Perugia

Pagi yang terlalu pagi di Perugia. Saya tiba dari Siena, berhenti di Piazzale Umbria Jazz, lalu menumpang minimetro ke pusat kota.

Pagi yang terlalu pagi. Kota seperti sedang bersiap menyusun harinya sendiri. Gang-gang sempit di centro storico membuat saya tersasar sedikit. Mencari-cari hostel yang sempil di suatu sudut. Saya akan mengingat Perugia oleh gang-gangnya yang ajaib, yang membuat kita bertanya untuk apa jalan raya delapan jalur.

Terlalu pagi untuk check in. Maka saya duduk di dapur, memanaskan nasi biryani yang saya beli di Siena kemarin malam, sambil bercakap dengan satu-dua tamu yang menginap di sana. Sekadar hai-apa-kabar di pagi yang muda.

***

Perugia hari itu sedang bersiap untuk Umbria Jazz. Panggung-panggung yang sedang dibangun di dekat air mancur seperti menyiratkan bahwa sebuah pesta akan meledak di sana. Di luar sebuah gereja tua yang teduh. Dan, orang-orang seperti tengah bersiap untuk menikmati kota yang akan mabuk oleh jazz dan anggur.

Suasana festival tak bisa dielakkan di situ. Tapi, di saat yang sama, tak ada yang canggung. Haruskah sebuah pesta membuatmu tak biasa?

***

Saya menyingkir sejenak dari keriuhan pusat kota. Seperti di banyak kota Italia lain, saya mencari stadion. Perugia adalah AC Perugia. Renato Curi berdiri gagah di dekat Piazzale Umbria Jazz. Dan, seketika saya membayangkan Serse Cosmi, juga Materazzi, dan Ahn Jung-hwan yang malang. Memori-memori Liga Italia tempo dulu, yang berjejalan di kepala saya, seperti besi-besi yang menyusun rel panjang ke utara.

Setelah museum, saya mengelilingi Renato Curi satu kali. Sesekali mengintip ke dalam, mencoba mengais visual tentang bangku-bangku yang kosong, juga lapangan yang tak terurus di musim yang telah berakhir (dan urung dimulai). Tak ada siapa-siapa di sana. Saya hanya sendiri menikmati nostalgia masa kecil.

***

Piala Dunia 2018 memasuki babak akhir. Namun, televisi di hostel urung menyala, maka saya mesti mencari bar untuk nonton bareng. Layar-layar besar dipasang di kota, tapi eksklusif bagi tiap-tiap bar/restoran. Saya duduk di salah satunya, beratap langit, bersama riuh-rendah turis-turis lain yang siap melumat sepak bola.

Di dekat saya, dua orang gadis tampak tegang, dengan jersey kotak-kotak merah putih Kroasia. Keduanya tak terlalu banyak bicara. Mungkin karena turis-turis Inggris itu lebih berisik: beteriak, mengumpat, dan mungkin menangis. Di ujung malam, dua gadis Kroasia itu berdiri dan saling bersulang. Final, kata mereka.

Saya berjalan agak gontai menuju hostel, sambil mengingat bapak saya yang menggandrungi Kroasia di ’98. Davor Suker, dkk.

***

Umbria Jazz memberi alasan saya untuk memperpanjang durasi di Perugia. Saya mesti pindah hostel, kira-kira tiga-empat menit jalan kaki dari hostel pertama. Hostel kedua ini agak antik, dengan dapurnya yang lebar.

Di dapur itu saya mengobrol sekenanya dengan seorang Kiwi. “Saya hampir kuliah di Otago,” saya memulai bahasan. “Oh Otago, kota yang keren. Banyak pemabuk yang mengesankan disana,” kira-kira begitu jawabnya.

Juga, seorang pengelana klasik, yang konon pernah menyambangi Kalimantan dan Sulawesi. Hostel, pada akhirnya, adalah tempat dimana cerita-cerita berkelindan dengan fantasi, dan kita tak perlu tahu apa beda keduanya.

Hari itu adalah jazz. Saya berpindah-pindah panggung. Menikmati sore dengan suara sendu seorang gadis. Ia melantunkan jazz dengan melankoli yang sulit diutarakan, yang tanpa mengerti bahasa Italia pun kita bisa menangis karenanya.

***

Saya kembali ke hostel hampir tengah malam. Orang-orang masih berpesta-pora di pusat kota. Malam masih panjang bagi mereka.

Tapi saya mesti kembali, dan beristirahat barang sedikit. Esok hari saya akan turun lagi ke selatan, menumpang Blablacar seorang Neapolitan. Umbria, dengan bukit-bukitnya yang syahdu dan jazznya yang mabuk, telah berakhir.