USA & Jakarta

Tiba-tiba pikiran saya tiba di Modena, pada suatu sore musim panas yang cerah.

Saya hendak menuju Soliera untuk sebuah konser. Sambil menunggu teman datang menjemput, saya duduk-duduk di common room Ostello San Filippo Neri. Saat itu, televisi menyetel laga fase gugur Piala Dunia, Brazil vs Belgia. Saya duduk semeja dengan seorang ibu paruh baya. Saya berbasa-basi dengannya.

Pertanyaan basa-basi paling basa-basi di hostel-hostel adalah: where are you come from? (Belakangan saya menghindari pertanyaan semacam ini, yang rasanya mengabaikan berbagai pengalaman sosio-kultural kita yang kompleks dengan berbagai tempat. Seakan-akan dari mana berasal lebih penting dimana kau merasa berada di rumah.)

“I am from North America,” jawabnya. Dahi saya terkenyit. Amerika Utara?

Dia seperti membaca kernyit di dahi saya, lalu menimpali: “I’m from California”. Lega rasanya mendengar jawaban itu.

Lalu ia terus meracau tentang kenapa ia menjawab “North America”, bukan “USA” atau “US” seperti lazimnya pejalan-pejalan lain dari sana. Ia menyadari “USA” mengandung konotasi yang negatif di dunia. Seakan-akan menjadi “US citizen” adalah semacam dosa sejarah. Ia menyebut beberapa hal seperti perang, Hollywood, cultural imperialism, dan lain-lain. Ia menyadari posisinya sebagai seseorang yang berasal dari sebuah tempat yang (potensial) dipandang sebagai biang kerok oleh banyak orang lain di dunia.

Saya teringat waktu-waktu yang saya habiskan dalam perjalanan di banyak tempat di Indonesia. Ketika ditanya dari mana saya berasal, jawaban paling mudah tentu saja adalah “Jakarta”, karena orang-orang akan langsung mengetahuinya, walau sebenarnya saya tinggal di Depok. Depok, pikir saya, hanya akan mengundang pertanyaan lanjutan: “Dimana tuh Depok?” Dan, ujung-ujungnya saya akan menjawab “Jakarta”.

Jadi, seringkali, saya justru menyebut Bogor. “Saya dari Bogor, Jawa Barat,” ucap saya kepada banyak orang di daerah-daerah lain yang bukan di Jawa. Seakan-akan dengan jawaban itu saya melarikan diri dan menghindar dari konotasi negatif yang diemban Jakarta, dimana kekuasaan negara terpusat, dimana kebijakan-kebijakan didesain untuk mengatur (atau tidak mengatur) warga sipil, termasuk mereka yang ada di tempat-tempat yang amat jauh dari “pusat”.

Saya menegasikan relasi saya dengan Jakarta, seperti ibu paruh baya di Modena menegasikan relasinya dengan USA. Mungkin karena kami sama-sama menganggap dan menyadari bahwa daerah/negara asal kami bukan tempat yang syahdu dan lebih banyak mencetak petaka daripada harapan. Jakarta dan Amerika, dimana sinonim “pusat” sering diletakkan di atasnya, bukanlah kata yang kami suka.

Maka, ia menyebut “North America” dan saya menyebut “Bogor”. Begitulah.

(Cepu, 13 Juli 2019)

Advertisements