Field notes day-xx

I read some articles today, mostly Ingold. I thought: this man is genius. I was wondered how many of his writings fit with my fieldwork. The discussion of sound, for instance. He said that sound is not the object of perception. Instead the perceiver perceives his environment in it (the sound). Sound is the medium for engagement, alike the light.

If he is right, how can I write about the sound of waves in this island? Before I was confused how to observe, or to ask people about their engagement with the sound of the waves. If I apply Ingold’s idea, then I don’t need to do so. Because, in this island, people are always in the sound of waves. Me, too. Practically, we cannot avoid the sound of waves when being-in-the-world of Mappadegat/Ebay. Before I thought there must be some meaning in the sound of waves. But I realized such view is a very Cartesian one, that sound of waves is a tabula rasa that must be filled with meaning which derived from our human mind.

Besides, to repeat, sound is not an object of perception, or even meaning-making process. Reading this also made me think more about meaning/perception. I started this thesis with the aim to know the meaning of waves. Now, I know I have to shift my thinking, because I think meaning is the product of human mind prior the actual engagement with environment. I should shift to perception. And, perception is derived from environmental engagement. Meaning is the product of interpretation of perception. But, as Ingold says, “sometimes we fail to interpret what we perceive”.

Then, I also read his article on painting/drawing and ethnography/anthropology. The former is a very cool philosophical one. He tried to make sense of life through the act of drawing (pen or pencil) and painting (oil painting tradition). Painting is about the compositionality and totality. Drawing is against both. Ingold recounts that there are two views on life. One is alike to painting, the other is alike to drawing.

Life as painting is about thinking/having/making composition. There is a blank surface which has to be filled. There is a frame as boundary. There is a final end, a product, a totality. On the other hand, life as drawing is against composition and totality. Life is always-in-process. There is no ending, only becoming. There is no boundary. The blank surface in the act of drawing is not meant to be filled with composition, but with any kind of marks. When we draw, we don’t think of the end. We are immersed in the actual act of it. In painting, we always imagine the outcome.

Ingold thinks that life-as-drawing is liberating. Because we are free to make mistake, we never think of the end, and there is no ‘frame’ of our action. This is a sort of carpe diem attitude, that life is always here and now. Always becoming. So, what matters is what happens in the middle, not the (imagination of) end per se.

On ethnography/anthropology. This one liberated me as well. There is too much over-use of ‘ethnographicness’ in anthropology and social sciences (ethnographic encounter, ethnographic fieldwork, etc.) His view on ethnography resonates his ideas of engagement with environment. Basically, fieldworker should be engaging, attending, and being attentive with environment (human and nonhuman) in the fieldwork area. He also criticizes the quest for result/data.

Then, come his discussion on ‘education’, ‘correspondence’, and ‘knowledge co-production/co-generation’. For him, anthropological fieldwork (participant-observation) should be the act of education, which means to ‘lead the learner out into the world’ rather than instilling knowledge in to the mind. By doing so, we will do correspondence. It is not about simple questioning and answering activities. It is about (co-)responding. Like letter writers do, they correspond. They write their feeling and thought and wait for the respond. Fieldwork should be like that, like correspondence, not merely question-answer rhetoric. We respond to whatever we encounter in fieldwork, the others (human, nonhuman, environment, society) will respond back. It keeps going on like that until we leave the field.

In correspondence, waiting is very important matter. Ingold argues that ‘waiting’ is necessary. Fieldworker has to be prepared to wait. “Waiting upon things is precisely what it means to attend to them,” he writes. So, prepare and wait and attend. It’s just like surfing. Then, the notion of correspondence relates to knowledge co-production. The knowledge derived from fieldwork is basically co-constituted not only by the fieldworker, but by engagement with environment (human, nonhuman, societal) in the fieldwork site. Reading this made me realize that this is not my fieldwork, this is our fieldwork. By ‘our’, I mean not only people, activities, conversation, feeling, interaction I attend during the fieldwork, but also theoretical discussion with friends and teachers in academic or non-academic settings.

Post-scriptum: I went through my research field notes once again a week ago. It was a kind of poetic-nostalgic to read it. It’s like going back again to Mentawai. This particular day notes, I think, are worthy to be shared here. Written on December 17th, 2017, in the beautiful Ebay settlement – surrounded by the sound of the waves.

Advertisements

Lelaki Tua dan Ombak

Seorang lelaki tua memandang ombak. Tak ada senyum di wajahnya. Mukanya datar. Tak ada rokok di sela-sela jarinya. Tak ada baju menggantung di tubuhnya. Hanya celana pendek lecek yang kecoklatan. Matanya mengandung tahun-tahun panjang yang berlalu. Saat anda melihat ke kedalaman dua matanya, anda melihat lautan. Lelaki tua itu menanam ombak di dalam dirinya. Ia berkawan dengan ombak, tanpa harus berdiri di atasnya.

Adalah kelapa dan cengkeh. Juga jenis-jenis tanaman tropis lain yang mengisi hari-harinya. Sedari muda, si lelaki tua mengarungi laut, memutari ombak, dan mendarat di bibir pantai. Lalu ia bekerja sepanjang siang, demi batang-batang kelapa yang tinggi, demi biji-biji cengkeh yang akan dibawa ke kios-kios tengkulak di Muara.

Ia tak banyak bicara. Orang-orang dengan papan selancar selalu melintasi rumahnya. Dan mereka akan melihatnya di teras rumah kayunya yang mungil. Bertelanjang dada. Hanya duduk-duduk memandangi ombak yang memecah, menggulung ke tepian. Tahun-tahun telah berlalu sejak ia pertama kali pergi ke pulau, sebagai anak kecil yang dibawa ayahnya untuk belajar menanam kelapa dan cengkeh. Pulau ini miliknya. Orang-orang lain menumpang. Tapi ia bukan tuan tanah ala Jakarta. Ia hanya suka melihat ombak saat malam menjelang.

Suatu hari, saya ke ujung tanjung untuk menikmati matahari terbenam. Seorang peselancar berambut pirang duduk. Bintang di sebelahnya. Ia melihat lurus ke arah entah langit, entah ombak, entah apapun itu. Si lelaki tua duduk di dekatnya. Mereka tak bertukar kata. Keduanya khidmat menelan suara ombak. Karang-karang itu memecah gelombang, membentuk semacam parade laut-ombak-buih. Ia seperti tarian. Biru, putih, lazuardi, coklat, oranye: semuanya berpilin menjadi semacam lukisan yang senantiasa membentuk ulang dirinya sendiri.

Kita bertiga berbagi kesunyian. Hanya bunyi ombak. Pada titik itu, kata-kata tak diperlukan. Kalimat hanyalah kesia-siaan, akal-akalan untuk merangkum makna jadi simbol. Lelaki tua itu tahu betul tentang kebijaksanaan tanpa kata-kata. Ia tak banyak bicara. Matanya mencerminkan kesedihan laut, menekuk ke bawah, nyaris membentuk melankolia. Tapi ia tak bersedih. Ia hanya terduduk, memandang ombak menggulung. Tak lebih. Ia adalah ombak itu sendiri. Di tiup angin, membentur karang, dan menggulung sekenanya.

Hingga suatu nanti, semuanya berakhir. Dan lautan menjadi tenang.

(Mappadegat, 18 November 2017)

Teras #2

Sejak dulu, saya selalu suka teras. Tempat favorit saya di rumah adalah teras. Saya sedih ketika teras rumah diperkecil, pada suatu waktu. Saya suka baca buku atau ngelamun-ngelamun nggak jelas di teras. Atau liat hujan, tentu saja kalau ada hujan. Kalau tidak hujan, saya lihat-lihat tanaman aja. Kadang beberapa orang lewat di depan rumah, jadi obyek lamunan saya. Sering saya bayangkan gimana rasanya menjalani kehidupan orang lain.

Di Mentawai, passion terselubung saya terhadap teras menemukan wujudnya lagi. Secara filosofis, arsitektur rumah tradisional Mentawai menaruh titik berat yang penting pada teras. Di sana fungsi-fungsi sosio-kultural terbentuk dan terjalin, berpilin menjadi kerumitan-kerumitan yang kadang tak terselami. Laurens Bakkers menulis bahwa waktu senggang paling favorit bagi orang Mentawai adalah duduk-duduk di teras dan ngobrol.

Ngobrol adalah bagian penting bagi masyarakat yang punya tradisi lisan kuat. Seperti Mentawai. Cerita-cerita mengalir di teras. Dalam spasi itulah, kadang-kadang petuah, pepatah, sumpah serapah, dan konflik soal tanah tumpah ke pembahasan. “Kita ya biasa begini. Duduk-duduk di teras, ngopi sambil ngobrol. Kalau sendiri di teras nggak asik,” kata seseorang di Mappadegat. Disana ada nuansa komunalisme yang kuat. Mungkin juga egalitarianisme?

Intinya, teras itu penting buat orang Mentawai. Juga buat orang-orang lain juga, mungkin, seperti saya. Tinggal di Mentawai berminggu-minggu membuat saya berjanji ke diri sendiri: kalau nanti punya rumah sendiri, terasnya mesti gede kaya teras-teras rumah Mentawai. Spasi itu harus dibangun. Jarak itu harus dirancang. Supaya ruang-ruang sosial terbuka. Supaya cerita-cerita keluar. Supaya batas-batas yang tak diinginkan menguar. Lenyap ke luar.

Ngomong-ngomong, saya nulis ini juga di teras. Mungkin, selama tinggal disini, 90 persen aktivitas saya terjadi di teras. Sisanya di kamar, dapur, dan kamar mandi. Ruang privat adalah hal yang tak biasa di Siberut. Nyaris semuanya harus komunal. Harus bareng-bareng. Teras adalah manifestasi untuk itu. Mungkin juga faktor pendorong. Kok, tiba-tiba jadi ke-kuantitatif-an gini sih? Pakai persentase dan ‘faktor’ segala. Kangen kali ya. Caelah.

(Mappadegat, 9 Desember 2017)

Berkebun, Berladang, Membeli

Di homestay Yupi, aku memandang tanaman-tanaman di taman. Aku membayangkan prosesnya. Saat tanaman-tanaman itu ditanam, mungkin berbulan-bulan yang silam. Atau mungkin hitungan tahun. Aku mengingat halaman di depan rumahku. Aku mengingat seorang tukang kebun yang kerap datang ke rumah, untuk membantu ibu merangkai taman kecilnya. Aku mengingat Tante Lina di Stade, yang saat ini mungkin sedang mengurus kebunnya. “Berkebun itu seperti meditasi,” kata dia pada suatu waktu. Di Mappadegat, Hiber suatu sore bercerita soal hobinya mengurus taman. Ia suka menanam, melihat tanaman-tanaman itu tumbuh. Entah tahun depan atau kapan. Hingga taman itu menjadi penuh warna, menjadi indah seperti hari pertama musim semi. Menanam, mungkin saja, adalah sebuah perjudian. Atau mungkin ia sebentuk kesabaran. Menanam adalah proses yang tak sebentar. Ia perlu bulan-bulan yang panjang.

Begitu juga ladang. Kemarin aku pergi ke ladang bersama Yusuf dan Mamak. Aku memandang Lemanus menebang sagu yang sudah tinggi besar. Pohon raksasa itu jatuh begitu saja ke tanah, seperti seorang pejuang yang gugur. Ladang Mamak dipenuhi berbagai macam tanaman. Ada cengkeh, sagu, pisang, pinang, dan jenis-jenis lain yang tak ia ketahui dalam Bahasa Indonesia. Tanaman-tanaman itu telah menjadi bagian dirinya, bagian dari budayanya. Sehingga Bahasa tak sanggup membuatnya cerai dari tanaman-tanamannya. Mungkin saja ia menanam mereka bertahun-tahun yang lalu. Setiap sore ia pergi ke ladang, untuk melihat tanaman-tanaman itu tak berubah. Tapi, pada suatu hari, ia mendapati mereka sudah tumbuh besar. Berladang, seperti berkebun, adalah prosesi waktu yang tak bisa kita beli di internet. Orang Mentawai punya ungkapan favorit: Moili moili. Pelan-pelan, kata mereka. Kenapa harus buru-buru?

Dan aku mengingat kota. Serta orang-orang yang tak sabaran. Instan adalah mantra. Ia adalah jawaban segala persoalan urban. Di kota, proses menjadi semacam hantu. Semuanya ada di toko. Semua bisa disulap dalam hitungan detik. Semua serba tergesa-gesa. Mereka lupa bahwa selalu ada yang berdiri di tengah-tengah. Menuai, menabur. Menanam, memanen. Kita, anak-anak kota, telah mencabut diri dari tanah, dari laut, dari cuaca yang tak bisa diintervensi. Lalu, aku membayangkan diriku berdiri di depan rak-rak di Jumbo Tarthorst. Membeli pisang, paprika, dan sperziebonen. Mereka telah dipangkas dari tanahnya, mungkin di Afrika atau Amerika Selatan. Kemudian dikirim ke Eropa Barat sebagai komoditi, sebagai alasan untuk menjadi kaya. Dan kenyang. Dan kita tak peduli tentang itu semua. Tentang bulan-bulan yang berlalu sejak seorang peladang menanamnya di tanah. Sejak bibit-bibit itu terkurung di perut bumi.

(Mappadegat, 30 November 2017)