Sungailiat

Hujan jatuh begitu saja.

Kami buru-buru merapikan alas duduk, sebuah kain berlatar hitam dengan gambar Bob Marley di atasnya. Diberikan seorang kawan di Amsterdam, yang tumbuh dewasa dengan adagium don’t worry everything’s gonna be alright. Persis seperti saya. Saya menyibak kain itu agar pasir-pasir tak terbawa.

Dari Tanjung Pesona, kami berkendara ke arah Sungailiat. Hujan masih turun rintik-rintik. Tak masalah. Tapi, tangki motor nyaris kosong. Di tengah jalan, kami berhenti sebentar untuk mengisi bensin eceran. Entah di mana.

Memasuki Sungailiat, hujan menderas. Kami menepikan motor di sebuah rumah makan Padang. Kios-kios handphone berdiri tepat di seberangnya. Saya memesan ayam. Christal memesan entah apa. Dari kejauhan saya menikmati jalanan kota yang basah, dengan lalu lalang kendaraan yang tak terburu-buru.

Rambut saya lengket air laut. Ditambah udara yang irit masuk ke dalam helm. Rasanya anyep. Tidak enak. Tapi, Pangkal Pinang masih jauh dan kami tak berencana langsung kembali ke sana. Mungkin kami akan mampir ke Pantai Tikus dalam perjalanan pulang. Duduk-duduk di pasir sambil melihat ombak menjilati pantai.

Di Sungailiat, kami cuma berteduh dari hujan yang guyur di Bangka.

(Tapi, entah kenapa tiba-tiba saya mengingat Sungailiat.)