Macet dan Parade Konsumerisme

Saya tengah terjebak di sebuah macet pada sore yang mendung. Saya tak bisa berbuat apa-apa, tak bisa maju dan mundur. Hanya diam dan pasrah pada takdir yang menghimpit. Yang terjadi setelahnya adalah pembunuhan terhadap kebosanan. Yang terjadi kemudian adalah parade konsumerisme.

Saya memerhatikan kanan kiri jalan sekadar untuk mengusir jenuh. Saya melihat nama restoran abc dan desain kedai xyz. Mungkin ada ratusan restoran, kedai, toko, kios, atau jenis usaha apapun yang saya tengok. Tanpa sadar, yang dikerjakan otak saya adalah menghafal. Lalu kepala saya menggambar sebuah denah. Denah itu membuat saya tahu bahwa laundry def ada disini dan supermarket vwx ada disitu.

Ternyata ketika saya dibungkam oleh macet, tokoh-tokoh utama dalam adegan konsumerisme berparade, mengenalkan dirinya lewat desain yang eye-catchy dan merk yang ekstentrik. Tujuannya agar mudah diingat, agar membuat orang paham bahwa jika anda ingin ngopi-ngopi cantik, datang kesini!

Saya lantas menyadari itu sebagai salah satu cara kerja konsumerisme yang mungkin tak disadari dan disengaja, bahkan oleh sang pelaku utama. Bukankah konsumerisme selalu bekerja dengan misterius dan langsung menyasar psikis kita? Ia adalah gejala psiko-sosial yang ajaib. Dan tak terpermanai.

Miris rasanya mendapati diri saya dan kaum urban lain dihajar begitu deras dari berbagai sisi. Pertama, ditinju oleh macet yang lambat laun kita maklumi sebagai proses menjadi ‘modern’ dan ‘beradab’. Kedua, dipukul telak oleh brand-brand yang tanpa sadar kita hafal dan merayu hasrat membeli kita yang tak pernah terpuaskan.

Selamat datang di kemacetan. Mari membeli.

Advertisements

Macet

Macet adalah bentuk jalanan ibukota yang mengiris hati. Terbentuk dari kehidupan modern yang berkembang pesat, menuntut mobilisasi tingkat tinggi demi tujuan mencari pundi. Aktivitas mencari uang ini yang terjadi setiap hari tanpa henti dan dilakukan semua orang. Menuju ‘tempat uang’ itu orang harus berpergian, dan dalam berpergian itu kemacetan jadi hiasan.

Statistik mencatat, macet membuang-buang triliunan rupiah. Ironis. Padahal orang yang berdesak dalam kemacetan itu justru rela didesak dan mendesak karena ingin mendapat rupiah. Yang dicari sebenarnya adalah yang terbuang. Terbuang di tengah jalanan sesak yang pilu dan berdebu. Tempat orang-orang dari sudut-sudut daerah di Indonesia berharap mendapat penghidupan yang lebih layak. Terbuai cerita klasik tentang kemegahan ibukota, padahal kemegahan itu yang kebanyakan membunuh mereka pelan-pelan.

Macet juga jadi cerita tentang bagaimana individualisme terekam secara gamblang. Mobil-mobil yang hanya diisi satu orang itu salah satu buktinya. Orang lebih suka sendirian sekarang, entah karena tidak punya teman atau memang baginya hidup hanya milik sendiri. Tapi bukankah memang tak ada waktu untuk berteman? Rutinitas membunuh waktu-waktu itu. Macet juga tunjukkan bahwa orang tidak ingin orang lain ada. Misalnya saya sedang terjebak macet, tentu saya berharap orang yang disekeliling saya tidak ada, dengan begitu jalanan lancar.

Dan seperti itulah kehidupan ibukota. Dengan berbagai hiasan-hiasannya, yang indah, yang getir. Entah sampai kapan kondisi ini terjadi. Setidaknya semakin lama, macet tidak lagi dianggap sebagai masalah. Macet akan jadi hal lumrah. Kemudian karena dianggap tidak jadi masalah, solusi tak dipikirkan. Macet semakin parah. Jakarta tenggelam. Selesai.