Para Peziarah di Santiago

Santiago de Compostela, pada sebuah musim dingin yang basah.

Stasiun basah. Apa-apa basah. Kota jadi murung. Saya melangkahi pusat kota dengan wangi burger yang menguar ke jalan. Di Parque de Alameda, segala jadi lebih sendu. Pohon-pohon tanpa daun menanti datangnya musim semi. Langit kian kelam, malam menjelang. Saya tiba di hostel sebelum gelap merayap.

Roots and Boots nama hostelnya. Saya naik ke dorm dan mendapati jendela yang menganga. Katedral ada di seberang. Ia tampak kecil dari lantai dua hostel. Gagah menjulang, meski ditopang besi-besi restorasi. Di Eropa, orang tergila-gila pada masa lalu. Maka, bangunan tua direstorasi dan nostalgia dipupuki.

Nostalgia. Itu juga yang membawa saya ke Galicia, di barat laut Spanyol. Tujuan awal saya ialah A Coruna, kota pesisir yang berbatasan langsung dengan Atlantik. Saya hendak mencari jejak Deportivo La Coruna, klub sepak bola yang ketika saya kecil hingga memasuki masa remaja sedang bagus-bagusnya.

Namun, tak ada penginapan murah di kota itu. Maka saya melipir ke Santiago. Menginap di sana dan ke A Coruna pulang-pergi naik kereta. Kedua kota ditempuh dalam 30 menit. Tapi, meski saya ‘tersasar’ di Santiago, bukan berarti kota ini tak punya apa-apa. Banyak orang mengenalnya karena Camino de Santiago.

DSC_1491

Camino de Santiago ialah salah satu jalur ziarah paling terkenal di dunia. Setiap tahunnya, manusia dari berbagai belahan dunia pergi menuju Santiago de Compostela dengan berjalan kaki. Jalur paling umum disebut Camino Frances, the French way. Para peziarah memulai dari kota Saint-Jean-Pied-de-Port di Prancis. Beberapa jalur lain dimulai dari Basque (Spanyol utara), Andalusia (Spanyol selatan), Lisbon (Portugal), dan sebagainya.

Sebenarnya tak ada aturan yang benar-benar kaku soal jalur. Ide utamanya adalah berjalan kaki menuju Santiago, biasanya melintasi kota-kota yang dianggap suci bagi umat Katolik. Meski begitu, sekarang ini banyak juga peziarah yang menggunakan sepeda untuk mencapai Santiago. Camino de Santiago terus berubah mengikuti jejak jaman. Ia bermula dari ziarah relijius umat Katolik menuju makam Santo Yakobus (Santiago, dalam bahasa Spanyol) dan kini berubah menjadi cara lain untuk traveling/berwisata.

Di hostel, saya sempat bertemu beberapa peziarah. Misalnya, dua anak muda Korea. Seperti banyak orang lain, mereka berangkat dari Saint-Jean-Pied-de-Port, melintasi berbagai kota di utara Spanyol, hingga akhirnya tiba di Santiago. Lebih dari satu bulan waktu yang mereka lalui untuk berjalan kaki. Sepanjang perjalanan, mereka berhenti dan menginap di hostel-hostel peziarah. Harga per malam untuk peziarah lebih murah dibanding untuk turis lain. Selain itu, peziarah Camino memiliki semacam paspor yang diberi stempel setiap mereka melalui atau singgah di kota-kota penting.

Ada juga seorang pemuda yang terbang jauh dari Meksiko untuk menjalani Camino de Santiago. Ia datang sendirian, meski akhirnya sering bergabung bersama peziarah lain. Sama seperti dua orang Korea tadi, dia memulai dari Prancis. Sementara itu, saya bertemu seorang kakek yang memulai dari Basque dan seorang bapak yang berjalan kaki dari Italia. Peziarah bisa memulai dari mana-mana, tapi tujuan akhirnya satu: Santiago de Compostela.

Peziarah ada dimana-mana di Santiago. Bahkan, di tengah-tengah kota ada Museum Perziarahan (Museum of Pilgrimage). Ketika saya berjalan-jalan gontai di kota, tak sulit melihat orang-orang dengan tas punggung besar, sepatu gunung, dan tongkat. Terlebih di dekat Katedral. Para peziarah itu duduk-duduk di pelataran atau berdiri merenungi akhir perjalanan mereka. Betis-betis mereka tampak bengkak, hasil dari berjalan kaki ratusan kilometer. Mengapa mereka mau berjalan begitu jauhnya dalam Camino de Santiago?

Motifnya bisa macam-macam. Pada mulanya, ini soal kepercayaan iman Katolik untuk meningkatkan spiritualitas rohani. Lambat laun ia berubah jadi bentuk turisme yang populer. Dua anak muda Korea yang saya temui di hostel contohnya. Mereka terpengaruh melakukan Camino karena iklan tv. Kata mereka, iklan-iklan yang mempromosikan Camino de Santiago cukup marak di Korea Selatan. Mereka berdua hanya segelintir dari banyak orang Korea lain yang terpikat.

Ketika saya tanya apakah mereka melakukan Camino karena kaitan dengan iman Katolik, mereka menggeleng kepala. Bagi mereka pribadi, ini tak ada sangkut pautnya dengan agama. Mereka tertarik pada Camino de Santiago karena pengalaman berbeda yang ditawarkannya. Ini semacam jalan-jalan versi slow, pelan dan tak terburu-buru. Dengan itu pula keduanya mengapresiasi cara orang-orang Katolik jaman dulu dalam berziarah. Lagi pula, untuk apa tergesa-gesa?

(Januari 2019)

P.S.: Ditulis untuk Kawruh.

Advertisements