Desember

Desember katanya damai. Meriah. Penuh merah dan hijau. Masa Natal tiba, masa penuh sukacita datang. Desember, sehabis hujan, adalah saat paling disuka. Mungkin itu bagi Efek Rumah Kaca. Mungkin juga bagi kita. Mungkin iya, mungkin tidak. Desember jelas punya makna yang berbeda. Berbeda dibanding sebelas bulan lain, dan berbeda-beda bagi tiap manusia. Bagi saya Desember berarti sibuk.

Sibuk, lebih sibuk dari bulan lainnya. Waktu yang mengemas beragam kepentingan genting jadi satu. Antara Natal dan akhir semester. Juga bayangan liburan. Semua ditumpuk dalam 31 hari dalam Desember. Natal sudah jelas berarti penuh acara-acara. Dari yang jelas sampai yang tidak, dari yang religius sampai yang hanya sekedar pesta. Akhir semester berarti ujian akhir, plus tugas-tugas akhir berupa lembaran-lembaran makalah yang justru jadi masalah

Bayangan liburan? Ini yang paling disuka dan menggairahkan dari Desember. Saat-saat menjelang liburan selalu menggemaskan. Satu sisi ingin segera pergi memanjakan diri keluar dari rutinitas. Di sisi lain, masih ada hal-hal yang harus selesai sebelum benar-benar merasakan liburan. Salah satunya ya urusan akademis. Beserta segala tetek bengeknya, kuliah yang terlanjur dijalani mesti dilakukan sebagai prioritas nomor satu.

Jadi sebelum membiarkan kaki disapu ombak, atau sebelum menginjak jalan-jalan kota asing, urusan kuliah harus beres dulu. Ujian selesai, tugas selesai. Barulah pergi, jauh, entah kemana. Selama liburan nantinya, pikiran juga kadang diganggu bayangan semester depan. Menyusun rencana, memilih mata kuliah, bimbingan, bla bla bla. Tapi sudahlah, hal-hal itu jangan jadi fokus pikiran selama masa liburan. Nikmati secara penuh.

Urusan akademis nanti akan datang juga. Dan akan kita selesaikan juga pada akhirnya. Seperti di Desember ini. Jadwal ujian dan makalah memenuhi isi otak. Pohon Natal sesekali memberi terang mendamaikan hati pikiran. Momen Natal selalu bisa mendamaikan, meski dalam situasi dipepet beban kuliah. Kidung Natal jadi selingan merdu sepanjang perjalanan menuju kelas ujian. Mendamaikan, menegangkan. Setelah Desember? Bebas!

Liburan

Liburan? Bukan sekedar buang uang dan waktu. Liburan adalah garis tebal yang membatasi rutinitas dan kehidupan tanpa rutinitas. Liburan bagi banyak orang adalah nafas baru. Nafas yang mengisi rutinitas. Jadi liburan adalah hal yang penting dan tentunya berpengaruh bagi kehidupan sehari-hari yang sibuk dan kadang tanpa jeda.

Dan bagi saya, liburan adalah petualangan. Petualangan untuk keluar dari hari-hari menyesatkan yang lebih sering menghiasi kehidupan. Kehidupan yang diatur oleh hal-hal diluar saya. Kehidupan yang mungkin sebenarnya tidak saya inginkan. Kehidupan yang memaksa untuk dihidupi, tanpa kesempatan untuk menolak. Petualangan itu kemudian melarikan saya jauh dari keramaian yang bising dan polutif, jauh dari kemunafikan modernitas yang semu dan jahat. Untuk kemudian memasuki kehidupan yang mungkin memang tidak sempurna, tapi menolong hati saya untuk tersenyum puas, meski hanya sebentar. Hanya sebatas liburan.

Bagaimana kemudian liburan dimaknai oleh setiap orang sangat variatif. Liburan kadang dipandang sebagai hantu yang mengacaukan rutinitas. Ada juga yang menganggap liburan sebagai hal yang tak ada gunanya, hanya merusak ritme karir yang telah tersusun. Liburan pun menjadi momok menakutkan bagi kehidupan materialtis yang sekarang menguasai setiap elemen hidup. Dengan liburan, arus uang menuju dompet menjadi berhenti. Bahkan arus keluar yang akan terjadi, kadang tanpa kendali.

Jadi kemudian liburan sering disikapi secara berlebihan, teratur, kaku. Padahal liburan adalah bentukan yang harus menyenangkan. Luwes tanpa beban, tanpa banyak dipikir, tanpa banyak kreasi. Liburan harusnya ibarat arus liar yang akan menabrak dan mengombang-ambingkan kita ke dunia tenang tanpa kesibukan, tanpa pembohongan terhadap diri sendiri. Liburan juga yang nanti akan kembali melemparkan kita ke pantai rutinitas yang sesak, namun dengan beban yang nol. Karena beban telah tertinggal di lautan liburan kala kita terombang-ambing.

Untuk itulah sebenarnya liburan saya anggap penting. Melepas beban dan membuang keringat lelah. Bisa juga sebagai pembasuh dendam akan kegagalan dan trauma pada kehidupan rutin yang kita alami. Bisa juga sebagai penyegar ikatan pertemanan agar tidak membosankan dan selalu berkesan baru, hingga pertemanan menjadi lebih awet, menjadi abadi. Meski pertemanan memang tak butuh liburan, tapi ia butuh rehat. Rehat untuk tidak saling menatap selama beberapa waktu, untuk tidak saling berkisah. Hingga ketika rehat itu berakhir, emosi dapat tertumpah deras namun rapi memesona.

Jelas kemudian bahwa liburan mutlak sebagai kebutuhan umat modern yang menghidup dunia yang pura-pura senang ini. Padahal di setiap jejak rutinitas yang terekam di situlah air mata kita tertetes, sedih dan tanpa wujud. Kadang tersapu angin bernama tuntutan dan kewajiban. Angin yang jahat yang kemudian akan mengatur kita seperti boneka mainan yang dungu dan tanpa kontrol terhadap diri sendiri. Dan ketika liburan datang, kedunguan kita berakhir. Kita punya waktu berpikir apakah akan menjadi dungu lagi ketika liburan usai, atau memutuskan untuk pergi menyingkir dari kedunguan kita. Kebanyakan kita tetap dungu.