Amerika yang Malang

Amerika Serikat memasuki satu babak pedihnya lagi. Rasisme adalah kenyataan sehari-hari di sana, dan sesekali ia mencuat sebagai demonstrasi, protes, dan kerusuhan. Pembangkangan sipil adalah respons yang valid, terutama untuk negara yang dikendalikan oleh seorang pria kulit putih yang kurang ajar.

Membaca berita-berita tentang AS, saya jadi mengingat pagi kelabu itu. Pagi ketika Trump dinyatakan menang, dan diberikan kursi empuk di gedung putih.

Saya ingat masuk ke dapur komunal di tempat tinggal saya di Haarweg, untuk mengambil sesuatu di kulkas, mungkin susu atau roti. Seorang teman satu koridor duduk termenung di sofa, di depan televisi, wajahnya menyiratkan luka. Ia pria Belanda, kulit putih, asal Rotterdam. “Trump menang,” katanya dengan merengut.

Kami mengobrol sedikit soal bagaimana itu bisa terjadi, sistem pemilu yang rumit di AS, dan detil-detil subtil lain. Bagaimana seorang rasialis bisa memenangi pemilu di negara (yang katanya) paling adidaya di dunia adalah persoalan bersama. Dan saya mendapati itu di hari yang sulit itu: bahwa kita telah kalah.

Mood yang keruh di dapur pagi itu berlanjut di kampus. Hari itu, saya ada kelas metodologi di kampus Leeuwenborch. Masuk ke dalam kelas, suasana lebih sepi dari biasanya. Orang-orang tak banyak bicara pagi itu. Saya ingat seorang teman peranakan Prancis-AS melongok kosong ke arah jendela. Ia seperti mencari jawaban.

Saat jeda kuliah, kami perlahan mulai bicara sedikit demi sedikit, membahas soal pemilu yang mengecewakan di belahan dunia lain, serta membayangkan konsekuensi-konsekuensi yang mungkin terjadi: perang, perubahan iklim, dan lain-lain. Percakapan itu terasa getir, ditambah melankoli musim gugur yang ada di luar jendela.

Begitulah rasanya menjadi kalah di musim gugur yang sendu. Langit kelabu, matahari sudah lama tidak muncul, rintik hujan menambah murung suasana, dan dingin menyeruak ke sela-sela tubuh. Tak ada suaka hari itu. Kita hanya dipaksa menikmati takdir yang pilu dengan seluruh. Langit masih abu-abu di luar.