Kelana

Perjalanan adalah semacam koleksi ingatan. Kita mengumpulkan pengalaman, merangkai momen, dan meringkus makna yang tercecer di sepanjang jalan. Kita berusaha menjadi utuh dengan berkelana. Tapi, kita justru mendapati lubang baru menganga dalam jiwa.

Mungkin karena perjalanan membuka mata kita, bahwa dunia akan selalu jadi tempat yang tengik. Seberapa pun indahnya alam raya, manusia adalah makhluk yang bermasalah. Kita mendamba pantai-pantai Raja Ampat dan gunung-gunung Wamena. Itu satu hal. Cacat adalah hal lain. Tapi, kita jadi tahu yang sempurna itu tak ada.

Dunia berisi proses menyeimbangkan yang cantik dan yang luka. Kita harus menerima keduanya sebagai satu paket. Menikmati indah Papua, tapi tutup mata terhadap bobroknya realitas sosial disana adalah dosa besar. Terlalu turistik.

Makna terbentuk dari pengalaman indrawi, peresapan batiniah, dan tabrakan dengan kenyataan. Perjalanan membuat kita mendapati ketiganya.

Di ujung jalan, tanda tanya yang terus melabrak sepanjang kelana seperti menemui jawabnya. Kita mencintai perjalanan karena ada hal-hal yang tak bisa didapatkan di rutinitas yang bengis. Makna-makna diselubungi kabut kesibukan, hedonisme, dan omong kosong urban.

Perjalanan membersihkan semua debu itu. Membuatnya jelas pada satu titik. Lalu berakhir pada pertanyaan dan pencarian lain.

Rasanya, itulah kenapa kita (saya) tak akan pernah behenti berkelana.

(Kotaraja, 8 Juni 2016)