Semenjana #5

I see mediocrity as a neutral category to portray ontological projects of people living in urban context. Mediocrity, at best, is an escape from urban delirium. Work, traffic, and money have captured us, making us enjoying a state of being okay with un-okay stuffs on the road, inside the cubicle, and in front of the ATM.

Being mediocre, I begin to understand, is a wise tactic of surfing on the chaos. It’s okay to be not okay, as it happens to most people, especially the urban middle class. In this sense, we break away from the dreams we always revise and the misplaced hopes put on us by others (parents, universities, state, friends, bosses).

We were raised with too much superlatives, I suppose. Then, we were taught to accumulate anything, material things or immaterial desires. I blame a fallen Berlin wall that has given us this neoliberal mind of dreaming on accumulating, of accumulating the superlatives, of telling lies about changing the world.

Then comes the revelation: mediocrity. I use it as a heuristic method to understand the urban dwellings, in which I was/am a part of. After all the screams and spirits of revolutionizing anything (digital, economy, football, and else), we should now stop a bit. We talk/work/dream/change/accumulate too much anyway.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Advertisements

Semenjana #4

Danijel Subotic. Saya membayangkan kenapa dia pergi meninggalkan Eropa dan berakhir di Kuwait. Pada sebuah malam, ia mencetak gol ke gawang Persipura. Gol itu yang membuat saya mula-mula merenungi soal kesemenjanaan ini. Apa salahnya menjadi medioker di dunia yang serba menuntut?

Subotic yang kosmopolit. Lahir di Zagreb, paspor Swiss & Serbia, malang-melintang di banyak negara. Ia memulai di Swiss, lari ke Inggris, lalu Italia, dan setelahnya berangkat ke timur: Romania, Ukraina, dan Azerbaijan. Hingga akhirnya ia tiba di Kuwait pada 2014. (Setelah itu Moldova, Korea, dan Kazakhstan.)

Saya membayangkan Subotic sebagai sampel. Anak-anak yang mengasah mimpinya untuk menjadi semacam Beckham atau Del Piero. Awalnya, semua baik-baik saja. Lalu usia bertambah, dan kenyataan tak bisa dikibuli. Mimpi-mimpi terus direvisi. Good bye, Becks, we are going east. We are going nowhere.

Apa salahnya menjadi biasa-biasa saja? Lewat golnya, di layar tv, Subotic seperti bertanya ke saya: apa salahya bermain di Qadsia dan membobol Persipura? Fuck the Alps, fuck Premier League. Dan semuanya baik-baik saja. Ia terus bermain bola dan mencari gawang berikutnya untuk dirobek. Tor!

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #3

Detil-detil yang mengosongkan kepalaku terjadi pada pukul 2.40 dinihari. Saat itu matahari belum tampak di timur dan kita terpaksa menyusun nyala dari lidi-lidi yang dirapatkan. Kita akan menanam pagi dengan puisi, dengan lukisan tentang perempuan yang buah dadanya menyala seperti api di Etna.

Ketika sepakbola dimainkan, aku melupakan hal-hal. Seperti ombak di Siberut. Kita perlu senjata untuk amnesia. Melupakan adalah sebuah seni yang masing-masing memelajarinya saat beranjak remaja. Ingatan itu mengerikan. Tapi, alzheimer juga. Kita terjebak pada dua kengerian yang terus menghimpit.

C’est la vie. Bangunan-bangunan tua di Lyon telah bicara tentang manusia yang terjebak nostalgi. Mereka bergerak maju dengan kepala yang diputar ke belakang. Sebenarnya, kita tak pernah hidup hari ini. Cuma kemarin atau lusa. Yang asing adalah sekarang. Mungkin karena itukah kita selalu bermuram durja?

Eropa membawaku ke sudut-sudut yang baru untuk mengerti misteri. Dan aku dibiarkannya tersesat di lorong-lorong gelap, penuh alkohol dan pelacur-pelacur dari Siberia. Saat aku keluar, aku menemukan diriku di belantara yang absurd. Di sana, cuma ada bayangan-bayangan samar tentang entah-apa.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #2

Perempuan itu terus melantur entah tentang apa. Bibirnya bicara a, tapi suaranya soal b. Semuanya surreal, seperti sebuah mimpi di malam yang becek. Jakarta Raya, pukul 7 petang, mengandung wangi keringat dan nestapa. Hari berakhir, dan gelas-gelas wiski diputar di dalam lingkaran. Hompimpaalaiumgambreng.

Adalah teduh pohon di samping warung Mang Kus. Ia telah jadi semacam refuge dari deadline, jadwal liputan, dan omong kosong bikinan hrd. Terduduklah kita di bangku seadanya di sana dan kita tak dituntut menjadi apa-apa. Kecuali manusia yang bercerita tentang aiueo dan xyz yang tak melulu soal kerja, kerja, kerja.

Melankolia telah kucampur dengan es dawet. Dan aku memesan teori dari Amerika untuk menjelaskan kenapa kota menjadi ruwet. Park dan Habermas mengisi layar komputer, lalu sistem mendadak mandek. Sebentar, mari kita pergi ke bawah dan memencet klakson. Tut, tut, tut. “Hai kota yang tua bangka.”

Seperti itulah hari-hariku terselip di laci, pada sebuah kubikel yang peyot di Bona Indah. Sebelas bulan terbaik. Tanpa hierarki yang mengular dari Palmerah sampai Panjang. Tanpa embel-embel #1, t.o.p, dan superlatif lain. Kita tak harus jadi apa-apa, kecuali manusia yang berbagi keluh kesah di sore merekah.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Semenjana #1

Aku ingin mematikan lampu sekarang juga. Terang memberiku pening dan cahaya membuatku mengingat siang musim panas di Perugia. Tanah-tanah Umbria takkan baik untuk tidurku yang gusar, yang penuh mimpi-mimpi dari kecemasan yang menganga. Seperti seekor dinosaurus yang takut digusur epoch.

Tak ada anggur merah di sini. Tak ada kota-kota yang menangisi sunyi dengan patung di depan gereja. Dialog di kepalaku semakin menjadi-jadi. Arah mata angin melukis ulang namanya di buku catatan berjudul “Hari-hari yang Membosankan di Tenggara”. Dan kertas pun linglung, kompas berputar 27x per 3.5 detik.

Kubikelku di Kebon Jeruk masuk ke dalam memorabilia. Del Piero di kamarku menjadi saksi. Malam-malam yang panjang, dengan dengung televisi di belakang dan asap rokok di meja sebelah. Tik-tok-tik-tok. Keyboard komputer diinjak telunjuk. Layar berpindah kesana-kemari. Seperti berita yang berlari-lari.

Kill your darlings. Sebuah pesan di surel meletup. “Show me the man who both happy and sober.” Menjadi tua di kota ini adalah sebuah kesalahan yang tak bisa di-cancel. Apa jadinya undo di kehidupan nyata? Mungkin khaos. Mungkin damai sejahtera. Tapi, kita jadi tak butuh gereja untuk menangisi Yesus yang malang.

Post-scriptum: Saya sedang mencoba menggali lagi ide lama, yang selama ini terbenam di bawah mimpi-mimpi yang tak keruan bentuknya. Sebenarnya saya cuma ingin jadi medioker saja, dan merayakan senja dengan air putih. Seri “Semenjana” ini adalah usaha untuk membangunkan lagi anak kecil yang tidur manis di sana, entah dimana. Supaya ia lekas bangun dan berakhir di toko buku.

Para Peziarah di Santiago

Santiago de Compostela, pada sebuah musim dingin yang basah.

Stasiun basah. Apa-apa basah. Kota jadi murung. Saya melangkahi pusat kota dengan wangi burger yang menguar ke jalan. Di Parque de Alameda, segala jadi lebih sendu. Pohon-pohon tanpa daun menanti datangnya musim semi. Langit kian kelam, malam menjelang. Saya tiba di hostel sebelum gelap merayap.

Roots and Boots nama hostelnya. Saya naik ke dorm dan mendapati jendela yang menganga. Katedral ada di seberang. Ia tampak kecil dari lantai dua hostel. Gagah menjulang, meski ditopang besi-besi restorasi. Di Eropa, orang tergila-gila pada masa lalu. Maka, bangunan tua direstorasi dan nostalgia dipupuki.

Nostalgia. Itu juga yang membawa saya ke Galicia, di barat laut Spanyol. Tujuan awal saya ialah A Coruna, kota pesisir yang berbatasan langsung dengan Atlantik. Saya hendak mencari jejak Deportivo La Coruna, klub sepak bola yang ketika saya kecil hingga memasuki masa remaja sedang bagus-bagusnya.

Namun, tak ada penginapan murah di kota itu. Maka saya melipir ke Santiago. Menginap di sana dan ke A Coruna pulang-pergi naik kereta. Kedua kota ditempuh dalam 30 menit. Tapi, meski saya ‘tersasar’ di Santiago, bukan berarti kota ini tak punya apa-apa. Banyak orang mengenalnya karena Camino de Santiago.

DSC_1491

Camino de Santiago ialah salah satu jalur ziarah paling terkenal di dunia. Setiap tahunnya, manusia dari berbagai belahan dunia pergi menuju Santiago de Compostela dengan berjalan kaki. Jalur paling umum disebut Camino Frances, the French way. Para peziarah memulai dari kota Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis. Beberapa jalur lain dimulai dari Basque (Spanyol utara), Andalusia (Spanyol selatan), Lisbon (Portugal), dan sebagainya.

Sebenarnya tak ada aturan yang benar-benar kaku soal jalur. Ide utamanya adalah berjalan kaki menuju Santiago, biasanya melintasi kota-kota yang dianggap suci bagi umat Katolik. Meski begitu, sekarang ini banyak juga peziarah yang menggunakan sepeda untuk mencapai Santiago. Camino de Santiago terus berubah mengikuti jejak jaman. Ia bermula dari ziarah relijius umat Katolik menuju makam Santo Yakobus (Santiago, dalam bahasa Spanyol) dan kini berubah menjadi cara lain untuk traveling/berwisata.

Di hostel, saya sempat bertemu beberapa peziarah. Misalnya, dua anak muda Korea. Seperti banyak orang lain, mereka berangkat dari Saint-Jean-Pied-de-Port, melintasi berbagai kota di utara Spanyol, hingga akhirnya tiba di Santiago. Lebih dari satu bulan waktu yang mereka lalui untuk berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, mereka berhenti dan menginap di hostel-hostel peziarah. Harga per malam untuk peziarah lebih murah dibanding untuk turis lain. Selain itu, peziarah Camino memiliki semacam paspor yang diberi stempel setiap mereka melalui atau singgah di kota-kota penting.

Ada juga seorang pemuda yang terbang jauh dari Meksiko untuk menjalani Camino de Santiago. Ia datang sendirian, meski akhirnya sering bergabung bersama peziarah lain. Sama seperti dua orang Korea tadi, dia memulai dari Prancis. Sementara itu, saya bertemu seorang kakek yang memulai dari Basque dan seorang bapak yang berjalan kaki dari Italia. Peziarah bisa memulai dari mana-mana, tapi tujuan akhirnya satu: Santiago de Compostela.

Peziarah ada dimana-mana di Santiago. Bahkan, di tengah-tengah kota ada Museum Perziarahan (Museum of Pilgrimage). Ketika saya berjalan-jalan gontai di kota, tak sulit melihat orang-orang dengan tas punggung besar, sepatu gunung, dan tongkat. Terlebih di dekat Katedral. Para peziarah itu duduk-duduk di pelataran atau berdiri merenungi akhir perjalanan mereka. Betis-betis mereka tampak bengkak, hasil dari berjalan kaki ratusan kilometer. Mengapa mereka mau berjalan begitu jauhnya dalam Camino de Santiago?

Motifnya bisa macam-macam. Pada mulanya, ini soal kepercayaan iman Katolik untuk meningkatkan spiritualitas rohani. Lambat laun ia berubah jadi bentuk turisme yang populer. Dua anak muda Korea yang saya temui di hostel contohnya. Mereka terpengaruh melakukan Camino karena iklan tv. Kata mereka, iklan-iklan yang mempromosikan Camino de Santiago cukup marak di Korea Selatan. Mereka berdua hanya segelintir dari banyak orang Korea lain yang terpikat.

Ketika saya tanya apakah mereka melakukan Camino karena kaitan dengan iman Katolik, mereka menggeleng kepala. Bagi mereka pribadi, ini tak ada sangkut pautnya dengan agama. Mereka tertarik pada Camino de Santiago karena pengalaman berbeda yang ditawarkannya. Ini semacam jalan-jalan versi slow, pelan dan tak terburu-buru. Dengan itu pula keduanya mengapresiasi cara orang-orang Katolik jaman dulu dalam berziarah. Lagi pula, untuk apa tergesa-gesa?

(Januari 2019)

P.S.: Ditulis untuk Kawruh.

Calvin Stengs dkk.

12 November 2016. Musim sudah begitu dingin di Wageningen. Saya menyiapkan sarung tangan, kupluk, dan perlengkapan lain untuk melawan udara yang dingin. Hari itu temperatur tak pernah lebih dari 5 derajat. Dari kamar di Haarweg, saya bersepeda melewati jalan-jalan kecil nan sepi, melalui banyak peternakan, sebelum tiba di Veenendaal setelah lebih dari 12 km mengayuh.

Itu akhir pekan. Dan artinya sepak bola. Saya ke Veenendaal untuk itu. GVVV Veenendaal berhadapan dengan Jong AZ Alkmaar dalam lanjutan Tweede Divisie. Di tribun, saya tak sendirian kedinginan. Bapak, ibu, pemuda, pemudi, dan anak-anak, semua tampak menggigil. Tangan selalu ada di kantung jaket. Syal rapat melindungi leher dan kupluk menutup telinga. Semua siap.

Di lapangan, situasi berjalan payah bagi GVVV. Sempat unggul lebih dulu, tuan rumah menyerah 1-4 dari Jong AZ. Tak ada yang terlalu spesial di lapangan hari itu, kecuali satu pemain yang menarik perhatian saya sejak pertama kali bola berada di kakinya.

Namanya Calvin Stengs, dengan nomor 34 di punggungnya. Larinya kencang di sisi kanan penyerangan Jong AZ. Akselerasinya merepotkan pertahanan GVVV. Satu gol ia sumbang di laga itu, dan gol terakhir tak lepas dari key pass-nya. Tapi, terlepas dari semua catatan itu, pergerakannya yang membuat saya terpikat sejak awal. “Suatu hari dia akan jadi pemain besar,” pikir saya dalam hati.

12 Mei 2019. Saya menonton streaming laga antara AZ Alkmaar dan PSV Eindhoven. Selain Ajax vs Utrecht, laga itu akan menentukan juara Eredivisie tahun ini. Di lapangan, pemain nomor 7 tampak familiar. Lalu, komentator menyebut namanya: Stengs.

Seketika saya mengingat siang yang dingin di Veenendaal itu. Stengs telah beranjak dari Jong AZ ke tim senior. Pelan-pelan ia memantapkan posisinya di AZ. Ia naik tingkat ke tim utama sejak musim lalu, namun baru pada musim 2018-19 namanya sering menghiasi susunan pemain AZ. Terhitung 20 kali ia tampil di Eredivisie, 19 di antaranya sebagai starter. Tiga gol dihasilkannya. Mungkin, beberapa tahun lagi, tebakan saya di Veenendaal bukan sekadar bualan belaka.

DSC_0685

Stengs-Stengs lain

Saya memang punya kebiasaan seperti itu: menonton seorang pemain untuk kali pertama, langsung terpikat, lalu menebak ia akan jadi pemain besar. Stengs bukan yang pertama. Beberapa di antaranya jadi kenyataan, tapi ada pula yang malah mandek kariernya. Namanya juga manusia, cuma bisa menebak-nebak.

Fredy Guarin, misalnya. Saya lupa kapan dan pada laga apa pertama kali menyaksikan Guarin lewat tv. Saat itu ia masih di FC Porto. Di lapangan tengah, ia berlari tanpa lelah dari satu kotak ke kotak lain, dengan atau tanpa bola. Saat itu ia belum dikenal banyak orang, tapi saya yakin ia ditakdirkan untuk klub yang lebih besar. Inter Milan akhirnya merekrutnya, tapi rasanya cukup sampai di situ ‘puncak’ karier Guarin.

Terkait Inter, ada satu pemain lagi: Mathias Ezequiel Schelotto. Awal 2013 silam, saya sempat menulis tentang Schelotto dan membandingkan dia dengan Mauro Camoranesi, legenda Juventus. Secara fisik, keduanya mirip: awak yang kurus dan rambut gondrong. Keduanya juga sama dalam hal posisi (gelandang kanan), negara kelahiran (Argentina), dan tim nasional (Italia – karena punya dua kewarganegaraan).  Schelotto mulai melesat bersama Cesena, tapi di Atalanta-lah saya “mengendus” bakatnya. Ia lalu dipanggil ke timnas Italia (meski hanya sempat bermain selama empat menit di laga persahabatan). Saya pikir ia akan jadi Camoranesi jilid dua. Tapi, setelah pindah ke Inter, kariernya justru perlahan redup.

Cukup sudah yang sendu-sendu. Dua nama terakhir harusnya (akan) lebih benderang. Pertama, Willian kala masih berkostum Shakhtar Donetsk. Skuat Shakhtar saat itu diisi Fernandinho, Douglas Costa, Henrikh Mkhitaryan, dan Luiz Adriano. Bahkan, bersama nama-nama itu, Willian tampak begitu menonjol. Liukan-liukannya meyakinkan saya bahwa dia terlalu besar untuk Shakhtar. Benar saja. Setelah transit sebentar di Anzhi, Willian berlabuh di Chelsea hingga kini dan bakatnya tak kunjung padam.

Yang terakhir, Frenkie De Jong. Saya pertama kali sadar oleh bakat besar Frenkie saat menonton langsung laga ADO Den Haag versus Ajax, September 2017. Ajax tampil biasa saja siang itu dan akhirnya pulang dengan satu poin. Tapi, pendar sinar Frenkie sudah terlihat di sana. Ia bermain di “posisi Pirlo” dan dari sana ia mengalirkan bola ke rekan-rekannya. Saya menonton bersama teman dan ia juga sadar. “Siapa pemain nomor 21, Tor?” tanyanya. Musim ini, kita semua tahu siapa Frenkie.

(Mei 2019)

Masa Lalu

Banyak hal yang sudah selesai. Seperti masa lalu. Kita bisa saja menggambarnya ulang di dalam kepala, tapi itu hanya berhenti di situ saja. Yang berlalu telah berlalu. Kadang ia berupa nostalgi, kadang ia berupa pesan dari jauh. Kadang ia berupa bukan apa-apa – hanya sekadar lamunan di tengah malam yang kosong, saat kantuk tak jelang tiba.

Yang menarik adalah berubahnya nuansa. Mulanya memori masa lalu lebih berupa nostalgia yang elegis, tentang sesuatu yang sudah berakhir dan tak ada lagi di sini hari ini. Kita terus mengunyahnya dengan pasrah. Hingga, lambat laun, elegi itu berganti dengan perasaan kangen yang dewasa, yang tak mendamba yang lalu untuk terjadi lagi.

Mungkinkah kita tumbuh dewasa dengan cara seperti ini? Dengan membiarkan masa-masa yang sudah lewat – beserta kenangan tentangnya – mengajari kita perlahan tentang arti kehilangan, menerima, menyintas, dan pasrah? Mungkin iya, mungkin tidak. Atau mungkin kita hanya terlampau kesepian di dunia yang hiruk pikuk ini.

***

Kota-kota melintasi kepala seperti rangkaian kereta yang berderap di punggung gunung. Satu per satu muncul di hadapan, tapi terlalu segera. Sepersekian detik hilang, berganti dengan yang lain. Begitu terus, hingga tiba-tiba kantuk datang dan lelap membunuh kereta-kereta imajiner itu. Menyudahi kota-kota yang berlarian liar di kepala.

Juga manusia-manusia. Kita berbagi spasi dengan yang lain. Dan dari spasi yang dibagi-bagi itu, cerita mengalir, terpotong-potong menjadi puzzle yang melengkapi keutuhan fragmen. Seringkali, kota tak ada artinya tanpa orang-orang di dalamnya, dimana kita berbagi waktu dan ruang dengan kerinduan masing-masing akan rumah.

Rumah. Dimana rumah? Kita pergi dari rumah, mencari rumah, mendapat rumah, mendamba rumah, kehilangan rumah, merindu rumah. Rumah, akhirnya, bukanlah kediaman. Atau tempat yang ajeg. Ia hanyalah alasan kita untuk bergerak, untuk selalu pulang, untuk selalu mencari yang bukan di sini hari ini. Untuk tersesat sekali lagi.

***

Kepingan-kepingan itu lalu berjejalan. Kadang kita harus melukiskannya, entah lewat kata-kata atau gambar. Tapi, lebih sering, kita membiarkannya hanyut entah kemana. Karena – bukan apa-apa – kita tak sanggup untuk bergerak. Kita pasrah diam mendapati takdir yang pilu ini, yang berwujud ingatan-ingatan dari masa yang lalu.

Lalu, apakah kita harus melawannya? Saya rasa tidak. Yang lalu akan selalu datang sebagai bayangan. Kita tak perlu cemas, karena ia sudah datang berkali-kali dan semua toh baik-baik saja. Justru, semua itu tanda yang asyik bahwa kita telah melalui waktu-waktu yang berharga. Senang dan sedih itu niscaya, berharga itu soal memilih.

Jadi begitu. Ketika nostalgia masa lalu menerkam, sebaiknya kita bernafas dengan tenang. Dan menutup mata. Dan kereta-kereta itu melintasi neuron-neuron yang menghubungkan hari-hari yang berjarak, kota-kota yang berjauhan, dan manusia-manusia yang terpisah. Bersama nostalgia, kita tak akan pernah benar-benar kesepian.

(Depok, 5 Mei 2019)

Posted in ide

Ode untuk Masa Depan

Jadi begini saja.

Berikan aku kuas dan pastel warna-warni supaya aku bisa melukis hari depan dengan sembarang. Di kanvas, aku akan melukis mukamu, matamu, dan bibirmu yang tersenyum di balik americano. Lalu jendela di belakangmu mengarah ke timur. Matahari ada di barat, dan oranye menyebar jadi siluet yang seluruh.

Jadi kau duduk di dekat jendela, pada sebuah senja.

Dan aku dimana? Aku melukis tahun-tahun yang akan datang dengan sembarang. Tapi tidak juga ah. Kata-kata memberiku makna pada titik, garis, dan ruang. Dan aku mengisi kanvas putih kosong tidak dengan ide yang percis, tapi dengan harapan. Juga kemampuan menerka pagi. Tak ada yang pasti, kecuali jawaban yang sementara.

Jadi begini sajalah, kita ini sementara.

Aku duduk di kursi dan memandang matamu yang lurus menatap mataku. Dan rambutmu yang terurai sebahu, dan bibirmu yang bicara tentang kota-kota. Momen itu selalu sementara. Kau dan aku hanya sementara di sini, berbagi bulan-bulan yang melelahkan di internet dan Cikini. Dan aku ingin sementara bersamamu selamanya.

Jadi, apa yang akan diberikan esok?

Mungkin sepotong roti rasa markisa, atau sirup rasa ketiak. Kita mendamba cabernet sauvignon, tapi untuk apa anggur merah tanpa gairah. Di situ, aku mencari nada-nada tua yang kusimpan entah dimana. Dan aku ingin menyanyikannya persis di kupingmu. Dengan merdu. Dengan sendu. Dengan rindu yang selalu rindu.

Jadi, aku menangisi masa depan.

Terduduklah kita di bukit yang pendek. Pada sebuah musim yang cerah, bunga-bunga mekar dan burung-burung terbang riang. Kita menjadi tua begitu saja tanpa aba-aba. Dan aku melalui semua dengan bayangan yang samar. Mungkin kau juga. Tapi, toh, tangan kita bergandengan. Berjalan pelan-pelan melalui samar yang (tak) asing itu.

(Depok, 30 April 2019)