Aku Kangen Kerouac

Aku kangen Kerouac
Dan jalanan berdebu
Sungai-sungai megah
Lautan lepas

“Avoid the world
it means nothing in the end”
Sihir suara Kerouac
Pada suatu senja

Kerouac dan kita
adalah anak-anak dan petapa
Tak pernah dewasa
Selalu mencari

Kuingat siang di tepian Mentarang
Melumat On the Road
Di bawah terik
Dinaungi ulin-ulin raksasa

Dharma Bums, Book of Blues, Big Sur
Kitab para penggali
Sumur dan sumsum
Kehidupan tak terselam

Detik ini
Paras Kerouac membayang
Di balik tugas-tugas kantor
Dan otak yang kusut

(1 Juni 2015)

Big Sur

Bagi saya Big Sur adalah sebuah epik. Tak banyak cerita yang membuat bulu kudukmu merinding saking bagusnya atau matamu berkali-kali ingin menangis karena indahnya (bukan karena sedih). Big Sur, yang merupakan semi-autobiografi Jack Kerouac, berkisah tentang banyak hal dalam kehidupan sang raja beatnik. Jika sudah membaca On The Road (juga Dharma Bums), membaca Big Sur seperti membaca proses perubahan pada watak Kerouac.

Big Sur adalah daerah cantik di garis pantai California. Ketik frasa Big Sur pada Google Images dan yang akan muncul adalah gugusan bukit dan laut lepas, mengingatkan saya pada Lombok sebelah utara. Tadinya saya pikir Big Sur akan menceritakan perjalanan Kerouac kesana. Namun ini bukan kisah tentang perjalanan gila-gilaan seperti dalam On The Road. Ini ialah cerita tentang pengarang sukses cum tenar yang ingin menyendiri dan kembali ke dekapan alam.

Cerita diawali dengan Kerouac yang mengeluh tiap hari rumahnya diganggu puluhan jurnalis dan anak muda yang penasaran dengan sisi lain kehidupan si raja beatnik. Ketenaran, seperti dipercayai banyak pengarang, adalah hal terburuk dalam sebuah proses kreatif. Kerouac mengalami dan menyadari itu, maka ia ingin melarikan diri dari sorot kamera wartawan dan teriakan pemujanya. Ia kemudian pergi ke Big Sur, ke kabin milik kawannya.

Alur cerita dalam Big Sur sebenarnya biasa saja. Kerouac pergi ke Big Sur, menginap tiga pekan, lalu bosan dan kembali ke kota. Lantas ia bersama teman-temannya kembali ke Big Sur beberapa hari, lalu pulang lagi ke kota. Lalu ia kembali untuk kali ketiga bersama beberapa kawannya lagi dan cerita selesai. Yang indah dan ajaib dalam Big Sur, seperti biasa, adalah ide yang ditumpahkan Kerouac, terutama saat ia sendirian di Big Sur.

Banyak hal dipikirkan dan ditumpahkan Kerouac. Mulai dari perilaku turis-turis Amerika yang mengunjungi Big Sur, perubahan budaya perjalanan di Amerika yang mulai ragu untuk memberi tumpangan pada hitchhiker, kematian kucing peliharaan Kerouac yang membuatnya depresi, persahabatannya dengan Neal Cassady yang disadarinya muncul karena keduanya sama-sama Katolik yang taat, dan beragam ide lain.

Saat membacanya, saya seperti mengenal Kerouac lebih dalam. Saya merasa tahu persis ide itu lahir dari sosok yang seperti apa. Ide-ide itu hanya bisa lahir dari kepala seseorang yang terbiasa merenung, berkelana seorang diri, kecewa dengan kehidupan, dan menghayati ajaran Buddhisme tanpa melupakan dogma Kristiani. Big Sur dengan kesederhaannya menghadirkan kompleksitas yang sangat memesona.

Di bagian-bagian terakhir, Kerouac mengisahkan dimana dirinya diliputi kekalutan dahsyat. Ia benci dan kecewa dengan dirinya sendiri, ia sedih dan seperti tercerabut dari sekitarnya. Lantas ia tak bisa tidur karena dihantui anxiety yang tak tertahankan. Bagian tak bisa tidur ini mengingatkan saya pada malam pertama saya di Sumba. Saya terjaga sepanjang malam karena diliputi kegelisahan yang aneh dan tak biasa.

Namun, segala kegelisahan pada diri Kerouac itu akhirnya hilang dalam satu momen yang ajaib. Dia tertidur di kursi dan mendadak segalanya menjadi normal. Segala bayangan buruk di kepalanya sirna. Ia menjadi enteng dan bahagia seperti sediakala. Big Sur akhirnya ditutup dengan sempurna: something good will come out of all things. And it will be golden and eternal just like that. There’s no need to say another word.

Surat untuk Kerouac

Hai Jack. Apa kabar di surga beat-mu?

Terlalu banyak omong kosong disini. Orang-orang terlalu menekan, terlalu menghimpit dari segala arah. Manusia memang tak berubah, masih sama seperti jamanmu, masih terlalu mengurusi orang lain. Aku bilang ‘terlalu’. Mengurusi mungkin boleh, tapi batas-batas harusnya dipahami.

Ya, seperti kubilang, manusia tak berubah. Hanya gumpalan kesia-siaan yang seragam dan mesin robot yang patuh. Tapi disini hari ini, banyak warna-warni. Sayang itu hanya bagian dari sebuah keseragaman juga. Ya hari ini, apa yang kau cita-citakan tampaknya tercapai, hanya menjadi keterlaluan. Orang-orang merasa rebel, beat, pemberontak, punya hak atas dirinya, lalu tampil berbeda, melenceng, melanggar aturan, bergaya layaknya kau dan siapa kawanmu itu, ah ya Neil.

Namun sayang, mereka terlalu banyak dan seragam. Hingga aku menduga mereka hanyalah bentuk ketololan lain dari keseragaman, hanya kini bentuknya warna-warni, bentuknya hippies, bentuknya pemberontak, bentuknya non-seragam. Ya semacam nonkonformitas yang konformis. Omong kosong, bukan?

Aku tak tahu kapan gerombolan ini berhenti dan kapok, lalu berhenti berpura-pura menjadi semacam kau atau Guevara. Kasihan mereka. Hanya mainan konsumerisme dan gaya hidup dan jaman yang bebal. Mereka tak ubahnya parade sebuah generasi yang kecewa dengan tradisionalisme dan konservatisme orang tua mereka (ya seperti gagasan beat sialanmu). Lalu mereka mencari cara membobol apa yang mereka kecewakan itu.

Sayang, sekali lagi sayang, mereka cuma kedangkalan yang tak berarti. Hanya kerumunan yang terdesak, mau tak mau mengikuti sekitar, mereka tak mengerti apa yang mereka buat, lakukan, hirup, pakai, baca, dengar, dan bicarakan. Mereka, kebanyakan, tak sampai ke dalam. Hanya permukaan yang dangkal.

Jadi kau jangan senang dulu, nonkonformitas disini bukanlah nonkonformitas yang kau harap. Hanya bualan. Hanya rekaan. Hanya luaran. Kau harus cek ke kedalaman dan tahu seberapa ketololan itu mengakar. Namun sayang, kebebalan adalah sesuatu yang cepat menyebar seperti virus di musim hujan. Maka, hari ini disini, dunia adalah serangkaian omong kosong yang tak ada habis, barisan ketololan yang terlalu besar untuk ditabrak. Tak ada lagi kedalaman, tak ada lagi penghargaan atas kedalaman.

Keduanya tak ada gunanya. Hari ini, yang penting adalah bergaya, dan menjadi berbeda. Meski dengan otak yang tolol, jiwa yang dangkal, dan hati yang bebal.

Terima kasih Jack, inilah omong kosongku. Mungkin aku sudah menjadi bagian dari jaman dan kerumunan ini.

NB: Omong-omong, hari ini aku selalu iri setiap melihat foto orang mati. Fotomu termasuk.