Bologna, Firenze, dan Assisi, saya lelah dengan omong kosong manis ala Italia. Mungkin karena itu saya menyukai Bari. Karena ia tampak normal. “Bari doesn’t pretend, or try to be beautiful like other cities,” ucap saya pada Monica, beberapa pekan kemudian, sambil duduk di rumput Rijnveste.

Juga di Bari, menjadi coklat adalah normal. Bari adalah kota pelabuhan, jadi ia terbiasa dengan orang asing. Ferry dari/menuju Albania banyak di dermaga Bari. Beberapa juga terhubung dengan Kroasia. Di sepanjang jalan, orang India, Bangladesh, Arab, atau Afrika mudah ditemui. Dan orang-orang kulit putih juga tak canggung. Tak ada ketegangan di antara warna-warna kulit yang tak sama di sana.

***

Esoknya hari mendung. Saya terjebak di antara perasaan senang dan sedih, bersyukur dan sebal. Setelah hari-hari terik, langit abu-abu terasa menyenangkan. Tapi, Bari ada di pesisir. Jadi, harusnya menyenangkan pula bila merebahkan diri di pasir pantai, di bawah terik matari musim panas. Tapi tidak hari itu. Maka saya berjalan-jalan gontai sekenanya di centro storico, kota lama. Membuang waktu.

Stadio San Nicola terlalu jauh. “Dan sulit kesana,” kata gadis di belakang meja tourist information. Tapi tak sulit untuk menghabiskan waktu di kota normal seperti Bari. Kita hanya perlu berlagak menjadi orang biasa, berjalan-jalan di pedestrian, atau duduk di bangku kayu yang menghadap laut Adriatik. Lalu memesan espresso di siang hari, atau bir di sore hari, atau sepotong pizza di sela-sela keduanya.

Atau jogging di sepanjang garis pantai. Seperti yang saya lakukan sore itu. Saya mengajak teman satu dorm di hostel, cewek Australia yang manis. Tapi ia kelelahan. Ia baru tiba menyebrang dari Dubrovnik. Dia memilih yoga. Maka saya menguras keringat, menikmati Bari dari perspektif yang lain, dari kaki-kaki yang berlari, sambil melewati lalu-lalang manusia di senja yang menua.

post-wageningen’s first poem yeah!

In the night commuter train
I red Meki’s WE ARE NOWHERE AND IT’S WOW
It made me forgettin ‘bout headsets
Oh how human-sound relation is reinvented
By stupid/smart technologies

In between poems
Imaginaries of Wageningen came
Like a melancholia from the past
De Kater and Nederrijn
And the girls I met in the park

In the way to parking lot
I remembered Djuran
And our wishy-washy convo in Grand Café
“I do things slowly now. I learned it from you.”
Was it a compliment?

In the streets heading home
Meghann’s email appeared up front
Within a form of yellowed silhouette
She demanded my stories of settling back in
: Moile moile

In the lights of laptop screen
I see Christal smiling sadly
She’s getting period and jaded
Djakarta lyfe
Why don’t we escape, darlin?

(6-11-2018)

can i borrow your melancholia?

​I will borrow your melancholia as fuel for my own. So I can cry in the middle of the road. Between Stade and Rotterdam, I gazed at the window and looked for your whisper. But you’re not there to be heard or looked at. Instead I found my own reflection and imagination of days forgotten.

Distances are getting longer here. With despair, everything gets harder. Even in the sunny day such as today. This is one of my Eurorepan days where I beg for rain to fall. So I can please my melancholic desire. So I can join you in the club of sadness. But I keep thinking o​​f seas and skies in Siberut.

Perhaps I will come back with nothing, for nothing. It is like I am missing something. Not a reason to live, but a reason to laugh. Smiles are temporary and mechanical. While headache comes constantly like little rains in Dutch autumn. Should I bring you dead flowers from dead joys of mine?

I miss beers more than anything now. My feeling is floating nowhere. I would like to wander more in the forest of uncertainties. So I am certain that I am uncertain. Life is paradoxical and full of ambivalences. I have always been trying to celebrate it. But now I am lost in my own wild thoughts.

(Flixbus HH-Rott, 13.09.18)

mimpi-mimpi

“Every movement needs to pause at times.” (Paulo Coelho)

Bunga-bunga tidur
berserakan di halaman
mereka seperti fragmen-fragmen
yang tak beraturan
tapi menyiratkan pesan
atau mungkin tidak

Di atas kasur
air mata dan air mani bercampur
dalam cangkir suci perjamuan
kita menangis
kita bercinta
kita merayakan hidup
yang sementara ini

Mabuklah!

(Stade, 4 September 2018)