Buffon

Ada kenyataan-kenyataan sederhana yang tak bisa kita lawan, entah oleh bom atau revolusi. Seperti perpisahan. Gianluigi Buffon telah menyelesaikan bait terakhirnya di Juventus. Tiang-tiang gawang di Corso Gaetano Scirea jadi saksi bisu tahun-tahun yang panjang sejak ia meletakkan kaki – dan tangannya – di Turin. Setelah tujuh belas tahun, Buffon telah menjadi legenda, totem, ikon, simbol; menjadi bagian yang tak terpisahkan dari sejarah Bianconeri. Untuk itu semua, ia pantas menangis.

Di dunia partiarkal ini, dimana laki-laki dilarang menangis, sepakbola adalah alasan yang macho untuk menitikkan air mata. “Saya sering menangis,” kata Buffon, menjelaskan soal air matanya setelah Italia gagal lolos ke Piala Dunia 2018. Baginya, menangis itu membebaskan (it frees you) dan membuat kita menjadi manusia (it makes you feel human). “Ini bukan tentang kekalahan itu sendiri, tapi sesuatu yang lebih rumit dan romantik,” ujarnya. Di pekan ini, Buffon telah menjelma kata-katanya sendiri. Ia terkesan sangat melankolis.

Di konferensi pers, Kamis lalu, Buffon seperti ingin menangis sejak awal. Toh, air mata itu tak jatuh sama sekali hingga pertanyaan jurnalis terakhir. Tapi, kita tahu matanya sembab. Seperti ada yang tertahan. Kata ‘emosional’ berkali-kali keluar dari mulutnya. Misalnya, “musim ini sangat emosional” untuk menjelaskan kegagalan timnas Italia dan kemarahannya di Santiago Bernabeu. Kita bisa bayangkan betapa wajarnya itu semua. Ia sudah empat puluh tahun, Italia gagal ke Rusia, ia pensiun dari tim nasional, ia gagal lagi di Liga Champions (satu-satunya trofi penting yang belum ia menangkan), dan hal-hal lain. Di lapangan, semua itu tak terlihat. Buffon tampak baik-baik saja. Kiper yang baik adalah ia yang (tampak) tenang.

“Saya pria yang tenang,” kata Buffon. Tenang. Kata itu juga sering keluar di konferensi pers – ‘serene’ menurut penerjemah. ‘Tenang’ itu jualah alasan kenapa ia belum memutuskan kemana ia berlabuh setelah Juventus. “Saya akan memutuskannya minggu depan. Setelah semua emosi ini reda. Saya ingin tenang saat membuat keputusan besar soal masa depan saya,” kira-kira seperti itu.  Maka, spekulasi merebak. Buffon pria yang tenang, tapi kita semua tidak – dan sibuk menebak-nebak. Saya membayangkan kontradiksi di tubuh Buffon, Sabtu ini, saat emosi dan ketenangan bercampur aduk tak karuan di dadanya.

Kita bisa melihat ada yang janggal pada senyumnya. (Hari-hari ini saya sedang banyak membaca soal Barthes dan semiotik, jadi maafkan interpretasi semiotik saya – yang mungkin berlebihan, personal, dan emosional – terhadap gerak-gerik Buffon.) Ia seperti ingin mengatakan sesuatu. Seperti di ruang pers, Buffon seperti menahan sesuatu di laga terakhirnya. Ia seperti seorang pecinta yang gagal menemukan kata yang tepat. Maka, ia memilih tenang – seperti yang selalu ia lakukan sebagai kiper. (Saya selalu terkesima pada posisi kiper: orang yang berada “di-luar” permainan itu, satu-satunya pemain yang boleh memakai tangan dalam permainan yang dinamai football. Buat saya, ketenangan adalah kualitas utama yang mutlak dimiliki kiper.)

Toh, akhirnya yang ditahan-tahan itu tak tertahankan. Air mata jatuh dari kedua matanya. Kita melihat bola matanya berlinang. Air mata itu telah menjadi pesan yang ingin disampaikannya sejak siang di ruang pers itu. Mengikuti kata-katanya sendiri, Buffon telah (merasa) menjadi manusia – meski curva sud membentangkan banner ‘Superman’ untuknya. Ia manusia biasa, sama seperti kita, sama seperti ribuan orang yang memadati Allianz Stadium dan mendapati kenyataan getir ini. Setelah Del Piero, Buffon adalah perpisahan paling rumit untuk kita – fans Juventus. Air mata Buffon telah menjadi alegori untuk perpisahan.

Saya tumbuh besar dengan imaji tentang Buffon. Ia adalah bagian tak terpisahkan dari kegilaan ini – terhadap sepakbola dan Juventus. Saya menikmati konferensi pers Buffon, Kamis lalu, dengan bayangan-bayangan tak paralel tentang tujuh belas tahun yang berlarian di belakang. Semuanya membentuk fragmen-fragmen yang patah dan utuh secara bersamaan: calciopoli, Piala Dunia 2006, cinque maggio, Santiago Bernabeu, Trieste 2012, dan sebagainya. Buffon menjadi (salah satu) pusat dari kejadian-kejadian itu. Ia boleh jauh sendirian di dekat gawangnya, tapi ia adalah benang yang menghubungkan rentetan sejarah – setidaknya setelah millennium baru. Kini, benang itu telah putus.

Yang rumit dari sepakbola adalah emosi-emosi semacam ini. Sulit untuk menjelaskan kenapa kita harus menangis saat Del Piero pergi, atau saat Italia dicurangi Korea Selatan enam belas tahun silam. Jorge Luis Borges mengaitkan sepakbola dengan ketololan. Dan mari kita rayakan ketololan ini dengan air mata! Buffon telah menangis. Ia tak kuat lagi menahan air matanya, terlebih setelah ratusan pelukan dengan pemain, staf, dan suporter di stadion. Dari layar kaca, komentator menyebut: “Buffon adalah nama yang akan kita ceritakan ke anak cucu kita kelak.” Tentu saja. Suatu hari nanti, saya akan duduk di teras rumah dan bercerita ke anak (cucu) saya, tentang sebuah malam di Lyon saat Buffon menepis penalti itu. Buffon akan kekal, lewat cerita-cerita yang kita sampaikan; entah hari ini atau kelak. Ciao, capitano.

Advertisements

Kepergian Nomor 10

Setiap kepergian selalu punya maknanya masing-masing. Dari makna itu, sikap terbentuk.

Saya ingat betul pertengahan tahun 2012 ketika Alessandro Del Piero meninggalkan Juventus. Di laga terakhirnya, pekan ke-38 Serie A melawan Atalanta, Del Piero melakukan dua putaran penuh keliling Juventus Stadium untuk mengucapkan salam perpisahan kepada seisi stadion. Syal-syal bertumpahan, air mata jatuh di pelupuk mata banyak orang. Tak terkecuali di mata Del Piero. Dan saya, yang menonton beribu kilometer jauhnya dari Turin.

Sebagai penggemar Juventus, kepergian Del Piero jelas menyesakkan dada. Del Piero adalah Juventus, Juventus adalah Del Piero. Sejak pertama kali saya menyukai sepak bola, Del Piero sudah menjadi roh Juventus. Ia tak pergi kemana-mana, termasuk ikut turun ke Serie B dalam skandal yang mencoreng nama Juventus pada 2006. Bagi seluruh, saya ulangi, seluruh Juventini di dunia, Del Piero mengandung makna yang spesial. Ia telah menyerupai keabadian.

Perginya Del Piero, saya ingat betul, sedikit dilematis bagi Juventus dan Juventini. Di satu sisi, ia memang sudah uzur dan tidak lagi menjadi bagian terpenting dari skuat yang diracik Antonio Conte. Di musim terakhirnya, Del Piero lebih sering tampil dari bangku cadangan. Beberapa bahkan menganggap kepergian Del Piero adalah langkah bagus karena Il Nostro Capitano bisa saja menghambat Conte dalam menciptakan tim yang super. Dengan segala kharismanya, bisa saja para pemain, manajemen, dan suporter akan lebih patuh pada sabda Del Piero daripada Conte. Sebagai pelatih dan motivator ulung, Conte tahu betul hal itu tidak baik. Kepergian Del Piero adalah yang terbaik bagi Juventus.

Namun di lain sisi, tak kalah banyak yang geram dan kesal dengan terusirnya Del Piero. Anggapan yang berkembang adalah Del Piero, meskipun sudah tua dan tidak seperti jaman keemasannya, masih memiliki taji yang diperlukan Juventus. Kharisma, pengalaman, dan kemampuannya dirasa masih akan berguna, walau tak harus selalu tampil sejak menit pertama dan tak lagi menjadi juru gedor nomor satu. Selain itu, melepas Del Piero diartikan sama dengan tidak menghormati sang pemain yang kadung menjadi simbol, roh, dan jiwa Juventus. Alasan non-teknis itulah yang lebih sering diapungkan. Banyak yang kecewa, termasuk saya, dengan fakta bahwa Del Piero tidak pensiun di Juventus.

Meski setuju dengan argumentasi bahwa Del Piero tak lagi terlalu terpakai di klub dan bisa merusak wibawa Conte, saya tetap tak bisa menerima kepergiannya selama sekian waktu. Butuh beberapa pekan untuk mencerna apa yang terjadi. Saya bertanya-tanya, kenapa manajemen tidak memberikan kontrak satu musim lagi kepada Del Piero? Atau, kenapa Del Piero tak langsung memutuskan gantung sepatu dengan status sebagai pemain Juventus? Tapi kita tahu, yang terjadi adalah berbeda.

Selama semusim penuh setelah Del Piero hijrah ke Australia, nomor 10 di Juventus tidak terpakai. Baru pada musim panas 2013, seorang bengal asal Argentina datang dan tanpa tedeng aling-aling meminta kaus bernomor 10. Saat itu, banyak Juventini mengamuk, meski mungkin hanya dalam hati. “Apa-apaan ini, baru datang terus minta nomor punya Del Piero,” pikir saya kala itu. Saya dan sebagian besar Juventini lain mungkin belum bisa menerima nomor 10 dikenakan pemain lain yang bukan Del Piero. Apalagi pemain bersangkutan sering dicap brengsek dan lumayan sering pindah klub, atribut yang bertolak belakang dengan Del Piero.

Nama pemain itu Carlos Tevez. Tidak ada yang meragukan kualitas olah bolanya. Pembuktian terhampar jelas lewat kiprahnya di berbagai klub sebelumnya. Saat Tevez datang ke Turin, saya sempat menyebutnya sebagai omega: akhir pencarian Juventus akan striker hebat. Maklum, bermusim-musim sebelumnya Juventus tidak punya pembunuh ulung di muka gawang lawan. Bayangkan, saat menjuarai scudetto pada musim 2012-13, top skorer Juventus adalah Arturo Vidal dan Alessandro Matri dengan 10 gol. Untuk sebuah tim juara, jumlah itu memprihatinkan. Juventus memang solid sebagai sebuah tim karena setiap pemain bisa menjadi pencetak gol. Namun, untuk ditakuti secara konsisten, tidak hanya di Italia tapi juga Eropa, Juventus harus punya penyerang tangguh. Setelah lama membidik banyak striker, pencarian berakhir dengan pembelian Tevez.

Namun yang terjadi setelahnya agak menyentak. Tevez meminta dan langsung diberikan nomor punggung 10. Secara kualitas dan nama besar, Carlitos punya hak untuk nomor itu. Tetapi bagi Juventini, itu bukan nomor yang bisa sembarangan diberi ke seseorang, karena baru setahun sebelumnya ditinggalkan Del Piero. Juventini berharap nomor itu dipakai pemain dengan kaliber yang sama dengan Del Piero, tidak hanya dalam hal olah bola, tapi juga kepribadian di luar lapangan. Tevez dianggap tidak memenuhi syarat yang disebut belakangan. Semua Juventini senang dengan datangnya Tevez, tapi hanya sebagian yang terima dia diberi nomor 10.

Tevez sudah mantap akan pilihannya. Dia sadar tanggung jawab macam apa yang mendesak di pundaknya dengan memakai seragam bernomor 10 di Juventus. Dia tak banyak bicara dan jawabannya terwujud di atas lapangan. Debutnya berakhir sempurna. Juventus menang atas Sampdoria di pekan perdana dengan gol tunggal yang dilesakkan Tevez. Di akhir musim, dia membawa Si Nyonya Tua memenangi scudetto ketiga secara beruntun dengan menyumbang 19 gol.

Pada musim keduanya, peran Tevez kian sentral. Dengan kepergian Conte dan masuknya Massimiliano Allegri, posisi Tevez tak tersentuh sedikit pun. Dialah andalan utama di lini serang. Namun, dengan tiga scudetto beruntun, ekspektasi Juventini meningkat. Gelar juara Serie A akan terasa biasa saja. Oleh karena itu, semua menuntut prestasi di kancah Liga Champions. Tevez yang pernah menggenggam trofi tersebut saat memperkuat Manchester United sangat diharapkan dalam mengangkat moril dan mental bertanding Juventus di Eropa.

Sayang, harapan menjadi juara Liga Champions kandas justru di partai final. Di Italia, Juventus memang mengawinkan Serie A dan Coppa Italia, tapi kegagalan di Eropa adalah luka tersendiri. Kendati demikian, apresiasi setinggi langit memang layak disematkan kepada Tevez dkk. Juventus membuktikan diri bisa kembali bersaing dengan tim elit Eropa lain, termasuk dengan menyingkirkan juara bertahan Real Madrid di semifinal. Tevez yang bermusim-musim lamanya mandul di Liga Champions berhasil membukukan 7 gol dalam perjalanan Juventus ke final. Total golnya 29 sepanjang musim 2014-15. Dan itulah penutup kariernya di Turin.

Pertengahan 2015 ini, Tevez memutuskan pergi. Dia hanya bertahan dua musim di Juventus. Kepergiannya disayangkan karena Tevez jelas masih dibutuhkan. Namun, berbeda dengan kepergian Del Piero yang disesalkan meski perannya kian minim, kepergian Tevez diterima sepenuhnya oleh siapa pun yang menjadi bagian Juventus. Alasan kepergian Tevez sangat personal dan emosional. Dia ingin kembali ke tempat dimana ia pertama kali mengasah kemampuan sepak bola. Ia ingin pulang ke rumah, ke Argentina, ke Boca Juniors. Perginya Tevez disambut tidak hanya dengan kesedihan, tapi juga kerelaan karena ia pulang ke rumah.

Penyair Novalis pernah berujar suatu waktu, “Sebenarnya menuju kemanakah kita? Selalu rumah.” Mungkin itu yang membuat saya dan Juventini lain menerima kepergian Tevez dengan dada yang lapang.

Arrivederci, Carlitos!

Grosso

Saya baru saja membuka Twitter dan mendapati berita yang menarik. Fabio Grosso menjadi asisten pelatih Juventus Primavera. Ia akan menemani pelatih baru Primavera, yakni Andrea Zanchetta yang ditunjuk menggantikan Marco Baroni yang pindah ke Lanciano sebagai pelatih tim utama. Mendapati Grosso kembali menjadi bagian dari Juventus adalah sesuatu yang nostalgik.

Saya bingung bagaimana mendeskripsikan Grosso. Saya seperti menyukai sekaligus membencinya secara bersamaan. Ini tentu aneh: memelihara dua perasaan yang bertentangan. Tapi demikianlah hidup. Kita seringkali dibuat takjub tentang bagaimana perasaan bermain, dan selanjutnya kita hanya menerima dengan pasrah. Grosso adalah contoh paling nyata buat saya tentang gabungan dua rasa yang bertolak belakang.

Musim 2011/12 adalah musim terakhir Grosso sebagai pemain bola. Di Juventus musim itu, ia hanya bermain 2 kali, yaitu melawan Siena dan Catania. Setelah dua laga itu, ia seperti hilang atau dilupakan seperti barang rongsok. Namanya tak ada lagi dalam daftar pemain yang berlaga untuk Juve. Di akhir musim, kontrak Grosso berakhir. Beberapa saat setelah itu Grosso memutuskan pensiun mengingat tak ada tawaran dari klub manapun untuknya.

Sudah saya bilang, saya menyukai Grosso, tapi tak sepenuhnya. Saya membenci Grosso, tapi juga tak total. Ada area abu-abu yang dapat diisi olehnya. Semua jelas berawal di Jerman 2006. Kala itu, Italia menjadi juara dunia untuk kali keempat. Dari sekian legenda yang menghiasi skuad Azzurri saat itu, nama Grosso yang paling saya ingat sebagai sosok paling menentukan di turnamen.

Siapa yang akan lupa diving indahnya di 16 besar melawan Australia? Di injury time, wasit memberi hadiah penalti karena Grosso pura-pura terjatuh. Francesco Totti dengan dingin mengoyak jala gawang Mark Schwarzer. Italia terus melaju. Di perempat final, Ukraina dibantai. Lalu musuh berat sekaligus tuan rumah menanti di semifinal. Italia jelas tak diunggulkan. Tapi sejarah selalu punya cerita yang tak biasa.

Menghadapi Jerman yang tampak perkasa, Italia tampak terlalu tangguh bagi anak-anak muda bangsa yang sombong itu. Signal Iduna Park yang gemuruh tak sanggup meruntuhkan mental Italia. Grosso lantas jadi pahlawan. Pertandingan seperti akan berakhir lewat adu penalti sebelum Grosso mencetak gol ke gawang Jens Lehmann di menit 119. Del Piero kemudian menyempurnakan pesta semenit berselang.

Di final melawan Prancis, Grosso kembali jadi penentu. Gol heroiknya di partai versus Jerman rupanya bukanlah capaian monumentalnya di Jerman 2006. Adalah dirinya yang menjadi penendang penalti terakhir Italia yang memastikan gelar juara dunia kembali ke Eropa Selatan. Italia berpesta ditengah drama calciopoli. Grosso, dari bukan apa-apa menjadi pahlawan nasional.

Grosso melanjutkan hidup di Inter Milan dan Olympique Lyon sebelum berlabuh ke Juventus pada musim 2009/10. Di Juventus, Grosso datang dalam waktu yang tak baik. Dua musim penuh yang dijalaninya sebagai pemain tim utama adalah musim-musim dimana Juventus adalah tim yang sakit. Di dua musim itu secara berturut-turut, Juve menempati posisi 7 di klasemen akhir.

Grosso pun dianggap sebagai bagian penting dari kegagalan itu. Ia jelas bukan sosok yang sama yang memenangkan Italia di Olympiastadion. Tapi bagaimanapun parah permainannya, dan betapapun bencinya saya melihat namanya di starting eleven Juventus, Grosso tetaplah juara dunia. Dan predikat itu mengandung sesuatu yang tak main-main. Ia sendiri membuktikannya.

Saya ingat sebuah partai melawan AS Roma di Olimpico pada April 2011. Itu adalah partai pertama dimana sejak awal saya merasa Juventus akan kalah. Sebelumnya, meski separah apapun kondisi tim, sebelum laga saya selalu yakin Juve bisa menang. Tapi saat itu, saya pasrah. Juventus memberikan ban kapten pada Claudio Marchisio, kapten nomor 4. Del Piero, Buffon, dan Chiellini cedera.

Hal itu tentu menggambarkan bahwa skuad Juventus waktu itu porak-poranda akibat cedera. Tapi ditengah badai dan kepasrahan akan kekalahan, keajaiban kadang punya caranya sendiri untuk hadir. Fabio Grosso mencetak 2 umpan yang menjadi 2 gol bagi Bianconeri di laga itu. Pertama untuk Milos Krasic, kedua untuk Alessandro Matri. Tapi pertandingan itu belum tentu saya ingat hanya karena dua assist itu.

Saya ingat sebuah momen dimana Grosso berlari ke depan membantu serangan, lalu bola direbut pemain Roma. Bola sudah menyentuh lini pertahanan Juve ketika saya melihat seorang pemain berjalan dengan santai sambil melihat kawan-kawannya bertarung merebut bola. Pemain bernomor 6 itu berjalan, benar-benar berjalan. Ia tak peduli bahwa posisinya adalah pemain belakang. Ia berjalan.

Partai Juventus versus Roma itu pada akhirnya menjadi landmark bagi saya untuk melihat keseluruhan karir Grosso. Ia adalah pemain yang mencetak 2 assist dan berjalan santai menuju posnya. Ia selalu saya benci: pertama karena memang medioker, kedua karena sempat bermain di Inter. Tapi secara bersamaan, ia selalu saya cinta: pertama karena diving itu, kedua karena gol di Dortmund, ketiga karena penalti ke gawang Barthez.

Saya lantas bingung ketika Grosso pergi dari Juventus dan kemudian pensiun, juga ketika ia kembali ke Juve sebagai asisten pelatih tim junior. Ada kesenangan dan kebencian yang datang sekaligus pada saat-saat itu. Saya senang Grosso pergi dari Juve, tapi sedih juga. Saya kecewa manajemen menunjuknya sebagai asisten pelatih, tapi juga gembira ia kembali ke Turin. Entahlah.

Bara yang Menyulut Ingatan

Kita tahu kontroversi adalah semacam pita warna-warni yang menyemarakkan sepakbola hari ini. Termasuk kontroversi soal keputusan wasit yang keliru dan merugikan salah satu tim. Apalagi jika tim yang diuntungkan adalah raksasa bernama Juventus.

Minggu (28/10), Juventus bertandang ke rumah Catania. Pertandingan tuntas 1-0 untuk Bianconero. Tapi bukan hasil pertandingan yang membikin cerita. Kisah gol Catania yang dianulir lebih heboh dari catatan 48 partai tak terkalahkan yang diukir Juve. Terlebih gol tunggal yang dicetak Arturo Vidal pun terhitung kontroversial mengingat Nicklas Bendtner tampaknya berdiri dalam posisi offside sebelum bola muntahnya disepak Vidal ke gawang Catania.

Tak pelak setelah laga itu ingatan orang-orang terlempar ke masa enam tahun silam. Tahun itu calcio diguncang skandal pengaturan skor yang menampilkan Juventus dan transfer guru mereka Luciano Moggi sebagai tersangka utama yang mukanya dipajang di media-media sebagai pesakitan. Juve dan Moggi terjerat hukuman yang tak ringan. Moggi akhirnya dilarang aktif di sepakbola seumur hidup. Juventus dihadiahi degradasi, sesuatu yang mencoreng wajah suci mereka.

Sejak itu publik langsung menaruh label “curang” di dahi Juventus, terlebih mereka yang tolol yang mudah termakan omong kosong bikinan media. Tak cukup hukuman degradasi, dampak terberat yang dipanggul Juve adalah imej buruk yang melekat. Itu resiko dalam berkehidupan di negeri dan dunia yang membenci mereka. Sebagai superordinat, Juve memang layak dimusuhi. Teori konspirasi mungkin menyatakan Juventus membayar wasit demi melukis hasil pertandingan sesuka mereka. Tapi teori konspirasi bisa juga menyebut bahwa Juve adalah sisi yang dirugikan.

Tak ada yang bisa melarang atau mencegah orang untuk memikirkan kembali tentang calciopoli. Ramai-ramai mereka menuding Juve, si “curang” itu, kembali melakukan cara kotor untuk memenangi pertandingan. Sejarah memang sesuatu yang penting untuk diingat agar kita tak terperosok di masa depan, tapi kita harusnya juga sadar bahwa sejarah kadang membuat kita berpikir sempit, bahkan dangkal.

Kedangkalan itu berupa pemikiran yang terlalu cepat menyimpulkan sesuatu. Juventus sebagai musuh bersama adalah korban dari prejudis yang dikonstruksi secara masif, massal, dan banal oleh publik lewat bantuan tangan ajaib bernama media. Sebagai orang yang melek, kita mestinya melihat bahwa keteledoran wasit tak hanya terjadi di Catania. Di laga lain, sejumlah klub juga menerima keuntungan atas kekeliruan wasit. Tapi kenapa mereka tak tersorot? Simpel, karena Juve komoditi yang bakal laku sebagai headline di Senin pagi.

Mengubah prasangka memang sulit, karena ia seakan bom waktu yang diam namun sewaktu-waktu bisa saja meledak bila tersulut. Pun, prasangka kadang memang sesuatu yang terlanjur melekat dan susah dihapus, apalagi bagi mereka yang enggan menyadarkan dirinya dari kebohongan yang selama ini membodohinya. Selamat membenci, bukankah sepakbola seru karenanya?

 

Tigapuluh satu oktober dua ribu duabelas.

Patah Hati

Adzan subuh baru lalu ketika gol itu datang di menit 89. Saya mengambil remote dan mematikan televisi, lalu membanting tubuh ke kasur. Juventus memang akan kalah, cepat atau lambat. Tapi kenapa harus putus di tangan klub yang paling saya benci saat ini? Rasanya seperti patah hati.

Saya sepenuhnya mengerti bahwa Juve takkan terus-terusan menang atau seri saja. Musim ini mereka tampak mulai payah dan sering hanya mengandalkan lo spirito Juve untuk bisa tetap menang. Saya sepenuhnya paham bahwa Juventus akan sulit melewati angka 58 punya Milan dan berhenti di titik 49 pun bukan hal yang jelek. Tapi sekali lagi, ah sudahlah.

Hari itu saya pulas dan bangun siang hari, tak memakai televisi, mematikan telepon genggam, tak membuka facebook atau twitter, tak melihat-lihat berita sepakbola. Saya patah hati. Dua musim lalu saya dibiasakan melihat Juve yang payah dan sering kalah. Tapi sudah semusim lebih saya tak merasakannya — kecuali di final Coppa. Saya lupa rasanya kalah dan ketika merasakannya lagi: ini tidak mungkin terjadi.

Di pagi di awal pekan saya mulai menerima situasi. Rupanya patah hati itu butuh waktu lebih dari 24 jam untuk sembuh. Saya kembali ke realita dan siap menghadapi berita dan ejekan tentang kekalahan itu, tentang lawan yang mengalahkan, tentang semua sampah dan omong kosong yang akan didengar dan dibaca.

Patah hati ini mungkin norak dan berlebihan. Tapi anda yang mencintai olahraga ini dengan gairah pasti mengerti betul. Terlebih mereka yang mencintai Juve lebih dari sepakbola, yang meresapi betul frasa juve storia di un grande amore. Bahwa siapapun pernah mencintai sesuatu dan pernah luka karenanya mungkin menjadi penawar bahwa saya tak sendiri. Hanya kadang beda bentuk dan kadar.

Lalu apa patah hati itu? Patah hati adalah melihat Del Piero menangis di hari terakhirnya di Delle Alpi baru, saat dia mengelilingi lapangan dua kali dan menerima hujan syal. Juga, saat Un Capitano mengenakan seragam lain yang tak bercorak hitam putih. Saya mulai menikmati rasanya jadi pecinta yang patah hatinya.

Legenda

Laga amal antara Juventus dan Torino baru usai. Keduanya berbagi dua gol. Tapi ini bukan laga amal biasa. Yang ada diatas lapangan bukan pemain-pemain tulang punggung klub pada saat ini, tapi legenda-legenda yang sempat menoreh sejarah di masing-masing klub. Para pemain masa lampau yang sepenggal kehidupannya dihabiskan diatas lapangan demi Juventus atau Torino. Yang karirnya pernah dihias warna hitam putih atau merah marun.

Mereka tahu pasti laga amal ini bagaimanapun bukan sekedar laga biasa. Ini tetaplah derby, derby della mole, derby torino. Dan layaknya derby, atmosfer tentu tak biasa, panas menggelora. Meski mereka juga sadar usia tak bisa sepanas dahulu ketika sedang kencang-kencangnya. Dan ini laga yang ditujukan untuk menghibur dan membawa masa lalu ke masa kini. Momen yang mungkin pas untuk membakar semangat kedua klub yang sama-sama terpuruk belakangan ini.

Pertandingan ini telah membawa saya ke masa kecil. Saat-saat pertama kenal sepakbola dan langsung jatuh cinta pada Juventus, menjadi Juventini hingga kini dan selamanya. Waktu-waktu ketika saya masih polos dan cuma tahu dua warna, hitam dan putih, bianconero. Juve waktu itu punya tim terbaik dengan komando maestro sepakbola bernama Zinedine Zidane. Pemain yang hengkang dengan banderol termahal kala itu. Lalu Pavel Nedved masuk menggantikan.

Sebagai Juventini, saya sadar laga lawan Torino bukan laga biasa. Juventus mewakili pendatang-pendatang di kota Turin, sementara Torino merepresentasi warga lokal yang terusik kemapanannya. Laga ini selalu spesial. Sayang Torino cukup lama tak naik ke Serie A, derby della mole jadi tak rutin dihelat tiap tahunnya. Derby yang paling saya ingat adalah ketika Enzo Maresca mencetak gol ke gawang Torino dan berselebrasi dengan menirukan gaya banteng, simbol Torino. Cukup untuk menyulut emosi seluruh elemen Torino.

Kembalinya legenda-legenda itu mungkin sekedar main-main. Mereka sudah tak secepat dan sekuat dulu. Tapi mereka tetaplah legenda. Mereka mengajari kita bahwa tiap sesuatu punya masanya, dan pada waktu yang singkat itu buatlah sesuatu untuk dikenang. Mereka telah habis, tapi nama mereka takkan pernah tercoret dalam catatan sejarah panjang klub. Legenda-legenda yang pernah membakar Torino sampai titik terpanas. Menggetarkan kota yang saya ingin datangi suatu waktu nanti.

Juventus, 2010

Musim 2009-10 adalah era yang cukup menyedihkan bagi Juventus. Periode terburuk pertama pasca-calciopoli. Sebuah musim nirgelar yang hancur berantakan. Tak sekedar tanpa piala, Juve pun terusir dari Liga Champions di fase grup. Masuk ke Liga Europa, Juve tak bertahan lama. Hanya sempat main empat kali sebelum ditendang Fulham, klub Inggris yang tak disangka bakal menyingkirkan Juve dengan cara menyakitkan Juventini. Juve gagal total di Eropa.

Setelah menyelesaikan pertandingan di Eropa lebih awal, Juve berniat fokus total di Serie A yang juga dijalani dengan labil sejak awal musim. Hasil berkata lain. Juve semakin tercecer keluar dari empat besar. Sering kalah, sering seri, jarang menang. Juve bak tim medioker yang terseok-seok. Deretan bintang ternama tak berarti apa-apa. Pergantian pelatih percuma. Zaccheroni yang menggantikan Ferrara sama saja, gagal! Akibatnya fatal: Juve gagal berlaga di Liga Champions 2010-11. Sebuah kegagalan mahabesar bagi tim sekelas Juventus.

Musim memang belum berakhir, namun bagi Juve semua berakhir di pekan ke-36. Pekan ketika Catania menahan seri, pekan ketika kepastian tidak berlaga di Liga Champions terjadi. Pekan yang menyudahi target revisi yang gagal. Pekan yang menciptakan isu eksodus transfer besar-besaran akibat kegagalan ini. Semuanya memang mengejutkan terjadi pada tim seperti Juve. Tapi inilah sepak bola. Olahraga termasyhur di dunia, penuh kejutan dan sensasional.

Setelah semua kegagalan ini, setelah musim berakhir, Juve mesti berbenah habis-habisan. Mungkin revolusi perlu. Pelatih jelas diganti dengan pelatih bertangan dingin yang sanggup mengembalikan masa jaya Juve. Deretan pemain gagal mesti dibuang. Gantinya bintang papan atas atau mungkin calon bintang masa depan. Mungkin bintang jebolan Piala Dunia. Di atas semuanya yang perlu diubah adalah pada jajaran manajemen. Kerusakan kronis terjadi pada mereka. Manajemen yang berisi orang-orang tanpa kapabilitas, orang-orang yang tak mengerti sepak bola. Pergantian mutlak diperlukan! Juve mesti berpikir untuk mencari pengganti La Triade (Moggi, Giraudo, Bettega) yang terhukum pasca-calciopoli. Sementara ini baru Bettega yang sudah masuk kembali dalam manajemen. Moggi menyusul.

Musim depan tanpa partisipasi di Liga Champions, Juve harus dibebani target juara. Realistis, karena konsentrasi tidak terlalu terpecah. Realistis karena keyakinan akan revolusi dan trauma kegagalan musim ini pasti ingin dibuang jauh-jauh. Realistis karena memang begitulah Juve harusnya, tim juara yang bermental juara pula. Sudahlah, memang musim ini bukan musim Juventus dan Juventini. Kita lebih sering tertunduk lesu dan muram sepanjang musim. Atau menangis di setiap akhir pekan pada musim ini. Tapi musim depan kita harus berdansa rutin akhir pekan, kita harus berteriak sepanjang malam pada akhir musim. Juve akan juara lagi, seperti biasanya.

Bravo Bianconeri, Juventini per siempre

Nedved

Pria Ceko ini sosok yang spesial buat saya sebagai Juventini. Rambutnya yang pirang gondrong dan bebas seolah menceritakan kebebasannya menggiring bola sesukanya di lapangan hijau. Laiknya pebola dari Eropa Timur, Pavel Nedved sangat kuat, cerdas, dan militan. Pensiun di usia 36 tahun pada musim panas 2009, Nedved mengakhirinya karirnya di Turin tanpa gelar.

Pemain berjuluk Czech Cannon ini ditransfer pada 2001 dari Lazio seiring eksodus besar-besaran yang dilakukan klub sekota AS Roma itu. Dengan transfer mahal dia membayarnya dengan habis-habisan bertarung bagi Juve. Puncaknya pada 2003 dia memenangi Ballon D’Or, penghargaan bagi pebola Eropa terbaik.

Padahal di tahun itu, ketika Juve berhasil melenggang ke final Liga Champions dan menantang tim senegara AC Milan, Nedved tak bisa tampil di final yang saat itu berlangsung di Manchester. Penyebabnya: kartu kuning yang diterimanya kala Juve mempercundangi Real Madrid. Dengan jelas dia mengekspresikan kekecewaannya segera setelah wasit menghadiahi kartu kuning itu, sadar bahwa dia tak akan bisa tampil di final yang diidamkannya.

Toh, dia pria yang dewasa. Dia menerima lapang dada, karena aturan memang seperti itu. Bukti pentingnya pemain bernomor 11 ini pun tampak dari kekalahan dari Milan di final. Nedved malang, Juve malang. Selanjutnya, Nedved berusaha sekuat tenaga mengembalikan Juve di final Liga Champions, namun hingga karirnya berakhir dia gagal.

Pavel Nedved semakin digemari seluruh Juventini di dunia atas keputusannya bertahan di Juve meski mereka harus bermain di Serie B. Sebuah dampak yang ditanggung klub akibat skandal Calciopoli yang melibatkan otak transfer Juve, Luciano Moggi. Seluruh tim berkabung, degradasi pertama sepanjang sejarah klub. Selanjutnya hal yang terjadi memang telah terprediksi, sebuah eksodus.

Pemain-pemain bintang Juve yang enggan bermain di kasta kedua pergi mencari klub lain yang lebih “layak”. Ibrahimovic, Zambrotta, Vieira, Cannavaro, dan nama besar lainnya banyak yang pergi meninggalkan Juve begitu saja. Tapi Nedved yang gemilang dan banyak diincar banyak klub besar bergeming. Dia mengikrarkan janji setianya bagi Juve bersama bintang lainnya yang rela bermain mengembalikan harga diri Juve. Cukup setahun dia turut andil mengembalikan Juve ke habitatnya, Serie A.

Kembali ke Serie A ternyata Juve masih seperti yang dulu. Dengan Nedved juga masih sama, beringas dan spartan. Di lapangan tak ada yang menyangka jika dia adalah pemain yang sudah berada di ujung karir, umurnya tak lagi muda. Namun yang ditunjukkannya justru sebaliknya. Dia tampil bak pemain berusia awal 20-an yang berlari kesana kemari tanpa mengenal lelah.

Itulah Nedved. Di musim terakhirnya dia masih tampil sama seperti ketika pertama kali tiba di Turin. Tapi usia memang tak bisa dibohongi. Dengan kepala tegak, Pavel Nedved meninggalkan lapangan hijau sebagai pemain. Kita tak tahu mungkin saja suatu saat dia kembali sebagai pelatih.