Soccer

Pada suatu siang di pertengahan tahun 2003, saya mengunjungi Toko Buku Gunung Agung di Plaza Depok bareng ayah saya. Sejak kecil, saya diajarkan oleh ayah bahwa mendatangi toko buku adalah vakansi. Kebiasaan itu terbawa hingga sekarang. Di siang itu, saya keluar toko buku dengan menenteng tas plastik berisikan Tabloid Soccer.

Itu kali pertama saya membeli Soccer. Cerita setelahnya seperti kisah seorang pecandu yang ketagihan menghisap mariyuana. Sejak kelas 1 SMP hingga sudah lulus kuliah, saya masih membeli tabloid yang sama di setiap Kamis siang. Soccer adalah bagian penting dalam perjalanan saya menggilai permainan paling mulia di muka bumi: sepak bola.

Buat saya, Soccer adalah semacam kebudayaan. Paling tidak dalam hal ritus pergi ke kios koran tiap hari Kamis dan gaya saat menulis artikel sepak bola atau yang sifatnya jurnalistik. Jadi ketika tahu bahwa budaya yang terbangun selama 11 tahun akan diberangus, saya merasa menjadi korban genosida (tanpa mencoba merendahkan korban genosida yang sebenarnya).

Terlebih pemberangusan ini terjadi di bulan yang seharusnya menjadi bulan terakhir saya menggawangi DuniaSoccer, yang telah berlangsung sejak November 2013. Saya seperti linglung. Hingga saat ini saya sebenarnya masih mencerna dan meraba-raba apa maksud dari semua ini. Dan itu membuat saya teringat pepatah Yunani kuno: man plans, god laughs.

Komedi satir karya yang empunya dunia ini semakin epik. Saya mendapat kesempatan menulis di Tabloid Soccer, sesuatu yang saya inginkan sejak remaja. Mirisnya, tulisan pertama saya di Soccer hadir pada edisi terakhir hari ini. Setelah ini saya akan membingkai tulisan itu dan memajangnya di kamar sebagai penanda untuk mimpi yang terwujud dan kegetiran lawakan tuhan.

Absurd

Ini mungkin minggu paling absurd dalam hidup saya. Membuat saya banyak berpikir meski susah mencerna kenyataan yang ada. Segalanya seperti membentuk pusaran kegilaan yang tak habis-habis. Bukan sedih atau luka atau apa, hanya linglung dan bingung. Kata-kata seperti putus di ujung lidah. Lalu sepotong tanya meletus, what the fuck is happen?

Dua minggu lagi saya akan memulai kebiasaan baru. Setiap Kamis siang, saya tidak akan lagi membeli tabloid yang sama selama 11 tahun terakhir ini. Ini kenyataan yang pilu. Lebih pilu lagi karena detil-detilnya bagai komedi getir untuk saya. Segalanya terasa pas dan konyol dan meledek. Seperti tuhan sedang bercanda dan menertawakan punch-line yang dibuatnya sendiri.

Kenyataan ini membuat saya sering terbengong-bengong. Tadi malam, di busway pulang dari kantor tabloid bersangkutan yang juga telah menjadi kantor saya selama setahun ini, saya mendapati diri saya termenung beberapa kali. Bagian diri saya yang lain bisa melihat tatapan yang kosong itu, seperti sedang bertanya-tanya dan tak mendapat jawaban.

Ini memang minggu yang aneh sejak hari Senin. Entah kenapa. Semuanya terasa tak pada tempatnya, tak normal, dan tak biasa. Terlebih pagi ini saya mendapati kopi luwak yang saya minum seminggu ini sudah dicampur dengan kapal api dan kopi flores. Saya tertawa dan menggeleng-geleng di saat yang sama, mencoba meresapi seluruh absurditas alam raya.

Minggu ini masih tersisa 58 jam lagi. Kegilaan apa lagi?

Post-scriptum (25 jam kemudian): Ternyata campuran tiga jenis kopi di atas lumayan enak. Mungkin ke-absurd-an bukan hal yang buruk.

Post-scriptum (4 jam sebelum pekan berakhir): Saat sedang menonton Sampdoria vs Atalanta, seorang teman tiba-tiba menyapa via whatsapp, “gue bingung tentang tuhan.” Ya, sebuah akhir yang acak untuk pekan yang super-acak.