Suatu Pagi di Semolon

Tubuh seperti dihujam batu. Nyeri dimana-mana. Untungnya, matahari bersinar dengan cerah dan suara monyet yang sedang melompat-lompat di antara pepohonan terdengar. Di tengah hutan ini, dengan alas lantai kayu di sebuah pondok dekat air terjun Semolon, aku rebah semalam. Aku melewati malam dengan berperang melawan nyamuk dan angin yang dingin di sekeliling. Kedinginan itu membuatku memeluk diri erat-erat, menyilangkan kedua tangan hingga menyentuh punggung demi mengusir rasa dingin. Bersama dua orang teman, kami tidur rapat-rapat dengan alasan yang sama.

Semalaman aku mungkin terbangun puluhan kali saking tidak nyenyaknya. Ketika cahaya muncul sedikit, resahku hilang meski badanku payah akibat tidur yang seadanya. Matahari selalu menghadirkan sesuatu yang menenangkan. Seterik apa pun, paling-paling dia hanya membikin gerah dan keringat mengucur, tapi tak pernah menimbulkan resah. Apalagi di pagi di tengah Taman Nasional Kayan Mentarang itu.

Ketika mataku mengintip ke depan dan melihat cahaya mentari pertama, aku mengucap doa yang spontan. Semacam doa tanpa kata-kata yang mengalir dengan murni tanpa hiasan. Biasanya doa-doa semacam itu timbul dalam situasi seperti ini, saat merasa begitu lega atas malam yang menyusahkan. Atau di saat yang lain ketika menyerah pada sesuatu dan menjadi pasrah, sehingga kata-kata semrawut dan yang meluncur hanyalah doa yang bisu.

Aku tak langsung berdiri dan terbangun. Masih dalam posisi rebah dan mata memejam, tapi tidak tertidur. Aku suka momen setelah bangun tidur. Saat pikiranku kosong dan setengah sadar. Seperti berdiri di antara yang nyata dan tidak. Tapi itu saat yang menyenangkan karena setelah itu pikiranku menyala dan mulai terbayang apa saja. Kemudian kepala menjadi sesak oleh macam-macam bayangan, pikiran, dan gumam yang berputar seperti film. Keindahan pagi menjadi buyar.

Setelah lima belas menit dalam kondisi rebah dan pejam mata, aku memutuskan diri untuk bergerak. Mula-mula aku duduk bersila, sebuah kebiasaan yang kulakukan sejak masih kecil. Lalu aku berdoa dengan kata-kata yang sudah semacam mantra dan hafalan. Ini tipe doa yang berbeda dari doa ketika aku melihat cahaya matahari pertama sebelumnya. Doa macam ini adalah buatan, tidak murni. Hanya pengulangan bertahun-tahun sehingga menjadi sesuatu yang otomatis. Tidak ada makna lagi di dalamnya.

Doaku tak lama, tak sampai satu menit. Bahkan sebelum kata ‘amin’, mataku sudah membuka dengan malas. Aku mulai menguap. Asap! Asap keluar dari mulutku. Ini mengingatkanku saat masih kecil diajak jalan-jalan ke Puncak oleh ayah ibu. Aku begitu senang melihat asap keluar dari mulutku. Biasanya aku mulai berlagak seperti seorang perokok ulung, menirukan gerak-gerak ayahku ketika menghisap cerutunya. Asap dari mulutku membuatku senang, sebentuk kesenangan yang sederhana dan arkaik. Aku mendadak siap menyongsong hari.

Aku melihat ke sekeliling, dua temanku belum terbangun. Namun, tidur mereka juga bukan tidur yang lelap. Keduanya bergerak-gerak mencari posisi tidur yang pas. Terlebih setelah aku terbangun, pasti mereka rasa ada sesuatu yang berbeda. Seluruh badan mereka tertutup sarung, sehingga gerak-gerik keduanya seperti sepasang ulat daun.

Sebenarnya, kami tidak hanya bertiga. Di suatu sudut yang lain dari pondok itu, tiga orang lain juga masih terlelap. Ketiganya adalah orang asli Dayak. Dua orang kakak-beradik berumur sekitar 25 tahun. Pasangan saudara itu berbadan kekar dan berambut panjang lurus sebahu, mengingatkan pada Apache. Di samping badan salah satu pemuda Dayak itu terdapat senapan yang mereka gunakan untuk berburu. Mereka terbiasa memakan daging apa saja, seperti yang diakui oleh salah seorang. Tapi meraka datang ke kawasan air terjun Semolon ini bukan untuk plesir, mereka bertugas memunguti kayu-kayu yang tumbang dari pohon yang sekiranya menghambat aliran sungai dan air terjun.

Mereka datang bersama seorang keponakan berumur kira-kira 7 tahun. Anak kecil ini berkulit lebih putih dari dua pamannya. Dia dalam masa liburan sekolah sehingga berkesempatan mengikuti dua pamannya ke tengah hutan. Indah rasanya melihat anak kecil di tengah hutan seperti ini. Aku tak bisa menjelaskan kenapa, namun perasaan itu nyata meski tanpa alasan. Anak kecil itu cukup pendiam. Dia tidak banyak bicara dan hanya berkata-kata jika sedang ditanya.

Dengan memeluk kedua lututku, aku memandangi ketiga orang asing itu. Aku ingat kemarin siang kami bertemu di pondok ini. Kami baru tiba dari sebuah desa bernama Paking, melewati perjalanan empat jam melewati hutan dan sungai yang sedang kering. Kami sempat singgah sebentar di sebuah kampung yang lebih kecil dan terpencil dengan kehidupan yang begitu apa adanya. Dari kampung itu kami melanjutkan perjalanan hingga sampai di Semolon.

Kami bertemu tiga orang Dayak itu saat mereka sedang memasak makan siang. Mereka memasak nasi dan menggoreng ikan sungai di atas tungku dengan kayu sebagai bahan bakarnya. Sejak awal mereka menunjukkan keterbukaan dan kebaikan. Mereka dengan sukarela membagi jatah makannya dengan kami. Adalah sebuah kemegahan ketika kita datang ke tempat asing dan bertemu orang-orang yang menerima kita seperti saudara. Kami makan bergantian karena piring dan sendok yang terbatas. Selama proses itu kami berbicara ini dan itu.

Salah seorang temanku bercerita bahwa kami dari Pulau Jawa dan hendak bertualang menengok bagian-bagian Indonesia yang lain. Kami sudah dua malam tinggal di Desa Paking dan berencana pergi ke Desa Long Berang besok. Konon, Long Berang cukup sulit dijangkau dan harus melalui sungai dengan jeram-jeram yang jahat, begitulah orang di sana menyebut jeram sungai yang membahayakan. Dua orang mirip Apache itu menceritakan pengalaman mereka ketika pergi kesana. Mereka bercerita panjang lebar hingga akhirnya nasi dan lauk tandas. Sebagai ucapan terima kasih, aku dan dua temanku mencuci piring dan sendok yang kami pakai makan.

Bayanganku buyar. Seorang temanku terbangun dan langsung berduduk sila sambil mengusap matanya yang sembab. Tak ada ucapan selamat pagi atau senyum, kami bukan tipe teman yang suka bermanis-manis. Kami relatif cuek satu sama lain. Tapi kami cocok dalam melakukan hal-hal yang orang lain tak suka lakukan, semacam pergi ke tengah hutan Kalimantan saat teman-teman lain sedang sibuk di kubikel masing-masing.

Dia hanya duduk sebentar lalu berdiri ke arah ranselnya. Ia mengambil minum dan menegak beberapa kali. Aku memberi kode bahwa aku juga ingin minum. Dia menutup botol dan melemparkan ke arahku. Tangkapanku sempurna. Aku minum sedikit. Tadinya aku berniat melempar balik, tapi temanku itu sudah keluar pondok dan melihat ke arah air terjun sambil meregangkan badannya. Untuk menjelaskan, pondok itu bukan pondok dengan dinding-dinding terutup, tapi terbuka. Itulah mengapa udara semalam begitu dingin menyengat.

Aku meletakkan botol air minum itu sekenanya di atas lantai sebelum berdiri dan berjalan menyusul temanku. Angin pagi menyapu mukaku sementara suara monyet bergelantungan dari pohon ke pohon masih bergema. Ini keindahan yang tak bisa kujumpai setiap harinya. Aku mesti menikmati pagi ini sepuas-puasnya, kataku dalam hati, karena pagi seperti ini tidak akan berulang. Aku mengamati aliran sungai dan juga air terjun di atasnya. Daun-daun dan ranting-ranting gugur mengambang dan sesekali terbawa arus yang tak deras.

Seketika temanku melirik ke arahku. Mulutnya bungkam, tapi mata dan gerakan kepalanya menunjuk ke air terjun. Tanpa menunggu reaksiku dia berjalan ke arah yang ditunjukkannya. Untuk menuju air terjun kami harus melewati jembatan, tapi sebenarnya kami bisa juga menyeberangi aliran sungai kecil itu dan mendaki sedikit. Temanku memakai jalur jembatan, aku mengikutinya dari belakang sambil melipat tangan ke belakang untuk melepaskan kekakuan tubuh.

Temanku langsung membuka baju dan celananya. Kini ia hanya bercelana dalam. Ia meletakkan pakaiannya itu di atas bebatuan yang kering dan sekiranya tak akan terkena aliran air atau cipratan. Perlahan ia masuk ke dalam kolam air terjun. Kata-kata pertamanya hari itu keluar. “Dingin!” ucapnya sambil memeragakan bahasa tubuh dan raut muka orang yang kedinginan. Ia tak lantas keluar, justru semakin masuk ke dalam dan mulai mencelupkan kepalanya ke air. “Segar,” teriaknya. Itulah kata keduanya hari itu.

Melihat wajah temanku yang begitu semringah, aku langsung melepas pakaian. Tanpa basa-basi kulemparkan kaus dan celana jins pendekku ke tempat yang aman. Tanpa aba-aba aku melompat ke dalam air dan byur. Air menciprat kemana-mana dan membasahi pakaian kami berdua. Monyet-monyet semakin berisik di atas sana, di pucuk pohon-pohon yang mungkin setinggi gedung 8 lantai. Saat kepalaku muncul di permukaan, temanku menghentakku sebelum akhirnya tertawa. “Brengsek,” umpatnya sambil tersenyum, menimbulkan semacam ironi.

Pagi itu adalah kemewahan yang tak mungkin kami dapatkan di hotel bintang berapa pun. Tidur beralas lantai kayu di sebuah pondok terbuka di tengah hutan, bangun dengan suara monyet-monyet menyambut pagi, dan berenang di air terjun dengan cuaca segar khas alam yang belum cemar. “Ini adalah surga,” temanku mulai bermetafora. Mungkin itu sebuah metafora yang klise, tapi aku tak bisa tidak setuju dengannya. “Aku percaya pada surga. Dan aku yakin surga seindah ini. Carpe diem!” teriakannya memecah pagi yang tentram itu. Kami berdua tertawa riang.

Dari kejauhan kami melihat teman kami yang satu akhirnya bangun. Dia berdiri dan menggeleng-geleng kepalanya. Dengan langkah malas ia keluar dari pondok dan menggeleng sekali lagi. Suaranya tak terdengar, tapi dari membaca mulutnya aku bisa tahu dia mengucapkan kata ‘gila’. Kami berdua hanya tersenyum dan tak berniat membalas. Dia lalu berjalan ke arah kami melewati sungai kecil di bawah dan mendaki ke air terjun. Mukanya khas orang yang baru bangun tidur. Tapi temanku itu juga tak suka berbasa-basi. Tanpa melepas pakaian dia terjun ke air terjun. Byur!

(11 Agustus 2014)

Advertisements

Dan Salju Jatuh

Dan salju jatuh di Stade.

Letters bergema di telingaku, seperti sepotong teriakan dari masa lalu. Dulu kita suka mengirim surat, menanti tukang pos datang dengan sepedanya, lalu ia melempar amplop ke teras rumah. Di sana, sebenarnya kita membaca bulan-bulan yang panjang, yang telah berlalu sejak kita mengirim surat ke alamat lain. Pada akhirnya, ia berbalas. Atau mungkin tidak.

Di Ebay, aku membaca Ingold. Cukup dengan etnografi, katanya dengan nada manifesto. Lalu ia membandingkan antropologi dengan korespondensi, kegiatan surat-menyurat. “Seperti yang dilakukan para penulis surat, mencorat-coret pikiran dan perasaan mereka, dan menanti jawaban”. Seperti itulah antropologi, sebenarnya kita hanya harus menunggu.

Lalu smartphone datang dengan tergesa-gesa. Kita juga jadi tergesa-gesa. Tak ada lagi moile moile, seperti di sudut-sudut Siberut. Orang bergegas. Kita menjadi ganas terhadap waktu. Menunggu adalah neraka. Ketidakpastian adalah bencana. Surat memberi kita kebijaksanaan tentang waktu, menunggu, jawaban, dan ketidakpastian. Smartphone tidak.

Di Paking, kita menerima surat dari Long Berang. Adalah romantik membaca surat di tahun 2012. Surat itu dikirim lewat seseorang, yang kebetulan akan melintasi Paking untuk menuju Malinau. Kami, anak-anak Paking, membacanya dengan pelan dan khidmat. Anak-anak Long Berang berbagi kabar: tentang agas, anak-anak Dayak, dan remeh-temeh yang lain.

Kemudian Ebay. Di tempat dimana sinyal dan wifi adalah kemewahan, surat terasa biasa saja. Hiber membaca surat satu lembar dari Bruno. Kertas lecek itu telah bergerak: dari Padang, menaiki Mentawai Fast, jatuh di tangan orang lain di Muara Siberut, lalu berlayar ke Ebay melewati ombak-ombak yang mengayun. Hiber menerimanya dengan senyum.

Dan salju jatuh di Stade. Kita bicara tentang surat. Aku mendengar lagu tentang surat. Surat, surat, surat. Lalu kantor pos. Dan aku mengingat Balkan. Di sana, pusat-pusat kota ditandai oleh kantor pos. Bukan gereja, bukan masjid, bukan alun-alun. Kantor pos. Kita tak perlu menyembah tuhan, tapi kita harus mengirim surat agar kemanusiaan terjaga selamanya.

Stade, 18 Januari 2018

Anak-anak Sungai

Hari ini saya terbangun dengan mengingat sesuatu. Saya terbawa kenangan beberapa bulan lalu saat mengikuti rangkaian kuliah kerja nyata di desa pedalaman di Kalimantan. Tiba-tiba saya ingat sepotong catatan harian yang saya tulis disana. Tentang anak-anak desa, tentang sungai, tentang masa kecil, tentang kebebasan, tentang kebahagiaan, tentang pengalaman.

__________

Hari ini tidak ada yang terlalu banyak dikerjakan. Kami dari pagi hingga sore hanya di rumah untuk fiksasi timeline dan membuat media untuk program-program. Pada pukul lima sore, kami beserta anak-anak lokal menuju sungai di dermaga. Kami melihat anak-anak Paking menikmati mandi di Sungai Mentarang. Dalam bentang alam yang begitu indah sore itu mereka bergembira merayakan masa kecilnya yang penuh kebebasan tanpa terlalu banyak aturan. Mereka tak peduli kebersihan air sungai, tak peduli apapun selain bersenang-senang. Bukankah itu indah?

Saya tiba-tiba ingat ungkapan penyair India terkenal, Tagore. Ia berkata bahwa “anak-anak adalah mereka yang mencintai debu.”

Namun bukan hanya mereka yang senang hari itu, saya juga. Saya bersenang-senang mengecap pengalaman untuk bersama mereka, untuk belajar hidup di negeri orang di tempat yang jauh dari rumah, memahami bahwa saya tinggal di negeri yang luas dengan begitu banyak budaya dan kehidupan yang berbeda-beda. Saya berusaha merayakan pengalaman langka ini seperti anak-anak Paking menikmati mandi sore di Sungai Mentarang. Selamat merayakan.

(Catatan harian kuliah kerja nyata, 26 Juni 2012)

Air yang Membasuh Itu

Saya baru selesai mandi di sore setelah siang yang gerah. Saya masih mengingat bilasan air pertama mandi sore ini. Saya mengangkat gayung berisi air dan menghentaknya menuju muka. Mata saya terpejam dibilas guyuran air yang menyegarkan itu. Tepat saat saya terpejam dan wajah dihajar air dari gayung, saya teringat momen yang sama saat berada di suatu desa di pedalaman Kalimantan.

Desa itu bernama Paking, tempat saya kuliah kerja nyata selama 23 hari. Saya tak tahu kenapa saat mata tertutup itu saya mengingat saat mandi disana. Di bilik yang kecil, tak ada bak, tak ada gayung (awalnya, sebelum seorang teman akhirnya membeli gayung), dengan air mengucur dari selang, kadang besar kadang sedikit-sedikit, saya menikmati mandi sebagai ritus yang indah.

Paking desa yang panas, terik, dan gerah. Ia pinggir sungai, bukan pantai, jadi tak ada angin. Jadi tiap waktu mandi sore merupakan kebahagiaan yang ditunggu, meski terkadang dilewatkan karena malas. Meski air dari selang ditampung di ember atau jirigen yang tak seberapa dan gayung seadanya, mandi disana sungguh nikmat. Mungkin berlebihan, tapi saya toh baru menyadarinya setelah mandi sore ini.

Saya lalu teringat pepatah Cina yang dituliskan Lin Yutang, tak seorang pun yang dapat memahami keindahan suatu perjalanan hingga dia pulang ke rumah dan merebahkan kepala di bantal kamarnya. Saya pun jadi ingat sering kangen rumah selama di desa itu, sering mengeluh, sering bosan. Hal-hal seperti itu memang tak dapat ditolak, mungkin karena itu pengalaman dalam perjalanan adalah sesal yang membikin senyum.