can i borrow your melancholia?

​I will borrow your melancholia as fuel for my own. So I can cry in the middle of the road. Between Stade and Rotterdam, I gazed at the window and looked for your whisper. But you’re not there to be heard or looked at. Instead I found my own reflection and imagination of days forgotten.

Distances are getting longer here. With despair, everything gets harder. Even in the sunny day such as today. This is one of my Eurorepan days where I beg for rain to fall. So I can please my melancholic desire. So I can join you in the club of sadness. But I keep thinking o​​f seas and skies in Siberut.

Perhaps I will come back with nothing, for nothing. It is like I am missing something. Not a reason to live, but a reason to laugh. Smiles are temporary and mechanical. While headache comes constantly like little rains in Dutch autumn. Should I bring you dead flowers from dead joys of mine?

I miss beers more than anything now. My feeling is floating nowhere. I would like to wander more in the forest of uncertainties. So I am certain that I am uncertain. Life is paradoxical and full of ambivalences. I have always been trying to celebrate it. But now I am lost in my own wild thoughts.

(Flixbus HH-Rott, 13.09.18)

Advertisements

mimpi-mimpi

“Every movement needs to pause at times.” (Paulo Coelho)

Bunga-bunga tidur
berserakan di halaman
mereka seperti fragmen-fragmen
yang tak beraturan
tapi menyiratkan pesan
atau mungkin tidak

Di atas kasur
air mata dan air mani bercampur
dalam cangkir suci perjamuan
kita menangis
kita bercinta
kita merayakan hidup
yang sementara ini

Mabuklah!

(Stade, 4 September 2018)

Isar

​In Isar. A tiny curly-haired girl is drawing in front of me in her tiny drawing book. She brought a set of animal dools. They are tiny like her. They are cute like her. She suddenly reminds me of my sister. The curly-haired girls always fascinate me, either little or bigger girls.

Near the banks, a woman puts on her bra. Before, she was naked on top. She has​​ nice solid breasts. Now she is lying on the water, looking at nowhere but the streams of water. The weather is lovely. Summer is almost over, so we must grasp it while it lasts.

Next to me, on the left, an old man has been reading a newspaper for almost an hour. He is sitting in portable chair. He seems swallowing every words in paper very carefully. Perhaps he reads about the place he has never been to. Or maybe about the city he was grown up in.

And here I am. Sitting in Isar, pondering about random stuffs. On overtouristic places. On traffic jam in Jakarta. I am thinking how modernity may have created us crowd-phobia. That we always expect our neighbors, either fellow car drivers or tourists, are not exist.

(Munchen, 19-08-2018)

Praha

Praha memecahku jadi roti. Tapi tanpa perjamuan. Orang-orang mengunyah hari dengan rakus. Matahari tak ada di bawah sungai. Kita menjelma Kafka. Melewati lorong-lorong Praha yang sedih. Bagaimana sebuah kota bisa melahirkan absurdisme? Di kota ini, monster ada di bawah jembatan. Dimana gelap dan terang bertemu, tapi dengan bahasa yang tak dimengerti cahaya. Luber. Jadi kita.

Dan punggung gadis Ukraina itu menjadi salib. Yesus mati di Golgota, bukan di Praha. Di kota ini, orang menyembah berechovka. Dan alkohol rupa warna. Gereja diisi hantu-hantu dari Moskow. Tank-tank berkejaran, sembunyi di balik pohon. Mengintai/menanti jatuhnya apel dari tangkai. Segalanya meledak. Menjadi lumer. Kota menjelma asap, menjelma huruf-huruf yang urung kita pelajari.

Setelahnya surga. Shakespeare yang malang, mengapa kau termangu? Buku-buku berserakan. Botol-botol berhamburan. Kata-kata bercampur dengan bir dan keringat musim panas. Kota berubah teduh. Di balik buku, kita tak perlu berdebat tentang kiri atau kanan. Sofa-sofa bertebaran di lantai bawah. Dan ia menjadi akhir kembara dari dunia yang penuh duka. Kota Kafka penuh lara.

Post-thesis raving

So, I have given you unnecessary rhetoric of having and not-having. The kisses were melted down and we were/are/will be split by oceans. It is always a mistake to (not) talk. I fall in love with words but they scare me. In such ambivalence of loving/avoiding, I try to position myself in the chaotic (un)desire to say things. I have many bad habits. Two of them are: talking with too brutal honesty, sometimes too gross; and not talking at all, leaving things unsaid. At the end of the day, I am not sure anymore whether they are bad or not. Parcels of life.

I have offered you fantasies and dreams. They were/are too often melancholic. I love sad things; I have said this, no? They are more real and I borrow realism as my own escapism from the world where the real meaning of ‘virtual’ is lost. I am hiding in the parties and celebrations, but I will be in front of the coffins. Death is beautiful and sacred; that’s what we believe in highlands of Toraja. So, I will only drink for glorious despair of life. I will leave all the nice things to others who can make sense more of wild laughter, crazy smiles, and stupid screams.

I have left you smiles, anyway, and dummy wisdoms from the South/North/West/East. When I talk things, most of them are in between too good and too bad. I have been trying to avoid adjectives. That is my newest (ontological) revolution. That is my everyday resistance (along with consumerism, of course). But, I speak up, you know? I like silence and uninterrupted serenity. Yet, I realize that I like them because I try to find words there. So, I can make beautiful sentences from my inner being; from the place where poetic tales/thoughts grow wildly.

(Wageningen, 13 Agustus 2018)

Gaia

Ini cerita kecil tentang meja dan lift, di Gaia.

Di pojok barat, lantai tiga, saya terbiasa mengerjakan tesis mini disana. Di luar ruangan, ada coffee machine tempat saya biasa membuang uang untuk cappuccino, untuk memberi alasan yang (tidak) logis untuk terus bekerja, berada di depan komputer berjam-jam untuk entah-apa. Di luar ruangan, juga ada seperangkat meja dan kursi. Mereka ada di tengah-tengah antara dua sayap (wing A dan B). Mereka ada di-antara.

Suatu waktu, saya bosan di dalam ruangan, lalu keluar untuk mengusir suntuk. Lama saya mengamati meja dan kursi di tengah-tengah kedua sayap itu. Yang saya bayangkan ketika melihat meja-kursi itu adalah negeri di selatan sana. “Jika ini di Indonesia, pasti meja dan kursi itu takkan pernah berhenti diisi. Apalagi kalau di Mentawai,” pikir saya saat itu. Sementara, tidak di sini. Meja-kursi itu lebih sering kosong dan kesepian. Orang-orang lebih suka berada di ruang kecil masing-masing dan mengerjakan omong kosong masing-masing.

Oleh karena mengamati meja-kursi itulah, entah bagaimana caranya, saya sepenuhnya menyadari bahwa kita di selatan, di Indonesia, hidup dengan komunalisme yang begitu natural. Kita tak perlu diajari untuk berkumpul, kita pasti akan kumpul. “Makan nggak makan yang penting kumpul,” kira-kira begitu adagium populernya. Kita bernafas, tumbuh, belajar, hidup, dan bercita-cita sebagai komunal. Bukan individual. Semua ada dan dirumuskan di yang komunal itu. Mungkin itulah kenapa barat terasa begitu asing.

Tentu saja, ada kolonialisme, lalu poskolonialisme, lalu neokolonialisme. Barat menyetir cara berpikir kita, dan menggeser komunal dengan individual. Kita diajari untuk berdiri sendiri, menjadi ubermensch ala Nietzsche atau manusia merdeka ala filsafat-filsafat eksistensialis Prancis. Yang dihitung adalah yang tunggal, yang individual. Kelompok disulap cuma jadi statistik untuk kepentingan marketing. Eropa memberi kita diktat tebal tentang individualisme dan tetek-bengek lain yang akan menjadi konsekuensi organik darinya.

Jadi, saya rasa, kita terjebak pada ketegangan itu, pada ambivalensi antara individual dan komunal. Pada suatu tesis, seseorang menulis demikian di kata pengantar: “I write this text in a modern/colonial/scientific/egoistic I” bla bla. Sedang, lewat kasus-kasus orientalisme, saya menduga (European/Western) Self adalah akar masalah. Atau bukan. Masalah sebenarnya adalah kita menelan mentah-mentah konsep Self itu, dan menciptakan translasi yang terlalu dipaksakan di selatan. It should be selves (yes, without capital S) in the south.

Lalu, meminjam pikiran-pikiran decolonial, saya rasa kita harus sepenuhnya kembali ke we. Tak ada yang salah dengan menjadi dan berpikir sebagai komunal. Tak ada yang keliru apabila keputusan-keputusan kita disusun, tanpa sadar, secara komunal; dengan mempertimbangkan tubuh-tubuh lain di luar tubuh kita, yang tak hanya terkait, tapi secara inheren tak terpisahkan. Secara alamiah, itu semua memang realitas sehari-hari di selatan sana. Sebenarnya, tulisan ini cuma untuk mengingatkan diri sendiri, terlebih jelang pulang.

***

Setelah meja adalah lift. Gaia terdiri dari 4 lantai, termasuk lantai dasar. Jadi lift cukup sentral. Secara literal, ia ada di tengah-tengah. Seperti menjadi semacam episentrum dari kegaduhan akademik di seisi gedung. Ada dua lift dan mereka saling berhadapan. Yang satu lebih besar dari yang lain. Saya lebih suka yang kecil, tapi entah kenapa saya selalu menekan tombol keduanya saat ingin naik-turun lift. Kenapa saya harus tergesa-gesa?

Itu yang saya pikirkan, pada suatu sore saat pulang ke rumah. Seperti cerita meja, ini juga kisah yang absurd. Saya tak tahu menahu darimana datangnya. Kenapa saya tak menekan tombol lift kecil saja, lalu menunggu. Di Dijkgraaf, tempat tinggal saya, saya juga kadang suka menekan tombol ketiga lift yang ada di lantai dasar. Padahal, lift yang tiba tepat di lantai 15, dimana kamar saya berada, cuma satu. Kenapa saya harus tergesa-gesa?

Seperti yang sudah saya tulis di kesempatan lain, saya rasa generasi kita/saya punya masalah filosofis terhadap waktu. Kita dibesarkan oleh yang instan-instan. Kita tumbuh dengan sms dan whatsapp, bukan surat. Jadi, kita tak terbiasa menunggu. Kita tak boleh diam di depan lift yang satu dan harus mencari cara agar secepatnya bisa naik atau turun. Kita akan mengambil yang pertama tiba. Lebih cepat lebih baik, seperti kata Pak Wapres.

(non)paralel

I. Porto

Februari 2017. Porto, pada suatu hari musim dingin yang cerah. Saya mengikuti free walking tour. Grup kami kecil, tak lebih dari 10 orang. Dari patung seorang ksatria di atas kuda, kami berjalan kaki melintasi gang-gang Porto yang manis. Lalu, selesai. Setelah itu, saya dan seorang Amerika makan siang bersama. Kami melahap Francesinha, lalu menenggak Super Bock. Dan obrolan bergulir di atas meja.

Ia dari California. Tapi, beberapa tahun ke belakang tinggal dan mengajar di Madrid. Amerika melelahkan, katanya. Orang-orang dengan kehidupan seperti robot, katanya. Cuma uang yang di kepala. Spanyol, dan gaya hidupnya yang rileks, memikatnya. Siesta adalah simbolisme untuk itu. Tapi juga hal-hal lain, seperti minum bir pada jam 10 pagi. Kita bisa melihat betapa santainya orang Spanyol menjalani hidup.

Lalu, pada satu momen, ia memberi saya pertanyaan yang mengejutkan. Apa hal yang paling berharga buat kamu? Ini pertama kalinya saya diberi pertanyaan ini. Dan, yang lebih mengejutkan, saya menjawabnya dengan spontan dan lekas. Keluarga. Kata itu keluar begitu saja, tanpa proses translasi dari pikiran ke mulut. Ia seperti sudah lama berdiam di mulut dan menunggu untuk keluar sebagai ucapan.

II. Firenze

Juli 2018. Pagi yang sumuk di Toscana. Saya memulainya dengan malas, dengan membeli pisang di kios kecil dekat hostel. Pemiliknya sepasang kakek nenek yang ramah. Saya bertukar bahasa Italia yang patah-patah dengan mereka. Lalu, saya menyantapnya di dapur hostel, sambil menunggu kopi mendingin sedikit. Dan, seorang gadis Meksiko masuk ke dapur. “Here can we drink from tap water?” tanyanya.

Kemudian ia duduk di depan saya. Kita mengobrol. Ia tinggal di Dublin selama satu semester, untuk belajar dan memperlancar bahasa Inggris. Sialnya, lingkungan tempat tinggalnya dipenuhi orang Brasil. Alih-alih lancar bahasa Inggris, sekarang ia bisa sedikit bahasa Portugis. Hidup kadang menarik. Hal-hal seperti inilah yang, saya duga, menyelamatkan kita dari keharusan bernama bunuh diri.

Pertanyaan itu tiba juga. Kamu mau pulang setelah lulus? Iya dong, jawab saya. I don’t see myself living in Europe, lanjut saya. Tentu saja Eropa menarik, tapi bukan untuk jangka panjang. ‘Dutch salary’ tak cukup menggiurkan. Sejak dulu saya percaya ada hal-hal yang tak bisa dibeli oleh uang. Tapi saya tak bisa menjelaskan kenapa saya selalu ingin pulang. Saya rasa karena ‘rumah’ dalam artian yang filosofis.

Lalu, saya tanya gadis Meksiko itu dengan pertanyaan yang sama. Yes I also want to go back to Mexico, jawabnya. Dia tak mengerti kenapa orang-orang dari selatan ingin tinggal di utara. Katanya: saya cuma mau tinggal dekat dengan orang-orang yang saya cintai (‘loved ones’), dengan keluarga. Seketika itu saya mengingat Porto. Ada semacam garis imajiner yang menghubungkan dua peristiwa ini.

III. Leiden

Agustus 2018. Joshua membuka dialog di dalam kereta. Gue selalu bingung dan kesal setiap ditanya ‘do you want to go back to your country?’ Buatnya, pertanyaan itu sama sekali tak relevan. Pertanyaan yang jawabannya sudah jelas berarti bukan pertanyaan. Tentu saja ia ingin pulang. Paling lama 2020, katanya. Belanda terlalu menjemukan: keju, roti, musim dingin, angin. Kenya adalah rumah. Di situ persoalan tuntas.

Saya balas bahwa saya juga sering dapat pertanyaan yang sama saat jalan-jalan. Saya juga bingung kenapa selalu dapat pertanyaan semacam itu. Mungkin, di tengah isu pengungsi yang masih hangat di Eropa, orang-orang melihat pendidikan sebagai jalan menuju migrasi. Sekolah hanya kedok untuk mencari kehidupan yang lebih ‘layak’ (meh!) di utara. Di sini, kekerasan epistemik sedang terjadi.

Orang kerap lupa bahwa hidup itu plural, mengandung warna-warni pengetahuan. Lalu saya cerita ke Joshua tentang peristiwa di Firenze. Mungkin kita bisa punya banyak duit dan karir bagus di Belanda, tapi apa gunanya jauh dari keluarga. Kata-kata saya meniru si gadis Meksiko. Yang berharga di utara dan selatan belum tentu sama. Dan kita harusnya tahu itu sebelum ditelan eurosentrisme. Exactly, tandasnya.

A Season with Verona

Saya menikmati buku ini dengan pelan, seperti menyeduh kopi di pagi hari dan membiarkannya dingin. Bulan-bulan berlalu sejak saya mulai membuka halaman depan ‘A Season with Verona’ (selanjutnya disebut Season). Buku ini membantu saya melarikan diri dari narasi-narasi akademis saat tesis: literature review, problem statement, dan kesombongan universitas lainnya. Tak ada tesis di Season, cuma giornata-giornata yang secara kronologis menjalin nostalgi tentang musim yang jauh tertinggal disana.

Italia, pada 2000, adalah puncak sepak bola dunia. Ini narasi universalis yang kita telan mentah-mentah sebagai penikmat calcio. Saya tak ingin mendebatnya hari ini. Pada tahun itu, il sette magnifico masih eksis. Utuh. Batistuta, Totti, dan Veron. Buffon masih  begitu belia di Parma. Ronaldo, Inzaghi, Maldini. Masa-masa yang indah dengan pemain-pemain yang memberi kita sepak bola yang melenakan. Tapi, Tim Parks tak terlena oleh bintang-bintang itu, oleh tujuh klub yang kita gaungkan sebagai ‘magnificent’. Ia  cuma mau bercerita tentang Verona — tanpa Romeo & Juliet.

Singkat cerita, orang Inggris ini mengikuti Hellas Verona — kandang dan tandang — selama semusim penuh. Ia bukan orang asli Verona, tapi ia (belajar) mengimani Hellas dengan ketaatan yang membingungkan. Tapi, saya pikir logis-logis saja. Sepak bola, pada dasarnya, adalah peristiwa sosial-kultural. Di dalamnya kisah-kisah manusia berkelindan, membentuk mitos-mitos, lalu perlahan menjadi semacam agama. Italia adalah tempat yang luhur untuk memeluk agama bernama sepak bola. Tim tinggal di Verona bertahun-tahun, datang ke Bentegodi secara rutin, dan berkawan dengan orang-orang yang mencintai Hellas. Semuanya terjalin begitu wajar.

Season menarik sejak awal karena Verona bertandang di Bari pada giornata perdana. Bari ada di selatan sana, di region Puglia. Verona ada di utara, di region Veneto. Jadi, bayangkan sebuah bus berisi suporter fanatik sepak bola melintasi Italia dari utara ke selatan, dengan alkohol dan cori yang tak putus-putus ditenggak/dinyanyikan sepanjang jalan. Disitulah Tim berada, bersama Brigate Gialloblu yang dikenal sebagai kelompok suporter bola yang fasis, rasis, dan tentu saja doyan berkelahi di jalan. Tim, orang Inggris yang aksen Italianya mungkin tak sempurna, seperti sedang menjalani misi suci di bus menuju Bari.

Setelahnya puluhan giornata lain diceritakan. Kadang dengan bayangan yang begitu jelas tentang sepak bola yang dimainkan di atas lapangan. Kadang sama sekali tak ada urusan tentang lapangan. Yang menyenangkan dari Season adalah Tim memilinnya dengan narasi-narasi di luar sepak bola yang kadang-kadang tampak begitu jauh dari urusan lapangan hijau. Saya teringat, suatu kali ia membandingkan Hellas dengan Inferno-nya Dante. Atau menukas soal wasit dengan melihat struktur yang lebih besar di masyarakat Italia. Atau membahas soal rasisme dengan menyangkutpautkan nyanyian monyet ala Brigate di Bentegodi dan kasus penipuan seorang guru asal Uruguay di kota Verona.

Kesan yang saya tangkap adalah: Tim membeberkan rahasia-rahasia Italia yang cuma bisa diserap ketika seseorang tinggal cukup lama di negeri itu, tapi bukan bagian sepenuhnya dari identitas bernama ‘Italia’. Tim ada di-antara, dia ada di luar sekaligus di dalam. Posisi itu menguntungkannya sebagai pencerita, karena ia tak harus ditelan momok bernama identitas, karena ia bagian tak terpisahkan dari identitas itu. Secara metodologis, Tim memiliki kesempatan dan insting ala antropolog untuk menjadi bagian dari komunitas, tapi sanggup mengambil jarak untuk melihat komunitas itu dengan perspektif yang lebih luas dan utuh.

Di Season, ada begitu banyak bagian yang saya suka. Tiap kalimat, tiap paragraf, atau tiap giornata bisa menjadi ceritanya tersendiri. Masing-masing sanggup memaku saya di sofa dan duduk lama, membayangkan tahun-tahun yang jauh di belakang sana saat saya sedang belajar mencintai permainan ini. Musim 2000-01 adalah yang pertama buat saya. Jadi, itulah kenapa Season begitu nostalgik buat saya. Ia membuat saya mengingat alasan-alasan dan kepingan-kepingan dari perjalanan panjang mencintai sepak bola. Di balik halaman-halaman Season, saya seperti menjadi anak kecil lagi; yang duduk membaca/menonton sepak bola Italia ditulis/ditayangkan.

Oh khidmatnya.

I should (not) write an apology

I should write an apology for the past
But life goes on
And I can only jump on
The fleeting moments of life
Like catching the rolling packed train
In Jakarta, or Utrecht, or wherever else
A constant run with
Endless/pointless breathing

I should write an apology for the future
But life is here/now
So I am busy making (un)poetic efforts
Of catching my own (un)imaginary trains
The days ahead are the days forgotten
And it got to be a sin to think
Of tomorrows, or whatever-what-nexts
As they’re illusive, never arriving, breathless

I should not write any apologies
If I die today
I die today
End of stories
Then I am caught by the train of death
The inescapable human tragedy/beauty
It should be always today
So my last breath will be a relief

(Wageningen, 06-08-2018)