yang sederhana

Ada kenyataan-kenyataan sederhana yang tak bisa kita bungkam. Juga oleh puisi. Atau roman yang melenakan. Kita berbagi ruang imajiner, dengan jarak yang membentang ribuan mil. Kata-kata sering patah di tengah, ditelan arus samudra, atau hanyut dilindas angin muson dari barat. Di kupingmu, musikku mengalun bak nyanyi yang sumbang.

Kita berlari, berlari, sesekali berjalan cepat. Tapi kita seperti lupa caranya berhenti. Kota menghisapku/mu habis. Masa depan merongrong seperti hantu yang mabuk. Dan Mentawai masuk sebagai alegori untuk revolusi. Atau wahyu. Sudut-sudut Siberut telah memberiku mata baru untuk memandang dunia. Lupakan Eropa, lupakan PBB.

Hari-hari ini hal-hal yang simpel, sederhana, sehari-hari, remeh, ugahari, dan apa-adanya menjelma manifesto. Aku membacanya dengan kerinduan yang telak; seperti seorang pecinta/pejuang yang lelah bertarung dan menguras keringat di medan dunia/laga. Bisakah kita berbagi secangkir cappuccino saja di sore yang makin oranye?

Titik-titik di buku membentuk ulang dirinya sendiri; menjadi kalimat-kalimat yang sukar. Anak manusia ditelan tensi-tensi yang mendidih di kepala: change/sustainability, berubah/berkelanjutan? Kita menelan retorika-retorika yang membikin pusing. Seperti seorang tua yang tak jelas mau apa. Dan kita lupa berhenti merenung.

Wageningen, 6 April 2018

Advertisements

Lunch Concert

Siang tadi, ada jazz di telinga. Dua seniman itu mengisi sudut-sudut Impulse dengan suara dari jauh/dekat. Saya duduk termangu, sambil sesekali menyendok kering tempe dan kentang ke dalam mulut. “Enak ya kayanya jadi seniman,” pikir saya dalam hati. Mereka yang meneriakkan sesuatu dari dalam dirinya.

Jazz mengayun; dalam kuping, ruang, dan kepala. Saya mengingat Ingold dan ceritanya tentang seeing-hearing. Pada satu titik, ia bertanya: apa bedanya mendengar musik dengan menutup mata dan tanpa menutup mata? Tentu saja, ia ada di pihak yang kedua. Baginya melihat dan mendengar tak terpisah; melainkan satu kesatuan practical engagement oleh seluruh tubuh. Pemisahan-pemisahan itu tak ada bagi Ingold. Musik  bukan cuma tentang suara. Ia adalah keseluruhan pengalaman indrawi dan badaniah.

Saat jazz mengetuk-ngetuk udara, seketika mesin kopi meraung. Di Impulse, espresso dan cappuccino lebih mahal dari gedung-gedung lain. Tapi jazz dengan kopi yang enak adalah nikmat. Maka orang-orang memesan latte atau macchiato, membuat mesin kopi itu menyentak, mengusik jazz yang melenakan.

Pada mulanya, saya pikir suara mesin kopi itu mengganggu. Pemikiran itu batal belasan menit kemudian. Mungkin ada yang puitik dari gabungan suara mesin kopi dan suara saksofon + gitar dari Nikolai&Nikos. Yang puitis sebenarnya adalah campuran sesuatu yang sehari-hari dan tak sehari-hari, mundane dan non-mundane things; everyday/ordinary dan yang tak biasa.

Di titik itu, pada tabrakan suara mesin dan jazz, kita mendapati kenyataan yang sederhana. Bahwa musik harusnya tak diisolasi oleh sunyi, oleh situasi tanpa-suara; melainkan berbagi ruang dengan bunyi-bunyi yang sehari-hari — mesin kopi, tangis bayi, deritan rel kereta, angin musim gugur, rintik hujan, pengumuman di stasiun, dan hal-hal subtil lain. Memenjarakan musik dalam ruang tertutup adalah sebaik-baiknya arogansi, sejahat-jahatnya (warisan) avant-garde. Bebaskan…

meracau seperti biasa di tengah malam

Ketika ada yang patah, kita meminjam doa dari seberang. Dari lorong-lorong yang kesepian di kota. Orang-orang menabrak dinding dan merampas es krim dari tangan anak kecil. Kita bernyanyi tentang dosa-dosa kecil, lalu pergi ke tiang untuk kencing di trotoar. Hari-hari ini, debu membasuh kita, memandikan kita dengan kenyataan yang mungkin tak beraturan. Ia seperti puisi yang prematur, ia seperti prosa yang tak ingin ditulis.

Besok kita akan berangkat ke nestapa. Mendaki bukit-bukit yang diisi dengan air mata, dipupuki dengan rapalan doa yang tak sampai. Tuhan sedang sibuk hari ini, silakan kembali lagi besok. Orang menangisi hari yang terlanjur panas dan malam yang basah oleh hujan. Dua puluh ribu rupiah jatuh di jalan dan kita membeli sepotong kebahagiaan di pinggir taman. Duduk kita di bawah bulan yang kian meng-oranye. Membentuk nostalgi tentang Belanda.

Mendung siang memberi kita tenaga untuk meludahi buku-buku yang kecoklatan. Klasik tak lagi dibaca, masa depan tak lagi dipercaya. Cuma hari ini. Selebihnya adalah bayangan yang jauh. Seorang perempuan jatuh sakit disana. Baiknya kita mengirim doa ke sebuah kotak pos di Utrecht, bukan? Lalu menggelar sajadah panjang dari Jakarta Raya hingga Gelderland, agar kita bisa berbagi pesta yang sederhana. Tanpa alkohol dan mariyuana.

Barangkali, do(s)a adalah semacam bahasa yang tak kita mengerti. Kita membacanya dengan gemetar, dengan kaki yang lemas. Seperti sebuah hari yang dingin di De Kuip. Ketika siang begitu terik tapi udara mencekik. Orang-orang mengingat tuhan; entah dalam bentuk yesus atau api. Animisme menjadi tampak masuk akal. Ombak, pohon, dan matahari. Kenapa kita harus menyembah konsepsi, dan sains, dan lagu patah hati?

(Depok, 8 Maret 2018)

Setelah Espresso

Setelah espresso
Dan puntung kretek
Aku berdansa dengan jam
Yang bergerak mundur
Ke masa-masa yang jauh
Saat pagi berupa bola
Berbentuk kertas
Atau biji pohon entah-apa

Di sekolah dulu
Kita menyepaknya
Dan ribut di lorong-lorong
Guru-guru tak hirau
Karena begitulah
Menjadi anak-anak
Bermain, berisik, menangis

Seketika waktu berlari
Kencang kembali kesini
Pagi minus lima derajat
Cerah matahari silau
Tubuh anak kecil itu
Lenyap ditelan tahun
Tinggal sisa potongan
Jiwa yang berteriak
Tanpa suara

Sosok itu masih ada
Mengendap di dalam
Dada yang sesak
Oleh keharusan
Menjadi dewasa
Mengetik, diam, tanpa tangis
Suatu hari ia akan
Meledak, boom!
Menjelma kesenangan
Yang sederhana

(Leeuwenborch – 8 februari 2018)

 

Di Reuvensplaats

Dijkgraaf: persepsi kita tentang matahari seperti dikoyak-koyak disini. Sinar matahari masuk ke jendela, membuatmu bangun dengan semringah. Tapi ada yang mencurigakan. Matahari di musim yang dingin adalah jebakan. Kita mempelajarinya lewat pengalaman, bukan dari buku-buku di perpustakaan. Saya keluar dengan imaji tentang siang-siang yang panas di Asmat. Tapi, tidak disini, tidak hari ini. Embun-embun menjelma es di rerumputan.

Intercity: Mata Hari mengantar ke hari-hari tua sebelum perang dunia pertama. Si femme fatale lari ke Den Haag dengan bayangan tentang Paris. Perang telah membuat mimpi-mimpi manusia berantakan. Hari ini, tak ada beda. Kota menjelma medan perang. Orang-orang menangisi ‘mimpinya yang tersapu’ (meminjam Silampukau). Konon, Mata Hari menghadapi regu penembak dengan ciuman dari jauh. Kiss bye. Saya mengingat Che.

Kuba: tak ada revolusi hari ini. Mungkin saja, revolusi sebenarnya ialah gimmick. Agar kita selalu punya alasan untuk mengeluh, untuk merongrong keadaan. Manusia, saya pikir, dikutuk untuk mengutuki hari ini. Di Eropa, orang-orang terjebak pada kegagahan masa lampau. Di Indonesia, surga adalah destinasi. Semua bergerak dengan imaji tentang yang di depan, tentang yang tak jelas, yang tanpa-bentuk. Apakah kita punya resep untuk carpe diem?

Leiden: hari makin menua disini. Orang-orang berkumpul di luar perpustakaan. Menghisap tembakau, bercerita tentang apa saja, melupakan tesis sejenak. Tak ada kretek, tak ada Marcopolo. Saya menulis tentang minggu-minggu yang berlalu di Ebay. Email dikirim, email dibalas. Semuanya begitu mekanikal. Seperti sebuah sistem menyetel kepala kita, membentuknya jadi kode-kode, jadi algoritma. Kapan kita pulang?

Leiden, pada sebuah hari yang cerah, nol derajat.

red wine blues

Give me a glass of wine and i’ll read you the poem i never like.

Perhaps we live with too much philosophy and reasoning. So we forget the practicalities, the what-happen-in-the-middle. No one tries to fix the agony of being lulled by fantasies and utopia and hopes and historical glorification.

One day, either tomorrow or 2084, we will look at human beings as pure melancholia. Western buddhism might be a mistake we cannot cancel. A faux carpe diem ways of life, mixed with the faux environmentalism (for the poor? meh), added with faux mindfulness cum instagramable illusion. Oh please.

Pour me another more. So i can read you a love letter from the poet i never like.

Too many falsity and deceit and tales. Can we still expect at least a piece of truth, from the night when work/life has collapsed into ontological revolution? Here, in this hypocrisy a la scientific-neolib-green-capitalistic-developed-colonial brain, we are gonna lose again against the war of black/white, a/z, i/you dichotomies.

No narrative. No malaise. Only discourse. And red wine. And the desire of being ethical without really being ethical and with accusation of unethical to the groups of men who perhaps more ethical than they who claim themselves ethical. But.. what is ethics by the way? Another western hubris? An alibi for collective amnesia?

(city of life sciences,

1 februari 2018)

Dan Salju Jatuh

Dan salju jatuh di Stade.

Letters bergema di telingaku, seperti sepotong teriakan dari masa lalu. Dulu kita suka mengirim surat, menanti tukang pos datang dengan sepedanya, lalu ia melempar amplop ke teras rumah. Di sana, sebenarnya kita membaca bulan-bulan yang panjang, yang telah berlalu sejak kita mengirim surat ke alamat lain. Pada akhirnya, ia berbalas. Atau mungkin tidak.

Di Ebay, aku membaca Ingold. Cukup dengan etnografi, katanya dengan nada manifesto. Lalu ia membandingkan antropologi dengan korespondensi, kegiatan surat-menyurat. “Seperti yang dilakukan para penulis surat, mencorat-coret pikiran dan perasaan mereka, dan menanti jawaban”. Seperti itulah antropologi, sebenarnya kita hanya harus menunggu.

Lalu smartphone datang dengan tergesa-gesa. Kita juga jadi tergesa-gesa. Tak ada lagi moile moile, seperti di sudut-sudut Siberut. Orang bergegas. Kita menjadi ganas terhadap waktu. Menunggu adalah neraka. Ketidakpastian adalah bencana. Surat memberi kita kebijaksanaan tentang waktu, menunggu, jawaban, dan ketidakpastian. Smartphone tidak.

Di Paking, kita menerima surat dari Long Berang. Adalah romantik membaca surat di tahun 2012. Surat itu dikirim lewat seseorang, yang kebetulan akan melintasi Paking untuk menuju Malinau. Kami, anak-anak Paking, membacanya dengan pelan dan khidmat. Anak-anak Long Berang berbagi kabar: tentang agas, anak-anak Dayak, dan remeh-temeh yang lain.

Kemudian Ebay. Di tempat dimana sinyal dan wifi adalah kemewahan, surat terasa biasa saja. Hiber membaca surat satu lembar dari Bruno. Kertas lecek itu telah bergerak: dari Padang, menaiki Mentawai Fast, jatuh di tangan orang lain di Muara Siberut, lalu berlayar ke Ebay melewati ombak-ombak yang mengayun. Hiber menerimanya dengan senyum.

Dan salju jatuh di Stade. Kita bicara tentang surat. Aku mendengar lagu tentang surat. Surat, surat, surat. Lalu kantor pos. Dan aku mengingat Balkan. Di sana, pusat-pusat kota ditandai oleh kantor pos. Bukan gereja, bukan masjid, bukan alun-alun. Kantor pos. Kita tak perlu menyembah tuhan, tapi kita harus mengirim surat agar kemanusiaan terjaga selamanya.

Stade, 18 Januari 2018

Kind People

Orang baik ada dimana-mana, tulis seorang teman. Benar juga. Tapi mungkin tak sepenuhnya. Di banyak tempat, orang-orang lebih suka menebar ancaman, kebencian, dan ketakutan. Di Mentawai, semua itu tak ada. Saya selalu berpikir, selama disini, bahwa orang Mentawai adalah orang-orang paling baik yang pernah saya temui. Apapun definisi ‘baik’ itu, atau apakah baik-jahat hanya sekadar penjara konseptual, tak akan mereduksi persepsi saya tentang orang-orang Mentawai.

Tentu saja, saya tak akan luput membawa-bawa stereotip. Namun, saya tak peduli. Buat saya, stereotip bukan sesuatu yang negatif. Orang-orang telah lama menempelkan konotasi negatif pada kata ‘stereotip’. Yang berbahaya sebenarnya adalah generalisasi, bukan stereotyping.

Orang-orang Jawa, misalnya, dikenal sebagai orang dengan tutur kata yang halus. Tapi itu tak bersinonim dengan ‘baik’. Keris di punggung adalah simbolisasi untuk itu. Orang-orang Jawa, saya pikir, lebih suka berbicara di belakang, di balik kata-kata halus yang mereka utarakan. Di Toraja, kita bicara dengan lebih terus terang. Tapi, kadang-kadang kebiasaan itu malah jadi kebablasan. Perkelahian, entah mulut atau fisik, sudah jadi hal yang normal. Kita tak perlu mempersoalkannya.

Jelas sekali bahwa saya main aman dengan mengambil contoh Jawa dan Toraja. Keduanya mengalir dalam darah saya. Jadi, setidaknya saya tahu bahwa saya hidup dalam kontradiksi-kontradiksi itu. Baik-jahat selalu jadi persoalan yang relatif. Kita akan mendebatnya selamanya.

Dulu, bapak saya selalu bilang bahwa saya harus jadi orang baik. Itu yang utama. Pintar dan hal-hal lain adalah persoalan ke sekian. Baik adalah kunci. Tapi, menjadi baik bukan hal yang mudah. Saya pikir saya selalu gagal untuk menjadi baik, bahkan untuk sekadar menjadi tidak jahat. Di Siberut, saya mengingat nasihat bapak lagi, dengan contoh yang di depan mata. Orang-orang Mentawai, buat saya secara personal, adalah representasi paling paripurna untuk ‘orang baik’. Sejauh ini.

Sekarang saya kebingungan bagaimana menjelaskan apa yang saya maksud ‘baik’ dan ‘orang baik’. Tapi saya pikir itu tak perlu. Usaha semacam itu akan menjadi kesia-siaan. Baik-jahat, sekali lagi, adalah personal dan relatif. Saya bisa menyebut ajektif ‘tulus’, ‘tidak pemarah’, ‘tidak pendendam’, ‘santai’, ‘tidak suka bikin masalah’, ‘tidak mencuri’, ‘tidak mengancam’, dan lain-lain untuk menjelaskan maksud saya. Tapi rasanya tidak perlu. Ini urusan yang lebih personal dari agama.

Sekarang, cita-cita saya cuma ingin jadi orang baik. Apa pun maksudnya.

(Muntei, 2 Januari 2018)

Sofia

Semuanya selalu berupa ingatan-ingatan. Ia berasal dari masa lampau yang tak pernah dicatat. Ia mengerak menjadi partikel-partikel di dalam kepala. Lalu, pada suatu masa yang tak pernah direncanakan, ia akan menguar ke udara. Seperti hari ini. Saat saya berdiri di bibir pantai, di Mappadegat, Sofia mendekat dan menjelma melankolia dari musim panas.

Persisnya adalah hari penuh pertama. Setelah Mestre, Venezia, dan Redentore yang memabukkan. Hari itu begitu jauh. Tapi saya mengingatnya dengan detil-detil yang melenakan. Pada sebuah siang, di jalan-jalan kota. Setelah katedral Levski yang megah, setelah orang Afrika itu mengobrol sekenanya: tentang Amsterdam dan dosa-dosa masa muda.

Saya menuju galeri nasional: mencari-cari celah untuk mengisi hari, mencari kesenian untuk mengisi apa-apa yang kosong di dalam paru-paru. Adalah foto-foto tentang mulut yang terbuka. Sebuah epik. Saya selalu bingung bagaimana cara kerja seniman-seniman itu. Ide, mungkin saja, meletus di kepala mereka tanpa aba-aba. Setelahnya adalah maestro.

Jalan-jalan Sofia tampak terang. Taman kota menjadi tempat berteduh, dari matahari yang menyengat, di sebuah musim panas 30-an derajat di Balkan. Free walking tour di pagi hari telah menyandera tubuh ke dalam keringat-keringat. Shakira berpose di depan tulisan Sofia, di dekat gedung besar yang terlupakan. Di sini, orang begitu mudah melupakan sejarah.

Komunisme telah berakhir. Orang-orang sedang beranjak ‘Eropa Barat’. Ia telah jadi semacam ajektif, sebuah mantra development. Atas nama taraf hidup, atas nama uang di saku celana, anak-anak Bulgaria belajar melupakan kiri. Demi janji manis bernama Uni-Eropa. Mereka ingin setara. Mereka ingin lepas dari label itu: negara paling miskin di Uni Eropa.

Saya menyantap coklat dan cappuccino, di sebuah kedai antik dekat Vitosha. Shakira mulai bercerita tentang banyak hal: London, Australia, Spanyol, Balkan. Sehabis ini adalah Georgia, katanya. Di ujung malam, kita berpelukan di antara jendela. Gelas-gelas alkohol telah tandas bersama anak-anak dari Mexico City: tiga orang guru dan satu pengarang.

Hari pertama di Sofia telah berakhir begitu saja. Bulgaria telah membuka dirinya untuk saya. Tiga minggu yang menyenangkan akan berlalu. Begitu lekas, begitu membekas. Bulgaria is one of the best things that ever happened to me. Hari ini, di sebuah teras di Mappadegat, saya merindukannya dengan menggebu-gebu. Dengan keinginan untuk kembali.

(Mappadegat, 28 November 2017)