Spotify, Banda Neira, dan Lanny Jaya

Saya sedang menjajal Spotify dan mengingat Lanny Jaya. Gara-garanya adalah Banda Neira.

Hari itu 31 Mei 2016. Saya baru pulang dari Kampung Guninggame, Desa Mokoni. Malam sebelumnya saya menginap di honai di desa tersebut untuk kepentingan penelitian teman. Sudah tiga minggu saya keluar rumah dan berkelana di Papua. Saya mulai kangen rumah dan hal-hal yang biasa di dalamnya.

Pagi 31 Mei itu sebenarnya seperti pagi-pagi yang lain. Atau mungkin tidak. Saya bangun saat matahari belum muncul betul. Langit Papua masih gelap dan kabut dimana-mana. Dingin Lanny Jaya bukan main. Keluar dari honai saya menuju tiga pace yang sedang menghangatkan diri di api unggun. Saya nimbrung. Diam saja, menikmati udara dingin, dengan pikiran berkelana kemana-mana, serta sesekali berbicara dengan pace-pace itu. Dari sebelumnya kedinginan, saya mulai kepanasan.

Matahari mulai naik ke atas dan orang-orang mulai keluar dari honai. Semua menuju api unggun. Mencari api, mendamba hangat. Kami lalu disuguhi ipere dan segelas teh hangat. Nyaris semua sayur dan buah di daerah gunung di Papua yang saya makan selalu enak. Segar. Termasuk ipere yang saya makan pagi itu. Saya kenyang.

Setelah sarapan kami mulai bersiap kembali menuju Tiom, ibukota Lanny Jaya. Seorang anak asli desa itu pertama-tama mengantar teman saya. Jadi, saya harus menunggu. Sembari menunggu saya berbicara panjang lebar dengan seorang pace. Bicara sekenanya saja. Tentang biji kopi, tentang ibu-ibu yang sedang berproses membuat noken, tentang kayu bakar yang habis, tentang beras yang perlu segera dimasak.

Motor yang akan memulangkan saya ke Tiom tiba. Saya berpamitan dan kembali. Sesampainya di rumah, saya mandi dan mencuci pakaian. Lalu berbaring santai di tikar di ruang depan. Saya membaca The Labour of Leisure, salah satu dari tiga buku yang saya bawa selama ke Papua. Lantas saya bosan dan mulai bermain dengan hp.

Saat itu listrik mati di Tiom, sedangkan baterai hp saya tinggal beberapa persen. Saya menyetel musik dan menemukan Banda Neira. Yang Patah Tumbuh, Yang Hilang Berganti membuat saya sendu pagi itu. Mengingat ibu, rumah, dan perempuan yang mengirimkan file lagu itu. Mengingat bulan-bulan yang berlalu sebagai jurnalis dan petualangan mencari beasiswa. Semua ingatan seakan baku tindih dalam kepala.

Lagu itu juga membuat saya ingin menulis puisi. Saya sudah menulis beberapa baris ketika teman saya datang, mengacaukan imajinasi puitik saya, dan puisi itu terbengkalai. Belakangan, hp saya hilang di Wamena. Termasuk draft puisi itu.

Hari ini saya sedang menjajal Spotify dan memutar Banda Neira. Lagu itu muncul di deret teratas. Membuat saya mengingat Lanny Jaya dan puisi-tak-selesai yang hilang itu.

Advertisements

Kelana

Perjalanan adalah semacam koleksi ingatan. Kita mengumpulkan pengalaman, merangkai momen, dan meringkus makna yang tercecer di sepanjang jalan. Kita berusaha menjadi utuh dengan berkelana. Tapi, kita justru mendapati lubang baru menganga dalam jiwa.

Mungkin karena perjalanan membuka mata kita, bahwa dunia akan selalu jadi tempat yang tengik. Seberapa pun indahnya alam raya, manusia adalah makhluk yang bermasalah. Kita mendamba pantai-pantai Raja Ampat dan gunung-gunung Wamena. Itu satu hal. Cacat adalah hal lain. Tapi, kita jadi tahu yang sempurna itu tak ada.

Dunia berisi proses menyeimbangkan yang cantik dan yang luka. Kita harus menerima keduanya sebagai satu paket. Menikmati indah Papua, tapi tutup mata terhadap bobroknya realitas sosial disana adalah dosa besar. Terlalu turistik.

Makna terbentuk dari pengalaman indrawi, peresapan batiniah, dan tabrakan dengan kenyataan. Perjalanan membuat kita mendapati ketiganya.

Di ujung jalan, tanda tanya yang terus melabrak sepanjang kelana seperti menemui jawabnya. Kita mencintai perjalanan karena ada hal-hal yang tak bisa didapatkan di rutinitas yang bengis. Makna-makna diselubungi kabut kesibukan, hedonisme, dan omong kosong urban.

Perjalanan membersihkan semua debu itu. Membuatnya jelas pada satu titik. Lalu berakhir pada pertanyaan dan pencarian lain.

Rasanya, itulah kenapa kita (saya) tak akan pernah behenti berkelana.

(Kotaraja, 8 Juni 2016)