Setelah Espresso

Setelah espresso
Dan puntung kretek
Aku berdansa dengan jam
Yang bergerak mundur
Ke masa-masa yang jauh
Saat pagi berupa bola
Berbentuk kertas
Atau biji pohon entah-apa

Di sekolah dulu
Kita menyepaknya
Dan ribut di lorong-lorong
Guru-guru tak hirau
Karena begitulah
Menjadi anak-anak
Bermain, berisik, menangis

Seketika waktu berlari
Kencang kembali kesini
Pagi minus lima derajat
Cerah matahari silau
Tubuh anak kecil itu
Lenyap ditelan tahun
Tinggal sisa potongan
Jiwa yang berteriak
Tanpa suara

Sosok itu masih ada
Mengendap di dalam
Dada yang sesak
Oleh keharusan
Menjadi dewasa
Mengetik, diam, tanpa tangis
Suatu hari ia akan
Meledak, boom!
Menjelma kesenangan
Yang sederhana

(Leeuwenborch – 8 februari 2018)

 

Advertisements

Di Reuvensplaats

Dijkgraaf: persepsi kita tentang matahari seperti dikoyak-koyak disini. Sinar matahari masuk ke jendela, membuatmu bangun dengan semringah. Tapi ada yang mencurigakan. Matahari di musim yang dingin adalah jebakan. Kita mempelajarinya lewat pengalaman, bukan dari buku-buku di perpustakaan. Saya keluar dengan imaji tentang siang-siang yang panas di Asmat. Tapi, tidak disini, tidak hari ini. Embun-embun menjelma es di rerumputan.

Intercity: Mata Hari mengantar ke hari-hari tua sebelum perang dunia pertama. Si femme fatale lari ke Den Haag dengan bayangan tentang Paris. Perang telah membuat mimpi-mimpi manusia berantakan. Hari ini, tak ada beda. Kota menjelma medan perang. Orang-orang menangisi ‘mimpinya yang tersapu’ (meminjam Silampukau). Konon, Mata Hari menghadapi regu penembak dengan ciuman dari jauh. Kiss bye. Saya mengingat Che.

Kuba: tak ada revolusi hari ini. Mungkin saja, revolusi sebenarnya ialah gimmick. Agar kita selalu punya alasan untuk mengeluh, untuk merongrong keadaan. Manusia, saya pikir, dikutuk untuk mengutuki hari ini. Di Eropa, orang-orang terjebak pada kegagahan masa lampau. Di Indonesia, surga adalah destinasi. Semua bergerak dengan imaji tentang yang di depan, tentang yang tak jelas, yang tanpa-bentuk. Apakah kita punya resep untuk carpe diem?

Leiden: hari makin menua disini. Orang-orang berkumpul di luar perpustakaan. Menghisap tembakau, bercerita tentang apa saja, melupakan tesis sejenak. Tak ada kretek, tak ada Marcopolo. Saya menulis tentang minggu-minggu yang berlalu di Ebay. Email dikirim, email dibalas. Semuanya begitu mekanikal. Seperti sebuah sistem menyetel kepala kita, membentuknya jadi kode-kode, jadi algoritma. Kapan kita pulang?

Leiden, pada sebuah hari yang cerah, nol derajat.

red wine blues

Give me a glass of wine and i’ll read you the poem i never like.

Perhaps we live with too much philosophy and reasoning. So we forget the practicalities, the what-happen-in-the-middle. No one tries to fix the agony of being lulled by fantasies and utopia and hopes and historical glorification.

One day, either tomorrow or 2084, we will look at human beings as pure melancholia. Western buddhism might be a mistake we cannot cancel. A faux carpe diem ways of life, mixed with the faux environmentalism (for the poor? meh), added with faux mindfulness cum instagramable illusion. Oh please.

Pour me another more. So i can read you a love letter from the poet i never like.

Too many falsity and deceit and tales. Can we still expect at least a piece of truth, from the night when work/life has collapsed into ontological revolution? Here, in this hypocrisy a la scientific-neolib-green-capitalistic-developed-colonial brain, we are gonna lose again against the war of black/white, a/z, i/you dichotomies.

No narrative. No malaise. Only discourse. And red wine. And the desire of being ethical without really being ethical and with accusation of unethical to the groups of men who perhaps more ethical than they who claim themselves ethical. But.. what is ethics by the way? Another western hubris? An alibi for collective amnesia?

(city of life sciences,

1 februari 2018)

Dan Salju Jatuh

Dan salju jatuh di Stade.

Letters bergema di telingaku, seperti sepotong teriakan dari masa lalu. Dulu kita suka mengirim surat, menanti tukang pos datang dengan sepedanya, lalu ia melempar amplop ke teras rumah. Di sana, sebenarnya kita membaca bulan-bulan yang panjang, yang telah berlalu sejak kita mengirim surat ke alamat lain. Pada akhirnya, ia berbalas. Atau mungkin tidak.

Di Ebay, aku membaca Ingold. Cukup dengan etnografi, katanya dengan nada manifesto. Lalu ia membandingkan antropologi dengan korespondensi, kegiatan surat-menyurat. “Seperti yang dilakukan para penulis surat, mencorat-coret pikiran dan perasaan mereka, dan menanti jawaban”. Seperti itulah antropologi, sebenarnya kita hanya harus menunggu.

Lalu smartphone datang dengan tergesa-gesa. Kita juga jadi tergesa-gesa. Tak ada lagi moile moile, seperti di sudut-sudut Siberut. Orang bergegas. Kita menjadi ganas terhadap waktu. Menunggu adalah neraka. Ketidakpastian adalah bencana. Surat memberi kita kebijaksanaan tentang waktu, menunggu, jawaban, dan ketidakpastian. Smartphone tidak.

Di Paking, kita menerima surat dari Long Berang. Adalah romantik membaca surat di tahun 2012. Surat itu dikirim lewat seseorang, yang kebetulan akan melintasi Paking untuk menuju Malinau. Kami, anak-anak Paking, membacanya dengan pelan dan khidmat. Anak-anak Long Berang berbagi kabar: tentang agas, anak-anak Dayak, dan remeh-temeh yang lain.

Kemudian Ebay. Di tempat dimana sinyal dan wifi adalah kemewahan, surat terasa biasa saja. Hiber membaca surat satu lembar dari Bruno. Kertas lecek itu telah bergerak: dari Padang, menaiki Mentawai Fast, jatuh di tangan orang lain di Muara Siberut, lalu berlayar ke Ebay melewati ombak-ombak yang mengayun. Hiber menerimanya dengan senyum.

Dan salju jatuh di Stade. Kita bicara tentang surat. Aku mendengar lagu tentang surat. Surat, surat, surat. Lalu kantor pos. Dan aku mengingat Balkan. Di sana, pusat-pusat kota ditandai oleh kantor pos. Bukan gereja, bukan masjid, bukan alun-alun. Kantor pos. Kita tak perlu menyembah tuhan, tapi kita harus mengirim surat agar kemanusiaan terjaga selamanya.

Stade, 18 Januari 2018

Kind People

Orang baik ada dimana-mana, tulis seorang teman. Benar juga. Tapi mungkin tak sepenuhnya. Di banyak tempat, orang-orang lebih suka menebar ancaman, kebencian, dan ketakutan. Di Mentawai, semua itu tak ada. Saya selalu berpikir, selama disini, bahwa orang Mentawai adalah orang-orang paling baik yang pernah saya temui. Apapun definisi ‘baik’ itu, atau apakah baik-jahat hanya sekadar penjara konseptual, tak akan mereduksi persepsi saya tentang orang-orang Mentawai.

Tentu saja, saya tak akan luput membawa-bawa stereotip. Namun, saya tak peduli. Buat saya, stereotip bukan sesuatu yang negatif. Orang-orang telah lama menempelkan konotasi negatif pada kata ‘stereotip’. Yang berbahaya sebenarnya adalah generalisasi, bukan stereotyping.

Orang-orang Jawa, misalnya, dikenal sebagai orang dengan tutur kata yang halus. Tapi itu tak bersinonim dengan ‘baik’. Keris di punggung adalah simbolisasi untuk itu. Orang-orang Jawa, saya pikir, lebih suka berbicara di belakang, di balik kata-kata halus yang mereka utarakan. Di Toraja, kita bicara dengan lebih terus terang. Tapi, kadang-kadang kebiasaan itu malah jadi kebablasan. Perkelahian, entah mulut atau fisik, sudah jadi hal yang normal. Kita tak perlu mempersoalkannya.

Jelas sekali bahwa saya main aman dengan mengambil contoh Jawa dan Toraja. Keduanya mengalir dalam darah saya. Jadi, setidaknya saya tahu bahwa saya hidup dalam kontradiksi-kontradiksi itu. Baik-jahat selalu jadi persoalan yang relatif. Kita akan mendebatnya selamanya.

Dulu, bapak saya selalu bilang bahwa saya harus jadi orang baik. Itu yang utama. Pintar dan hal-hal lain adalah persoalan ke sekian. Baik adalah kunci. Tapi, menjadi baik bukan hal yang mudah. Saya pikir saya selalu gagal untuk menjadi baik, bahkan untuk sekadar menjadi tidak jahat. Di Siberut, saya mengingat nasihat bapak lagi, dengan contoh yang di depan mata. Orang-orang Mentawai, buat saya secara personal, adalah representasi paling paripurna untuk ‘orang baik’. Sejauh ini.

Sekarang saya kebingungan bagaimana menjelaskan apa yang saya maksud ‘baik’ dan ‘orang baik’. Tapi saya pikir itu tak perlu. Usaha semacam itu akan menjadi kesia-siaan. Baik-jahat, sekali lagi, adalah personal dan relatif. Saya bisa menyebut ajektif ‘tulus’, ‘tidak pemarah’, ‘tidak pendendam’, ‘santai’, ‘tidak suka bikin masalah’, ‘tidak mencuri’, ‘tidak mengancam’, dan lain-lain untuk menjelaskan maksud saya. Tapi rasanya tidak perlu. Ini urusan yang lebih personal dari agama.

Sekarang, cita-cita saya cuma ingin jadi orang baik. Apa pun maksudnya.

(Muntei, 2 Januari 2018)

Sofia

Semuanya selalu berupa ingatan-ingatan. Ia berasal dari masa lampau yang tak pernah dicatat. Ia mengerak menjadi partikel-partikel di dalam kepala. Lalu, pada suatu masa yang tak pernah direncanakan, ia akan menguar ke udara. Seperti hari ini. Saat saya berdiri di bibir pantai, di Mappadegat, Sofia mendekat dan menjelma melankolia dari musim panas.

Persisnya adalah hari penuh pertama. Setelah Mestre, Venezia, dan Redentore yang memabukkan. Hari itu begitu jauh. Tapi saya mengingatnya dengan detil-detil yang melenakan. Pada sebuah siang, di jalan-jalan kota. Setelah katedral Levski yang megah, setelah orang Afrika itu mengobrol sekenanya: tentang Amsterdam dan dosa-dosa masa muda.

Saya menuju galeri nasional: mencari-cari celah untuk mengisi hari, mencari kesenian untuk mengisi apa-apa yang kosong di dalam paru-paru. Adalah foto-foto tentang mulut yang terbuka. Sebuah epik. Saya selalu bingung bagaimana cara kerja seniman-seniman itu. Ide, mungkin saja, meletus di kepala mereka tanpa aba-aba. Setelahnya adalah maestro.

Jalan-jalan Sofia tampak terang. Taman kota menjadi tempat berteduh, dari matahari yang menyengat, di sebuah musim panas 30-an derajat di Balkan. Free walking tour di pagi hari telah menyandera tubuh ke dalam keringat-keringat. Shakira berpose di depan tulisan Sofia, di dekat gedung besar yang terlupakan. Di sini, orang begitu mudah melupakan sejarah.

Komunisme telah berakhir. Orang-orang sedang beranjak ‘Eropa Barat’. Ia telah jadi semacam ajektif, sebuah mantra development. Atas nama taraf hidup, atas nama uang di saku celana, anak-anak Bulgaria belajar melupakan kiri. Demi janji manis bernama Uni-Eropa. Mereka ingin setara. Mereka ingin lepas dari label itu: negara paling miskin di Uni Eropa.

Saya menyantap coklat dan cappuccino, di sebuah kedai antik dekat Vitosha. Shakira mulai bercerita tentang banyak hal: London, Australia, Spanyol, Balkan. Sehabis ini adalah Georgia, katanya. Di ujung malam, kita berpelukan di antara jendela. Gelas-gelas alkohol telah tandas bersama anak-anak dari Mexico City: tiga orang guru dan satu pengarang.

Hari pertama di Sofia telah berakhir begitu saja. Bulgaria telah membuka dirinya untuk saya. Tiga minggu yang menyenangkan akan berlalu. Begitu lekas, begitu membekas. Bulgaria is one of the best things that ever happened to me. Hari ini, di sebuah teras di Mappadegat, saya merindukannya dengan menggebu-gebu. Dengan keinginan untuk kembali.

(Mappadegat, 28 November 2017)

Sibiu

Saya teringat Sibiu, pada sebuah malam yang terang di musim panas. Bukares memberi saya nyeri di perut, entah karena Tuborg atau croissant yang aneh. Maka, saya melewati jam-jam yang melelahkan di central station. Di ruang tunggu, saya nyaris menghabiskan seperempat The Wild Truth. Gadis-gadis Romania berpantat seksi memasuki ruangan, mengganggu kalimat-kalimat yang saya baca. Lalu jam kian dekat ke jadwal kereta.

Bukares-Sibiu, saya nyaris selalu sendiri di kompartemen. Jadi saya bisa tidur telentang. Saat terduduk, bukit-bukit hijau mengisi mata saya. Lalu sawah-sawah yang panjang dan lebar. Di Brasov, sepasang ibu-anak masuk ke kompartemen saya. Kami mengobrol seadanya dengan bahasa Inggris yang patah-patah. Lalu mereka meninggalkan saya: pertama lewat obrolan berbahasa Romania, kedua secara literal keluar kereta.

Tiba di Sibiu, saya berjalan ke hostel masih dengan perut yang nyeri. Lalu saya keluar mencari makan di restoran Italia yang agak fancy. Saya ingin nasi. Maka, risotto adalah solusi. Restoran Cina ada entah dimana, jauh dari pusat kota. Tapi, nasi tak cukup mengusir nyeri. Tidur, pada akhirnya, adalah jawaban. Saya tidur begitu pulas di malam pertama di Sibiu. Namun, saya masih bangun dengan sedikit nyeri di perut. Tinggal sedikit lagi, pikir saya.

Saya mencari sarapan di carrefour: pisang dan yogurt, atas nama kesehatan. Seorang gadis Romania menemani saya sarapan, kita mengobrol dengan bahasa Inggris yang tak terlalu patah-patah. Ia berasal dari sebuah desa di selatan, di perbatasan dengan Bulgaria. Ia cerita, dulu ia sering dadah-dadah dengan orang-orang Bulgaria di seberang sungai. Di Eropa, sungai menyambungkan kota-kota, tapi juga menjadi garis pembatas.

Siang begitu terik di Sibiu. Perempuan-perempuan Romania begitu menggoda di musim panas. Rambut yang hitam dan baju seadanya. Lalu saya mengunjungi Jorge dan Thais di hostel sebelah. Bir urung bersahabat, jadi saya memesan jus jeruk. Ada seorang Kolombia yang diadopsi pasangan Norwegia sejak kecil. Ia tak berbahasa Spanyol. Wajahnya begitu Latino, tapi Nordic adalah budaya yang mengalir di darahnya. Ia adalah semacam hybrid.

Jorge dan Thais menukar uang untuk Dinar Serbia. Mereka akan menuju Beograd malam nanti. Dengan kereta menuju Timisoara, lalu ke perbatasan, lalu menyambung dengan entah apa hingga sampai ke tengah-tengah Serbia. Kami berpisah dengan pelukan. See you again. Saya akan menemui mereka di Beograd. Mereka telah memesan AirBnb selama sebulan. Setelah berpindah-pindah hostel, mereka kelelahan. Beograd akan menjadi semacam tetirah.

Dengan perut yang nyeri, tak banyak yang saya lakukan di sisa hari. Makan malam seadanya dan tidur yang cepat. Gadis Inggris itu tiba di sore hari. Dia akan tidur di kasur tepat di atas saya. Di malam hari, dia begitu gelisah karena dengkuran pria di kasur sebelah. Saya bangun begitu dini, kira-kira pukul enam. Taksi membawa saya ke terminal kecil di dekat stadion kecil. Flixbus itu tiba juga. Sebelas jam akan berlalu sebelum Budapest muncul di jendela.

Malmo-Siberut

Tahun baru. Orang-orang pergi ke gereja di Minggu pagi, di hari terakhir 2017. Ibu-ibu dengan kebaya, anak-anak dengan kemeja yang keren, dan bapak-bapak yang tampil necis. Semua ingin bergaya di gereja. Terlebih di ujung tahun. Saya berjalan sepanjang Muntei-Muara dengan pemandangan itu semua: mereka yang berbondong-bondong pergi beribadah. Saya tak merasakan dorongan untuk masuk ke kebaktian. Gereja, sepertinya, tak lagi menarik buat saya.

Saya justru mengingat Malmo. Tahun lalu, di pagi terakhir 2016, saya bangun begitu dini di sebuah hostel di Kopenhagen. Saya hendak menuju Malmo. Tentu saja dengan Flixbus. Sekitar sejam, saya tiba di Malmo. Saat itu, saya merasa Kopenhagen terlalu megah, terlalu wah, terlebih di tahun baru. Orang-orang dari berbagai sudut pergi kesana untuk melepas tahun. Maka, saya mendamba yang lebih sepi, yang lebih ugahari. Malmo menjadi pilihan yang logis.

Benar saja. Malmo di akhir tahun 2016 tampak begitu sepi. Ketika saya turun bus dan berjalan menuju hostel, saya melewati pusat-pusat kota yang kesepian. Tak banyak aktivitas manusia. Toko-toko telah tutup. Saya mengingat seseorang bersepeda dengan gegas. Itu saja. Sisanya satu-dua manusia yang berjalan-jalan santai, atau sekadar mengajak jalan anjingnya. Saya mengingat Malmo dengan kesenduan yang indah, dengan kesedihan yang filosofis.

Di Malmo, perayaan tutup tahun dilakukan dengan epik. Opera dipentaskan di pusat kesenian. Tak ada pesta-pesta elektronik. Saya begitu terkesima dengan pilihan ini. Seriosa menggema di udara. Lalu bariton yang menghangatkan udara. Dingin mengisi malam. Kaleng-kaleng bir ditenggak, botol-botol wine dibuka. Orang-orang siap merayakan tahun baru. Perlahan angka dihitung mundur, lalu kembang api aneka warna muncrat di langit. 2017 membuka dirinya.

Hari ini, hari pertama di 2018, saya bangun dengan malas pada pukul 9 pagi. Hujan turun di Siberut. Orang-orang pergi ke gereja dengan malas. Saya duduk-duduk di teras, membaca Camus dan mengabaikan suara-suara dari kebaktian. Lalu saya melewati Muntei-Puro dengan motor, membelah ladang-ladang penduduk. Di teras-teras rumah, teh dan kue sapi dihidangkan. Lalu obrolan-obrolan sekenanya. Orang-orang tampak biasa saja di tahun baru.

Persis seperti Malmo. Di hari pertama 2017, setahun yang lalu, saya bersepeda melintasi jalan-jalan Malmo: menuju Rosengard, memesan McDonalds di dekat stasiun Triangle, dan mendaki ke kastil kecil di dekat danau. Udara begitu membekukan di musim dingin ala Swedia. Tapi matahari bersinar begitu terik. Jadi, orang-orang semringah untuk keluar rumah. Entah pergi ke pameran lukisan di Konsthall, atau bertamasya ke kincir angin di dekat centrum.

Saat ini, di ujung malam, Malmo dan Siberut berbaur di dalam kepala, membentuk rentetan peristiwa yang tak bersinggungan. Semuanya adalah kepingan. Tapi ada benang merah di antara keduanya. Kita boleh tak merayakan tahun baru, tapi kalender adalah kenyataan yang sukar dielak. Tahun depan, entah di sudut bumi yang mana, saya akan mengingat lagi saat saya tersesat di Malmo atau saat saya melintasi jalan Puro-Muntei yang baru setengah jadi.

(Muntei, 1 Januari 2018)

Do we need revolution or revelation?

Do we need revolution or revelation?

I was reading Camus in Muntei. People here live simply, at least to my standard. Ladang, sugar pleasure, and moile moile philosophy. In the terrace, you can see communalism. One white scholar called them primitive communist. I always have a problem with the term ‘primitive’.

This late afternoon, I was thinking about primitive. I remembered Papua. We, urban people, are more primitive, aren’t we? We live for money like crazy, we live for fantasies. Here, people are living a carpe diem way of life. It is only today. Forget that fuckin calendar, darling!

I feel so fit with this people, with this way of life. Life for lazy people like me. One time, I imagined those central government and missionary bastards came to the island, then judged them as lazy, as against modernity. Oh, but we have never been modern – to borrow Latour.

People are always smiling. You can always jump to people’s terrace and talk. Silence is never awkward here. It is a part of conversation, because we need to swallow the words into thought, or into nothingness. It is always okay to have nothing and to be nothing. Why bother?

I write bullshit. Anthropology is bullshit. Research is unethical. Ethics is unethical. Sociology is even more bullshit. Bullshit is ethical. Ethics are bullshit. The notions of bullshit and ethics filled up my mind. They are intertwined into melancholy, later into tragedy, then comedy.

In the night, rains poured down. I was reminded of the rains of Wageningen, of Ebay, of Torino. I was remembering the life in pulau. Those sorrowful days, those amazing nights. One day, I will go back to Ebay. But without research, without the necessity of doing something.

Moile moile, my friends.

(Siberut, 3 Januari 2018)