Generasi

Bahwa yang membikin peradaban ada dan terus berlangsung adalah perang antargenerasi. Tiap generasi punya nilai dan gayanya masing-masing dalam memandang kehidupan dan bentrokan mau tak mau tak terelakkan. Peradaban adalah luka-luka yang timbul dari perang itu, borok yang meletus dari tiap debat dan pergolakan di antara banyak generasi.

Generasi Y, misalnya, adalah hasil dari didikan baby-boomers. Namun, kita tahu bagaimana Gen-Y atau Millennial ini memiliki pandangan yang berbeda dari generasi yang mendidiknya. Demikian juga baby-boomers yang menentang generasi orang tua mereka. Tapi itulah yang membuat peradaban dinamis. Tak ada peradaban tanpa pertentangan itu.

Andai tiap generasi hanya manut pada generasi yang membesarkannya, maka yang ada adalah keseragaman yang sublim. Hasil finalnya adalah kebosanan dan peradaban dianggap habis. Tapi itu tak akan terjadi karena setiap generasi berkecenderungan untuk menentang apa yang orang tua mereka percayai tentang berbagai hal dalam kehidupan.

Setiap generasi punya utang pada generasi-generasi sebelumnya: atas warisan-warisan soal cerita sejarah manusia dan dilematikanya, juga atas sosialisasi yang membuat manusia menjadi manusia. Pula, setiap generasi punya dendam pada generasi sebelumnya atas luka-luka peradaban yang terwariskan dan menjadi beban yang mesti dipanggul.

Yang kita hadapi tiap hari adalah dialektika antargenerasi. Setiap kata yang keluar adalah proses pemikiran sebuah generasi yang mewakili sebuah jaman. Dan, semakin banyak kata akan memunculkan semakin besar potensi peperangan. Disitulah kehidupan berporos dan menemui intinya, bahwa manusia adalah produk yang dipaksa berperang.