Jakarta di Torino

‘If you stay, then I will stay. Even though this town is not what it used to be.’

Di perpustakaan di Parco del Valentino, saya membayangkan Jakarta. Lalu saya membuka Spotify dan spontan mengetik ‘Jakarta’ di kolom search. Lalu lagu-lagu itu mengalun di telinga, seperti sepotong mimpi yang liris. Dan saya merindukan Jakarta dengan perasaan yang aneh. Disana ada kengerian tentang macet, tentang hal-hal yang asing di Eropa. Tapi, disana, saya merasa ada sesuatu yang akrab, yang tak pernah saya temui di kota-kota di utara. Entah apa. Mungkin semacam keterikatan yang subtil, kelekatan yang remeh, atau sense-of-belonging yang tak diinginkan.

Tak sehari dua hari kegiatan itu saya pelihara. Termasuk di perpustakaan di Lingotto, lagu-lagu tentang Jakarta menghiasi hari-hari saya menyusun tinjauan pustaka tentang air dan laut. ‘I forget Jakarta, all the friendly faces in disguise,’ kata Adhitia Sofyan. Di Torino, dua perasaan itu bertubrukan seperti biji-biji kopi di dalam blender. Saya membenci dan merindu secara bersamaan, seperti kisah cinta yang tak mudah. Pada Jakarta, sebenarnya saya merindu sesuatu yang kacau, yang chaotic. Sebab Eropa terlalu membosankan, terlalu lurus-lurus saja. Saya ingin mengendarai motor di trotoar!

Legenda

Laga amal antara Juventus dan Torino baru usai. Keduanya berbagi dua gol. Tapi ini bukan laga amal biasa. Yang ada diatas lapangan bukan pemain-pemain tulang punggung klub pada saat ini, tapi legenda-legenda yang sempat menoreh sejarah di masing-masing klub. Para pemain masa lampau yang sepenggal kehidupannya dihabiskan diatas lapangan demi Juventus atau Torino. Yang karirnya pernah dihias warna hitam putih atau merah marun.

Mereka tahu pasti laga amal ini bagaimanapun bukan sekedar laga biasa. Ini tetaplah derby, derby della mole, derby torino. Dan layaknya derby, atmosfer tentu tak biasa, panas menggelora. Meski mereka juga sadar usia tak bisa sepanas dahulu ketika sedang kencang-kencangnya. Dan ini laga yang ditujukan untuk menghibur dan membawa masa lalu ke masa kini. Momen yang mungkin pas untuk membakar semangat kedua klub yang sama-sama terpuruk belakangan ini.

Pertandingan ini telah membawa saya ke masa kecil. Saat-saat pertama kenal sepakbola dan langsung jatuh cinta pada Juventus, menjadi Juventini hingga kini dan selamanya. Waktu-waktu ketika saya masih polos dan cuma tahu dua warna, hitam dan putih, bianconero. Juve waktu itu punya tim terbaik dengan komando maestro sepakbola bernama Zinedine Zidane. Pemain yang hengkang dengan banderol termahal kala itu. Lalu Pavel Nedved masuk menggantikan.

Sebagai Juventini, saya sadar laga lawan Torino bukan laga biasa. Juventus mewakili pendatang-pendatang di kota Turin, sementara Torino merepresentasi warga lokal yang terusik kemapanannya. Laga ini selalu spesial. Sayang Torino cukup lama tak naik ke Serie A, derby della mole jadi tak rutin dihelat tiap tahunnya. Derby yang paling saya ingat adalah ketika Enzo Maresca mencetak gol ke gawang Torino dan berselebrasi dengan menirukan gaya banteng, simbol Torino. Cukup untuk menyulut emosi seluruh elemen Torino.

Kembalinya legenda-legenda itu mungkin sekedar main-main. Mereka sudah tak secepat dan sekuat dulu. Tapi mereka tetaplah legenda. Mereka mengajari kita bahwa tiap sesuatu punya masanya, dan pada waktu yang singkat itu buatlah sesuatu untuk dikenang. Mereka telah habis, tapi nama mereka takkan pernah tercoret dalam catatan sejarah panjang klub. Legenda-legenda yang pernah membakar Torino sampai titik terpanas. Menggetarkan kota yang saya ingin datangi suatu waktu nanti.