Aural

Suatu siang saya mengendarai motor di Depok, lalu melewati sepetak tanah lapang dimana orang-orang berkumpul, dan lagu Bojo Galak-nya Via Vallen didendangkan. Oh my god.

Seketika saya mengingat Wageningen. Di siang yang lain, di musim panas yang terik di utara, saya duduk-duduk di rumput antara Forum-Orion bersama berandalan mle-indo. Kami menyantap makan siang masing-masing. Setelahnya, seperti biasa kami ngobrol-ngobrol ndak jelas. Lalu tiba-tiba, saya lupa bagaimana awalnya, lagu Via Vallen diputar di Spotify. Dan kami berdendang. Alamak.

Memori itu tersimpan dan ditengahi oleh suara mbak Via Vallen yang manis. Entah bagaimana caranya, tapi sejak itu, setiap mendengar lagu si biduan, saya selalu mengingat siang di Wageningen itu.

Lambat laun, saya menyadari bahwa pengalaman aural lah yang menjembatani saya-di-Depok dengan memori-memori saya tentang Wageningen. Kisah Via Vallen tadi cuma salah satu. Di lain waktu, saat mendengar azan maghrib dari masjid dekat rumah, saya teringat Sarajevo. Di situ saya pertama kali mendengar bunyi azan di Eropa, pada sebuah subuh setelah beberapa gelas Sarajevsko.

Yang paling sering terasa, sebenarnya, adalah suara knalpot yang terlampau bising. Kala suara itu muncul, saya langsung memejamkan mata, sambil menahan pening di kepala. Lalu, imajinasi saya terbang ke kota kecil yang tak berisik itu. Bising knalpot nyaris tak terdengar di Wageningen, tapi tidak-ada itulah yang justru membuat saya mengingatnya. Di titik ini, ada dan tidak-ada menjelma makna.

Suara dan bukan-suara. Itulah yang menjadi tali yang menghubungkan Jakarta dan Belanda, Depok dan Eropa, selatan dan utara. Setidaknya dalam kasus saya. Dengan itu pula, saya mengingat Ingold dan cendekia-cendekia lain yang banyak menggali soal pengalaman indrawi — yang di dalamnya termasuk pengalaman aural. Bunyi dan telinga menjadi medium yang menghubungkan kota-kota.

Tapi, entahlah. Seperti kata Christal, mungkin saya hiperbolik. Atau terlalu romantis. Atau terlalu banyak waktu luang sehingga sempat-sempatnya memikirkan dan menulis hal-hal seperti ini.

Yuk, dengerin Via Vallen dulu.

Advertisements

Jumat Malam

Mari kita membayangkan jumat malam di sana.

Wageningen, pada sebuah malam 5 derajat di musim gugur. Ku duduk menghadap laptop, menyerong ke arah lukisan Buddha abu-abu di tembok biru laut. Aku dan Buddha berbagi kesunyian di Dijkgraaf.

Tak tik tak tik. Microsoft word terus berpacu. Seperti mesin ide. Jari-jari menari di keyboard. Seperti balerina. Puisi, tesis, dan omong kosong lainnya berjejalan di dokumen. Oh Wageningen yang melankolis, beri aku sepotong sunyi dari utara? Di sini, raung motor dan klakson-klakson menjadi koor yang sumbang.

Ping. Pesan whatsapp masuk. Di grup MLE 2016 kita membahas party di Loburg. ‘Who’s going?’ tanya Simo. Lalu pesan pribadinya masuk. Lalu berjejalan teks-teks dalam bahasa Inggris. Dan seruan. Dan ajakan. Dan gurauan. Dan canda. Oh Emily yang malang, kenapa kita harus berpisah di umur yang menua?

Dan kupacu sepedaku ke centrum. Diska mengikuti dari belakang. Dengan bunyi bising dari ban belakang sepedanya. Angin menepuk-nepuk pipi. Sunyi menepuk-nepuk kalbu. Wageningen, kota seribu satu sunyi. ‘Tempat mereka yang sudah selesai dengan dirinya sendiri,’ banggaku selalu ke manusia-manusia Randstad.

Setelahnya adalah euforia. Centrum menjelma lantai dansa. Dan bir-bir tumpah ke lantai. Kita menari sampai pagi di gelap yang kian beku. Botol-botol wine berpindah tangan. Dan kita bicara tentang nonsens di luar Loburg, atau di gang-gang sempit di Kerkstraat atau Kapelstraat. Sampai lelah menjelang.

Jelang pagi, berhamburan kita ke parkiran. Mencari sepeda masing-masing dengan kantuk di mata, dengan beban di kepala. Dan mulut yang terus melantur tentang dosen, harga pasta di Jumbo, atau puisi dari Persia. Lalu kita memecah malam dengan berteriak-teriak di atas sadel sepeda. Ciao ciao.

Tentang Kota Kecil yang Tak Berisik

Kemarin saya pulang ke rumah setelah menyantap french fries 2 euro di samping Jumbo. Hujan turun rintik-rintik. Jalanan sepi. Di tengah jalan saya seperti mencerna bulan-bulan yang berlarian di belakang. Sudah setengah tahun saya tinggal di kota kecil ini. Segalanya berjalan sangat cepat seperti mimpi indah di malam yang gegas.

Dan saya nyaris tak pernah mencatat apa-apa soal kota ini, kota yang suatu nanti di macet Jakarta akan saya rindukan dengan teramat sangat. Disini, saya meresapi sunyi dengan ketaatan yang total. Kita tak perlu kata-kata untuk menjadi ada di Wageningen. Kita hanya perlu diam dan membiarkan kata-kata membentuk dirinya sendiri.

Seperti lonceng Grote Kerk yang berdentang berkali-kali di hari Minggu, dan tetap saja sepi, kita mungkin perlu sesekali bicara: tentang bir yang leleh di pub atau toko Asia di centrum, tentang blues night yang memabukkan atau betapa melelahkannya bersepeda di tengah angin. Selebihnya, bisakah kita nikmati saja udara tanpa bunyi disini?

Kota ini seperti menyanyikan lagu yang tak bersuara, mirip 4’33’’-nya John Cage tapi dengan melankoli yang tak bisa diserap ke Youtube. Disini, suara menjadi definisi yang tak lagi sama. Ia adalah bukan-kata, bukan-nada, bukan-klakson, bukan-teriak, bukan-makian. Ia hanyalah sekumpulan senyawa yang tak pernah bisa kita pahami.

Setelah ini kalender akan salip-menyalip dengan jam dinding. Kita akan kembali, bukan? Kita akan mendekap lagi bantal di kamar dan menikmati sore di teras rumah. Lalu, kita akan berkawan lagi dengan suara-suara yang tak pernah ada di kota ini. Di suatu pagi beberapa tahun lagi, kita akan mengingat Wageningen. Justru karena ia diam.

(Februari 2, 2017)

Freiburg

Di Freiburg, saya mendapati apa yang disebut Bourdieu sebagai ‘a sense of one’s place’. Ada ruang-ruang spasial yang, entah bagaimana, terasa spesial bagi masing-masing orang. Misalnya, saya selalu merasa berada di tempat yang ‘gue banget nih’ saat duduk di tribun stadion atau menelusuri rak-rak di perpustakaan atau toko buku. Sebaliknya, seperti ada yang terenggut dari diri saya di hiruk-pikuk pesta, entah kondangan atau EDM party. Seperti ada yang bilang: ‘this is not your place’.

Di Freiburg, saya mendapati ‘a sense of one’s place’ itu di Universitat Freiburg. Memasuki lorong-lorong kampus atau duduk-duduk nyari wifi di halaman kampus sudah cukup meyakinkan saya. Juga sebuah poster protes bertuliskan ‘No student tuition fees! For anybody!’ Juga orang-orang yang bersliweran kesana-kemari di lingkungan universitas. Membuat saya merasa telah memilih kampus yang salah.

Di Wageningen, kampus terasa sebagai sesuatu yang kikuk buat saya. Dan itu baru saya sadari di Freiburg. Di kampus yang didominasi anak-anak ilmu eksak, menjadi ‘anak sosial’ adalah elegi tersendiri. Tak ada pembedaan atau bentuk eksklusi yang terlegitimasi. Tapi perasaan tak bisa dibohongi. Pada akhirnya, kita selalu tahu jika ada sesuatu yang tak pas pada tempatnya. Masalahnya, kita akui atau tidak?

Di Leiden, seperti di Freiburg, sense itu muncul dalam bentuknya yang lebih halus. Tak terang-terangan, tak blak-blakan. Tak ada pamflet pergerakan atau cerita-cerita soal Heidegger. Tapi, atmosfer itu tak bisa ditipu-tipu. Jelas ada yang berbeda di udara yang mengalir di kampus sosial dan kampus non-sosial. Empat tahun (lebih) di FISIP membuat saya peka tentang hitam-putih itu. Tentang apa yang tak pernah bisa sama.

Di Wageningen, saya menjadi manusia seutuhnya: yang selalu tak puas pada nasib, termasuk nasib yang dipilih sendiri. Tapi, tak ada yang salah dengan menjadi manusia. Tak ada yang salah dengan mengakui ada yang salah, ada yang keliru, ada yang tak pada tempatnya. Pada akhirnya, saya hanya perlu kembali ke mantra itu. Accept life.

Small City Life

From who-knows-when, I always want to live in small city where breaths are easy and life is calm. For 24 years I lived in suburban of urban jungle named Jakarta. There is always busy routine everyday as its patron has. Now, finally, I am moving to another place. A much quieter, less polluted big village named Wageningen. A place where its inhabitants seem like having nothing else to look for in life. Except a serene life.

Two or three days after moving to Wageningen, I visited a place called Stade in Niedersachsen state of Germany. And I found another peaceful space there. Forget Hamburg or Amsterdam, it is a kind of rural town where apples are everywhere. From very big industries that supply all Europe, to tiny garden in almost every house in the town. Pace is slow and days are gone fast in Stade. A breeze in the afternoon makes it perfect.

One day, I went to Amsterdam Centraal. Another day, I was in front of Rathaus of Hamburg. People everywhere. From travelers carrying big backpack, to locals hanging out with fashionable outfit. I never hate tourists or locals or people. But I may not like noisy crowd too much. There were headaches when I first got off the train in Centraal or walked around the Rathaus. The aches growing whenever the picture of going back to Jakarta-esque life comes in mind.

Now, I am going to forget such vision. I want to appreciate life here, life I dreamed of for who-knows-how-long. A small city life. 

Wageningen/Breda

Antara Wageningen dan Breda
Langit patah jadi dua
Serafim kerubim jatuh
Tuhan melongok ke bawah
Udara putih berwangi bulu sayap yang rontok
Suasana hangat bak uap teh sore hari
Ada damai disana

Antara Wageningen dan Breda
Aspal retak dan arah jadi linglung
Kanan atau kiri ialah hak
Adalah tugas untuk memilih
Sobekan-sobekan kertas tumpah dari awan
Padat kata-kata asing dan
Alamat yang susah diucap

Antara Wageningen dan Breda
Kelana urung usai
Kotak-kotak masih harus terisi
Pun paraf, materai, dan omong kosong
Konon, pada tiap lomba lari
Etape terakhirlah yang tersulit
Jiwa dan tenaga terkuras habis

Antara Wageningen dan Breda
Di persimpangan jalan
Dengan jempol teracung
Mencari tumpangan

Depok, Desember kedua 2014