Lunch Concert

Siang tadi, ada jazz di telinga. Dua seniman itu mengisi sudut-sudut Impulse dengan suara dari jauh/dekat. Saya duduk termangu, sambil sesekali menyendok kering tempe dan kentang ke dalam mulut. “Enak ya kayanya jadi seniman,” pikir saya dalam hati. Mereka yang meneriakkan sesuatu dari dalam dirinya.

Jazz mengayun; dalam kuping, ruang, dan kepala. Saya mengingat Ingold dan ceritanya tentang seeing-hearing. Pada satu titik, ia bertanya: apa bedanya mendengar musik dengan menutup mata dan tanpa menutup mata? Tentu saja, ia ada di pihak yang kedua. Baginya melihat dan mendengar tak terpisah; melainkan satu kesatuan practical engagement oleh seluruh tubuh. Pemisahan-pemisahan itu tak ada bagi Ingold. MusikĀ  bukan cuma tentang suara. Ia adalah keseluruhan pengalaman indrawi dan badaniah.

Saat jazz mengetuk-ngetuk udara, seketika mesin kopi meraung. Di Impulse, espresso dan cappuccino lebih mahal dari gedung-gedung lain. Tapi jazz dengan kopi yang enak adalah nikmat. Maka orang-orang memesan latte atau macchiato, membuat mesin kopi itu menyentak, mengusik jazz yang melenakan.

Pada mulanya, saya pikir suara mesin kopi itu mengganggu. Pemikiran itu batal belasan menit kemudian. Mungkin ada yang puitik dari gabungan suara mesin kopi dan suara saksofon + gitar dari Nikolai&Nikos. Yang puitis sebenarnya adalah campuran sesuatu yang sehari-hari dan tak sehari-hari, mundane dan non-mundane things; everyday/ordinary dan yang tak biasa.

Di titik itu, pada tabrakan suara mesin dan jazz, kita mendapati kenyataan yang sederhana. Bahwa musik harusnya tak diisolasi oleh sunyi, oleh situasi tanpa-suara; melainkan berbagi ruang dengan bunyi-bunyi yang sehari-hari — mesin kopi, tangis bayi, deritan rel kereta, angin musim gugur, rintik hujan, pengumuman di stasiun, dan hal-hal subtil lain. Memenjarakan musik dalam ruang tertutup adalah sebaik-baiknya arogansi, sejahat-jahatnya (warisan) avant-garde. Bebaskan…

Advertisements

Musik

Ada ungkapan terkenal dari filsuf Jerman kenamaan, Friedrich Nietzsche. Dia bilang, “without music, life would be a mistake.” Benarkah? Benarkah hidup adalah sebuah kesalahan tanpa musik? Padahal musik mungkin hanya sepotong melodi yang patah-patah dan sebaris puisi yang didendangkan. Musik mungkin hanya segenggam hiburan kala keringat menetes lelah tanpa henti. Musik mungkin hanya rekaan orang yang tak tahu harus berbuat apa-apa, makanya mereka bikin musik.

Benarkah musik hanya itu? Mungkin iya, mungkin tidak. Dan kalau filsuf terkenal saja mementingkan arti musik dalam kehidupan, mungkin musik lebih dari sekedar yang selama ini kita bayangkan. Entah apa, saya tak tahu persis. Tapi secara sederhana saya mungkin ingin mengatakan bahwa kehidupan itu sendiri adalah musik. Musik yang mengalun, kadang keras kadang lembut. Musik yang beragam. Ada yang enak didengar sambil menari, ada yang hanya enak bila menjelang malam. Dan seperti itu pula hidup.

Hidup kadang keras, kadang terlalu lembek. Hidup pun beragam. Tergantung siapa yang menghidupinya. Sama seperti musik, tergantung siapa yang mendengar atau memainkannya. Meski pun kita manusia hidup dibawah naungan langit yang sama dan terpenjara dalam kilau sinar matahari yang sama, tapi hidup setiap kita berbeda bukan? Kita bukan makhluk yang itu-itu saja. Setiap orang unik, berbeda, dan spesial. Setiap hidup juga begitu. Cerita masing-masing orang berbeda dengan yang lain. Musik juga.

Setiap musik sangatlah berbeda. Ini bukan hanya tentang aliran musik, beda penyanyi, atau apapun. Intinya, setiap musik yang mengalun dalam suatu momen di suatu tempat adalah unik. Saya tak ingin bicara soal panjang lebar tentang ini, pikirkan sendiri, jika ingin. Karena musik sebenarnya mengajak kita untuk berpikir lebih dalam dari sekedar hiburan. Musik adalah keperluan, yang mutlak, bagi sebagian orang, kalau tak ingin dibilang semua orang. Musik adalah irama kehidupan yang tak hanya tertetes dari dentuman alat-alat musik modern. Musik pun dinikmati orang purba, kala modernisasi dan produk-produknya belum banjir.

Bagi orang jaman dulu yang hidup dalam kedamaian yang agung, musik mereka adalah kicau burung di pagi yang teramat sunyi. Atau mungkin suara langit yang bisa berupa hujan lebat, atau suara desir angin yang menerpa daun yang jatuh dan rontok. Atau musik mereka mungkin adalah suara tangisan anak dan cucu mereka, suara kecupan dari pasangan, suara kasih dari percakapan tulus yang apa adanya, tak ada niatan khusus. Musik adalah suara kehidupan itu sendiri. Hidup disadari atau tidak sedang menyanyikan musiknya sendiri, setiap kita yang mendengarnya berbeda.