Jakarta di Torino

‘If you stay, then I will stay. Even though this town is not what it used to be.’

Di perpustakaan di Parco del Valentino, saya membayangkan Jakarta. Lalu saya membuka Spotify dan spontan mengetik ‘Jakarta’ di kolom search. Lalu lagu-lagu itu mengalun di telinga, seperti sepotong mimpi yang liris. Dan saya merindukan Jakarta dengan perasaan yang aneh. Disana ada kengerian tentang macet, tentang hal-hal yang asing di Eropa. Tapi, disana, saya merasa ada sesuatu yang akrab, yang tak pernah saya temui di kota-kota di utara. Entah apa. Mungkin semacam keterikatan yang subtil, kelekatan yang remeh, atau sense-of-belonging yang tak diinginkan.

Tak sehari dua hari kegiatan itu saya pelihara. Termasuk di perpustakaan di Lingotto, lagu-lagu tentang Jakarta menghiasi hari-hari saya menyusun tinjauan pustaka tentang air dan laut. ‘I forget Jakarta, all the friendly faces in disguise,’ kata Adhitia Sofyan. Di Torino, dua perasaan itu bertubrukan seperti biji-biji kopi di dalam blender. Saya membenci dan merindu secara bersamaan, seperti kisah cinta yang tak mudah. Pada Jakarta, sebenarnya saya merindu sesuatu yang kacau, yang chaotic. Sebab Eropa terlalu membosankan, terlalu lurus-lurus saja. Saya ingin mengendarai motor di trotoar!

Advertisements

Distance

Distance is poetic. Like an unblossomed flower in the first day of spring. One day it grows and we know it with no doubt. With no question marks.

It was a sunny day in The Hague. I was looking for winter. Checking price tags in the stores I hate to visit. Putting a self in the agony of consumerism. Tourists everywhere in the streets. Was beautiful, but Wageningen came into mind with melancholy. A countryside story never fails me. Nature, river, and the famous ‘berg’. Give me nothing but silence. Cities are made with appetite for destruction, with an archaic zest for things. It was a sound inside me who preach with gusto: too much hypocrisy in the city.

Here I am again. I meant to write a poetic-romantic-melancholic narrative on distance and 6-hours space in the days of winter of the north there. It is failed as I am sitting in my room. Romanticism filled my eyes and burned my mind. Do not blame me, darling. It was a long cold winter in the Netherlands. (It was great days, do not mistaken me.) But a man from the south will always miss the south. The sun, here, shines with honesty. Sometimes too brutal. But, as a friend once said, ‘I just miss the place where I know its rules.’

See? Distance is poetic. Like you and me in front of the beers. The foam in the head of the glasses never lies. One day it will be gone. Like the distance of ours.

(October 29, 2017)

di-antara

Sebenarnya ini cerita tentang tipsy.

Ceritanya saya sedang ngobrol via Whatsapp dengan perempuan yang hobinya minum anggur, entah Merlot atau cap orang tua, kalau kata Silampukau. Dan kita membahas soal tipsy. Mungkin tak sepenuhnya ‘kita’, atau tak sepenuhnya ‘membahas’, karena saya merasa saat itu saya hanya melantur tidak jelas saja. Seperti saat ini, atau banyak saat-saat yang lain.

Ceritanya saya sedang menulis tesis tentang surfing. Dari salah satu artikel, saya jadi tahu bahwa area paling accessible buat main surfing disebut littoral area. Secara oseanografi, kata teman saya yang banyak tahu soal laut, littoral area adalah daerah dimana swell (gelombang) dari laut lepas mulai pecah, lalu menggulung menjadi surf. Ombak surf inilah yang jadi mainan surfer-surfer itu. Surfing, pada dasarnya, adalah apa yang dilakukan di littoral area tadi, di daerah yang, mengutip Anderson, both between and beyond land and sea. Ia berada di antara keduanya, tapi bukan keduanya. Ia ada di tengah-tengah. Seperti jembatan. Seperti spasi yang menghubungkan kata.

Di di-antara (in-between) itulah sebenarnya banyak hal terjadi. Surfing salah satunya. Anderson menyebutnya sebagai liminal space. Coba bayangkan kalau saya menulis tidak pakai spasi, andakanjadiagaksusahbacanya. Coba bayangkan kalau tidak ada jembatan, bagaimana caranya sepasang kekasih dari dua desa yang bersebrangan bisa ciuman. Tanpa disadari, kita berhutang pada banyak di-antara ini. Mungkin bukan hutang yang perlu dibayar sih, tapi tetap saja. Hutang adalah hutang.

Tipsy adalah salah satu di antara di-antara itu. Ia adalah posisi di antara mabuk dan tidak-mabuk, antara sadar dan tidak-sadar. Tapi ia bukan salah satunya. Ia bukan apa-apa. Ia hanya perantara. Ia nyaris menjadi mabuk atau sadar, tapi tidak keduanya. Pada titik itu, segalanya bisa terjadi. Kita bisa melantur, kita bisa tertawa, kita bisa menulis puisi seperti Kerouac. Tapi kita tidak mabuk. Tapi kita tidak sadar. Jadi, kita akan baik-baik saja. Kita masih bisa berpikir agak lurus layaknya orang sadar, tapi kita sudah memasuki fase agak enak layaknya orang mabuk. Disana, kesadaran dan ketidaksadaran bertemu, seperti dua orang yang berpapasan di jalan.

Menjadi tipsy, seperti halnya berjalan di jembatan atau mengetik spasi di komputer, sebenarnya adalah tentang jarak dan jeda. Selama ini, dalam kesadaran, kita berjarak dengan sesuatu yang sublim di dalam diri kita, yang kadang tak tersentuh oleh sobriety. Kesadaran memisahkan kita darinya, sampai kita minum atau menyerap substansi-substansi lain, dan sampai di titik itu: tipsy. Tapi awas jangan mabuk. Karena saat mabuk, semuanya akan berantakan. Yang sublim itu, bisa saja mengerikan. Kita harus memberinya garis batas. Seperti bluebird-nya Bukowski.

Dan, menyoal jeda, tipsy adalah area dimana kita tak perlu menjadi apa-apa. Kita belajar melupakan omong kosong di kampus dan kutipan-kutipan keren di novel. Kita mengambil jeda dari dunia, dari yang real, mungkin juga dari diri kita sendiri. Lalu, kita menjelma sesuatu yang berbeda, yang agak gamang, tapi sebenarnya adalah bagian dari diri kita, yang kita sembunyikan dalam-dalam, karena ia tak mendapat tempat di kesadaran. Tapi, sekali lagi, awas jangan sampai mabuk.

Ngomong-ngomong, ‘Diantara’ keren juga ya kalau jadi nama anak.

 

Bertamasya

Hari ini mari kita ke kota
Aku kan menyusun puncak gunung di matamu
Kita tak butuh kemah
Tak perlu walking pole
Dan kita akan menjadi sore
Kita akan menjelma matahari terbit

Di kota kita mengitari pusat
Dibuai gerai-gerai dari atlantik
Aku ingin memesan masa depan
Lalu menaruhnya di kantong celanamu
Dan kita akan menjadi embun pagi
Kita akan menjelma keabadian

Lelah membawa kau dan aku
Duduk di kafe trendi tepi kanal
Aku merangkai tembakau di paru-parumu
Sedang cappuccino meleleh di lidahku
Dan kita akan menjadi biji kopi
Kita akan menjelma uap

Hari tiba-tiba abu-abu
Metro melintas ke pinggiran kota
Aku merapikan odol di gigimu
Lalu selimut menjadi langit-langit
Dan kita akan menjadi satu
Kita akan menjelma bulan

(sebelas september, 2017)

Senja di Dijkgraaf

Seseorang melipat matanya di balkon. Dari lantai 13, ia melongok ke barat. Matahari terbenam. Kita berbagi kesunyian. Dalam senja, kata-kata kehilangan maknanya. Dan asap-asap itu mengembara. Ia menggambar siluet, kadang membentuk sajak, kadang menjadi bukan apa pun. Tak ada ganja di sini. Tak ada narkotika. Hanya tembakau.

Di lantai 16, sepasang kekasih berciuman. Lewat jendela, bibir mereka berpagut. Mari kita rayakan senja dengan ciuman. Keduanya berciuman dengan panjang. Dan mesra. Lagi-lagi, kata-kata kehilangan maknanya. Langit menjadi jingga, lalu menggelap, dan mereka tetap berciuman. Panjang dan mesra. Setelah itu, malam menjadi panjang.

Ia memanggang kue kacang. Tepungnya organik, katanya. Ia membelinya di Lazuur, atas nama kesehatan. Ketika organik menjadi fashion, kita tahu ada yang berubah. Tapi di lantai 15, kita tak membahas kapitalisme hijau, atau Marx, atau gaya hidup urban. Kita melepas dapur di belakang dan menuju ke ufuk. Pada senja, kita mengambil jeda.

Balon udara itu terbang. Mengawang di barat, menjadi siluet hitam di lautan oranye. Fotografi akan meringkusnya jadi dua dimensi. Dan kita tak peduli kamera. Di lantai 14, mereka membahas entah apa. Ik begrijp het niet. Kata-kata bertukar, tapi mata mereka. Mata mereka fokus pada satu titik, seperti kamera. Barat, adalah akhir dari semua.

Menjelma Sapardi

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, kata Sapardi. Tapi kita mengutipnya terlalu sering hingga ia jadi bukan apa-apa. Kita memahaminya hanya sebagai mural di tembok kota dan omong kosong di dunia maya. Bisakah aku mencintaimu dengan sederhana?

Beri aku nyali seribu kuda dan aku akan membawamu ke duniaku. Dan kita akan berbagi hari-hari yang di depan, yang tidak kita ketahui, dan kadang membikin gemetar. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Setidaknya untuk hari ini. Selalu hari ini.

Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput, kata Sapardi. Aku ingin berhenti menjadi duri di tulangku sendiri. Dan aku akan menjumpaimu dengan ketakutan yang meledak-ledak. Lalu senyummu memberiku ketenangan sebuah rumah di tepi danau.

Kau entah memesan apa. Dan aku menebak-nebak, membuat teka-teka silang di kepalaku, dan menjawabnya dengan bahasa Indonesia. Pada titik itu, ada yang keliru. Kita bicara dengan bahasa yang tak sama. Aku harus memesan rasa lapar yang asing itu.

(27 Agustus 2017)

Afterbeers

Bulgaria menjadi segara. Dan menangis aku di De Zaaier. Setelah gelas-gelas Weihenstephan, aku mengingatmu dengan melankolia. Dan tiba di Dijkgraaf dengan bayangan tentang Leiden dan Amsterdam. Dan Mentawai. Aku ingin surfing sekarang. Di lautan tropis di negeri paling menyenangkan dan menyedihkan di dunia. Indonesia.

Esok hari aku akan melaju kencang dengan Intercity. Dan meminjam buku karena sains terlalu mengecewakan di kotaku. Dan berbagi tempat dengan seorang juffrouw dari Indonesia. Kita akan berbincang tentang tesis, Belanda, dan Depok. Lalu aku akan menuju Oostzaanstraat dan berbasa-basi tentang ombak di Siberut selatan.

Tapi, aku tak peduli apa pun saat ini. Aku cuma mengingatmu yang tersenyum saat bir hanyut dalam tenggorokan dan turun ke lambung. Saat matamu bertambah sayu dan indah dan sedih, sehingga aku membacamu sebagai puisi yang elegik. Dan aku akan menciummu. Kita akan lelap dan berbagi malam yang dingin di musim panas.

Setelah ini aku akan tertidur. Aku akan jadi mimpi yang tak bisa kau jelaskan. Kau akan menjadi piringan hitam yang berputar. Nostalgik. Dan aku kan mencarimu di sudut-sudut Amsterdam. Aku ingin menemui dengan tanpa rencana, dengan takdir yang sederhana. Lalu kita akan berpegangan tangan menyeberang zebra cross di centrum.

Mentawai dan Ombak

Hari ini di Rotterdam, Mentawai kembali memenuhi isi kepalaku. Setelah Bulgaria dan hari-hari yang panas di Balkan, aku mencari ritme yang ditelan liburan musim panas. Lari aku ke Rotterdam, menjauhi Dijkgraaf dan Wageningen, mencari perpustakaan di Erasmus, untuk kembali larut dalam Mentawai. Dan ombaknya.

Hammons mengisi siangku dengan shamanism, concealment, secrecy, dan tetek-bengek antropologis lain tentang Mentawai, kerei, dan primitive tourism. Lalu aku mencari benang yang menyambungkan pikirannya dengan pikiranku, studinya dengan studiku, dan studiku dengan studi Jeske yang akan kutemui di Amsterdam minggu depan.

Tesis, dan penelitian pada umumnya, mungkin memang selalu seperti ini. Kita berusaha menyambungkan apa yang terputus, atau apa-apa yang sebenarnya tak  pernah nyambung sama sekali. Kita mencari benang merah dari semua ini. Saat darah kita meledak oleh kafein yang bertubi-tubi menghantam nadi. Dari pagi hingga malam.

Lalu tiba-tiba, di momen saat aku menulis omong kosong ini, seorang gadis berambut keriting memasuki perpustakaan. Dan larut aku dalam parasnya dan baju warna oranye yang melingkari tubuhnya. Aku ingin mencuri matanya dan melukis senyum di wajahnya. Saat kita berpapasan. Dan Mentawai terlupakan. Lagi dan lagi.

(Rotterdam, 18 Agustus 2017)

Ziarah

​Kita sebenernya sedang berziarah kan? Melewati kota-kota yang asing seperti masa lalu, menjadikannya kenangan, dan menggalinya beberapa tahun lagi.

Di Karlsruhe, aku mengingat musim gugur yang dingin, di tengah malam yang gigil. Menunggu bus menuju Arnhem: setelah Freiburg dan Colmar. Dan aku mengingatnya dengan detil. Potongan roti, pagar dekat halte, dan artwork di dalam hauptbahnhof.

Segalanya terasa seperti kemarin. Tapi sebenarnya tidak juga. Kita tahu ada yang melintas di tengah, di antara hari ini dan yang silam. Detik dan menit dan jam berloncatan, membentuk ribuan kejadian yang mungkin tak paralel sama sekali. Semuanya adalah fragmen.

Dan kita, juga waktu, hanyalah potongan-potongan kecil. Seperti sebuah puzzle, kita merangkai momen menjadi gambar. Tapi tak selalu berhasil. Ziarah-ziarah ini mungkin tak perlu bermakna, mungkin tak akan pernah utuh, dan mungkin dua puzzle yang tak sama. Tapi bukan berarti ia tak berarti.

Seperti halnya utopia yang tak pernah sia-sia, kita butuh berziarah. Kita perlu berkelana untuk merawat kewarasan di arus waktu yang melahap kita habis-habisan. Atau mungkin sebaliknya, untuk menjadi setara dengan jaman yang gila ini. Entahlah.

(Karlsruhe, 11 Agustus 2017
setelah kopi yang berlebihan)