yang paling nyeri

Yang paling nyeri dari bangun kepagian adalah ingatan tentang rumah.

Hari ini, tidak seperti biasanya, saya terbangun jam enam pagi. Lalu saya gegoleran di sofa, lalu saya mandi. Setelah itu saya ke dapur, untuk menyeduh kopi.

Yang paling nyeri dari kopi adalah ingatan tentang rumah.

Kopi yang saya seduh dari Sorong, Kopi Senang. Wanginya, astaganaga, menguar dan seketika membentuk bayangan tentang teras dan dapur di rumah. Saya tiba-tiba teringat bapak dan nenek saya. Kita bertiga peminum kopi paling giat di rumah. Dulu waktu kecil, saya suka menciumi wangi kopi yang baru mereka seduh.

Pagi ini, saya meminum kopi untuk mereka.

Bangun kepagian juga membuat saya mengingat ritual-ritual pagi yang biasa saya lakukan di rumah. Seperti menonton berita olahraga di televisi, atau tidur-tiduran di sofa. Dulu sebelum bapak mengantar saya ke sekolah, saya suka malas-malasan dulu. Sebangun tidur, saya langsung minum susu, lalu beranjak ke sofa sejenak. Setelah mandi, saya ganti baju sambil nonton televisi.

Hari ini, saya membuka laptop untuk itu. Tapi ternyata berita pagi sudah habis — karena di Indonesia sudah siang.

Yang paling nyeri, dari semuanya, adalah waktu yang berjarak.

(Wageningen, 20 Juni 2018)

Advertisements

Menari di Utara

Disclaimer: Catatan kecil ini saya tulis untuk mengingat dan merawat bulan-bulan yang berlalu di Belanda. Saya menaruh catatan ini dalam kerangka berpikir poskolonial dengan menghayati posisi saya sebagai ‘anak dari periferi’ yang belajar di ‘metropole’. Mengabaikan relasi dan esensi historis-poskolonial semacam ini adalah separah-parahnya penyangkalan diri.

Yang paling problematik dari situasi poskolonial adalah orientalisme internal. Kira-kira begitu yang dikatakan Brickenridge dan Veer (1993) dalam Orientalism and the Post-colonial Predicament: Perspectives on South Asia. Narasi-narasi orientalis telah ditulis di utara sejak lama, dan anak-anak selatan belajar menyerapnya utuh-utuh. Maka, kengerian itu tiba: self-orientalism. Kita membaca diri sendiri dengan cara yang telah diajari utara/barat. Lupakan kemerdekaan. Orientalisme telah menjadi darah yang mengalir di nadi-nadi kita, tepat di bawah kulit sawo matang kita. Kita adalah orientalis berkulit coklat.

Di kampus-kampus Belanda – juga di negeri-negeri utara lain – anak-anak selatan duduk di kelas dengan ketegangan-ketegangan poskolonial yang kadang tak diacuhkan. Wageningen, misalnya, dihuni mahasiswa dari ratusan negara, termasuk berbagai negara selatan. Orang-orang dari dunia kedua dan ketiga berkumpul dan merajut harapan di dunia pertama. Anak-anak Yunani, Spanyol, dan Italia paham betapa brengseknya ekonomi dan politik di dalam negeri masing-masing. Pantai, pizza, dan siesta tak cukup. Neoliberalisme ala Eropa Barat adalah destinasi. Brussels adalah kenyataan brutal yang tak bisa dibendung.

Lalu, anak-anak dari Asia, Afrika, dan Amerika (yang bukan Serikat). Disini kita menikmati kemewahan-kemewahan dunia yang kita sebut ‘modern’, ‘beradab’, dan yang paling penting, ‘maju’. Kita terpesona oleh ‘kecanggihan’ ala metropole: transportasi, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Sistem-sistem ala utara membuat kita merenungi betapa tengiknya negara yang kita tinggalkan di selatan sana; betapa ringseknya sendi-sendi kehidupan sehari-hari di periferi sana. Sayangnya, banyak dari kita yang lupa bahwa sebenarnya kita sedang membaca selatan dengan kacamata utara; dengan mengabaikan fakta bahwa pengalaman historis-sosiokultural utara dan selatan tak sama; dengan menelan mentah-mentah narasi soal modernitas, pembangunan, kemajuan, dan omong kosong lainnya.

Pada catatan kecil ini, saya sebenarnya ingin mengajak untuk berkaca dan bertanya tentang dua hal besar: kebudayaan dan relasi poskolonial metropole-periferi. Saya ingin membaca keduanya dengan menengok acara-acara ‘kebudayaan’ yang saya amati di utara, dan dengan merenungi betapa melelahkannya (dan mencurigakannya) wacana bernama kosmopolitanisme.

‘Budaya Indonesia’: Pertunjukan dan pemuasan gairah orientalis

Dekolonialisasi, kata del Arco (2017), harusnya jangan dilihat sebagai proyek tapi sebagai everyday ethics. Tapi, bagaimana bisa mendekolonialisasi pikiran di tengah gairah orientalis/kolonial yang tak kunjung redup? Di utara, benturan itu nyata dalam wujud ‘budaya’. Entah berapa kali saya melihat poster di linimasa Facebook tentang pentas seni budaya Indonesia. Tentu saja, yang dijual adalah Indonesia ‘tradisional’; kebudayaan yang diserap dari daerah-daerah, lalu dipayungi label ‘budaya Indonesia’; dan kita menyuapi orang-orang kulit putih itu dengan eksotisme. Ini 2018 dan yang eksotis masih dicari: tubuh-tubuh sawo matang yang berlenggang-lenggok di depan meneer-meneer; suara-suara yang keluar dari alat-alat musik berbentuk aneh; dan makanan berbau rempah-rempah timur – alasan 350 tahun yang mengerikan itu.

Jadi, ketika perkumpulan-perkumpulan pelajar menghelat acara-acara ‘budaya’ di metropole, yang secara tidak langsung terjadi adalah pemuasan gairah kolonial. Kita terbang dari jauh ke ‘pusat’ untuk mereproduksi colonial psyche. Penjajahan telah selesai, buat sebagian orang; tapi residu-residunya masih bisa kita cium hari ini. Realitas poskolonial ada dimana-mana, di selatan dan utara. Kita mungkin mengingat tempat-tempat di Indonesia dimana budaya lokal dipertontonkan, dimodifikasi, dikomodifikasi, direifikasi, didangkalkan, dan dikomersialisasi untuk memuaskan nafsu turis-turis pirang itu. Di Eropa, pada hari-hari akhir pekan, hal yang sama kerap terjadi. Oposise biner itu pun terjaga: selatan adalah budaya, utara adalah sains; utara adalah penonton, selatan adalah tontonan; selatan adalah objek, utara adalah subjek.

Jika orientalisme masih sahih dibicarakan hari ini, maka kita adalah aktor kunci. Seperti yang saya tulis di awal, yang paling mengerikan dari realitas poskolonial adalah self-orientalism. Kita mengorientalisasi diri sendiri (self). Orientalisme internal ini bisa didasari banyak hal. Dalam konteks pariwisata, misalnya, self-orientalism kadung diterima sebagai normalitas. Dokumenter Framing the Other menunjukkan bagaimana suku Mursi di Etiopia menyesuaikan diri terhadap gairah orientalis turis-turis Belanda atas nama uang. Saat orang-orang Eropa itu mendekat ke desa, mereka sibuk memasang atribut-atribut ‘budaya’, supaya terkesan ‘etnik’, ‘primitif’, dan ‘tradisional’. Kita bisa berkaca dan harusnya sepakat bahwa hal yang sama terjadi dimana-mana. Indonesia, yang kaya budaya, tak luput dari pertunjukan/drama turistik semacam itu.

Jadi, dengan cara berpikir ini, pentas ‘budaya’ Indonesia di utara hanyalah pengejewantahan self-orientalism. Retorikanya bisa macam-macam. Seperti suku Mursi, uang bisa jadi satu alasan; yang berarti ‘budaya’ telah menjadi komoditi. Beberapa lainnya memakai retorika bernama ‘pelestarian budaya’, ‘mengenalkan budaya Indonesia’, ‘memamerkan kekayaan budaya’, dan sebagainya. Retorika-retorika semacam itu memang masuk akal, entah untuk alasan praktikal atau ideologis. Masalahnya, ketika kita menganggap semua itu ‘masuk akal’, kita sebenarnya telah kehabisan paradigma di luar narasi-narasi orientalis. Kita sudah kehabisan cara untuk berpikir di luar yang telah diajarkan/diarahkan metropole.

‘Kosmopolit dan internasional’: Dua jebakan

Untuk memahami bagaimana self-orientalism dalam wujud pertunjukan ‘budaya’ dinormalisasi, saya menganjurkan kita menengok ke persoalan kosmopolitanisme dan internasionalisasi. Wageningen bisa menjadi studi kasus yang menarik. Dalam satu video Youtube, seorang mahasiswa menyebut Wageningen sebagai ‘the most cosmopolitan village in the world’. Wacana-wacana semacam ini, buat saya pribadi, terlanjur menjadi basi. Sejak awal masa orientasi, rektor sudah menyebut ‘atmosfer internasional’ sebagai keunggulan universitas. Memang tak ada yang bisa mengelak dari kenyataan itu. Ribuan mahasiswa dari ratusan negara menghuni desa kecil kami. Adalah di Wageningen saya berkesempatan bertemu manusia dari Kazakhstan, Lithuania, Guatemala, Rwanda, Suriname, dll. ‘Internasional’ adalah mantra yang tak habis-habisnya saya dengar hingga penghujung masa studi ini.

Apa yang terjadi pada pertemuan, dialog, atau interaksi internasional adalah pertukaran budaya. Dalam hal ini, budaya bisa mencakup hal-hal yang abstrak seperti sudut pandang, cara hidup, atau kepercayaan; juga hal-hal yang konkrit seperti makanan, pakaian, atau bahasa. Di dalam ruang yang di luar ‘sehari-hari’, budaya bisa menyerupai tarian, kesenian, musik, dan lain-lain. Pada titik inilah, ketika ‘budaya’ dipertukarkan dalam sebuah pertemuan internasional, praktik dan narasi soal (self-)orientalisme bisa saja menemukan momentumnya.

Salah satu wujud paling banal adalah One World Week. Di acara tahunan ini, retorika yang muncul di permukaan adalah ‘merayakan keberagaman’, ‘kooperasi interkultural’, ‘berbagi tradisi budaya’, dan sebagainya. Di One World Week, pertunjukan seni budaya menjelma bagian penting. Mahasiswa dari berbagai negara menunjukkan budaya, kesenian, kuliner, dan keunikan masing-masing. Menariknya, berdasarkan amatan saya yang lancang, kebanyakan pementas adalah mereka yang berasal dari negara-negara ‘selatan’; yang budaya dan manusianya kerap diberi label ‘eksotis’. Kecuali Belanda sebagai ‘tuan rumah’, saya kesulitan menemukan ‘budaya’ dari negara-negara ‘barat’ lain; yang kerap kita sebut sebagai ‘negara maju’.

Yang sebenarnya terjadi, kemungkinan tanpa intensi, adalah orang-orang selatan diberi panggung untuk mengorientalisasi diri dan budayanya di hadapan publik ‘internasional’. Semua diamini atas mantra pergaulan internasional, pertukaran budaya, dan kosmpolitanisme (oh kita menjadi warga dunia!). Kita bisa saja curiga bahwa yang dimaksud ‘publik internasional’ sebenarnya didominasi orang-orang barat. Tapi, dalam konteks Wageningen, saya tak ingin mereduksi kemungkinan interaksi selatan-selatan. Kendati begitu, kecurigaan saya pada kosmopolitanisme tetap pada tempatnya. Beberapa penulis telah memakai istilah ‘Wester cosmopolitanism’ untuk merujuk praktik dan ide kosmpolit yang secara epistemik lahir di barat. Tak ada keadilan dan keseimbangan yang bisa diharapkan dari proses epistemik semacam itu.

Ujung catatan

Di catatan singkat ini, saya hanya memberi gambaran sekilas tentang bagaimana anak-anak selatan, termasuk Indonesia, mengorientalisasi dirinya sendiri sesuai dengan apa yang telah ditetapkan narasi-narasi orientalis tentang seperti apa itu oriental, ‘yang liyan’, dan non-barat. Sudah lama saya ingin menulis catatan kritis untuk praktik-praktik self-orientalisme yang saya temui, amati, dan alami selama belajar di Belanda. Pentas seni budaya hanyalah satu sampel untuk mewakili realitas-realitas poskolonial dan interaksi metropole-periferi lain di utara sini. Setiap realitas dan interaksi punya retorika dan logikanya masing-masing.

Secara lebih luas, seperti yang sudah saya sebut di awal, saya hanya ingin mengajak untuk berkaca tentang kenyataan poskolonial yang kita hidup sehari-hari. Residu-residu orientalis/kolonial masih terasa, bukan? Jika kita berusaha menciumnya, iya. Jika tidak, ya tidak. Pengelakan terhadap ketimpangan/ketidakseimbangan relasi metropole-periferi hanya akan berujung pada pengelakan-pengelakan lain. Ujung-ujungnya, praktik-praktik reproduktif terhadap narasi-narasi orientalis/kolonial hanya akan berlanjut tanpa kontrol, tanpa kesadaran, tanpa kritik. Dan selamanya kita ‘kan jadi objek yang ditulis, dan dipertontonkan.

Versi lebih padat tayang disini.

prosa paling tidak romantis

Sejujurnya aku tak ingin mengirim ciuman, atau pelukan, ke Jakarta. Kotak posmu tak akan diisi dengan surat dari jauh, dari tempat yang dibaca dengan kernyit di dahi. Aku tak ingin menciummu hari ini. Tak juga besok. Ciuman memperrumit hal-hal yang sederhana, kan? Ia membikin kita linglung oleh nestapa tentang birahi dan kata-kata yang disekap bibir-bibir yang bertaut. Harusnya kita lebih banyak berbahasa di balik senja Yogyakarta.

Maka, aku akan mengirim sepasang burung hantu ke jendela kamarmu. Mereka akan diam setiap malam, seperti sebuah serenada dari utara. Di sunyi malam, mereka akan menjadi bait-bait yang lirih yang mengandung melankoli. Kita tak perlu berbasa-basi lagi tentang filsafat atau gereja. Lupakan suara-suara dari internet. Kedua burung hantu itu akan menjelma aku; yang diam gagap tanpa suara, dengan doa tanpa aksara, kata, agama.

Disini, di musim yang hangat di eropa, aku akan terbahak melihatmu yang kehabisan nafas di kereta. Oh ibukota jahanam, beri aku sepotong udara dari surga! Dan kulahap roti-roti gandum dengan rakus, dengan bayangan tentang gorengan dan tahu isi di Cikini. Tersedak aku membayangkan piring-piring yang tandas dan jari-jari berminyak yang diseka oleh ludahmu. Aku akan tertawa tanpa permisi; atas nama hak paling asasi.

Jadi, aku memberimu kontradiksi-kontradiksi yang tak kau mengerti. Juga sunyi yang kau tak pahami. Juga bahasa yang tak terpermanai. Di titik-titik ini, kita akan kelelahan menyusun jembatan yang menghubungkan benua. Kita bergerak jauh dengan bayangan tentang gaun pernikahan dan tetek-bengek menjadi orangtua; tapi lupa mengecap nikmat dunia. Hari ini aku ingin menjadi apa saja. Atau tidak sama sekali, sayangku.

Tapi, selamat hari lahir! Ngomong-ngomong, aku mengingat Buffon. “I hate birthday,” katanya. Dia tak menyukai selebrasi, apalagi saat ia ada di pusat atensi. Untuk itu, ia memilih posisi paling kesepian di lapangan. Di bawah mistar gawang, tempat orang-orang yang tak ingin menjadi apa-apa. Kecuali menjadi tembok yang memisahkan garis tipis antara luka dan suka. Dari jauh, aku mengingatmu dengan bayangan tentang ojek di Senayan.

Lalu senja menua disini, di pukul 22 yang aneh. Aku akan membisikan doa yang tak dicatat, yang tak diajari yesus atau buddha. Kita juga akan menua (dan tak berubah). Tak ada yang perlu berubah. Kita berdua berjalan kaki, santai menuju ufuk di timur sana; tanpa pretensi, tanpa interpretasi, tanpa romantisasi. Kau dan aku berbagi es coklat yang meleleh dan kita tak perlu mengeluh tentang dunia yang gila. Kita kan tiba di indomaret!

(wageningen, 22 mei 2018 wib)

Buffon

Ada kenyataan-kenyataan sederhana yang tak bisa kita lawan, entah oleh bom atau revolusi. Seperti perpisahan. Gianluigi Buffon telah menyelesaikan bait terakhirnya di Juventus. Tiang-tiang gawang di Corso Gaetano Scirea jadi saksi bisu tahun-tahun yang panjang sejak ia meletakkan kaki – dan tangannya – di Turin. Setelah tujuh belas tahun, Buffon telah menjadi legenda, totem, ikon, simbol; menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Bianconeri. Untuk itu semua, ia pantas menangis.

Di dunia partiarkal ini, dimana laki-laki dilarang menangis, sepakbola adalah alasan yang macho untuk menitikkan air mata. “Saya sering menangis,” kata Buffon, menjelaskan soal air matanya setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Baginya, menangis itu membebaskan (it frees you) dan membuat kita menjadi manusia (it makes you feel human). “Ini bukan tentang kekalahan itu sendiri, tapi sesuatu yang lebih rumit dan romantik,” ujarnya. Di pekan ini, Buffon telah menjelma kata-katanya sendiri. Ia terkesan sangat melankolis.

Di konferensi pers, Kamis lalu, Buffon seperti ingin menangis sejak awal. Toh, air mata itu tak jatuh sama sekali hingga pertanyaan jurnalis terakhir. Tapi, kita tahu matanya sembab. Seperti ada yang tertahan. Kata ‘emosional’ berkali-kali keluar dari mulutnya. Misalnya, “musim ini sangat emosional” untuk menjelaskan kegagalan timnas Italia dan kemarahannya di Santiago Bernabeu. Kita bisa bayangkan betapa wajarnya itu semua. Ia sudah empat puluh tahun, Italia gagal ke Rusia, ia pensiun dari tim nasional, ia gagal lagi di Liga Champions (satu-satunya trofi penting yang belum ia menangkan), dan hal-hal lain. Di lapangan, semua itu tak terlihat. Buffon tampak baik-baik saja. Kiper yang baik adalah ia yang (tampak) tenang.

“Saya pria yang tenang,” kata Buffon. Tenang. Kata itu juga sering keluar di konferensi pers – ‘serene’ menurut penerjemah. ‘Tenang’ itu jualah alasan kenapa ia belum memutuskan kemana ia berlabuh setelah Juventus. “Saya akan memutuskannya minggu depan. Setelah semua emosi ini reda. Saya ingin tenang saat membuat keputusan besar soal masa depan saya,” kira-kira seperti itu.  Maka, spekulasi merebak. Buffon pria yang tenang, tapi kita semua tidak – dan sibuk menebak-nebak. Saya membayangkan kontradiksi di tubuh Buffon, Sabtu ini, saat emosi dan ketenangan bercampur aduk tak karuan di dadanya.

Kita bisa melihat ada yang janggal pada senyumnya. (Hari-hari ini saya sedang banyak membaca soal Barthes dan semiotik, jadi maafkan interpretasi semiotik saya – yang mungkin berlebihan, personal, dan emosional – terhadap gerak-gerik Buffon.) Ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Seperti di ruang pers, Buffon seperti menahan sesuatu di laga terakhirnya. Ia seperti seorang pecinta yang gagal menemukan kata yang tepat. Maka, ia memilih tenang – seperti yang selalu ia lakukan sebagai kiper. (Saya selalu terkesima pada posisi kiper: orang yang berada “di-luar” permainan itu, satu-satunya pemain yang boleh memakai tangan dalam permainan yang dinamai football. Buat saya, ketenangan adalah kualitas utama yang mutlak dimiliki kiper.)

Toh, akhirnya yang ditahan-tahan itu tak tertahankan. Air mata jatuh dari kedua matanya. Kita melihat bola matanya berlinang. Air mata itu telah menjadi pesan yang ingin disampaikannya sejak siang di ruang pers itu. Mengikuti kata-katanya sendiri, Buffon telah (merasa) menjadi manusia – meski curva sud membentangkan banner ‘Superman’ untuknya. Ia manusia biasa, sama seperti kita, sama seperti ribuan orang yang memadati Allianz Stadium dan mendapati kenyataan getir ini. Setelah Del Piero, Buffon adalah perpisahan paling rumit untuk kita – fans Juventus. Air mata Buffon telah menjadi alegori untuk perpisahan.

Saya tumbuh besar dengan imaji tentang Buffon. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari kegilaan ini – terhadap sepakbola dan Juventus. Saya menikmati konferensi pers Buffon, Kamis lalu, dengan bayangan-bayangan tak paralel tentang tujuh belas tahun yang berlarian di belakang. Semuanya membentuk fragmen-fragmen yang patah dan utuh secara bersamaan: calciopoli, Piala Dunia 2006, cinque maggio, Santiago Bernabeu, Trieste 2012, dan sebagainya. Buffon menjadi (salah satu) pusat dari kejadian-kejadian itu. Ia boleh jauh sendirian di dekat gawangnya, tapi ia adalah benang yang menghubungkan rentetan sejarah – setidaknya setelah millennium baru. Kini, benang itu telah putus.

Yang rumit dari sepakbola adalah emosi-emosi semacam ini. Sulit untuk menjelaskan kenapa kita harus menangis saat Del Piero pergi, atau saat Italia dicurangi Korea Selatan enam belas tahun silam. Jorge Luis Borges mengaitkan sepakbola dengan ketololan. Dan mari kita rayakan ketololan ini dengan air mata! Buffon telah menangis. Ia tak kuat lagi menahan air matanya, terlebih setelah ratusan pelukan dengan pemain, staf, dan suporter di stadion. Dari layar kaca, komentator menyebut: “Buffon adalah nama yang akan kita ceritakan ke anak cucu kita kelak.” Tentu saja. Suatu hari nanti, saya akan duduk di teras rumah dan bercerita ke anak (cucu) saya, tentang sebuah malam di Lyon saat Buffon menepis penalti itu. Buffon akan kekal, lewat cerita-cerita yang kita sampaikan; entah hari ini atau kelak. Ciao, capitano.

Jelang Pulang

Sebentar lagi kita akan menyusun ulang bait-bait yang tertunda di Jakarta Raya. Belanda hampir selesai. Bayangan tentang masakan ibu di dapur rumah mulai membayang seperti semacam melankoli yang menghanyutkan. Koper-koper akan segera diisi. Kita kan mengemas sudut-sudut Eropa dengan senyum yang tak jelas maksudnya apa. Di antara selatan dan utara, kita terkoyak jadi dua.

Saya pikir tak ada yang terlalu puitik pada pulang. Ia adalah semacam niscaya. Seperti kematian, saya akan pulang. Saya tak bisa membayangkan hidup tanpa imaji tentang rumah, tentang kota yang saya tinggali sejak kecil, tentang gang-gang yang berbau nyinyir ketika saya melewatinya dengan yamaha/honda. Pengalaman-pengalaman semacam itu bukan sesuatu yang diromantisir.

Segalanya berjalan terasa cepat? Mungkin iya, mungkin tidak. Saya selalu merasa generasi saya sangat menyedihkan dalam hal yang satu ini; dalam hal mengelola waktu dan meresapinya. Time flies telah menjadi frasa yang banal. Mungkin ini semua karena transisi digital yang tergesa-gesa. Sebagai anak tiri internet dan kawan-kawannya, generasi ini punya masalah filosofis soal waktu.

Semua akan berakhir pada waktunya. Sama seperti ketika ia dimulai, ia akan terasa biasa saja. Gegar budaya mungkin akan terjadi. Tapi kita akan baik-baik saja, seperti kala pertama merasakan musim gugur ala Belanda. Jakarta akan baik-baik saja. Kita, sejatinya, memilin keintiman dengan apa-apa yang di sekeliling. Kita akan belajar mencintai yang di sekitar dengan tekun dan taat.

Jadi, hari-hari ini akan berlalu dengan perasaan yang sama seperti ketika kita berada di dalam kereta (atau bus). Stasiun/halte yang kita tuju akan segera muncul di jendela. Kita menantinya dengan perasaan-perasaan yang tak pernah dinamai. Seperti campuran was-was, dan siaga, dan kenyataan bahwa perjalanan akan segera usai. Kita harus bersiap-siap, karena rumah sudah di depan mata.

west/south and we who are trapped in the middle

O my body, make of me always a man who questions!

It was Fanon; either screaming or whispering. But he begged to his body. The thought we have in the head is inseparable with the body we have. Mignolo frames it as body-politics of knowledge. Skin matters. But also anything else.

Do you know what westerners should do? We should build a culture of shame.

It was Monica; preaching in the kitchen at Droef. I thought westerners should shut up. But not for her. Silence is not an option. Shame is. Still, with shame, come development. Isn’t that true? Then, with development, come World Bank.

We always have to jump to be on level with first world citizens. I am tired.

It was Chandra; responding to a question he arranged himself. I am tired, too. Can we just think and know with our own epistemologies? Then, we live in the pluriverse. The Others not as an exotica or an object of govern-ing/ment/ance.

Can the subaltern speak?

It was Spivak; asking rhetoric through the helps of Foucault and Deleuze. It all begins with the (western/modern/colonial) Self. Maybe, decolonial thinking offers us liberation with delinking. Why don’t we turn to communal instead?

yang sederhana

Ada kenyataan-kenyataan sederhana yang tak bisa kita bungkam. Juga oleh puisi. Atau roman yang melenakan. Kita berbagi ruang imajiner, dengan jarak yang membentang ribuan mil. Kata-kata sering patah di tengah, ditelan arus samudra, atau hanyut dilindas angin muson dari barat. Di kupingmu, musikku mengalun bak nyanyi yang sumbang.

Kita berlari, berlari, sesekali berjalan cepat. Tapi kita seperti lupa caranya berhenti. Kota menghisapku/mu habis. Masa depan merongrong seperti hantu yang mabuk. Dan Mentawai masuk sebagai alegori untuk revolusi. Atau wahyu. Sudut-sudut Siberut telah memberiku mata baru untuk memandang dunia. Lupakan Eropa, lupakan PBB.

Hari-hari ini hal-hal yang simpel, sederhana, sehari-hari, remeh, ugahari, dan apa-adanya menjelma manifesto. Aku membacanya dengan kerinduan yang telak; seperti seorang pecinta/pejuang yang lelah bertarung dan menguras keringat di medan dunia/laga. Bisakah kita berbagi secangkir cappuccino saja di sore yang makin oranye?

Titik-titik di buku membentuk ulang dirinya sendiri; menjadi kalimat-kalimat yang sukar. Anak manusia ditelan tensi-tensi yang mendidih di kepala: change/sustainability, berubah/berkelanjutan? Kita menelan retorika-retorika yang membikin pusing. Seperti seorang tua yang tak jelas mau apa. Dan kita lupa berhenti merenung.

Wageningen, 6 April 2018

Lunch Concert

Siang tadi, ada jazz di telinga. Dua seniman itu mengisi sudut-sudut Impulse dengan suara dari jauh/dekat. Saya duduk termangu, sambil sesekali menyendok kering tempe dan kentang ke dalam mulut. “Enak ya kayanya jadi seniman,” pikir saya dalam hati. Mereka yang meneriakkan sesuatu dari dalam dirinya.

Jazz mengayun; dalam kuping, ruang, dan kepala. Saya mengingat Ingold dan ceritanya tentang seeing-hearing. Pada satu titik, ia bertanya: apa bedanya mendengar musik dengan menutup mata dan tanpa menutup mata? Tentu saja, ia ada di pihak yang kedua. Baginya melihat dan mendengar tak terpisah; melainkan satu kesatuan practical engagement oleh seluruh tubuh. Pemisahan-pemisahan itu tak ada bagi Ingold. Musik  bukan cuma tentang suara. Ia adalah keseluruhan pengalaman indrawi dan badaniah.

Saat jazz mengetuk-ngetuk udara, seketika mesin kopi meraung. Di Impulse, espresso dan cappuccino lebih mahal dari gedung-gedung lain. Tapi jazz dengan kopi yang enak adalah nikmat. Maka orang-orang memesan latte atau macchiato, membuat mesin kopi itu menyentak, mengusik jazz yang melenakan.

Pada mulanya, saya pikir suara mesin kopi itu mengganggu. Pemikiran itu batal belasan menit kemudian. Mungkin ada yang puitik dari gabungan suara mesin kopi dan suara saksofon + gitar dari Nikolai&Nikos. Yang puitis sebenarnya adalah campuran sesuatu yang sehari-hari dan tak sehari-hari, mundane dan non-mundane things; everyday/ordinary dan yang tak biasa.

Di titik itu, pada tabrakan suara mesin dan jazz, kita mendapati kenyataan yang sederhana. Bahwa musik harusnya tak diisolasi oleh sunyi, oleh situasi tanpa-suara; melainkan berbagi ruang dengan bunyi-bunyi yang sehari-hari — mesin kopi, tangis bayi, deritan rel kereta, angin musim gugur, rintik hujan, pengumuman di stasiun, dan hal-hal subtil lain. Memenjarakan musik dalam ruang tertutup adalah sebaik-baiknya arogansi, sejahat-jahatnya (warisan) avant-garde. Bebaskan…

meracau seperti biasa di tengah malam

Ketika ada yang patah, kita meminjam doa dari seberang. Dari lorong-lorong yang kesepian di kota. Orang-orang menabrak dinding dan merampas es krim dari tangan anak kecil. Kita bernyanyi tentang dosa-dosa kecil, lalu pergi ke tiang untuk kencing di trotoar. Hari-hari ini, debu membasuh kita, memandikan kita dengan kenyataan yang mungkin tak beraturan. Ia seperti puisi yang prematur, ia seperti prosa yang tak ingin ditulis.

Besok kita akan berangkat ke nestapa. Mendaki bukit-bukit yang diisi dengan air mata, dipupuki dengan rapalan doa yang tak sampai. Tuhan sedang sibuk hari ini, silakan kembali lagi besok. Orang menangisi hari yang terlanjur panas dan malam yang basah oleh hujan. Dua puluh ribu rupiah jatuh di jalan dan kita membeli sepotong kebahagiaan di pinggir taman. Duduk kita di bawah bulan yang kian meng-oranye. Membentuk nostalgi tentang Belanda.

Mendung siang memberi kita tenaga untuk meludahi buku-buku yang kecoklatan. Klasik tak lagi dibaca, masa depan tak lagi dipercaya. Cuma hari ini. Selebihnya adalah bayangan yang jauh. Seorang perempuan jatuh sakit disana. Baiknya kita mengirim doa ke sebuah kotak pos di Utrecht, bukan? Lalu menggelar sajadah panjang dari Jakarta Raya hingga Gelderland, agar kita bisa berbagi pesta yang sederhana. Tanpa alkohol dan mariyuana.

Barangkali, do(s)a adalah semacam bahasa yang tak kita mengerti. Kita membacanya dengan gemetar, dengan kaki yang lemas. Seperti sebuah hari yang dingin di De Kuip. Ketika siang begitu terik tapi udara mencekik. Orang-orang mengingat tuhan; entah dalam bentuk yesus atau api. Animisme menjadi tampak masuk akal. Ombak, pohon, dan matahari. Kenapa kita harus menyembah konsepsi, dan sains, dan lagu patah hati?

(Depok, 8 Maret 2018)