Teras #2

Sejak dulu, saya selalu suka teras. Tempat favorit saya di rumah adalah teras. Saya sedih ketika teras rumah diperkecil, pada suatu waktu. Saya suka baca buku atau ngelamun-ngelamun nggak jelas di teras. Atau liat hujan, tentu saja kalau ada hujan. Kalau tidak hujan, saya lihat-lihat tanaman aja. Kadang beberapa orang lewat di depan rumah, jadi obyek lamunan saya. Sering saya bayangkan gimana rasanya menjalani kehidupan orang lain.

Di Mentawai, passion terselubung saya terhadap teras menemukan wujudnya lagi. Secara filosofis, arsitektur rumah tradisional Mentawai menaruh titik berat yang penting pada teras. Di sana fungsi-fungsi sosio-kultural terbentuk dan terjalin, berpilin menjadi kerumitan-kerumitan yang kadang tak terselami. Laurens Bakkers menulis bahwa waktu senggang paling favorit bagi orang Mentawai adalah duduk-duduk di teras dan ngobrol.

Ngobrol adalah bagian penting bagi masyarakat yang punya tradisi lisan kuat. Seperti Mentawai. Cerita-cerita mengalir di teras. Dalam spasi itulah, kadang-kadang petuah, pepatah, sumpah serapah, dan konflik soal tanah tumpah ke pembahasan. “Kita ya biasa begini. Duduk-duduk di teras, ngopi sambil ngobrol. Kalau sendiri di teras nggak asik,” kata seseorang di Mappadegat. Disana ada nuansa komunalisme yang kuat. Mungkin juga egalitarianisme?

Intinya, teras itu penting buat orang Mentawai. Juga buat orang-orang lain juga, mungkin, seperti saya. Tinggal di Mentawai berminggu-minggu membuat saya berjanji ke diri sendiri: kalau nanti punya rumah sendiri, terasnya mesti gede kaya teras-teras rumah Mentawai. Spasi itu harus dibangun. Jarak itu harus dirancang. Supaya ruang-ruang sosial terbuka. Supaya cerita-cerita keluar. Supaya batas-batas yang tak diinginkan menguar. Lenyap ke luar.

Ngomong-ngomong, saya nulis ini juga di teras. Mungkin, selama tinggal disini, 90 persen aktivitas saya terjadi di teras. Sisanya di kamar, dapur, dan kamar mandi. Ruang privat adalah hal yang tak biasa di Siberut. Nyaris semuanya harus komunal. Harus bareng-bareng. Teras adalah manifestasi untuk itu. Mungkin juga faktor pendorong. Kok, tiba-tiba jadi ke-kuantitatif-an gini sih? Pakai persentase dan ‘faktor’ segala. Kangen kali ya. Caelah.

(Mappadegat, 9 Desember 2017)

Advertisements

Teras

Pagi yang indah kadang bisa ditemukan secara sederhana, di sebuah teras. Ruang yang mungkin tak sebesar lapangan bola tapi cukup bisa menjadi arti bagi sebuah pagi. Teras ditambah dengan sehelai koran segar dan secangkir kopi mendidih mungkin jadi kawan yang baik di sela-sela dingin pagi. Atau ditambah pula celoteh anggota keluarga lain yang warnai udara pagi. Mungkin sepotong sastra atau segores pemikiran yang numpang lewat bisa juga menyempurnakan.

Teras itu mungkin ruang yang biasa-biasa saja. Tapi saya percaya semua hal itu luar biasa. Juga teras. Lalu saya merenung di suatu siang yang lengang, di teras, tentang teras. Teras itu ruang interaksi yang kadang luput dalam suatu rumah tangga. Walau tak sebesar ruang lain, teras bisa saja vital. Teras mencipta momen-momen yang kaya, tapi tak terduga. Momen sederhana yang penuh makna.

Disana bisa saja sang anak mencium tangan orang tuanya sebelum berangkat sekolah tiap harinya. Atau mungkin tempat suami istri mengobrol santai tentang cinta, tentang anak-anak, tentang masa tua, atau mungkin juga tentang kematian. Teras bisa juga arena kakak dan adik berlarian mengejar satu sama lain, bercanda, bertengkar, bercerita. Bisa juga ruang bagi ayah memangku anak perempuan sambil bercerita tentang dongeng Cinderella, atau tempat sang ibu menasihati anak laki-laki agar jangan nakal.

Apa jadinya suatu rumah tanpa teras? Entahlah. Coba tanyakan rumah-rumah modern nan minimalis itu. Rumah yang hanya punya sepetak teras formalitas, atau bahkan sama sekali tak ada teras. Demi menghemat ruang, arsitektur minimalis kadang tak mementingkan peran teras. Dan tanpa teras, mungkin ada yang hilang dalam suatu keluarga. Tak ada interaksi antara anggota keluarga seperti yang dimiliki rumah-rumah dengan teras. Mungkin.

Tapi masih untung kalo ada ruang lain yang bisa gantikan peran teras. Mungkin taman kecil di belakang rumah, yang dihiasi kursi malas dan warna warni bunga. Lebih beruntung kalau ditambah kolam renang. Ketersediaan ruang-ruang seperti itu dalam rumah bisa menambah sesuatu dalam hubungan keluarga, entah apakah sesuatu itu. Sesuatu yang mungkin tak didapat di ruang keluarga dalam rumah. Sesuatu yang tak ditemukan dimana-mana.

Jadi kita mungkin bisa memandang teras dengan lebih peka. Dengan melihat teras, kita tahu ada sesuatu didalamnya yang penting dan esensial. Kita jadi bisa menghargai waktu-waktu yang terbuang di teras. Larut dalam suasananya yang berbeda. Entah itu dihabiskan sendirian sambil membaca novel roman, atau bersama teman-teman sambil bercanda soal masa depan, atau dengan keluarga sambil menumbuhkan ketentraman.