Zizek

Hari ini saya membaca Zizek lagi. Memancing saya melihat-lihat jenggot dan pipi penuhnya, juga mengecek latar belakangnya di Wikipedia. Anak Ljubljana sejati. Lahir, tumbuh dewasa, dan tetap disana di usia tuanya. Slavoj ialah lulusan Universitas Ljubljana dan sekarang mengajar disitu juga. Sempat juga menghabiskan beberapa tahun akademik di University of Paris VIII.

Saya membaca Zizek di tengah-tengah jam kerja, sambil menunggu liputan, sekaligus meretakkan otak yang beku karena rutinitas, tugas kantor, dan hal-hal tak penting lain. Lumayan.

Tapi gara-gara Zizek saya terbayang lagi saat-saat mencari sekolah di luar negeri. Mencari-cari kampus, mendaftar, diterima, mencari beasiswa, gagal, urung mencoba lagi, dan detail-detail lain. Pengalaman itu mengasyikkan sekaligus sedikit membikin ngilu. Tapi ketika saya sudah bercerita soal itu dengan lepas, berarti ada yang telah lega di dada dan menerima sepenuhnya takdir yang pahit ini.

Akhir-akhir ini, entah mengapa, keinginan melanjutkan sekolah tiba-tiba muncul lagi. Entahlah. Mungkin aktivitas sehari-hari saya tidak menggairahkan atau memang urusan saya belum selesai dengan sekolah. Tapi, dibanding beberapa bulan lalu yang penuh euforia dan gairah melanglang buana ke Eropa, saya merasa lebih kalem, lebih santai. Yogyakarta akan jadi tujuan yang tak buruk sama sekali.

Lalu Zizek mengingatkan saya. Bahwa menjadi pemikir dan akademisi yang diakui dunia tak perlu harus belajar di Oxford, Harvard, atau Leiden. Tak perlu mengajar di Inggris, Jerman, Belanda, atau Amerika. Bisa dimana saja. Apakah itu di Ljubljana, di Port Au Prince, di Yaounde, atau di Dhaka. Itu kalau memakai ukuran “diakui dunia”. Kalau hanya ingin jadi sebatas bagus dan berguna bagi orang lain, maka lebih bisa lagi.

Mungkin Zizek telah menyelamatkan saya.

Sekolah

Pujangga sekelas Tagore pernah menyebut sekolah sebagai “siksaan yang tak tertahankan”. Dia lalu memutuskan keluar dari penjara itu dan menjalani kehidupan bebas yang benar-benar dikehendakinya. Sekarang, dia jadi masyhur. Yang patut dipikirkan adalah, benarkah sekolah adalah siksaan yang tak tertahankan? Setiap orang pasti punya pikiran dan pandangan berbeda dalam hal ini. Izinkan saya menyampaikan pikiran dan pandangan saya.

Buat saya pendidikan adalah semacam perbudakan. Nantinya sang budak akan memperbudak generasi setelahnya. Roda itu terus berputar ibarat roda gerigi yang mencabik-cabik kehidupan bebas, kehidupan tanpa penjara yang dihias dengan kata-kata semanis madu. Madu itu juga punya nama, namanya masa depan. Orang tua menyuruh anaknya sekolah dengan alasan bernama masa depan. Demi masa depan yang kita bahkan tak tau apa bentuknya, kita dipenjara dan disuruh hidup dalam kungkungan pendidikan.

Jadi bagi saya, kita sebenarnya tak ada yang benar-benar ingin sekolah. Kita semua diantar begitu saja ke gerbang sekolah, disuruh masuk, dan kemudian keluar setelah meneriakkan kata lulus. Keluar dari gerbang sekolah yang satu, kita masuk lagi ke gerbang ‘penjara’ yang lainnya. Kali ini mungkin tak diantar, tapi kita sudah diprogram sejak masuk sekolah yang pertama tadi untuk masuk gerbang-gerbang selanjutnya. Mungkin akan berhenti sampai kita benar-benar sadar telah dibodohi, atau kalau tak sadar-sadar kita akan terus sekolah sampai puncak terakhir.

Semua berjalan begitu saja. Pendidikan kemudian jadi semacam ritual dalam kehidupan, tak sekolah berarti belum hidup. Orang lalu bersekolah begitu saja karena ‘aturan’ memang seperti itu, padahal tak tau sekolah itu makanan macam apa. Sekolah lalu hanya jadi ritual tanpa arti. Kebanyakan orang tak tau arti sebenarnya dari sekolah. Lagipula mereka tak perlu tau, toh kehidupan diluar sekolah lebih penting untuk dipikirkan. Yang penting masuk sekolah. Itu saja.

Saya juga tahanan dalam penjara yang panjang itu. Ketika menulis ini saya masih dalam penjara, nama penjaranya perguruan tinggi. Saya tak tau mengapa masuk didalamnya. Sejak lulus SMA, saya begitu saja ingin masuk ke dunia perkuliahan. Padahal setelah dipikirkan saya sebenarnya tak ingin, saya ingin bebas. Tapi toh sejak jaman SD kita memang disetir sedemikiran rupa oleh tuntutan dunia yang butuh ‘orang terdidik’, makanya kita berusaha menempuh pendidikan agar dibutuhkan oleh dunia. Agar bisa survive. Padahal orang jaman dulu survive lebih lama tanpa sekolah, entahlah.

Demikianlah saya masuk ke universitas karena tuntutan dari masyarakat dan dari keluarga memang seperti itu. Masuk di penjara baru, saya ingin keluar tapi tak bisa. Ya sudahlah. Saya akan coba selesaikan penjara yang satu ini, dengan janji tak akan masuk penjara yang lain lagi setelah kata lulus sudah lepas dari kerongkongan (kecuali untuk satu alasan yang rahasia). Seperti apa ya kehidupan tanpa sekolah? Jadi tak sabar. Katanya kita akan bekerja, dan bekerja adalah lanjutan dari sekolah bertahun-tahun itu. Hah, sama saja. Kalau begitu hidup memang penjara yang besar, bung!