Tabrakan Budaya

Saya ingat, ketika pertama kali masuk area, yang terpikirkan adalah tabrakan budaya. Saya datang dengan kepala yang berisi konsep-konsep gaya hidup dari mazhab tertentu. Saya menulis skripsi mengenai gaya hidup, tapi dengan perspektif neo-marxism. Adorno adalah panutan saya dalam memandang gaya hidup.

Lalu, saya melenggang begitu saja menjadi jurnalis gaya hidup, di kota dimana gaya hidup disembah mati-matian dan diperjuangkan sebagai simbol status terpenting. Saat itu, saya sama sekali tak masalah. Perbedaan itu justru yang menarik buat saya. Apa yang lebih asyik dari membenturkan idealisme dengan realitas?

Tabrakan budaya adalah terma yang muncul di kepala saya saat itu. Ini mengingatkan saya pada perjalanan. Dalam sebuah perjalanan, yang menarik justru adalah tabrakan-tabrakan budaya itu. Kita misalnya datang dari kota tertentu dengan latar budaya tertentu, lalu menuju latar masyarakat yang sama sekali berbeda.

Mengutip salah satu edisi National Geographic, bukankah benturan-benturan itu yang membuat kita mencintai perjalanan? Mengecap apa-apa yang asing, menabrakkan isi kepala kita dengan kenyataan empirik, mengaduk teori-teori dengan data lapangan. Dengan semua itu, kita menguji cara pikir kita tentang dunia.

Membaca juga seperti itu. Buku yang baik adalah yang bisa memecahkan es dalam kepalamu, kata Kafka. Dengan membaca kita tak hanya ingin mencari apa-apa yang baru, tapi juga mencampur pikiran-pikiran kita dengan ide-ide si penulis. Keduanya lantas bertabrakan. Terbentur, terbentur, terbentuk: kata Tan.

Jadi begitulah, sudah hampir sepuluh bulan saya menabrak-nabrakan diri dengan sesuatu yang kontras dengan saya. Selama itu saya mengguncang isi kepala dengan kebanalan lifestyle. Saya memelajari bahwa gaya hidup memang ekstase, menggairahkan, dan mengasyikkan. Tapi, Adorno tetap ada di kepala saya.

Bahkan, ia semakin menggembung seiring dengan realitas-realitas empirik yang saya temukan dalam sepuluh bulan ke belakang. Semua ini justru memperkaya saya. Jika sebelumnya hanya duduk dari bangku kuliah dan menuding ini itu, saya punya kesempatan terjun ke lapangan dan menjadi subyek.

Saya seperti mencemplungkan diri dalam riset partisipatoris, menjadikan diri saya sebagai agen penyebar kebanalan. Semua ini tak membuat saya menyesal. Sama sekali tidak. Asal, semua ini tak sia-sia. Suatu hari, jika semua ini telah berakhir, saya harus mencatatnya dalam sebuah naskah panjang.

“A Life of Lifestyle Journalist Who Read Adorno” adalah judul yang berkali-kali muncul selama sepuluh bulan ke belakang. Dan waktunya kian dekat. Mungkin sebulan dua bulan lagi tabrak-menabrak ini akan usai. Setelah ini, saya ingin kembali ke literatur, kajian, dan filosofi. Jurnalisme gaya hidup bukan untuk saya.

Advertisements

Cetak

Di suatu pagi, beberapa pekan yang lalu, saat sedang memanaskan mobil di luar pagar, saya melihat loper koran yang sama yang saya lihat ketika masih kecil.

Dulu, rumah kami berlangganan Suara Pembaruan setiap hari. Setiap sore, loper yang sama melemparkan koran ke teras rumah. Saya, yang sejak kecil tertarik pada jurnalisme, hampir selalu jadi orang pertama yang mengambil koran di teras setiap harinya.

Sebelum kami berlangganan, saya sudah sering membaca Suara Pembaruan dari rumah tetangga di belakang rumah. Kebetulan rumah saya dan tetangga itu tersambung pintu belakang. Jadi, saya sering main ke sana untuk sekadar membaca laman olahraga di bagian belakang koran. Itu masa dimana kata ‘internet’ belum pernah saya dengar.

Setelah berlangganan, saya makin rajin membaca koran. Tidak cuma rubrik olahraga saja, tapi juga rubrik-rubrik lain. Tentu saja, kecuali politik. Selain berita, saya hobi mengerjakan teka-teki silang di Suara Pembaruan. Kebiasaan itu saya tiru dari ayah. Mengingat TTS hari ini adalah romantisme tersendiri. Saya jadi tahu bagaimana caranya saya mulai mencintai kata-kata.

Sejak SMP, saya terbiasa membaca satu media cetak lain: Tabloid Soccer. Tabloid itu terbit pada hari Kamis setiap minggunya. Pada mulanya, saya membeli di kios koran dekat rumah. Setelah kios itu tutup, saya mencarinya di kios dekat gereja. Hal itu terjadi sampai saya menjadi bagian kecil tabloid itu dan hingga Soccer ditutup tahun lalu.

Melihat loper koran yang sama ketika saya masih anak-anak, beberapa pekan lalu, membuat ingatan-ingatan di atas muncul. Ingatan itu datang bersama konteks hari ini, dimana media cetak tengah berada dalam turbulensi hebat. Dan saya bukan lagi anak-anak yang menanti koran dilempar setiap sore, tapi sudah jadi bagian industri media.

Jaman berubah dan digital merajalela, tapi si loper koran tetap sama. Ia masih mengayuh sepeda, dengan topi di kepala, dan koran-koran disampirkan di bagian belakang sepeda. Tapi, ada yang berbeda. Jumlah koran yang ia bawa tak sebanyak dulu. Tempat koran di sepedanya sangat tipis. Saya ingat betul, dulu, bawaannya jauh lebih tebal dan berat.

Tentu saja, hal itu menggambarkan situasi media cetak hari ini. Koran, majalah, dan tabloid semakin sedikit. Makin tergeser oleh media online. Beberapa orang yakin media cetak akan habis, beberapa lainnya percaya cetak akan bertahan, sisanya meramalkan cetak bakal bangkit lagi. Namun, fakta hari ini, media cetak seperti pelari dengan nafas yang tersengal-sengal.

Saya tak tahu bagaimana masa depan media cetak di Indonesia. Dan saya tak berniat untuk menganalisisnya. Telaah sudah banyak ditulis dan dibahas. Faktanya nyaris setiap minggu ada saja media cetak yang tutup. Kenyataan ini agak mengerikan, terutama bagi orang-orang seperti saya, yang masih hidup dari media cetak dan masih bangga menjadi ‘man of print’.

Saya jadi teringat lagi tentang bagaimana awal mula saya ingin menjadi jurnalis. Ketika itu, tepatnya pada 2004, media cetak adalah sumber informasi utama, selain televisi. Jadi ketika saya bermimpi menjadi jurnalis, di bayangan saya adalah jurnalis media cetak: orang yang mencari berita, menulis artikel, mengirim naskah pada editor, dan melihat artikelnya di koran pagi esok harinya.

Sekarang, dan sejak menjadi jurnalis pada 2013 lalu, ada jurang yang menganga lebar antara bayangan saya 11 tahun lalu dan kenyataan hari ini. Internet dan media sosial membuatnya kacau. Dan saya mendapati cita-cita masa remaja dulu nyaris menjadi puing-puing utopia.

Nyaris karena kondisi dan peran media cetak hari ini tak sama seperti belasan tahun lalu. Dan karena, toh nyatanya, saya tetap memelihara gairah terhadap cetak dan masih bekerja di dalamnya. Walau dengan nafas dan waktu yang kian tipis.

Elegi untuk Televisi

Sepak bola Indonesia kisruh lagi. Dan di tengah hiruk-pikuk ini, seperti yang sudah lalu-lalu, peran media-media bayaran mulai dimainkan. Tugas mereka simpel, untuk mengisi kepala masyarakat dengan fakta-fakta yang sengaja dikaburkan. Fuck idealisme, itu tak ada lagi di jurnalisme hari ini.

Hal ini membuat saya teringat suatu siang di Bajawa, Flores. Saya sedang menonton televisi di ruang tengah sebuah losmen murah yang berlokasi dekat stadion. Televisi milik bos lumpur sedang berkisah dengan pilu tentang masa depan anak-anak Indonesia yang karirnya akan habis sebelum dimulai bila PSSI disanksi FIFA.

Saya membayangkan jutaan orang terpukau dengan kisah omong kosong itu, otak mereka dicuci, dan tiba-tiba semua sepakat untuk mendukung pihak yang satu dan mencaci-maki pihak yang lain. Benar atau salah tidak penting lagi. Karena cerita bohong telah diumbar dan data-data empiris disembunyikan. Di negeri ini, kritisme sudah lama mati karena televisi.

Siang di Bajawa itu berlangsung kira-kira awal Februari 2013. Kini dua tahun berselang, yang terjadi adalah repetisi. Dengan mulut tersumpal uang-uang mafia dan keparat korporasi atau politik, media-media diperkosa independensinya dan menjadi alat melanggengkan ketololan. Kapan sepak bola kita maju kalau media terus memilih menjadi pelacur?

Saya bertanya-tanya, apakah dua tahun dari sekarang kisah usang ini akan terulang? Media-media itu (televisi, majalah, koran, portal online, dan lain-lain), masihkah mereka menjadi mainan dan dimatikan nalar kritisnya? Sampai kapan reporter, jurnalis, presenter, content writer, dan semua yang terlibat dalam proses pemberitaan rela dipaksa menjadi pembohong yang lihai memelintir kata, data, dan fakta?

Mungkin di lain waktu, di sudut Indonesia yang lain, saya akan menonton televisi dan melihat horor yang sama terjadi lagi.