Malmo-Siberut

Tahun baru. Orang-orang pergi ke gereja di Minggu pagi, di hari terakhir 2017. Ibu-ibu dengan kebaya, anak-anak dengan kemeja yang keren, dan bapak-bapak yang tampil necis. Semua ingin bergaya di gereja. Terlebih di ujung tahun. Saya berjalan sepanjang Muntei-Muara dengan pemandangan itu semua: mereka yang berbondong-bondong pergi beribadah. Saya tak merasakan dorongan untuk masuk ke kebaktian. Gereja, sepertinya, tak lagi menarik buat saya.

Saya justru mengingat Malmo. Tahun lalu, di pagi terakhir 2016, saya bangun begitu dini di sebuah hostel di Kopenhagen. Saya hendak menuju Malmo. Tentu saja dengan Flixbus. Sekitar sejam, saya tiba di Malmo. Saat itu, saya merasa Kopenhagen terlalu megah, terlalu wah, terlebih di tahun baru. Orang-orang dari berbagai sudut pergi kesana untuk melepas tahun. Maka, saya mendamba yang lebih sepi, yang lebih ugahari. Malmo menjadi pilihan yang logis.

Benar saja. Malmo di akhir tahun 2016 tampak begitu sepi. Ketika saya turun bus dan berjalan menuju hostel, saya melewati pusat-pusat kota yang kesepian. Tak banyak aktivitas manusia. Toko-toko telah tutup. Saya mengingat seseorang bersepeda dengan gegas. Itu saja. Sisanya satu-dua manusia yang berjalan-jalan santai, atau sekadar mengajak jalan anjingnya. Saya mengingat Malmo dengan kesenduan yang indah, dengan kesedihan yang filosofis.

Di Malmo, perayaan tutup tahun dilakukan dengan epik. Opera dipentaskan di pusat kesenian. Tak ada pesta-pesta elektronik. Saya begitu terkesima dengan pilihan ini. Seriosa menggema di udara. Lalu bariton yang menghangatkan udara. Dingin mengisi malam. Kaleng-kaleng bir ditenggak, botol-botol wine dibuka. Orang-orang siap merayakan tahun baru. Perlahan angka dihitung mundur, lalu kembang api aneka warna muncrat di langit. 2017 membuka dirinya.

Hari ini, hari pertama di 2018, saya bangun dengan malas pada pukul 9 pagi. Hujan turun di Siberut. Orang-orang pergi ke gereja dengan malas. Saya duduk-duduk di teras, membaca Camus dan mengabaikan suara-suara dari kebaktian. Lalu saya melewati Muntei-Puro dengan motor, membelah ladang-ladang penduduk. Di teras-teras rumah, teh dan kue sapi dihidangkan. Lalu obrolan-obrolan sekenanya. Orang-orang tampak biasa saja di tahun baru.

Persis seperti Malmo. Di hari pertama 2017, setahun yang lalu, saya bersepeda melintasi jalan-jalan Malmo: menuju Rosengard, memesan McDonalds di dekat stasiun Triangle, dan mendaki ke kastil kecil di dekat danau. Udara begitu membekukan di musim dingin ala Swedia. Tapi matahari bersinar begitu terik. Jadi, orang-orang semringah untuk keluar rumah. Entah pergi ke pameran lukisan di Konsthall, atau bertamasya ke kincir angin di dekat centrum.

Saat ini, di ujung malam, Malmo dan Siberut berbaur di dalam kepala, membentuk rentetan peristiwa yang tak bersinggungan. Semuanya adalah kepingan. Tapi ada benang merah di antara keduanya. Kita boleh tak merayakan tahun baru, tapi kalender adalah kenyataan yang sukar dielak. Tahun depan, entah di sudut bumi yang mana, saya akan mengingat lagi saat saya tersesat di Malmo atau saat saya melintasi jalan Puro-Muntei yang baru setengah jadi.

(Muntei, 1 Januari 2018)

Advertisements

Solilokui Øresund

I.
Mungkin kita harus berhenti berkelana? Tourist gaze memasungku dan muntah aku menelan atraksi. Kopenhagen dan seisinya membuatku lelah. Aku dan ribuan pendatang lain bersliweran di pusat kota: mencari entah-apa, memandang entah-apa. Mungkin kita mencari makna pada patung Frederik V atau memutar memori masa kecil di depan replika HC Andersen. Atau mungkin tidak keduanya. Kita hanya berjalan mengikuti arus, melakukan apa yang diajarkan brosur panduan wisata kepada kita: “pandanglah mereka, potretlah, dan berbahagialah di negeri paling bahagia di dunia”.

II.
Liburan musim dingin berjalan seperti eksebisi. Kita melihat fotografi di smartphone dan terkesima. Di Malmö, aku masuk ke Konsthall dan menikmati Rita Ackermann. The Aesthetic of Disappearance membuatku ingin menangis. “These works are made by multiple erasures,” katanya di pengantar pameran. Di papan tulis, ia tak menggambar untuk menjadi seniman: ia menghapus, kadang dengan kasar. Mungkin saja kita perlu destruction, kita perlu erasure, kita perlu disappearance. Haruskah kita berhenti memotret dan belajar menjadi manusia saja saat Disneyland dimana-mana?

III.
Bersepeda aku ke Rosengård di terik matari musim dingin. “Jangan pergi kesana saat gelap,” pria Swedia menasihati dari balik meja. Lari aku menjauh dari pusat kota, dari titik-titik yang didandani untuk dilihat. Bayangan Ibrahimovic kecil melintas di kepala: berlarian di gang dan menyepak bola di lapangan. Setidaknya ia lebih real. Tak ada manipulasi, tak ada modifikasi. Kota jadi lebih apa adanya. Semua ini karena post-industrialisasi, bukan? Kita menutup pabrik dan mengusir warga miskin ke pinggiran, lalu mengubah layout kota dan mengundang turis berpose di depan Charles X Gustav.

IV.
Saat pagi belum tiba, kereta membawaku ke Vallensbæk. Artwork soal Jakarta mendapatiku di dalam stasiun. Video berulang tanpa henti: repetisi terjadi di sebuah rumah di Jakarta. Batas menjadi kabur di kota yang selalu tergesa. Batas menjadi kabur! Mungkin saja semua ini hanya pengulangan. Mungkin sebenarnya kita tak pernah benar-benar menikmati. Kita hanya terperangkap dalam paranoia, dalam fantasia, dalam ekstase tak berkesudahan. Mungkin kita punya terlalu banyak waktu luang dan menjadi clueless. Di luar stasiun, Volvo yang membawaku pulang ke selatan sudah menanti.