Nyali

“I wanted you to see what real courage is, instead of getting the idea that courage is a man with a gun in his hand. It’s when you know you’re licked before you begin, but you begin anyway and see it through no matter what. You rarely win, but sometimes you do.” 

Kutipan di atas terdapat pada akhir bagian pertama To Kill A Mockingbird. Membacanya membuat saya merasa terberkati. Sangat indah. Dan lebih indah lagi karena kemarin, meski hanya dalam kepala, saya membuat puisi pendek, bunyinya: mungkin akhirnya kita akan menyerah dan kalah / tapi melawan / sekecil apapun / akan jadi kebanggaan tersendiri. Segalanya terasa pas buat saya. Apakah ini hanya kebetulan semata? Saya ragu.

Tulisan Harper Lee yang terkutip di atas, juga sajak dalam kepala saya, rasanya mengandung beberapa konteks. Meski begitu, saya tak tahu persis kenapa tiba-tiba puisi itu muncul. Ia lahir begitu saja — seperti lazimnya sebuah puisi. Awalnya saya pikir konteksnya adalah soal sepak bola Indonesia hari ini, dimana perlawanan sedang berlangsung menghadapi rezim yang selama 20 tahun lebih berkuasa.

Kemudian, saya ragu. Rasanya ada yang lebih dalam dari itu. Melawan bisa berarti dan berwujud apa saja. Tidak harus yang konkrit seperti tuntutan reformasi sepak bola Indonesia, tapi juga yang lebih filosofis dan abstrak. Rasanya, beberapa dari kita memang dilahirkan untuk melawan. Dan sekali lagi, melawan disini mungkin bersifat abstrak, yang saking abstraknya saya tak kuasa memberi contoh. Tapi ia ada, seperti udara.

Saat tulisan Lee terbaca, saya tak hanya teringat puisi kemarin. Tapi juga kejadian beberapa saat lalu. Ketika itu, saya sedang interview di salah satu media massa besar di Indonesia. Wawancara itu tak saya niati betul dan hasilnya tak penting. Hanya saja saya teringat satu pertanyaan sang interviewer kepada saya: apa keputusan terbesar dalam hidup yang pernah anda ambil seorang diri?

Saya berpikir agak lama dan menjawab bahwa keputusan terbesar adalah ketika saya memutuskan berencana melanjutkan sekolah di luar negeri. Kenapa? Pertama, karena sebelumnya saya cukup anti dengan sekolah, apalagi soal wacana kuliah lagi. Kedua, karena saya sarjana yang biasa-biasa saja: IP standar, tak pernah ikut lomba atau konferensi macam-macam, nyaris tak pernah terlibat organisasi apa-apa.

Di kemudian hari, saya merasa jawaban itu terlalu melankolis dan harusnya tak saya utarakan di sebuah wawancara kerja. Namun, nyatanya, jawaban itu memang salah satu keputusan terbesar dalam hidup saya. Terbesar justru karena saya tahu rencana itu mungkin akan gagal. Jika saya yakin bakal berhasil, hal itu akan terasa biasa saja. Tapi karena paham besarnya kemungkinan saya untuk kalah, keputusan itu amat berarti.

I know I’ll probably lose, but I do anyway.

Hal yang kurang lebih sama terjadi saat saya memutuskan membuat petisi #BekukanPSSI bersama seorang teman. Kami tahu persis merusak hegemoni PSSI amat susah, apalagi untuk kami yang cuma debu. Tapi kami jalan terus meski sadar kansnya sangat kecil. Dengan bumbu-bumbu sok revolusioner, kami menolak bungkam terus-menerus dan memilih ambil peran, meski sedikit, untuk mendorong perubahan.

Secara pribadi, rencana melanjutkan kuliah dan petisi tersebut telah menyelematkan hidup saya. Saya tak tahu persis apa dan bagaimana caranya, tapi itulah yang saya rasakan. Rasanya seperti hidup ini lebih layak untuk dijalani.

Advertisements

Wageningen/Breda

Antara Wageningen dan Breda
Langit patah jadi dua
Serafim kerubim jatuh
Tuhan melongok ke bawah
Udara putih berwangi bulu sayap yang rontok
Suasana hangat bak uap teh sore hari
Ada damai disana

Antara Wageningen dan Breda
Aspal retak dan arah jadi linglung
Kanan atau kiri ialah hak
Adalah tugas untuk memilih
Sobekan-sobekan kertas tumpah dari awan
Padat kata-kata asing dan
Alamat yang susah diucap

Antara Wageningen dan Breda
Kelana urung usai
Kotak-kotak masih harus terisi
Pun paraf, materai, dan omong kosong
Konon, pada tiap lomba lari
Etape terakhirlah yang tersulit
Jiwa dan tenaga terkuras habis

Antara Wageningen dan Breda
Di persimpangan jalan
Dengan jempol teracung
Mencari tumpangan

Depok, Desember kedua 2014

Posmo

Setelah kuliah, kita mungkin lelah, lapar, dan malas. Atau mungkin kita akan lebih banyak berpikir. Mungkin juga bagus tidaknya suatu kuliah dapat ditakar dari sejauh mana pikiranmu tersangkut dalam pemikiran-pemikiran yang tumpah dalam kuliah tersebut. Saya baru saja dituangi ceramah tentang postmodern, dan saya rindu berpikir. Berpikir asal-asalan, berpikir posmo.

Tanpa menjadi teorisi saya bebas cerita soal posmo. Posmo yang ajarkan kita kebebasan dalam berpikir, berteori, berkarya, mungkin juga dalam bercinta. Suatu angin pikiran yang berhembus lembut membelai setiap insan yang rindu akan kemerdekaan yang lama hilang. Suatu kebebasan yang hilang akibat terkekang jeruji-jeruji besi yang berkuasa. Sebuah bentuk tirani diam-diam yang sebenarnya mematikan. Untung ada posmo.

Posmo, suatu kesejukan layaknya myiur di tepian pantai. Pemikiran yang menyatakan jaman berubah. Yang modern harus segera diganti. Postmodern lalu muncul. Ia bebas. Tak seperti modern, ia cenderung tak banyak aturan. Semua sama, tak ada yang benar dan salah. Baginya budaya dan masyarakat adalah arena pertenjukan yang merdeka, tanpa tali kekang secuilpun. Narapidana bersukacita.

Merasa telah keluar penjara, ekspresi tumpah ruah dimana-mana. Semua kreasi dari padang pikiran tumpah luber tanpa pikir. Orang berpikir sesuka otaknya, melukis terserah tangannya, menyanyi sesuka mulutnya, bergaya sebebas-bebasnya. Posmo hadirkan warna-warni yang selama modern hanya semu. Dunia lebih meriah, manusia tampak lebih gagah.

Posmo punya mimpi. Keragaman dan perbedaan jadi biasa. Toleransi tumbuh tinggi menjulang. Manusia menghargai setiap perbedaan yang ada, termasuk menghargai orang yang tak mau menghargai perbedaan. Pertanyaannya lalu, bisakah cita-cita postmodern eksis di negeri ini, dimana keberagaman jadi ciri, tapi perbedaan justru bikin ngeri?

Mahasiswa

Kita  adalah mahasiswa. Kita adalah korban perang. Mahasiswa adalah korban perang. Ya, kitalah korban perang pemikiran. Korban perang pemikir-pemikir yang satu sama lain saling berdebat, berargumentasi, mengkritik satu sama lain. Entah untuk alasan apa, merekalah yang kita hidupi di ruang kuliah. Membaca suatu literatur ilmiah ibarat membaca kisah perang besar.

Mereka mungkin mencari kebenaran lewat ilmu pengetahuan. Tapi ternyata perselisihan mereka justru menguak ide bahwa kebenaran ternyata urung didapat lewat pengetahuan. Nyatanya dari generasi ke generasi para pemikir tetap memperdebatkan berbagai hal, membuat kebenaran jadi semakin tak jelas. Ilmu yang semula ingin dijadikan alat mencari kebenaran justru melarikan kebenaran itu jauh, entah kemana.

Dan sekarang  ilmu bukan sebagai ajang pencarian kebenaran. Ia telah gagal. Namun karena terlanjur membanggakan dirinya sebagai alat menemukan kebenaran, ilmu tak mau malu. Kebenaran tetap gagal dicari, sebagai gantinya ilmu dimodifikasi. Ilmu kini jadi alat pencari pembenaran. Pembenaran bukanlah kebenaran. Pembenaran hanyalah ketidakbenaran yang dianggap benar. Dan itu jugalah yang kita hidupi di sudut-sudut universitas.

Kita sibuk dibuai cerita-cerita hebat dengan konsep-konsep keren yang didengar dari dosen dan diskusi kosong. Juga yang terbaca dari literatur berbahasa asing yang terbang jauh dari negeri asalnya. Terhipnotis, kita mungkin nantinya juga akan menjelma menjadi pemikir-pemikir. Suatu waktu kita mungkin juga ikut berperang. Berpikir, mendebat, mengkritik, berargumen. Dari korban kita akan jadi tentara perang. Menciptakan korban perang yang baru.

Ah sudahlah saya tak tau sedang meracau apa. Ini mungkin suatu bentuk kecewa karena dipenjara dalam universitas. Suatu penjara yang mewah, penuh doktrin megah. Atau saya telah lelah bangun pagi tiap hari hanya untuk dibohongi. Mendengar celoteh tentang dusta yang dihias indah. Cukup sudah, siapapun tolong hentikan perang ini!

Desember

Desember katanya damai. Meriah. Penuh merah dan hijau. Masa Natal tiba, masa penuh sukacita datang. Desember, sehabis hujan, adalah saat paling disuka. Mungkin itu bagi Efek Rumah Kaca. Mungkin juga bagi kita. Mungkin iya, mungkin tidak. Desember jelas punya makna yang berbeda. Berbeda dibanding sebelas bulan lain, dan berbeda-beda bagi tiap manusia. Bagi saya Desember berarti sibuk.

Sibuk, lebih sibuk dari bulan lainnya. Waktu yang mengemas beragam kepentingan genting jadi satu. Antara Natal dan akhir semester. Juga bayangan liburan. Semua ditumpuk dalam 31 hari dalam Desember. Natal sudah jelas berarti penuh acara-acara. Dari yang jelas sampai yang tidak, dari yang religius sampai yang hanya sekedar pesta. Akhir semester berarti ujian akhir, plus tugas-tugas akhir berupa lembaran-lembaran makalah yang justru jadi masalah

Bayangan liburan? Ini yang paling disuka dan menggairahkan dari Desember. Saat-saat menjelang liburan selalu menggemaskan. Satu sisi ingin segera pergi memanjakan diri keluar dari rutinitas. Di sisi lain, masih ada hal-hal yang harus selesai sebelum benar-benar merasakan liburan. Salah satunya ya urusan akademis. Beserta segala tetek bengeknya, kuliah yang terlanjur dijalani mesti dilakukan sebagai prioritas nomor satu.

Jadi sebelum membiarkan kaki disapu ombak, atau sebelum menginjak jalan-jalan kota asing, urusan kuliah harus beres dulu. Ujian selesai, tugas selesai. Barulah pergi, jauh, entah kemana. Selama liburan nantinya, pikiran juga kadang diganggu bayangan semester depan. Menyusun rencana, memilih mata kuliah, bimbingan, bla bla bla. Tapi sudahlah, hal-hal itu jangan jadi fokus pikiran selama masa liburan. Nikmati secara penuh.

Urusan akademis nanti akan datang juga. Dan akan kita selesaikan juga pada akhirnya. Seperti di Desember ini. Jadwal ujian dan makalah memenuhi isi otak. Pohon Natal sesekali memberi terang mendamaikan hati pikiran. Momen Natal selalu bisa mendamaikan, meski dalam situasi dipepet beban kuliah. Kidung Natal jadi selingan merdu sepanjang perjalanan menuju kelas ujian. Mendamaikan, menegangkan. Setelah Desember? Bebas!

Takor

Taman Korea, kantin kebanggaan FISIP UI. Takor adalah simbol yang bisa menceritakan kehidupan kampus, meski tidak menyeluruh. Sebagian tapi dirasa cukup mewakili. Takor mewakili semangat muda yang terbakar, perubahan era sekolah menuju kuliah, dan  bagian dari proses panjang menjadi manusia. Di dalamnya tak hanya terdampar kehidupan akademis khas mahasiswa tapi juga kebebasan tanpa batas yang sering diagungkan generasi muda.

Dalam Takor pula realitas sosial terjadi dengan gamblang, terkadang polos tanpa busana. Interaksi yang saling berpengaruh antara si penjual dan si pembeli, perbedaan sosial yang tampak jelas antarmahasiswa, kisah asmara penuh gelora antara muda-mudi, relasi senior junior yang klasik, perdebatan dan diskusi tentang apapun, bahkan kemiskinan yang tampil sederhana dalam wajah tanpa dosa anak-anak. Masih banyak lagi sebenarnya. Sajian realita disini mungkin tak sejelas di jalanan, tapi tetap mewakili perubahan jaman yang menyedihkan ini. Jaman yang adalah hasil sebuah proses panjang, jaman yang mengandalkan kecepatan dalam segala hal, jaman bernama globalisasi. Sudahlah tak usah dilanjutkan.

Dalam Takor pikiran-pikiran, dari yang sederhana hingga yang berat, bergelayut. Kadang diselesaikan, kadang dibiarkan tetap jadi pikiran yang penuh tanya. Pikiran yang tiba-tiba muncul ditengah kebisingan yang rancu dan penuh gincu. Dan Takor memang penuh gincu, gincu yang siap dihapus dan dikuak.  Takor lebih dari sekedar simbol sebuah kampus fakultas sosial. Takor merupakan ruang untuk belajar yang sebenarnya bagi anak-anak sosial. Tak hanya belajar memang. Bercanda atau kadang tertawa terbahak-bahak menertawai kehidupan penuh air mata yang bias di bawah cahaya siang di bawah atap Takor.