Frustrasi Timo

“Saya berjuang demi sepakbola Indonesia karena sepakbola negeri ini punya potensi besar. Dan itu bikin frustrasi. Kalau tidak punya potensi dan hasilnya payah ya wajar, tidak bakal frustrasi. Tapi Indonesia potensinya luar biasa, cuma kok gini-gini aja. Makanya saya frustrasi,” ujar Timo Scheunemann dalam salah satu acara bertema Bundesliga yang diadakan di bilangan Kuningan, Rabu (12/8).

Soal potensi sepakbola Indonesia, siapa pun rasanya tak meragukan. Seorang teman yang pernah bekerja di SSB sempat bercerita bagaimana pelatih-pelatih asing kerap terpukau dengan olah bola anak-anak Indonesia. “Di Indonesia saya lihat banyak anak-anak yang seperti Messi. Makanya saya bingung kok sepakbola Indonesia jalan di tempat,” ucap teman saya menirukan kata-kata seorang pelatih asal Argentina. Hal yang sama tampaknya juga dirasakan Timo.

Sore itu, kata-kata yang meluncur dari bibir pria berdarah Jerman itu benar-benar memukau. Dengan alegoris, dia bercerita bagaimana sepakbola Jerman bisa maju seperti saat ini karena intervensi pemerintah. Tidak seperti Menteri Pemuda dan Olahraga yang takut-takut memakai kata ‘intervensi’, Timo terang-terangan menggunakan kata kontroversial itu di hadapan wartawan yang mayoritas meliput sepakbola. Dan kita tahu bagaimana kondisi sepakbola kita hari ini.

Timo berkisah panjang lebar tentang bagaimana pemerintah Jerman membuat aturan-aturan ketat soal sepakbola. Dari mulai urusan bisnis, organisasi, infrastruktur, dan sebagainya. Hasilnya adalah kebangkitan. Kita bisa melihat wajah sepakbola Jerman hari ini seperti apa. Liganya sangat profesional, klub-klubnya tidak bermasalah secara keuangan, antusiasme penonton Bundesliga adalah yang terbaik di dunia, pembinaan usia dini luar biasa, akademi untuk pelatih berjalan mulus, dan hasilnya adalah tim nasional yang menguasai dunia.

Ucapan Timo seperti percikan api. Salah seorang wartawan kemudian bertanya, “Dari ucapan anda, apakah anda mendukung pemerintah Indonesia?”

Jawaban Timo adalah sesuatu yang tak saya sangka-sangka. Sesuatu yang berkelas. Dia seperti penyair hebat yang lihai memilih kata. “Ketika tadi saya memakai kata ‘intervensi’, itu saya lakukan dengan sengaja kok. Jadi, ya anda tahu sendiri dong,” tutur sang pelatih dengan senyum mengembang. Saya pun ikut tersenyum.

Kemudian, seorang wartawan lain bertanya kepada Timo. “Banyak pemain Asia sekarang merumput di Jerman. Menurut anda, apakah ada pemain Indonesia yang pantas bermain di Bundesliga?” tukas si wartawan.

Sekali lagi, jawaban Timo seperti sihir yang mendiamkan pendengarnya. “Saya tidak ingin lips service. Saya orangnya kalau ngomong ya apa-adanya. Mungkin karena itu saya tidak disukai orang. Kalau ditanya demikian, menurut saya tidak ada pemain kita yang pantas. Evan Dimas, pemain terbaik Indonesia, kabarnya akan bermain di klub kasta kedua di Spanyol. Dan dia sangat cocok bermain di level itu. Itu pemain terbaik kita, lho. Jadi anda bisa bayangkan. Sama saja seperti pertanyaan kapan Indonesia bisa main di Piala Dunia. Itu tidak bisa dijawab. Rumahnya dulu harus dibangun, setelah mulai dibangun baru bisa tahu,” pungkas Timo.

Mendengar kata-kata Timo, saya tersenyum berkali-kali. Sosok seperti Timo Scheunemann merawat kembali optimisme saya, bahwa proses panjang perbaikan sepakbola kita akan berbuah manis. Semoga.

Advertisements

Catatan Sebelum Final

Piala Dunia 2014 akan berakhir dalam hitungan jam. Jerman berhadapan dengan Argentina di final. Dua negara besar sepak bola berebut menjadi yang terbaik di negeri suci sepak bola. Perjalanan kedua negara ke Maracana bukanlah jalan yang lempang. Sesekali kerikil sedikit menghalang laju, tapi itu tak cukup untuk terus melesat ke final. Kesuksesan Jerman dan Argentina tak lepas dari keberanian untuk berubah.

Jerman memulai petualangan di Brasil dengan langkah tegap: membantai Ronaldo dan 10 pria Portugal lain. Tapi rupanya empat gol tanpa balas atas Portugal sedikit membikin jemawa. Melawan Ghana, Jerman hanya berakhir imbang. Di laga terakhir, mereka menang tipis atas Amerika Serikat dan memastikan langkah ke 16 besar sebagai jawara grup. Tim atraktif Afrika Utara menanti mereka di babak selanjutnya.

Aljazair mampu membuat Jerman sedikit frustrasi dan memaksa laga berlanjut hingga babak tambahan. Beruntung, dua gol Jerman di 30 menit babak tambahan hanya dibalas satu oleh Aljazair. Dari kemenangan yang susah payah itu, Joachim Low akhirnya belajar. Melawan Prancis di perempat final, Low kembali ke cara lama. Phillip Lahm ia tempatkan di pos bek kanan. Selain itu, striker murni Miroslav Klose ia pasang di ujung tombak.

Kadang sejauh apa pun kita berkelana dan bereksperimen, kita menemukan kesejatian di rumah, di tempat asal. Demikian pula Jerman. Dua perubahan yang tampak regresif itu justru membuat Jerman perkasa bukan main. Low sadar sudah bukan waktunya lagi untuk main-main. Maka, Prancis mereka usir dari Brasil lewat skor tipis. Meski Jerman tak bermain atraktif di laga itu, mereka tampak lebih kokoh dan dewasa.

Menghadapi tuan rumah Brasil di semifinal, Low mempertahankan tim yang ia pakai melindas Prancis. Hasilnya adalah sejarah yang kekal dan tak butuh penjelasan macam-macam.

Berbeda dengan Jerman yang tergabung di grup yang relatif ketat, Argentina masuk grup mudah. Hanya berisi Iran, Bosnia, dan Nigeria. Mereka keluar sebagai juara grup dengan nilai sempurna, tapi penampilan mereka jauh dari harapan. Tanpa tuhan bernama Leo Messi, Argentina bisa saja menjadi pecundang. Mereka selalu menang dengan hanya selisih satu gol melawan tiga negara semenjana di jagat sepak bola itu.

Di 16 besar, Argentina berjumpa Swiss, tim dengan pertahanan yang lumayan solid. Terbukti, Argentina perlu menunggu hingga menit ke-118 untuk mencetak gol kemenangan. Susah payah menang atas Swiss, Argentina berbenah. Sama seperti Jerman, pelatih Alejandro Sabella menemukan momentum untuk berubah dan bangkit pada babak 16 besar. Di perempat final, hasilnya berbuah manis.

Persis Jerman, Argentina kembali ke sesuatu yang lebih klasik. Juga melibatkan dua pemain. Sabella menggantikan Federico Fernandez dengan Martin Demichelis, serta Fernando Gago dengan Lucas Biglia.  Demichelis dan Biglia menjadi kartu as Sabella dan Argentina dalam mengandaskan Belgia di perempat final, lalu menyingkirkan Belanda di semifinal. Lini belakang Argentina yang dikritik sebelum turnamen, justru menjadi kekuatan utama.

Dengan segudang pengalaman, Demichelis menjadi tembok kokoh bersama Ezequiel Garay. Biglia, meski mungkin kurang terlihat, adalah sosok yang mematikan kreativitas Belgia dan Belanda. Ia sosok yang membunuh Eden Hazard dan Wesley Sneijder.

Di final, kedua tim yang menemukan wahyu di perdelapan final dan tak segan menatap ke belakang akhirnya bertemu. Baik Jerman maupun Argentina memberi contoh paling sahih bahwa untuk berubah dan bergerak maju, berjalan mundur dan menengok masa lalu bukan hal yang haram. Terkadang, hal-hal paling mendasar dan penting didapat dari sesuatu yang dianggap usang. Keberanian untuk memilih yang usang itulah yang tak mudah.