(non)paralel

I. Porto

Februari 2017. Porto, pada suatu hari musim dingin yang cerah. Saya mengikuti free walking tour. Grup kami kecil, tak lebih dari 10 orang. Dari patung seorang ksatria di atas kuda, kami berjalan kaki melintasi gang-gang Porto yang manis. Lalu, selesai. Setelah itu, saya dan seorang Amerika makan siang bersama. Kami melahap Francesinha, lalu menenggak Super Bock. Dan obrolan bergulir di atas meja.

Ia dari California. Tapi, beberapa tahun ke belakang tinggal dan mengajar di Madrid. Amerika melelahkan, katanya. Orang-orang dengan kehidupan seperti robot, katanya. Cuma uang yang di kepala. Spanyol, dan gaya hidupnya yang rileks, memikatnya. Siesta adalah simbolisme untuk itu. Tapi juga hal-hal lain, seperti minum bir pada jam 10 pagi. Kita bisa melihat betapa santainya orang Spanyol menjalani hidup.

Lalu, pada satu momen, ia memberi saya pertanyaan yang mengejutkan. Apa hal yang paling berharga buat kamu? Ini pertama kalinya saya diberi pertanyaan ini. Dan, yang lebih mengejutkan, saya menjawabnya dengan spontan dan lekas. Keluarga. Kata itu keluar begitu saja, tanpa proses translasi dari pikiran ke mulut. Ia seperti sudah lama berdiam di mulut dan menunggu untuk keluar sebagai ucapan.

II. Firenze

Juli 2018. Pagi yang sumuk di Toscana. Saya memulainya dengan malas, dengan membeli pisang di kios kecil dekat hostel. Pemiliknya sepasang kakek nenek yang ramah. Saya bertukar bahasa Italia yang patah-patah dengan mereka. Lalu, saya menyantapnya di dapur hostel, sambil menunggu kopi mendingin sedikit. Dan, seorang gadis Meksiko masuk ke dapur. “Here can we drink from tap water?” tanyanya.

Kemudian ia duduk di depan saya. Kita mengobrol. Ia tinggal di Dublin selama satu semester, untuk belajar dan memperlancar bahasa Inggris. Sialnya, lingkungan tempat tinggalnya dipenuhi orang Brasil. Alih-alih lancar bahasa Inggris, sekarang ia bisa sedikit bahasa Portugis. Hidup kadang menarik. Hal-hal seperti inilah yang, saya duga, menyelamatkan kita dari keharusan bernama bunuh diri.

Pertanyaan itu tiba juga. Kamu mau pulang setelah lulus? Iya dong, jawab saya. I don’t see myself living in Europe, lanjut saya. Tentu saja Eropa menarik, tapi bukan untuk jangka panjang. ‘Dutch salary’ tak cukup menggiurkan. Sejak dulu saya percaya ada hal-hal yang tak bisa dibeli oleh uang. Tapi saya tak bisa menjelaskan kenapa saya selalu ingin pulang. Saya rasa karena ‘rumah’ dalam artian yang filosofis.

Lalu, saya tanya gadis Meksiko itu dengan pertanyaan yang sama. Yes I also want to go back to Mexico, jawabnya. Dia tak mengerti kenapa orang-orang dari selatan ingin tinggal di utara. Katanya: saya cuma mau tinggal dekat dengan orang-orang yang saya cintai (‘loved ones’), dengan keluarga. Seketika itu saya mengingat Porto. Ada semacam garis imajiner yang menghubungkan dua peristiwa ini.

III. Leiden

Agustus 2018. Joshua membuka dialog di dalam kereta. Gue selalu bingung dan kesal setiap ditanya ‘do you want to go back to your country?’ Buatnya, pertanyaan itu sama sekali tak relevan. Pertanyaan yang jawabannya sudah jelas berarti bukan pertanyaan. Tentu saja ia ingin pulang. Paling lama 2020, katanya. Belanda terlalu menjemukan: keju, roti, musim dingin, angin. Kenya adalah rumah. Di situ persoalan tuntas.

Saya balas bahwa saya juga sering dapat pertanyaan yang sama saat jalan-jalan. Saya juga bingung kenapa selalu dapat pertanyaan semacam itu. Mungkin, di tengah isu pengungsi yang masih hangat di Eropa, orang-orang melihat pendidikan sebagai jalan menuju migrasi. Sekolah hanya kedok untuk mencari kehidupan yang lebih ‘layak’ (meh!) di utara. Di sini, kekerasan epistemik sedang terjadi.

Orang kerap lupa bahwa hidup itu plural, mengandung warna-warni pengetahuan. Lalu saya cerita ke Joshua tentang peristiwa di Firenze. Mungkin kita bisa punya banyak duit dan karir bagus di Belanda, tapi apa gunanya jauh dari keluarga. Kata-kata saya meniru si gadis Meksiko. Yang berharga di utara dan selatan belum tentu sama. Dan kita harusnya tahu itu sebelum ditelan eurosentrisme. Exactly, tandasnya.

Advertisements

Porto

Porto, bagi saya, adalah seorang bapak di Do Dragao pada Jumat malam itu. Sebelum wasit meniup peluit tanda mulai laga, si bapak membuat tanda salib. Saya lihat bibirnya seperti mengucap sesuatu. Mungkin semacam doa dalam bahasa Portugis. Raut mukanya menunjukkan keseriusan dan ketulusan di saat bersamaan.

Sejak kecil, saya telah melihat banyak orang berdoa. Tapi, selamanya saya tak akan melupakan momen itu. Saya tahu persis bapak yang duduk di sebelah saya itu mengimani FC Porto dengan ketaatan yang penuh. Baginya, Porto tak lagi sekadar klub sepakbola. Saya tak mau menyebut agama. Karena saya rasa lebih dari itu.

Malam itu Porto bertemu Tondela yang duduk di peringkat paling bawah di klasemen. Empat hari setelahnya mereka akan menjamu Juventus di Liga Champions. Banyak pemain utama yang dicadangkan. Tapi stadion tetap sesak, setidaknya di bagian belakang kedua gawang. Do Dragao mungkin adalah semacam gereja.

Saya lihat orang-orang saling menyalami sebelum duduk di bangku masing-masing. Persis seperti kebiasaan yang saya pelajari sejak kecil di ibadah hari Minggu. Di sekeliling saya, kebanyakan adalah bapak-bapak paruh baya. Saya membayangkan mereka adalah pemegang tiket terusan selama berpuluh-puluh tahun.

Tapi, bapak di sebelah saya adalah yang paling saya ingat. Tentu saja karena ia dekat. Maka saya bisa mendengar helaan nafasnya saat Porto membuang peluang emas atau salah oper yang membahayakan pertahanan. Bapak itu tak pernah berteriak. Tampaknya ia bukan tipe fans yang bawel. Ia mengimani FC Porto dalam sunyi.

Melihat bapak itu membuat saya teringat cerita seorang teman asal Jerman. Dia fans Kaiserslautern. Pilihannya adalah warisan keluarga. Dia pernah cerita bahwa kakeknya pernah tiga kali terkena serangan jantung karena menonton Kaiserslautern. Salah satunya membuat sang kakek meninggal dunia. Ya, karena sepakbola.

Bapak itu mungkin saja adalah salah satu orang yang punya tendensi untuk mati karena sepakbola. Itu yang saya pikirkan saat mendengar helaan nafasnya yang berat. Saya yakin jantungnya berdegup kencang setiap menonton Porto. Saya tak tahu bapak itu punya masalah jantung atau tidak. Jika pun iya, saya yakin ia tak peduli.

Porto, bagi saya, adalah seorang bapak di Do Dragao pada Jumat malam itu. Di akhir laga, Porto menang telak empat gol tanpa balas. Bapak itu meninggalkan tribun sekitar 10 menit sebelum laga berakhir. Berkali-kali ia mengangkat telepon genggamnya. Mungkin ada hal penting yang menunggunya di luar stadion. Di luar sepakbola.