Hesse

Saya mendadak kangen sama Hermann Hesse. Penyair, novelis, dan pelukis asal Jerman itu. Dan tiba-tiba saya mengingat kalimat-kalimatnya, salah satunya: some of us think holding on makes us strong, but sometimes it is letting go. Saya adalah pengagum setianya, meski Hesse bukan penulis yang bisa dibaca, apalagi disukai, oleh semua orang.

Tapi ada yang membuat kelu saat mengingat kutipan di paragraf di atas. Seperti ada yang tertabrak, dan terhimpit, oleh jendela-jendela waktu. Seakan ada yang meniup ke dalam lorong gelap menuju kalender-kalender yang terlanjur robek. Dan ada yang membuat bungkam, pasrah, dan hanyut dalam keadaan-keadaan itu. Keadaan yang bak campuran sopi dan calpico.

Mengingat Hesse adalah mengingat kemuraman, tapi juga cercah cahaya. Tokoh-tokohnya selalu tampak sayu dan kelam, tapi disitu ada sinar, ada berkas lampu yang memberi secuil terang. Dan mengagumi Hesse adalah mengagumi keburaman, negatif, pesimisme, dan segala yang serba-hitam. Namun, sepertinya hanya itu jalan menuju matahari.

Ketika merenung kutipan di atas, seakan ada yang menjebak untuk memilih: kau some yang mana? Oleh karena itulah ini seperti tabrakan. Ada suatu bagian yang mengamini some pertama, tapi juga tak menampik some kedua. Seperti ada sumbu yang siap meledak dan memuntahkan keping-keping kenangan, rindu, dan ulu hati yang koyak.

Segalanya selalu kabur, selalu abu-abu, selalu abstrak. Layaknya permukaan sungai yang keruh dan penuh lipatan, penuh bahaya, penuh jeram menganga di bawah, yang tak putusnya mengalir dan mengalir, melintas desa-desa yang bobrok dan pepohonan yang tumbang. Sungai itu bermuara pada apa yang transenden dan elok.

Rumah

Where are we really going? Always home.

Demikianlah kata-kata penyair Novalis yang saya temukan di novel Hermann Hesse, Journey to the East. Novel yang saya pikir merupakan usaha pelarian sang novelis menuju tempat yang orang sebut dengan “timur”. Entah apakah “timur” itu? Mungkin hanya sebatas mata angin atau mungkin lebih dari itu, mungkin menuju perenungan atas hancur leburnya Eropa pasca perang dunia.

Hesse menulisnya bagai fiksi yang tumpah dari imajinasinya. Sebuah petualangan imajinatif sang penulis menuju “timur”. Petualangan penuh cerita yang mungkin cara Hesse untuk menghindari bunuh diri. Ya dengan menulis orang bisa hindari bunuh diri. Semua alasan untuk menghabisi nyawa sendiri hilang seketika dalam padang tulisan yang tercurah di atas kertas putih bersih yang jadi kotor, penuh ide dan aksara.

Tapi saya tak ingin berpikir tentang Hesse atau novel itu secara keseluruhan. Saya tertarik pada kutipan Novalis yang saya tulis di awal tadi. Katanya, “tiap jiwa yang pergi selalu menuju rumah.” Kini pikiran ditarik oleh kata ‘rumah’. Apakah ‘rumah’ itu? Sekedar bangunan tempat bernaung melindung diri dari ketidakpastian alam? Atau suatu suasana, yang dicipta dan tercipta untuk sebuah keharmonisan, untuk kedamaian?

Dan ‘rumah’ dalam kutipan itu tak bisa lepas dari kata ‘pergi’. Saya mencium bau sebuah proses pencarian akan imaji ‘rumah’. Pencarian ini mungkin sering dialami oleh mereka yang suka berkelana, berpergian, mencari dunia, memandang bumi-bumi bagian lain. Para pengelana dan petualang yang tak punya rumah dalam pengembaraannya tersebut pun dihujani kerinduan akan bayangan ‘rumah’.

Mereka yang berupaya keluar dari kenyamanan kamarnya dan mencari ketidakpastian hidup di luar rumah, namun ternyata mendamba ‘rumah’ dalam perjalanannya. Oleh karenanya, mereka, para pengelana ruang itu umumnya tak betah untuk tinggal hidup dalam suatu tempat dalam rentang waktu yang lama. Paling tidak hanya hitungan hari, atau minggu jika mungkin, tergantung masing-masing persona.

Dalam menetap sementara di suatu tempat, mereka mencari ‘rumah’, dan berharap tempat mereka menetap sementara itu bisa menjadi ‘rumah’. Tapi ternyata tidak. Oleh karenanya mereka pergi lagi dan mencari tempat lain yang mereka harap lagi untuk jadi ‘rumah’. Tapi gagal lagi. Begitulah seterusnya hingga proses petualangan sebenaranya hanyalah proses menemukan ‘rumah’, mendapatakan rasa nyaman dan betah untuk bernafas didalamnya.

Pada suatu titik, setiap perjalanan akan menemu titik ujung. Entah itukah ‘rumah’ yang sebenarnya mereka tuju, atau mungkin mereka benar-benar kembali ke rumah mereka, menyadari bahwa rumah yang kadang membosankan, kadang dicaci karena dilihat tiap hari, ternyata merupakan tujuan akhir mereka. Muara dari perjalanan mereka, yang berhulu di tempat yang sama.

Where are we really going? Always home.