Para Penjajah

“Gue nggak masalah deh kalo bule jajah bangsa kita, nah ini orang Indonesia sendiri jajah sesamanya,” ujar Uda Yan dengan lidah berapi-api.

Raut muka pria asal Bukittinggi itu tampak kesal beneran saat saya menanyakan pendapatnya soal pejalan kelas menengah masa kini. Ia lalu mengutip Sajak Pulau Bali yang ditulis Rendra dan berkali-kali menyebut ‘kelas menengah ngehek’. Itulah kali pertama saya mendengar istilah yang lantas sempat populer itu. Percakapan itu terjadi pertengahan 2013.

Sambil menghisap rokoknya, pria yang saat saya temui masih berstatus mahasiswa Universitas Freiburg itu tak putus-putusnya menyerang tingkah traveler atau backpacker yang menurutnya sama saja dengan penjajah. Ia lantas membunyikan kata ‘poskolonialisme’. Mereka yang berkelana di era sekarang, menurutnya, banyak yang telah menjadi post-colonizer. Bahkan terhadap bangsanya sendiri.

Pasca-kolonialisasi yang dilakukan pejalan-pejalan ini tentu tak sama dengan gaya Belanda dan Jepang menaklukkan Indonesia. Adalah atribut-atribut kultural mereka yang dikeluhkan Uda Yan. “Yang paling norak datang dengan outfit yang sophisticated tapi sok-sok berinteraksi dengan masyarakat lokal, pake topi lapangan yang bermerk, kacamata merknya oakley, sepatu lapangan merk, terus ngobrol dengan masyarakat yang bener-bener petani: kumel, celana pendek, gak pake baju, item dibakar matahari, tangan kotor. Itu kan kontras bener,” cecarnya masih dengan bara di dada.

Baginya, segala yang dilakukan pejalan ‘kelas menengah ngehek’ itu artifisial. Dan itu logika yang wajar mengingat jalan-jalan, setidaknya pertengahan 2013 itu, adalah bentuk gaya hidup. Dan gaya hidup adalah rekaan industri budaya. Ketika sesuatu menjadi gaya hidup, di dalamnya terdapat aturan-aturan tak tertulis tentang banyak hal: cara berpakaian, cara bicara, cara berjalan, cara makan, dan sebagainya.

Lalu gaya hidup jalan-jalan itu masuk pusaran konsumerisme. Apa yang dikonsumsi oleh para pejalan adalah komoditas wisata, yaitu obyek apa saja yang bisa mereka nikmati: panorama sunset, atraksi tarian tradisional, monyet di kebun binatang, sampai orang-orang lokal yang mereka jepret dan masukkan ke dalam media sosial.

Dan kita tahu, relasi antara pejalan dan orang lokal (termasuk komoditas lain) bukanlah relasi yang sejajar. Ada ketimpangan di situ. Ada yang superordinat dan subordinat. Ada yang penjajah dan terjajah. ‘Penaklukan’ itu lalu terdokumentasi dan tersebar ke media sosial.

Sejujurnya, saya miris saat ada yang mengupload foto dirinya dengan orang lokal yang ia temui saat jalan-jalan. Terlebih ketika ada yang kontras di foto itu: modern-primitif, putih-hitam, canggih-tradisional, bersih-kumel, dan sebagainya. Kadang saya suka menyandingkan dengan foto teman lain yang baru pulang dari Taman Safari dan bergaya bersama macan, penguin, atau orang utan. Kadang pula saya membandingkan dengan seorang pemburu yang memajang tanduk rusa atau kepala harimau di dalam rumahnya. Apa bedanya? Apa samanya?

Saya tak mau menebak-nebak. Tapi perasaan miris saya tetap juga tak terbendung. Adalah wajar untuk mendokumentasikan perjalanan melalui foto, termasuk yang menampakkan orang lokal dengan segala atribut budayanya. Itu bisa jadi upaya pengarsipan terhadap kebudayaan lokal. Wajar pula bila kita berfoto bersama, misalnya, anak-anak Papua sebagai kenang-kenangan untuk hari tua nanti. Siapa tahu kita tak bisa bersua mereka lagi.

Tapi kenapa ada yang sesak di dada ketika foto-foto itu sengaja dipasang di media sosial? Kenapa ada yang terasa tak pada tempatnya? Entahlah.

Waisak

Saya membayangkan sosok Siddharta di bawah pohon bodhi. Ia akhirnya mencapai nirvana. Segala perenungan dan usahanya melawan hasrat duniawi berakhir pada surga. Namanya lalu menjadi abadi, memiliki banyak pengikut yang kemudian dilabeli sebagai agama Buddha. Tiga hari yang terkait dengannya kemudian diperingati sebagai Tri Suci Waisak. Pengikutnya berdoa dengan khusyuk di hari-hari itu.

Tapi kemudian datanglah turisme. Arus deras industri waktu luang menjadikan Waisak menjadi festival yang gegap gempita, perayaan yang memabukkan, pencarian status sosial, kegilaan yang ditaruh persis di atas kesucian Waisak. Biksu-biksu yang sedang berdoa dengan khusyuk terpaksa terganggu oleh berisik penonton dan silau jepretan kamera. Semua yang sakral akhirnya menjadi keping-keping.

Demikianlah hidup di jaman yang rakus, tempat konsumsi menjadi sentral. Semua yang ada, kalau bisa dimakan, termasuk tanda-tanda, terutama yang mendatangkan keuntungan, material maupun sosial maupun kultural. Maka berbondong-bondonglah menuju festival Waisak di candi yang tenar itu. Lengkap sudah: budaya antik, candi nan fotogenik, serta keramaian yang asik. Mampus.

Semua menjadi kompilasi dari hasrat untuk menjadi eksis dan tangan panjang industri. Waisak tetaplah Waisak, tapi festivalisasi dan turisfikasi karenanya adalah pembunuhan yang menikam jantung Siddharta. Semua yang diajarkannya menjadi lenyap tepat di hari-hari sucinya. Tak ada lagi ketenangan jiwa dan pelepasan hasrat. Pada hujan di candi itu, yang ada tinggal air mata Sang Buddha.