Big City Blues

Well, some people unquestionably weren’t born to be the big city guy. There’s always something intolerable about living in busy urban sphere. I always imagine being in busway and seeing those foreign faces with desperation, vanity, and fatigue. All those expressions turned into some brief yet firm advice: do not live in false routine of this city, brother.

The idea of breathing clear air of less busy and smaller town is constantly fascinating me. What I yearn is simplicity, a life without bullshit and lies and banality. To think so, I must be accused of being victim of romanticism. True or not, I don’t care. What if they are just stupid cowards and helpless slaves of prison-like life of big city. Again, I’ll be accused as romanticist.

However, escaping this fate is not as easy as it seems. Going and living somewhere more peaceful and tranquil are, in fact, not a simple task. I don’t know where it’s been wrong. Yet, I think┬ájail runaway is obviously tricky and dramatic. I remember that famous Shawshank Redemption movie and I guess the path of mine is maybe similar. Who knows.

I don’t know where and when my wish fulfilled, yet. For such desire is now number one driving force of my life, this is just the matter of time and place. Whether suburban of Netherlands or Yogyakarta, whether next year or 2016, it is going to happen. Now, the only things left to do are killing time as brutal as I can and spitting on this pathetic urbanity.

Advertisements

Adi Sucipto

Seorang pahlawan nasional dan penerbang yang mati muda di udara. Namanya kemudian diabadikan menjadi bandar udara di Yogyakarta. Itu saja yang saya tahu tentangnya. Tapi cerita ini memang bukan tentang beliau yang mati demi negeri ini. Mungkin ini juga bukan sebuah cerita. Hanya sebuah gumam yang coba dituliskan apa adanya. Tentang kisah di Bandar Udara Internasional Adi Sucipto yang saya alami. Dan ini bukan kisah yang penting.

Dalam perjalanan pulang menuju rumah setelah hampir dua minggu tidak mencium wangi rumah tercinta. Saya ada di Jogja, menginap di sebuah indekos teman. Dari Semarang saya menumpang bus besar menuju Jogja. Bus yang ternyata dari Jambi dan memang menuju Jogja. Tiba di Jogja pada suatu senja yang basah, dan saya turun di perhentian terakhir, Terminal Jombor Sleman.

Saya bernafas di bawah langit Jogja sekitar empat hari. Jogja hari-hari itu adalah waktu yang tak terlalu menyenangkan. Disana musim penghujan, dan biasanya telah membasahi seluruh kota sejak siang menjelang sore. Bukan saat yang tepat untuk menikmati suatu kota asing. Tapi saya tak terlampau kecewa. Minimal saya sempat menjenguk Merapi yang terluka itu, bertemu dengan hawa pantai di Parangtritis, dan tentu mengunjungi Malioboro.

Saya pulang di sore yang hujan juga, persis seperti saat tiba. Kali ini saya putuskan menumpang pesawat. Saya lelah, jadi saya tak naik kereta atau bus. Toh harga pesawat beda tipis dengan kereta eksekutif Jogja-Jakarta. Dan pesawat tentu lebih cepat. Produk jaman yang haus efektivitas dan efisiensi. Juga jaman yang dikejar waktu, jaman yang terburu-buru. Pesawat juga simbol dimana manusia melawan hukum alam.

Pesawat saya rupanya telat sekitar satu jam, mungkin karena hujan. Tak apalah, saya bukan mereka yang dikejar waktu. Di tengah waktu menunggu itu saya masuk ke sebuah toko buku di ruang tunggu pesawat. Dan saya temukan buku berbahasa asing yang dari sampulnya sangat saya kenal. Into the Wild, buku karangan Jon Krakauer tentang Christopher McCandless yang luar biasa. Saya sudah baca versi Indonesianya, dan Jogja memberi saya versi Inggrisnya sore itu.

Takdir mempertemukan saya dengan buku itu. Jadi tak salah putusan saya naik pesawat, tak salah pula saya ke Jogja kali itu meski hujan halangi wisata. McCandless yang saya kagumi ada di Jogja dan menunggu saya di Adi Sucipto. Saya lalu membayar sesuai harga. Duduk di kursi tunggu, di samping orang-orang yang ribut memprotes jadwal yang rusak, memprotes waktu yang hilang sia-sia. Saya tenang, tenggelam dalam kisah pemuda yang mati di Alaska dalam pengembaraannya yang menakjubkan.

Setelah terlambat satu jam, keberangkatan pesawat menuju ibukota pun diumumkan. Penumpang berjalan berbaris menuju lapangan, lalu menuju pesawat. Saya juga. Hujan hampir selesai, hanya rintik sedikit. Saya disodori payung untuk menuju pesawat. Berjalanlah saya, dan sore itu saya lihat senja yang indah sekali di lapangan udara itu. Senja hadiah dari hujan sore itu, di balik hamparan rumput luas di sekitar lapangan udara. Jingga dan menyejukkan.

Saya sangat terkesima dengan lukisan alam itu. Saya masuk ke kabin pesawat dengan senyum mengembang mengingat senja yang ada di belakang. Salah satu senja terbaik yang saya lihat. Saya duduk, memasang sabuk pengaman, dan melihat keluar. Pesawat lalu berjalan dan perlahan naik ke udara. Dari dalam saya lihat siluet Merapi yang terpotong itu, segitiga hitam pekat yang membayang di antara langit biru yang mulai menggelap. Pesawat makin tinggi dan tinggi, menembus awan, menembus batas.