Macet dan Parade Konsumerisme

Saya tengah terjebak di sebuah macet pada sore yang mendung. Saya tak bisa berbuat apa-apa, tak bisa maju dan mundur. Hanya diam dan pasrah pada takdir yang menghimpit. Yang terjadi setelahnya adalah pembunuhan terhadap kebosanan. Yang terjadi kemudian adalah parade konsumerisme.

Saya memerhatikan kanan kiri jalan sekadar untuk mengusir jenuh. Saya melihat nama restoran abc dan desain kedai xyz. Mungkin ada ratusan restoran, kedai, toko, kios, atau jenis usaha apapun yang saya tengok. Tanpa sadar, yang dikerjakan otak saya adalah menghafal. Lalu kepala saya menggambar sebuah denah. Denah itu membuat saya tahu bahwa laundry def ada disini dan supermarket vwx ada disitu.

Ternyata ketika saya dibungkam oleh macet, tokoh-tokoh utama dalam adegan konsumerisme berparade, mengenalkan dirinya lewat desain yang eye-catchy dan merk yang ekstentrik. Tujuannya agar mudah diingat, agar membuat orang paham bahwa jika anda ingin ngopi-ngopi cantik, datang kesini!

Saya lantas menyadari itu sebagai salah satu cara kerja konsumerisme yang mungkin tak disadari dan disengaja, bahkan oleh sang pelaku utama. Bukankah konsumerisme selalu bekerja dengan misterius dan langsung menyasar psikis kita? Ia adalah gejala psiko-sosial yang ajaib. Dan tak terpermanai.

Miris rasanya mendapati diri saya dan kaum urban lain dihajar begitu deras dari berbagai sisi. Pertama, ditinju oleh macet yang lambat laun kita maklumi sebagai proses menjadi ‘modern’ dan ‘beradab’. Kedua, dipukul telak oleh brand-brand yang tanpa sadar kita hafal dan merayu hasrat membeli kita yang tak pernah terpuaskan.

Selamat datang di kemacetan. Mari membeli.

Big City Blues

Well, some people unquestionably weren’t born to be the big city guy. There’s always something intolerable about living in busy urban sphere. I always imagine being in busway and seeing those foreign faces with desperation, vanity, and fatigue. All those expressions turned into some brief yet firm advice: do not live in false routine of this city, brother.

The idea of breathing clear air of less busy and smaller town is constantly fascinating me. What I yearn is simplicity, a life without bullshit and lies and banality. To think so, I must be accused of being victim of romanticism. True or not, I don’t care. What if they are just stupid cowards and helpless slaves of prison-like life of big city. Again, I’ll be accused as romanticist.

However, escaping this fate is not as easy as it seems. Going and living somewhere more peaceful and tranquil are, in fact, not a simple task. I don’t know where it’s been wrong. Yet, I think jail runaway is obviously tricky and dramatic. I remember that famous Shawshank Redemption movie and I guess the path of mine is maybe similar. Who knows.

I don’t know where and when my wish fulfilled, yet. For such desire is now number one driving force of my life, this is just the matter of time and place. Whether suburban of Netherlands or Yogyakarta, whether next year or 2016, it is going to happen. Now, the only things left to do are killing time as brutal as I can and spitting on this pathetic urbanity.

Desa

Tinggal di desa mungkin akan mengkhawatirkan bagi kita yang terlalu sering dimanja kota. Tapi desa punya beragam alasan yang akan sanggup melarikan jiwa yang lelah karena bosan dibohongi kota, menuju ke dalam ketentraman yang menenangkan. Desa mungkin tak punya mal, tapi ia punya apa yang mal tak punya. Ia punya kesunyian yang absolut.

Di dalam dekapan hangat desa, kita bisa merasakan kita yang seutuhnya. Tak separuh, tak seperti kita di kota. Desa adalah ruang yang tentram untuk bisa menyelami kedalaman jiwa sendiri yang seringkali sungguh tak bisa diselami di ruwetnya urbanitas. Meski desa punya potret yang seringkali dikonstruksi sebagai “yang tertinggal”, sesungguhnya ia selangkah lebih maju dari perkotaan yang bising itu.

Desa justru merupakan sebuah kemajuan jaman dan pikiran. Kota lahir dari desa. Tanpanya, kota tak pernah ada. Desa mungkin lebih sering ditinggalkan oleh kita yang terlanjur percaya dengan mimpi-mimpi perkotaan yang manis, indah, dan memperdaya. Kita sadar di desa, kehidupan kita hanya datar, mungkin tak berarti. Tapi dengan hidup di tengah jantung kota yang sibuk kita lalu sadar kita telah keliru. Namun tetap tak bisa memutar waktu.

Semakin tua, semakin dewasa, kita akan lebih bijak. Hidup di kota adalah sebuah ekspresi yang idealistik, sporadik, dan naif khas anak muda. Setelah lelah, dan merasa ingin menyerah, kebijakan barulah lahir. Kita yang sudah tua lalu tersadar kota bukanlah ruang yang tepat. Kita lalu putuskan untuk kabur dari hingar bingar urban dan mengucilkan diri dalam keheningan desa.

Di dalam kedamaian desa sesungguhnya kita  baru memulai hidup. Saya lupa baca dimana, manusia tak hanya hidup tapi juga hidup kembali. Di desalah mungkin kita sempat untuk hidup kembali. Bahkan lebih beruntung jika kita juga mati dalam kesunyian desa. Kalau begitu, sungguh kasihan orang-orang yang hidup dan mati dalam kehidupan kota tanpa sempat hidup kembali.

Lampu Merah

Lampu merah itu tempat merenung yang paling baik ditengah kebisingan dan keburu-buruan. Ia yang berikan istirahat bagi pengelana jalanan yang kucel dan lusuh, ia yang berikan waktu bagi tiap pengendara untuk sadarkan diri bahwa sedang dalam suatu perjalanan. Karena kadang, di atas motor atau di dalam mobil, orang tak sadar sedang melakukan perjalanan. Fokus mereka hanya pada tujuan, bukan proses menuju tujuan.

Di lampu merah terkadang kita baru sadar sedang di tengah jalanan, kita baru sadar sudah berjalan sejauh mana. Mungkin ini agak abstrak dan sulit dimengerti, tapi mungkin pengalaman bisa menerangkannya. Lampu merah yang memaksa orang berhenti adalah sebuah anugrah, atau kadang juga hambatan. Dan begitulah seperti hal-hal lain di dunia, selalu ada sisi yang baik dan buruk dari sesuatu. Tergantung masing-masing menyikapinya.

Lampu merah adalah anugrah karena olehnya pengendara bisa beristirahat, meregangkan tubuh dan kaki sejenak. Meski itu mungkin tak berlaku di Jakarta. Tempat dimana setiap 1 meter jalan bisa jadi semacam lampu merah. Tapi sudahlah, saya sudah terlalu sering mengutuki Jakarta, saya bosan. Kembali ke lampu merah. Lampu merah punya makna untuk menyuruh orang berhenti. Dan mereka memang berhenti, kebanyakan, dan sebagian coba jadi jagoan, menerobos aturan, mengundang malapetaka dunia dan akhirat.

Di lampu merah seharusnya kita tak berhenti untuk satu hal: berpikir. Belajarlah selagi di lampu merah, merenungi apa saja yang terlintas di pikiranmu yang sunyi meski lalu lintas bising meraung disekitarmu. Kita punya waktu beberapa detik untuk merenungi sesuatu, apa saja, banyak hal. Dan saya jadi ingat sebuah tulisan Goenawan Mohamad dalam Catatan Pinggir di tahun 1980-an.

Dia tulis tentang klakson. Suatu fenomena lain di lampu merah. Klakson ia ibaratkan sebagai kuasa. Jalanan adalah analogi untuk kesempatan. Jalanan itu sempit, terbatas, dan begitu pula kesempatan. Terbatas dan sempit. Makanya, tulisnya lalu, orang pakai klakson, pakai kuasanya, untuk merebut tiap kesempatan dalam kesempitan. Lalu jalan jadi bising termakan auman klakson-klakson pemburu kesempatan. Kesempatan yang saya yakin banyak berbentuk materil.

Dan memang yang terjadi seperti itu. Di lampu merah, klakson adalah sebuah kewajiban yang muram. Padahal bisa saja kita tak bunyikan klakson, kita tak berisik. Tapi kenapa kau berceloteh wahai mobil tua berklakson fals? Sejak membaca tulisan itu saya belajar untuk menahan tangan menekan tuts klakson. Tiap di lampu merah saya teringat tulisan itu. Saya teringat janji saya. Saya teringat bahwa kita tak perlu buru-buru. Santai saja kawan.

Baliho

Keluar dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, mata memandang Jakarta lagi. Setelah beberapa hari dimanja warna warni kota yang lain. Yang mungkin tak semewah Jakarta, mungkin tak sehebat Jakarta, tapi ada nyaman yang tak bisa dijumpai di Jakarta. Entah apakah nyaman itu. Mungkin udara, mungkin budaya, mungkin manusia, atau entahlah. Tapi mungkin sebuah baliho punya cerita.

Mulai memasuki wilayah ibukota, bis Damri melintas melewati sebuah baliho di pinggir jalan yang berteriak, atau mungkin sekedar berbisik: “welcome to Jakarta!” Dan memang benar, Jakata dimulai dari situ. Gedung-gedung mencakar langit, bising mulai meraung, polusi datang bagai hujan badai. Jakarta memang bukan tempat yang ramah bagi jiwa-jiwa kuno yang rindu wangi alam nan kental. Tapi Jakarta bagai godaan yang tak sanggup ditolak, terkadang.

Baliho itu, pun beserta baliho-baliho lain yang memenuhi ibukota jadi aktor lain yang tak kalah penting. Merekalah yang menebangi pepohonan hijau mententramkan, dan dengan gagah berdiri menjajakan diri di pinggir jalanan. Mereka menawarkan apapun bagi mereka yang lapar akan konsumsi, juga bagi mereka yang sudah kenyang namun tak urung usai. Baliho jadi simbol penjajahan terhadap orang-orang kota nan intelek itu. Siapa penjajahnya? Siapa lagi.

Baliho mungkin memang bagian integral dari arsitektur sebuah kota yang sedang bergerak maju. Hiasan di pinggir jalan yang punya warna warni elok, penuh seni kreasi jaman modern, dan lambang bahwa kini kreativitas bisa pamer besar-besaran di tengah debu dan berisik. Baliho jadi penting, karena tanpanya jalanan jadi sekedar jalanan, tempat mobil melaju dan berdesakkan dengan mobil lainnya.

Baliho pun kadang bisa berfungsi dalam gayanya yang lain. Ia adalah hiburan bagi keringat-keringat yang lelah didera macet tak berkesudahan. Baliho bisa jadi semacam relaksasi sekilas bagi petualang ruas jalan kota yang sibuk. Dan oleh karenanya dia harus diapresiasi, sekali-kali. Walau ia lupa, ia mungkin juga punya pengaruh pada penghuni jalanan lainnya. Yaitu mereka yang hidup dalam keras jalanan, tanpa rumah, tanpa apa-apa, mereka cuma punya baliho untuk dipandang.

Hanya dipandang. Mereka tak sadar baliho yang mereka pandangi kagum-kagum itu adalah pembunuh mereka. Papan besar itu bisa jadi yang menjebloskan mereka dalam penderitaan di jalanan, hidup bersama debu dan ribut klakson. Mereka teraniaya oleh apa yang ditawakan baliho itu, meski sadar tawaran itu bukan untuk mereka. Namun untuk orang lain yang tak hidup di jalan, yang punya akses, dan yang lupa saudara mereka dari jalanan itu kurang beruntung dan hanya bisa memimpikan pesan-pesan manis dalam baliho.

Itulah kota. Tempat dimana saudara itu tidak ada, yang ada hanya musuh. Colosseum bagi gladiator-gladiator masa kini yang bertarung hanya bagi kepentingan sendiri, dan tak ingin tau-menau nasib manusia lain. Ini kota, terlebih Jakarta, yang jadi pertaruhan hidup orang-orang satu negeri ini. Baliho-baliho pun sebenarnya tak ambil pusing, ia hanya berdiri disitu dan pamer, sambil sesekali melirik ketidakadilan yang terlukis dibawah kakinya yang gagah namun kotor.