Bertamasya

Hari ini mari kita ke kota
Aku kan menyusun puncak gunung di matamu
Kita tak butuh kemah
Tak perlu walking pole
Dan kita akan menjadi sore
Kita akan menjelma matahari terbit

Di kota kita mengitari pusat
Dibuai gerai-gerai dari atlantik
Aku ingin memesan masa depan
Lalu menaruhnya di kantong celanamu
Dan kita akan menjadi embun pagi
Kita akan menjelma keabadian

Lelah membawa kau dan aku
Duduk di kafe trendi tepi kanal
Aku merangkai tembakau di paru-parumu
Sedang cappuccino meleleh di lidahku
Dan kita akan menjadi biji kopi
Kita akan menjelma uap

Hari tiba-tiba abu-abu
Metro melintas ke pinggiran kota
Aku merapikan odol di gigimu
Lalu selimut menjadi langit-langit
Dan kita akan menjadi satu
Kita akan menjelma bulan

(sebelas september, 2017)

Advertisements

Senja di Dijkgraaf

Seseorang melipat matanya di balkon. Dari lantai 13, ia melongok ke barat. Matahari terbenam. Kita berbagi kesunyian. Dalam senja, kata-kata kehilangan maknanya. Dan asap-asap itu mengembara. Ia menggambar siluet, kadang membentuk sajak, kadang menjadi bukan apa pun. Tak ada ganja di sini. Tak ada narkotika. Hanya tembakau.

Di lantai 16, sepasang kekasih berciuman. Lewat jendela, bibir mereka berpagut. Mari kita rayakan senja dengan ciuman. Keduanya berciuman dengan panjang. Dan mesra. Lagi-lagi, kata-kata kehilangan maknanya. Langit menjadi jingga, lalu menggelap, dan mereka tetap berciuman. Panjang dan mesra. Setelah itu, malam menjadi panjang.

Ia memanggang kue kacang. Tepungnya organik, katanya. Ia membelinya di Lazuur, atas nama kesehatan. Ketika organik menjadi fashion, kita tahu ada yang berubah. Tapi di lantai 15, kita tak membahas kapitalisme hijau, atau Marx, atau gaya hidup urban. Kita melepas dapur di belakang dan menuju ke ufuk. Pada senja, kita mengambil jeda.

Balon udara itu terbang. Mengawang di barat, menjadi siluet hitam di lautan oranye. Fotografi akan meringkusnya jadi dua dimensi. Dan kita tak peduli kamera. Di lantai 14, mereka membahas entah apa. Ik begrijp het niet. Kata-kata bertukar, tapi mata mereka. Mata mereka fokus pada satu titik, seperti kamera. Barat, adalah akhir dari semua.

Menjelma Sapardi

Aku ingin mencintaimu dengan sederhana, kata Sapardi. Tapi kita mengutipnya terlalu sering hingga ia jadi bukan apa-apa. Kita memahaminya hanya sebagai mural di tembok kota dan omong kosong di dunia maya. Bisakah aku mencintaimu dengan sederhana?

Beri aku nyali seribu kuda dan aku akan membawamu ke duniaku. Dan kita akan berbagi hari-hari yang di depan, yang tidak kita ketahui, dan kadang membikin gemetar. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana. Setidaknya untuk hari ini. Selalu hari ini.

Aku memesan ilalang panjang dan bunga rumput, kata Sapardi. Aku ingin berhenti menjadi duri di tulangku sendiri. Dan aku akan menjumpaimu dengan ketakutan yang meledak-ledak. Lalu senyummu memberiku ketenangan sebuah rumah di tepi danau.

Kau entah memesan apa. Dan aku menebak-nebak, membuat teka-teka silang di kepalaku, dan menjawabnya dengan bahasa Indonesia. Pada titik itu, ada yang keliru. Kita bicara dengan bahasa yang tak sama. Aku harus memesan rasa lapar yang asing itu.

(27 Agustus 2017)

Afterbeers

Bulgaria menjadi segara. Dan menangis aku di De Zaaier. Setelah gelas-gelas Weihenstephan, aku mengingatmu dengan melankolia. Dan tiba di Dijkgraaf dengan bayangan tentang Leiden dan Amsterdam. Dan Mentawai. Aku ingin surfing sekarang. Di lautan tropis di negeri paling menyenangkan dan menyedihkan di dunia. Indonesia.

Esok hari aku akan melaju kencang dengan Intercity. Dan meminjam buku karena sains terlalu mengecewakan di kotaku. Dan berbagi tempat dengan seorang juffrouw dari Indonesia. Kita akan berbincang tentang tesis, Belanda, dan Depok. Lalu aku akan menuju Oostzaanstraat dan berbasa-basi tentang ombak di Siberut selatan.

Tapi, aku tak peduli apa pun saat ini. Aku cuma mengingatmu yang tersenyum saat bir hanyut dalam tenggorokan dan turun ke lambung. Saat matamu bertambah sayu dan indah dan sedih, sehingga aku membacamu sebagai puisi yang elegik. Dan aku akan menciummu. Kita akan lelap dan berbagi malam yang dingin di musim panas.

Setelah ini aku akan tertidur. Aku akan jadi mimpi yang tak bisa kau jelaskan. Kau akan menjadi piringan hitam yang berputar. Nostalgik. Dan aku kan mencarimu di sudut-sudut Amsterdam. Aku ingin menemui dengan tanpa rencana, dengan takdir yang sederhana. Lalu kita akan berpegangan tangan menyeberang zebra cross di centrum.

Mentawai dan Ombak

Hari ini di Rotterdam, Mentawai kembali memenuhi isi kepalaku. Setelah Bulgaria dan hari-hari yang panas di Balkan, aku mencari ritme yang ditelan liburan musim panas. Lari aku ke Rotterdam, menjauhi Dijkgraaf dan Wageningen, mencari perpustakaan di Erasmus, untuk kembali larut dalam Mentawai. Dan ombaknya.

Hammons mengisi siangku dengan shamanism, concealment, secrecy, dan tetek-bengek antropologis lain tentang Mentawai, kerei, dan primitive tourism. Lalu aku mencari benang yang menyambungkan pikirannya dengan pikiranku, studinya dengan studiku, dan studiku dengan studi Jeske yang akan kutemui di Amsterdam minggu depan.

Tesis, dan penelitian pada umumnya, mungkin memang selalu seperti ini. Kita berusaha menyambungkan apa yang terputus, atau apa-apa yang sebenarnya tak  pernah nyambung sama sekali. Kita mencari benang merah dari semua ini. Saat darah kita meledak oleh kafein yang bertubi-tubi menghantam nadi. Dari pagi hingga malam.

Lalu tiba-tiba, di momen saat aku menulis omong kosong ini, seorang gadis berambut keriting memasuki perpustakaan. Dan larut aku dalam parasnya dan baju warna oranye yang melingkari tubuhnya. Aku ingin mencuri matanya dan melukis senyum di wajahnya. Saat kita berpapasan. Dan Mentawai terlupakan. Lagi dan lagi.

(Rotterdam, 18 Agustus 2017)

Ziarah

‚ÄčKita sebenernya sedang berziarah kan? Melewati kota-kota yang asing seperti masa lalu, menjadikannya kenangan, dan menggalinya beberapa tahun lagi.

Di Karlsruhe, aku mengingat musim gugur yang dingin, di tengah malam yang gigil. Menunggu bus menuju Arnhem: setelah Freiburg dan Colmar. Dan aku mengingatnya dengan detil. Potongan roti, pagar dekat halte, dan artwork di dalam hauptbahnhof.

Segalanya terasa seperti kemarin. Tapi sebenarnya tidak juga. Kita tahu ada yang melintas di tengah, di antara hari ini dan yang silam. Detik dan menit dan jam berloncatan, membentuk ribuan kejadian yang mungkin tak paralel sama sekali. Semuanya adalah fragmen.

Dan kita, juga waktu, hanyalah potongan-potongan kecil. Seperti sebuah puzzle, kita merangkai momen menjadi gambar. Tapi tak selalu berhasil. Ziarah-ziarah ini mungkin tak perlu bermakna, mungkin tak akan pernah utuh, dan mungkin dua puzzle yang tak sama. Tapi bukan berarti ia tak berarti.

Seperti halnya utopia yang tak pernah sia-sia, kita butuh berziarah. Kita perlu berkelana untuk merawat kewarasan di arus waktu yang melahap kita habis-habisan. Atau mungkin sebaliknya, untuk menjadi setara dengan jaman yang gila ini. Entahlah.

(Karlsruhe, 11 Agustus 2017
setelah kopi yang berlebihan)

Fragmen

Sore itu, kita bercerita tentang laki-laki yang menua di pinggiran sungai. Dia berjalan dengan kaki telanjang dan terrier coklat di sampingnya. Di wajahnya, kita membaca tahun-tahun yang mengapung, yang mengambang, serta yang setengah tuntas. Di matanya, kita melihat buku yang robek dan asap pabrik di kota yang menyedihkan. Kita melafalkan namanya dengan melodi yang terlampau liris.

Api unggun menikam malam yang tak terlalu gelap di musim yang menghangat. Lalu kita berciuman. Panjang dan mesra. Kita memberi nada pada jeda, kita memberi sunyi pada bunyi. Di bibirmu, aku seperti mendapati gereja abad pertengahan di kota yang tak pernah dibaca di peta. Dan aku ingin menyanyikan himne di telingamu. Lalu kita berciuman lagi sampai air sungai memercik menghantam ilalang.

Kereta melintasi desa-desa. Hutan-hutan itu tumbuh lagi. Aku mengingat musim gugur dengan kesedihan yang menggebu-gebu. Karena itu aku menyukai matamu yang sayu, yang sedih, yang mengandung seribu satu elegi. “Aku benci pujian,” katamu. Kita bicara dengan bahasa yang sama, sayang. Kita lari ke alkohol untuk bersedih. Kebahagiaan membuat kita curiga dan kita mencium hipokrisi di dalamnya.

Dan salju jatuh. Aku ingin kembali kesini pada Januari dan berselancar di es. Lalu kita akan terduduk dan membagi nafas yang sama. Potongan-potongan musik menjadi latar. Di atas meja, Cabarnet-Sauvignon terbuka begitu saja. Wanginya tak mengaur. Tapi ia akan busuk. Kita harus segera menghabiskannya sebelum ia menjadi mengerikan. Kita tak boleh berlama-lama larut dalam nostalgi. Kita harus mabuk.

Musim Panas

Adalah hari-hari yang pengap.

Di kelas, aku membayangkan bus kota di Blok M yang mengantre untuk keluar terminal. Dan aku mengendari mio merah menuju lapak buku bekas di basement. Tersesat aku di rak-rak, di wangi kertas-kertas yang kecoklatan. Disana, di tumpukan buku-buku itu, aku mencari kau yang bersembunyi entah dimana. Saat kalimat menjadi makna.

Adalah hari-hari yang terik.

Di jalan, aku membayangkan kereta di Stasiun Manggarai yang ganas. Orang-orang dengan kemeja dan keringat menggantung di dahi. Kita berebut spasi di dalam gerbong, kita mencari waktu yang dicuri dari kita setiap pagi. Saat alarm menjadi semacam ritual yang dipaksakan. Saat bangun pagi adalah kewajiban yang melelahkan.

Adalah hari-hari yang panas.

Di sungai, aku membayangkan ibuku. Mungkin dia sedang di taman depan rumah, menyiram bunga atau memotong daun yang sudah layu. Mungkin ia sedang pergi menengok adiyuswa yang sakit. Mungkin ia sedang membaca puisi bapak atau memasak kering kesukaanku. Mungkin ia sedang mengingatku yang entah dimana.

Adalah hari-hari yang lembab.

Di kamar, aku membayangkan Uti yang sedang menyeduh kopi di pagi hari. Menakar gula dengan perasaan dan mengaduknya dengan irama yang melankolis. Lalu ia akan solat saat senja, membentangkan sajadah dan menyebut namaku disana. Waktu kecil dulu, aku suka duduk di sampingnya saat solat. Saat agama tak dicampur politik.

Rijn Blues

nothing was blurred in the Rijn
neither fire nor sky
voice of yours filled the ears with melancholic rhythm
like a song from distant lands in the south
we kept talking on agony, on ballad, on brutality
the lives we live on is the broken ones since it began
but it was not an apathy that keeps fire burning
it was the archaic wisdom that fire will die someday

(21 Juni 2017)