USA & Jakarta

Tiba-tiba pikiran saya tiba di Modena, pada suatu sore musim panas yang cerah.

Saya hendak menuju Soliera untuk sebuah konser. Sambil menunggu teman datang menjemput, saya duduk-duduk di common room Ostello San Filippo Neri. Saat itu, televisi menyetel laga fase gugur Piala Dunia, Brazil vs Belgia. Saya duduk semeja dengan seorang ibu paruh baya. Saya berbasa-basi dengannya.

Pertanyaan basa-basi paling basa-basi di hostel-hostel adalah: where are you come from? (Belakangan saya menghindari pertanyaan semacam ini, yang rasanya mengabaikan berbagai pengalaman sosio-kultural kita yang kompleks dengan berbagai tempat. Seakan-akan dari mana berasal lebih penting dimana kau merasa berada di rumah.)

“I am from North America,” jawabnya. Dahi saya terkenyit. Amerika Utara?

Dia seperti membaca kernyit di dahi saya, lalu menimpali: “I’m from California”. Lega rasanya mendengar jawaban itu.

Lalu ia terus meracau tentang kenapa ia menjawab “North America”, bukan “USA” atau “US” seperti lazimnya pejalan-pejalan lain dari sana. Ia menyadari “USA” mengandung konotasi yang negatif di dunia. Seakan-akan menjadi “US citizen” adalah semacam dosa sejarah. Ia menyebut beberapa hal seperti perang, Hollywood, cultural imperialism, dan lain-lain. Ia menyadari posisinya sebagai seseorang yang berasal dari sebuah tempat yang (potensial) dipandang sebagai biang kerok oleh banyak orang lain di dunia.

Saya teringat waktu-waktu yang saya habiskan dalam perjalanan di banyak tempat di Indonesia. Ketika ditanya dari mana saya berasal, jawaban paling mudah tentu saja adalah “Jakarta”, karena orang-orang akan langsung mengetahuinya, walau sebenarnya saya tinggal di Depok. Depok, pikir saya, hanya akan mengundang pertanyaan lanjutan: “Dimana tuh Depok?” Dan, ujung-ujungnya saya akan menjawab “Jakarta”.

Jadi, seringkali, saya justru menyebut Bogor. “Saya dari Bogor, Jawa Barat,” ucap saya kepada banyak orang di daerah-daerah lain yang bukan di Jawa. Seakan-akan dengan jawaban itu saya melarikan diri dan menghindar dari konotasi negatif yang diemban Jakarta, dimana kekuasaan negara terpusat, dimana kebijakan-kebijakan didesain untuk mengatur (atau tidak mengatur) warga sipil, termasuk mereka yang ada di tempat-tempat yang amat jauh dari “pusat”.

Saya menegasikan relasi saya dengan Jakarta, seperti ibu paruh baya di Modena menegasikan relasinya dengan USA. Mungkin karena kami sama-sama menganggap dan menyadari bahwa daerah/negara asal kami bukan tempat yang syahdu dan lebih banyak mencetak petaka daripada harapan. Jakarta dan Amerika, dimana sinonim “pusat” sering diletakkan di atasnya, bukanlah kata yang kami suka.

Maka, ia menyebut “North America” dan saya menyebut “Bogor”. Begitulah.

(Cepu, 13 Juli 2019)

Jakarta di Torino

‘If you stay, then I will stay. Even though this town is not what it used to be.’

Di perpustakaan di Parco del Valentino, saya membayangkan Jakarta. Lalu saya membuka Spotify dan spontan mengetik ‘Jakarta’ di kolom search. Lalu lagu-lagu itu mengalun di telinga, seperti sepotong mimpi yang liris. Dan saya merindukan Jakarta dengan perasaan yang aneh. Disana ada kengerian tentang macet, tentang hal-hal yang asing di Eropa. Tapi, disana, saya merasa ada sesuatu yang akrab, yang tak pernah saya temui di kota-kota di utara. Entah apa. Mungkin semacam keterikatan yang subtil, kelekatan yang remeh, atau sense-of-belonging yang tak diinginkan.

Tak sehari dua hari kegiatan itu saya pelihara. Termasuk di perpustakaan di Lingotto, lagu-lagu tentang Jakarta menghiasi hari-hari saya menyusun tinjauan pustaka tentang air dan laut. ‘I forget Jakarta, all the friendly faces in disguise,’ kata Adhitia Sofyan. Di Torino, dua perasaan itu bertubrukan seperti biji-biji kopi di dalam blender. Saya membenci dan merindu secara bersamaan, seperti kisah cinta yang tak mudah. Pada Jakarta, sebenarnya saya merindu sesuatu yang kacau, yang chaotic. Sebab Eropa terlalu membosankan, terlalu lurus-lurus saja. Saya ingin mengendarai motor di trotoar!

Small City Life

From who-knows-when, I always want to live in small city where breaths are easy and life is calm. For 24 years I lived in suburban of urban jungle named Jakarta. There is always busy routine everyday as its patron has. Now, finally, I am moving to another place. A much quieter, less polluted big village named Wageningen. A place where its inhabitants seem like having nothing else to look for in life. Except a serene life.

Two or three days after moving to Wageningen, I visited a place called Stade in Niedersachsen state of Germany. And I found another peaceful space there. Forget Hamburg or Amsterdam, it is a kind of rural town where apples are everywhere. From very big industries that supply all Europe, to tiny garden in almost every house in the town. Pace is slow and days are gone fast in Stade. A breeze in the afternoon makes it perfect.

One day, I went to Amsterdam Centraal. Another day, I was in front of Rathaus of Hamburg. People everywhere. From travelers carrying big backpack, to locals hanging out with fashionable outfit. I never hate tourists or locals or people. But I may not like noisy crowd too much. There were headaches when I first got off the train in Centraal or walked around the Rathaus. The aches growing whenever the picture of going back to Jakarta-esque life comes in mind.

Now, I am going to forget such vision. I want to appreciate life here, life I dreamed of for who-knows-how-long. A small city life. 

Jakarta (Catatan Lama)

4 dari 10 saudara bapak sudah meninggal, termasuk bapak. Menariknya, 3 dari 4 orang itu tinggal di Jakarta. Sedangkan 6 orang yang masih hidup, semua tinggal di bukan-Jakarta. Tersebar di Toraja, Makassar, Stade, dan Reno.

Itu adalah statistik yang bicara kematian sebagai realitas sosial, bukan sekadar mistis spiritual. Pada mulanya adalah gen yang dibawa turun temurun, lalu lingkungan sosial. Dan Jakarta, sedari awal saya percaya, bukan tempat yang teramat baik untuk hidup.

Nyawa selalu murah di Jakarta. Angka harapan hidup tak tinggi. Beban dan tekanan tiap hari menghimpit, lantas mengundang darah tinggi, serangan jantung, kanker, dan sakit-sakit lain. Berjubelan tiap hari di jalanan atau moda transportasi umum dengan jutaan orang bukanlah cara yang pantas untuk menumpang minum.

Kejadian ini membuat saya makin yakin untuk tinggal, hidup, dan mencari nafkah di luar ibukota. Saya percaya seandainya saya jadi kaum urban di Jakarta, saya akan mati sebelum mencapai usia 50, bahkan mungkin 40.

Sebelumnya mimpi hidup di luar Jakarta adalah sebuah harga mati yang tak bisa ditawar. Kini, saya tak tahu istilah yang tepat yang lebih dari itu. Adios (soon) Jakarta.

Post-scriptum: Ini saya ketik di notes smartphone pada malam hari 13 Januari 2015. Saya sedang di taksi menuju rumah duka RSPAD Gatot Soebroto. Beberapa jam sebelumnya om saya meninggal. Tulisan ini lama mengendap di smartphone. Malam ini, saya merasa perlu membaginya.

Diperkosa Jakarta

“Buset, rasanya gue kaya diperkosa.”

Ucapan itu meluncur dari bibir seorang gadis di kereta Manggarai-Duri tadi pagi. Sepanjang Manggarai-Sudirman, kereta bagaikan kaleng sarden yang diombang-ambing. Daging-daging manusia menempel, berhimpit. Tak ada spasi, hanya sedikit celah untuk mengambil udara. Mustahil untuk bergerak, bahkan sekadar menengadah atau merubah posisi tangan.

Di Jakarta, tiap hari, bagi para komuter dan mereka yang tidak berjalan kaki ke kantor atau sekolah, rasanya mungkin memang seperti diperkosa. Walaupun saya tak tahu persis apakah mbak-mbak tadi pernah benar-benar diperkosa.

Sejak enam tahun lalu saya belum mengubah argumen saya. Kemacetan Jakarta yang parah adalah akibat terlalu banyaknya manusia. Tanpa pemindahan atau pembasmian manusia, mustahil untuk mengentaskan kemacetan. Sistem transportasi canggih, sihir Deddy Corbuzier, atau petuah Mario Teguh tak akan mampu menghabisi macet di ibu kota. Ketika saya bicara macet, saya tak hanya mengacu pada jalanan dimana mobil motor merayap, tapi juga di dalam kereta yang penuh, sesak, dan tak manusiawi.

Saya jadi ingin merasakan menjadi pegawai 9-5 di kawasan-kawasan perkantoran padat seperti Sudirman atau Kuningan. Saya membayangkan bangun pukul 5 atau 6, jam 7 sudah di stasiun atau mulai mengendari motor, jam 8 terjebak di jalan atau gerbong, jam 9 lewat sampai kantor dengan raut muka kesal karena terlambat dan kuyup karena keringat mengucur. Entah karena terik atau kegerahan. Mereka, mengutip teriakan seorang bapak di kereta tadi pagi, adalah luar biasa.

Eh tapi itu dulu. Memang dulu saya mengira mereka, para komuter dan orang kantoran Sudirman/Kuningan itu, adalah orang-orang hebat, tangguh, dan perkasa. Tapi makin kesini saya makin ragu. Mungkin jarak antara hebat dan bodoh kian tipis. Atau, jika bukan bodoh, mungkin pengecut, karena tidak berani keluar dari rutinitas yang mereka kutuk tiap hari.

Namun itulah Jakarta. Setidaknya bagi saya, Jakarta membuat pikiran saya menyala-nyala. Puisi, kritik, ide bisa lahir dalam sesak gerbong kereta di ibu kota tercinta. Meski dengan sumbang, gelap, dan pahit, setidaknya kita harus jujur pada diri sendiri tentang kenyataan bahwa: Jakarta adalah neraka jahanam. Dan neraka berarti ketiadaan.

Budaya Jalanan

Hari ini di Jakarta dan kota-kota penyangganya, jalanan adalah ruang yang kacau. Macet sudah terlalu lazim dan dianggap biasa, tak lagi dianggap sebagai penyakit. Kemudian rambu-rambu ditabrak, aturan dipatahkan, dan jalanan menjadi arena pertempuran ganas bagi predator-predator urban kontemporer.

Itu mungkin adalah konsekuensi sebuah kota yang sibuk dimana kapital adalah tuhan dan gedung-gedung pencakar langit adalah gereja. Secara pribadi saya menganggap, tak ada yang lagi yang bisa diselamatkan dari Jakarta. Jokowi dan Ahok bisa saja mengubah sedikit dan memberi harapan, tapi kematian kota ini tak akan terelakkan.

Hal itu tampak di jalanan. Jika anda pernah mengendarai kendaraan di kota lain semacam Solo, Mataram, atau Kupang, anda akan tahu bahwa budaya jalanan di Jakarta parah banget. Motor berbaris di trotoar demi sebuah detik yang terpangkas. Mobil saling sikut demi sebuah ruang yang tak luas. Dan pejalan kaki tak punya tempat lagi dalam kemuraman itu.

Lalu di lampu merah. Tempat yang sesak oleh klakson dimana orang-orang menanti lampu hijau seperti pembalap yang menunggu pistol ditembakkan. Disana orang tak peduli ada zebra-cross. Mereka menunggu lampu hijau di garis pembatas atau melewatinya, peduli setan. Ada kengerian di situasi lampu merah di jalanan Jakarta dan sekitarnya.

Tapi, belakangan ini yang paling meresahkan saya di jalanan ibukota adalah perilaku motor (kadang mobil) yang melawan arus. Tak apa jika melakukannya saat jalanan sepi total. Saya bukan orang yang patuh betul pada aturan, saya juga suka melanggar. Tapi saya tahu konteks. Aturan adalah ‘teks’ dan tiap teks mengandung konteks.

Jadi terkadang saya melawan arus saat hendak menuju minimart di jam 12 malam, atau saat menerobos lampu merah di jam 1 pagi dimana dalam jarak 100 meter tampak tak ada kendaraan lain yang ingin lewat. Saya melakukannya karena konteks yang ada membuat saya merasa pantas melakukan itu (meski tak perlu dicontoh). Tapi saya tak habis pikir dengan mereka yang melawan arus di jam-jam sibuk. Gila.

***

Pada suatu pagi-menjelang, saya mengendarai mobil pulang dari kantor ke rumah. Melewati jalan-jalan yang sepi, hanya berisi beberapa mobil dan motor. Lalu saya sampai di suatu lampu merah di deretan jalan Simatupang. Seperti biasa, saya berbaris menunggu lampu hijau muncul. Juga kendaraan-kendaraan lain.

Namun, kerapihan itu sirna usai sebuah angkot disusul taksi menerobos garis dan menunggu lampu hijau di depan garis pembatas serta mencari celah untuk langsung menginjak gas, mencuri start. Ketololan itu langsung disusul beberapa motor dan mobil yang tadinya mengantre dengan rapih. Bukankah kita, warga jalanan, pernah seperti itu?

Kita awalnya mengantre saat lampu merah, lalu saat angkot atau kendaraan lain, yang entah kenapa biasanya kendaraan umum (semisal angkot dan metromini, atau kendaraan jasa pribadi seperti ojek dan taksi), menyerobot garis, maka kita ikut-ikutan menjadi pelanggar yang patuh pada ‘norma’ saat itu. Saya akui saya pernah melakukan itu.

Saya enggan menuduh atau menunjuk muka orang lain, tapi saya agak curiga pada kendaraan-kendaraan umum itu, yang seolah menjadi garda depan barisan pelanggar jalanan. Saya juga curiga bahwa budaya jalanan kita hari ini sangat terpengaruh oleh apa yang dilakukan (dan dicontohkan) kendaraan-kendaraan umum, sang trend-setter, itu.

Anggapan ini tak saya kesampingkan karena (1) jumlah angkot (sebagai contoh) di Jabodetabek sangat banyak, kita melihatnya dimana-mana, banyak bisa berarti memegang ‘kuasa’, (2) apa yang ‘diajarkan’ angkot pada warga jalanan adalah hal yang logis untuk diikuti, di Jakarta jika anda tak melanggar aturan, anda akan sampai setengah jam atau satu jam lebih lama.

Maka jalanan kita hari ini berisi pelanggaran-pelanggaran yang dimaafkan dan akhirnya membudaya. Melanggar bukan lagi penyimpangan. Bagaimana itu dikatakan menyimpang jika semua orang melakukannya? Dari segi hukum mungkin itu menyimpang, tapi secara sosiologis itu telah jadi norma yang berlaku. Yang tidak melanggarlah yang menyimpang.

Seandainya anggapan di atas benar, tetap tidak tepat untuk menyalahkan kendaraan-kendaraan umum. Karena setelah mereka memberi contoh (yang buruk) pertama kali, motor-motor, yang notabene jumlahnya seperti bintang di langit, mengikuti contoh itu dengan sempurna. Lalu disusul mobil dan semua pengendara di jalanan ibukota.

Maka ia menjadi budaya. Dan kita pun turut serta menjadi warga jalanan yang ber’budaya’.

Keluhan tentang Keluhan

Di suatu malam yang pucat, setelah gelas-gelas alkohol, sebuah tweet seorang senior tampil di depan mata saya, kurang lebih berbunyi begini: Jakartans emang tolol ya, tiap hari ngeluh macet tapi tiap ada mobil keluaran baru langsung dibeli. Oke, kata tolol itu memang saya tambahkan sendiri sesuka hati. Menyebut orang Jakarta sebagai orang tolol memang tak terasa sebagai sebuah dosa.

Tadi pagi saya bangun dengan cara yang eksentrik. Belum sempat melek, otak saya sudah memikirkan tentang ide konsumerisme. Keren dan patut dikasihani, bukan? Saya tak tahu persis kenapa hal itu terjadi: mungkin tadi malam alam bawah sadar saya menyimpan konsepsi itu seraya alam sadar saya mengetik kata-kata konseptual tentang budaya massa, gaya hidup, konsumsi, dan tetek-bengeknya.

Atau mungkin juga karena tiba-tiba saat terbangun saya over-heard percakapan di luar kamar. Seseorang berbicara tentang mobil, lalu tentang membeli. Saya tak tahu persis apa topik yang sebenarnya dibicarakan. Tapi omong-omong tentang membeli mobil membawa kegelisahan saya yang masih samar-samar menjadi semakin jelas. Saya bangun dengan mengucek mata, mengira semua mimpi.

Namun, Jakarta yang macet yang penuh mobil, yang orang-orangnya sedang terkena euforia pertumbuhan ekonomi dan sedang gila-gilanya mengonsumsi tanda-tanda, yang ketika ada mobil keluaran baru langsung menuju showroom dan menukarnya dengan uang, yang mengeluh tentang macet namun makin menyuburkan kemacetan dengan mobil tergres yang baru mereka beli: itu semua bukan mimpi.

Cerita soal Jakarta dan Jakartans memang sudah bosan saya tulis. Tapi saya tak pernah punya alasan untuk berhenti, mungkin karena saya belum menemukan penyaluran atau melihat cahaya atas awan kelabu yang menggelayut. Semua keluhan saya memang tak ada artinya, mengingat setiap hari milyaran mobil tetap terbeli di bawah langit ibukota. Sama tak ada artinya dengan keluhan para Jakartans yang merengek tentang macet di dalam kenyamanan kereta kencana bermerk Jepang atau Eropa.

Ketidakberartian saya makin terasa karena saya bukan superman yang bisa meledakkan seluruh jalanan ibukota yang merembet hingga ke kota tempat saya hidup dari kecil, yang secara geografis bukan bagian Jakarta, tapi secara kultural ia adalah Jakarta. Maka ketika saya marah, saya terasa seperti seorang masokis yang menikmati penderitaan perasaan yang tak terobati.

Jakarta akan tetap gila, seperti biasa. Jakartans akan tetap tolol, seperti biasa. Saya akan tetap mengeluh, seperti biasa. Atau, mungkin suatu waktu saya akan berkesempatan menuliskan keluhan-keluhan lain tentang kehidupan Jakarta melalui gadget keren di tangan saya, saat saya sedang berhenti menyetir di dalam mobil yang lux, di tengah rimba Sudirman di Jumat malam yang legendaris itu. Semoga tidak. Tidak.

Nabi

Pesawat masih mengudara. Di balik jendela awan-awan putih masih tampak. Pengumuman mengabarkan bahwa pesawat tak lama lagi akan mendarat, penumpang diminta untuk bersiap mengikuti aturan-aturan formalitas. Tiba-tiba seorang ibu di sebelah saya berbicara, mengajak ngobrol. Ia bicara macam-macam, saya pun membalas tak kalah macam-macam. Kami terlibat dalam diskusi ringan dalam latar pesawat yang tak lama lagi akan sampai di tujuan.

Si ibu sebelah saya itu hendak menuju Malang, menjumpai anaknya yang sedang sakit. Anaknya ialah seorang laki-laki yang sedang belajar psikologi di sebuah universitas di Malang. Atas nama tanggung jawab seorang ibu, ia terbang jauh dari tempat tinggalnya di Kupang demi menjenguk si anak. Bukan, ibu ini bukan asli Kupang, ia perantau. Ia asli Surabaya, lantas takdir membawanya menuju Timor.

Bagi mereka yang supel, berbincang dengan orang asing adalah hal yang biasa, kadang dianggap tak penting, kadang hanya sebatas formalitas omong kosong. Maka saya merasa beruntung menjadi orang yang terlalu gampang akrab, menjadi orang yang tak cukup supel. Biasa saya lebih sering diam di hadapan orang asing, hingga si orang asing itu yang mengajak bicara pertama kali. Saya hampir tak pernah mengambil inisiatif.

Atas dasar itu saya selalu percaya tiap orang asing yang mengajak ngobrol saya adalah kiriman Tuhan, entah untuk pesan apa. Dalam tiap obrolan singkat dengan mereka yang asing itu, saya menikmatinya dengan penuh, persis seperti murid yang menanti ajaran. Saya menunggu momentum yang tepat kapan pesan ajaib itu tiba dalam obrolan dengan ibu asal Kupang yang asli Surabaya ini. Dan demikianlah takdir pun berkata-kata.

Ia bertanya hendak menuju manakah saya, lantas saya jawab: Jakarta. Ia pun bertutur pelan dan tenang bahwa suatu waktu di masa lalu ia sempat pula tinggal dan hidup di Jakarta, mencari uang, mencari pengalaman, mencari entah apa. Lalu akhirnya kata-kata ajaib itu muncul, kata-kata yang tak sekali dua kali saya dengar, kata-kata yang mungkin saya  tunggu-tunggu: “saya gak kerasan di Jakarta”.

Dalam sepersekian detik imajinasi membawa saya mencapai waktu-waktu yang lampau, dalam momen-momen yang serupa tapi tak sama, juga dalam perjalanan, hanya dengan orang asing yang lain. Saya ingat supir taksi di Lombok yang mengantar saya ke Pelabuhan Lembar, saya ingat seorang porter di Pelabuhan Tulehu Ambon saat saya dan kawan hendak menyebrang ke Pulau Pombo, juga orang-orang asing lain yang mungkin saya lupakan.

Bagi saya mereka semua, ibu itu, supir taksi itu, porter itu, dan mereka-mereka yang terlupakan itu, adalah nabi. Ia yang diutus Tuhan tadi, yang datang dengan pesan khusus untuk saya. Pesannya singkat, padat, dan jelas bagi saya: Jakarta bukan tempatmu, nak. Saya memang orang yang percaya pada tanda-tanda, persetan bagaimana kita menginterpretasi tanda-tanda itu.

Rasanya hampir tiap kali melakukan perjalanan saya selalu dipertemukan dengan orang-orang semacam ibu yang hendak menuju Malang itu. Orang-orang yang bercerita pernah tinggal dan hidup di Jakarta, lantas mengaku tidak betah, tidak kerasan, ingin pulang kampung atau menuju tempat lain untuk tinggal dan hidup. Sudah saya bilang, tidak sekali atau dua kali. Maka salahkah saya mempercayainya sebagai pertanda?

Terlebih saat ini saya mencapai tingkat akhir di bangku kuliah, waktunya mungkin sudah dekat bagi saya untuk menepati perintah Tuhan atas nama nabi-nabi tadi, atas perkataan orang-orang asing itu. Mungkin saya perlu sedikit bersiap menyongsong hari itu: menyelesaikan skripsi, meminta ijin ibunda, berkemas dengan sedikit lebih lama dari biasa, dan mencapai kota lain yang membuat saya tidak menjadi budak di ibukota.

Baliho

Keluar dari Bandara Internasional Soekarno-Hatta, mata memandang Jakarta lagi. Setelah beberapa hari dimanja warna warni kota yang lain. Yang mungkin tak semewah Jakarta, mungkin tak sehebat Jakarta, tapi ada nyaman yang tak bisa dijumpai di Jakarta. Entah apakah nyaman itu. Mungkin udara, mungkin budaya, mungkin manusia, atau entahlah. Tapi mungkin sebuah baliho punya cerita.

Mulai memasuki wilayah ibukota, bis Damri melintas melewati sebuah baliho di pinggir jalan yang berteriak, atau mungkin sekedar berbisik: “welcome to Jakarta!” Dan memang benar, Jakata dimulai dari situ. Gedung-gedung mencakar langit, bising mulai meraung, polusi datang bagai hujan badai. Jakarta memang bukan tempat yang ramah bagi jiwa-jiwa kuno yang rindu wangi alam nan kental. Tapi Jakarta bagai godaan yang tak sanggup ditolak, terkadang.

Baliho itu, pun beserta baliho-baliho lain yang memenuhi ibukota jadi aktor lain yang tak kalah penting. Merekalah yang menebangi pepohonan hijau mententramkan, dan dengan gagah berdiri menjajakan diri di pinggir jalanan. Mereka menawarkan apapun bagi mereka yang lapar akan konsumsi, juga bagi mereka yang sudah kenyang namun tak urung usai. Baliho jadi simbol penjajahan terhadap orang-orang kota nan intelek itu. Siapa penjajahnya? Siapa lagi.

Baliho mungkin memang bagian integral dari arsitektur sebuah kota yang sedang bergerak maju. Hiasan di pinggir jalan yang punya warna warni elok, penuh seni kreasi jaman modern, dan lambang bahwa kini kreativitas bisa pamer besar-besaran di tengah debu dan berisik. Baliho jadi penting, karena tanpanya jalanan jadi sekedar jalanan, tempat mobil melaju dan berdesakkan dengan mobil lainnya.

Baliho pun kadang bisa berfungsi dalam gayanya yang lain. Ia adalah hiburan bagi keringat-keringat yang lelah didera macet tak berkesudahan. Baliho bisa jadi semacam relaksasi sekilas bagi petualang ruas jalan kota yang sibuk. Dan oleh karenanya dia harus diapresiasi, sekali-kali. Walau ia lupa, ia mungkin juga punya pengaruh pada penghuni jalanan lainnya. Yaitu mereka yang hidup dalam keras jalanan, tanpa rumah, tanpa apa-apa, mereka cuma punya baliho untuk dipandang.

Hanya dipandang. Mereka tak sadar baliho yang mereka pandangi kagum-kagum itu adalah pembunuh mereka. Papan besar itu bisa jadi yang menjebloskan mereka dalam penderitaan di jalanan, hidup bersama debu dan ribut klakson. Mereka teraniaya oleh apa yang ditawakan baliho itu, meski sadar tawaran itu bukan untuk mereka. Namun untuk orang lain yang tak hidup di jalan, yang punya akses, dan yang lupa saudara mereka dari jalanan itu kurang beruntung dan hanya bisa memimpikan pesan-pesan manis dalam baliho.

Itulah kota. Tempat dimana saudara itu tidak ada, yang ada hanya musuh. Colosseum bagi gladiator-gladiator masa kini yang bertarung hanya bagi kepentingan sendiri, dan tak ingin tau-menau nasib manusia lain. Ini kota, terlebih Jakarta, yang jadi pertaruhan hidup orang-orang satu negeri ini. Baliho-baliho pun sebenarnya tak ambil pusing, ia hanya berdiri disitu dan pamer, sambil sesekali melirik ketidakadilan yang terlukis dibawah kakinya yang gagah namun kotor.