Dan Salju Jatuh

Dan salju jatuh di Stade.

Letters bergema di telingaku, seperti sepotong teriakan dari masa lalu. Dulu kita suka mengirim surat, menanti tukang pos datang dengan sepedanya, lalu ia melempar amplop ke teras rumah. Di sana, sebenarnya kita membaca bulan-bulan yang panjang, yang telah berlalu sejak kita mengirim surat ke alamat lain. Pada akhirnya, ia berbalas. Atau mungkin tidak.

Di Ebay, aku membaca Ingold. Cukup dengan etnografi, katanya dengan nada manifesto. Lalu ia membandingkan antropologi dengan korespondensi, kegiatan surat-menyurat. “Seperti yang dilakukan para penulis surat, mencorat-coret pikiran dan perasaan mereka, dan menanti jawaban”. Seperti itulah antropologi, sebenarnya kita hanya harus menunggu.

Lalu smartphone datang dengan tergesa-gesa. Kita juga jadi tergesa-gesa. Tak ada lagi moile moile, seperti di sudut-sudut Siberut. Orang bergegas. Kita menjadi ganas terhadap waktu. Menunggu adalah neraka. Ketidakpastian adalah bencana. Surat memberi kita kebijaksanaan tentang waktu, menunggu, jawaban, dan ketidakpastian. Smartphone tidak.

Di Paking, kita menerima surat dari Long Berang. Adalah romantik membaca surat di tahun 2012. Surat itu dikirim lewat seseorang, yang kebetulan akan melintasi Paking untuk menuju Malinau. Kami, anak-anak Paking, membacanya dengan pelan dan khidmat. Anak-anak Long Berang berbagi kabar: tentang agas, anak-anak Dayak, dan remeh-temeh yang lain.

Kemudian Ebay. Di tempat dimana sinyal dan wifi adalah kemewahan, surat terasa biasa saja. Hiber membaca surat satu lembar dari Bruno. Kertas lecek itu telah bergerak: dari Padang, menaiki Mentawai Fast, jatuh di tangan orang lain di Muara Siberut, lalu berlayar ke Ebay melewati ombak-ombak yang mengayun. Hiber menerimanya dengan senyum.

Dan salju jatuh di Stade. Kita bicara tentang surat. Aku mendengar lagu tentang surat. Surat, surat, surat. Lalu kantor pos. Dan aku mengingat Balkan. Di sana, pusat-pusat kota ditandai oleh kantor pos. Bukan gereja, bukan masjid, bukan alun-alun. Kantor pos. Kita tak perlu menyembah tuhan, tapi kita harus mengirim surat agar kemanusiaan terjaga selamanya.

Stade, 18 Januari 2018

Small City Life

From who-knows-when, I always want to live in small city where breaths are easy and life is calm. For 24 years I lived in suburban of urban jungle named Jakarta. There is always busy routine everyday as its patron has. Now, finally, I am moving to another place. A much quieter, less polluted big village named Wageningen. A place where its inhabitants seem like having nothing else to look for in life. Except a serene life.

Two or three days after moving to Wageningen, I visited a place called Stade in Niedersachsen state of Germany. And I found another peaceful space there. Forget Hamburg or Amsterdam, it is a kind of rural town where apples are everywhere. From very big industries that supply all Europe, to tiny garden in almost every house in the town. Pace is slow and days are gone fast in Stade. A breeze in the afternoon makes it perfect.

One day, I went to Amsterdam Centraal. Another day, I was in front of Rathaus of Hamburg. People everywhere. From travelers carrying big backpack, to locals hanging out with fashionable outfit. I never hate tourists or locals or people. But I may not like noisy crowd too much. There were headaches when I first got off the train in Centraal or walked around the Rathaus. The aches growing whenever the picture of going back to Jakarta-esque life comes in mind.

Now, I am going to forget such vision. I want to appreciate life here, life I dreamed of for who-knows-how-long. A small city life.