Pulang

Langit mulai menunjukkan tanda-tanda sore akan tiba, lalu disusul malam. Saya dan kawan masih dalam kendaraan yang membawa kami melintasi rute Labuan Bajo – Ruteng. Entah kapan kembara ini akan tuntas, kami tak terlalu peduli. Setelah memuaskan masa muda yang singkat dengan bermandian lautan hampir selama dua minggu, kami mencapai dataran tinggi. Demikianlah Ruteng jadi peristirahatan selanjutnya.

Terletak di wilayah Manggarai, Ruteng mungkin salah satu kota tersibuk di kawasan ini. Bukan kota yang besar, namun cukup untuk menaruh kantor Bupati dan aparat-aparat negara lain disini. Rencana kami adalah menumpang tidur di biara di Ruteng, memohon welas kasih suster-suster sambil memasang muka melas khas pejalan yang lemas. Maka rencana berhasil, kami menikmati salah satu akomodasi ternyaman sepanjang perjalanan ini.

Hanya semalam kami singgah. Kami sempat mencicipi Ruteng di malam hari dengan berjalan kaki ditemani seorang anak lokal yang bertelanjang kaki di dinginnya Ruteng malam itu. Sampai saat ini, tatkala melihat kelam malam, entah kenapa saya terbayang malam singkat di Ruteng itu. Keesokannya sebelum bergegas melanjutkan perjalanan, kami sempat mengunjungi situs gua bernama Liang Bua.

Namun sejatinya, bagi saya secara personal, Ruteng tak akan pernah saya lupakan karena momen saat kendaraan travel yang kami tumpangi mulai memasuki kota itu. Satu per satu penumpang diantar ke tempat tujuan masing-masing, kebanyakan menuju rumah, tak seperti kami. Saya menikmati betul tiap penumpang yang turun dari travel, menenteng barang-barangnya, dan disambut sanak saudara yang menanti.

Sontak saat itu saya langsung ingat rumah. Membayangkan sayalah orang yang turun dari travel itu, menggendong ransel dengan tergopoh-gopoh dan tersenyum melihat orang-orang rumah menyambut kedatangan. Pada akhirnya memang perjalanan akan usai dan rumah acapkali justru menjadi tujuan yang paling diidam-idamkan oleh para pengembara. Kami memang kaum yang payah.

Teras

Pagi yang indah kadang bisa ditemukan secara sederhana, di sebuah teras. Ruang yang mungkin tak sebesar lapangan bola tapi cukup bisa menjadi arti bagi sebuah pagi. Teras ditambah dengan sehelai koran segar dan secangkir kopi mendidih mungkin jadi kawan yang baik di sela-sela dingin pagi. Atau ditambah pula celoteh anggota keluarga lain yang warnai udara pagi. Mungkin sepotong sastra atau segores pemikiran yang numpang lewat bisa juga menyempurnakan.

Teras itu mungkin ruang yang biasa-biasa saja. Tapi saya percaya semua hal itu luar biasa. Juga teras. Lalu saya merenung di suatu siang yang lengang, di teras, tentang teras. Teras itu ruang interaksi yang kadang luput dalam suatu rumah tangga. Walau tak sebesar ruang lain, teras bisa saja vital. Teras mencipta momen-momen yang kaya, tapi tak terduga. Momen sederhana yang penuh makna.

Disana bisa saja sang anak mencium tangan orang tuanya sebelum berangkat sekolah tiap harinya. Atau mungkin tempat suami istri mengobrol santai tentang cinta, tentang anak-anak, tentang masa tua, atau mungkin juga tentang kematian. Teras bisa juga arena kakak dan adik berlarian mengejar satu sama lain, bercanda, bertengkar, bercerita. Bisa juga ruang bagi ayah memangku anak perempuan sambil bercerita tentang dongeng Cinderella, atau tempat sang ibu menasihati anak laki-laki agar jangan nakal.

Apa jadinya suatu rumah tanpa teras? Entahlah. Coba tanyakan rumah-rumah modern nan minimalis itu. Rumah yang hanya punya sepetak teras formalitas, atau bahkan sama sekali tak ada teras. Demi menghemat ruang, arsitektur minimalis kadang tak mementingkan peran teras. Dan tanpa teras, mungkin ada yang hilang dalam suatu keluarga. Tak ada interaksi antara anggota keluarga seperti yang dimiliki rumah-rumah dengan teras. Mungkin.

Tapi masih untung kalo ada ruang lain yang bisa gantikan peran teras. Mungkin taman kecil di belakang rumah, yang dihiasi kursi malas dan warna warni bunga. Lebih beruntung kalau ditambah kolam renang. Ketersediaan ruang-ruang seperti itu dalam rumah bisa menambah sesuatu dalam hubungan keluarga, entah apakah sesuatu itu. Sesuatu yang mungkin tak didapat di ruang keluarga dalam rumah. Sesuatu yang tak ditemukan dimana-mana.

Jadi kita mungkin bisa memandang teras dengan lebih peka. Dengan melihat teras, kita tahu ada sesuatu didalamnya yang penting dan esensial. Kita jadi bisa menghargai waktu-waktu yang terbuang di teras. Larut dalam suasananya yang berbeda. Entah itu dihabiskan sendirian sambil membaca novel roman, atau bersama teman-teman sambil bercanda soal masa depan, atau dengan keluarga sambil menumbuhkan ketentraman.

Rumah

Where are we really going? Always home.

Demikianlah kata-kata penyair Novalis yang saya temukan di novel Hermann Hesse, Journey to the East. Novel yang saya pikir merupakan usaha pelarian sang novelis menuju tempat yang orang sebut dengan “timur”. Entah apakah “timur” itu? Mungkin hanya sebatas mata angin atau mungkin lebih dari itu, mungkin menuju perenungan atas hancur leburnya Eropa pasca perang dunia.

Hesse menulisnya bagai fiksi yang tumpah dari imajinasinya. Sebuah petualangan imajinatif sang penulis menuju “timur”. Petualangan penuh cerita yang mungkin cara Hesse untuk menghindari bunuh diri. Ya dengan menulis orang bisa hindari bunuh diri. Semua alasan untuk menghabisi nyawa sendiri hilang seketika dalam padang tulisan yang tercurah di atas kertas putih bersih yang jadi kotor, penuh ide dan aksara.

Tapi saya tak ingin berpikir tentang Hesse atau novel itu secara keseluruhan. Saya tertarik pada kutipan Novalis yang saya tulis di awal tadi. Katanya, “tiap jiwa yang pergi selalu menuju rumah.” Kini pikiran ditarik oleh kata ‘rumah’. Apakah ‘rumah’ itu? Sekedar bangunan tempat bernaung melindung diri dari ketidakpastian alam? Atau suatu suasana, yang dicipta dan tercipta untuk sebuah keharmonisan, untuk kedamaian?

Dan ‘rumah’ dalam kutipan itu tak bisa lepas dari kata ‘pergi’. Saya mencium bau sebuah proses pencarian akan imaji ‘rumah’. Pencarian ini mungkin sering dialami oleh mereka yang suka berkelana, berpergian, mencari dunia, memandang bumi-bumi bagian lain. Para pengelana dan petualang yang tak punya rumah dalam pengembaraannya tersebut pun dihujani kerinduan akan bayangan ‘rumah’.

Mereka yang berupaya keluar dari kenyamanan kamarnya dan mencari ketidakpastian hidup di luar rumah, namun ternyata mendamba ‘rumah’ dalam perjalanannya. Oleh karenanya, mereka, para pengelana ruang itu umumnya tak betah untuk tinggal hidup dalam suatu tempat dalam rentang waktu yang lama. Paling tidak hanya hitungan hari, atau minggu jika mungkin, tergantung masing-masing persona.

Dalam menetap sementara di suatu tempat, mereka mencari ‘rumah’, dan berharap tempat mereka menetap sementara itu bisa menjadi ‘rumah’. Tapi ternyata tidak. Oleh karenanya mereka pergi lagi dan mencari tempat lain yang mereka harap lagi untuk jadi ‘rumah’. Tapi gagal lagi. Begitulah seterusnya hingga proses petualangan sebenaranya hanyalah proses menemukan ‘rumah’, mendapatakan rasa nyaman dan betah untuk bernafas didalamnya.

Pada suatu titik, setiap perjalanan akan menemu titik ujung. Entah itukah ‘rumah’ yang sebenarnya mereka tuju, atau mungkin mereka benar-benar kembali ke rumah mereka, menyadari bahwa rumah yang kadang membosankan, kadang dicaci karena dilihat tiap hari, ternyata merupakan tujuan akhir mereka. Muara dari perjalanan mereka, yang berhulu di tempat yang sama.

Where are we really going? Always home.