Catatan Sebelum Final

Piala Dunia 2014 akan berakhir dalam hitungan jam. Jerman berhadapan dengan Argentina di final. Dua negara besar sepak bola berebut menjadi yang terbaik di negeri suci sepak bola. Perjalanan kedua negara ke Maracana bukanlah jalan yang lempang. Sesekali kerikil sedikit menghalang laju, tapi itu tak cukup untuk terus melesat ke final. Kesuksesan Jerman dan Argentina tak lepas dari keberanian untuk berubah.

Jerman memulai petualangan di Brasil dengan langkah tegap: membantai Ronaldo dan 10 pria Portugal lain. Tapi rupanya empat gol tanpa balas atas Portugal sedikit membikin jemawa. Melawan Ghana, Jerman hanya berakhir imbang. Di laga terakhir, mereka menang tipis atas Amerika Serikat dan memastikan langkah ke 16 besar sebagai jawara grup. Tim atraktif Afrika Utara menanti mereka di babak selanjutnya.

Aljazair mampu membuat Jerman sedikit frustrasi dan memaksa laga berlanjut hingga babak tambahan. Beruntung, dua gol Jerman di 30 menit babak tambahan hanya dibalas satu oleh Aljazair. Dari kemenangan yang susah payah itu, Joachim Low akhirnya belajar. Melawan Prancis di perempat final, Low kembali ke cara lama. Phillip Lahm ia tempatkan di pos bek kanan. Selain itu, striker murni Miroslav Klose ia pasang di ujung tombak.

Kadang sejauh apa pun kita berkelana dan bereksperimen, kita menemukan kesejatian di rumah, di tempat asal. Demikian pula Jerman. Dua perubahan yang tampak regresif itu justru membuat Jerman perkasa bukan main. Low sadar sudah bukan waktunya lagi untuk main-main. Maka, Prancis mereka usir dari Brasil lewat skor tipis. Meski Jerman tak bermain atraktif di laga itu, mereka tampak lebih kokoh dan dewasa.

Menghadapi tuan rumah Brasil di semifinal, Low mempertahankan tim yang ia pakai melindas Prancis. Hasilnya adalah sejarah yang kekal dan tak butuh penjelasan macam-macam.

Berbeda dengan Jerman yang tergabung di grup yang relatif ketat, Argentina masuk grup mudah. Hanya berisi Iran, Bosnia, dan Nigeria. Mereka keluar sebagai juara grup dengan nilai sempurna, tapi penampilan mereka jauh dari harapan. Tanpa tuhan bernama Leo Messi, Argentina bisa saja menjadi pecundang. Mereka selalu menang dengan hanya selisih satu gol melawan tiga negara semenjana di jagat sepak bola itu.

Di 16 besar, Argentina berjumpa Swiss, tim dengan pertahanan yang lumayan solid. Terbukti, Argentina perlu menunggu hingga menit ke-118 untuk mencetak gol kemenangan. Susah payah menang atas Swiss, Argentina berbenah. Sama seperti Jerman, pelatih Alejandro Sabella menemukan momentum untuk berubah dan bangkit pada babak 16 besar. Di perempat final, hasilnya berbuah manis.

Persis Jerman, Argentina kembali ke sesuatu yang lebih klasik. Juga melibatkan dua pemain. Sabella menggantikan Federico Fernandez dengan Martin Demichelis, serta Fernando Gago dengan Lucas Biglia.  Demichelis dan Biglia menjadi kartu as Sabella dan Argentina dalam mengandaskan Belgia di perempat final, lalu menyingkirkan Belanda di semifinal. Lini belakang Argentina yang dikritik sebelum turnamen, justru menjadi kekuatan utama.

Dengan segudang pengalaman, Demichelis menjadi tembok kokoh bersama Ezequiel Garay. Biglia, meski mungkin kurang terlihat, adalah sosok yang mematikan kreativitas Belgia dan Belanda. Ia sosok yang membunuh Eden Hazard dan Wesley Sneijder.

Di final, kedua tim yang menemukan wahyu di perdelapan final dan tak segan menatap ke belakang akhirnya bertemu. Baik Jerman maupun Argentina memberi contoh paling sahih bahwa untuk berubah dan bergerak maju, berjalan mundur dan menengok masa lalu bukan hal yang haram. Terkadang, hal-hal paling mendasar dan penting didapat dari sesuatu yang dianggap usang. Keberanian untuk memilih yang usang itulah yang tak mudah.

Advertisements

Matador

Selesai sudah pesta Afrika Selatan 2010.

Afrika menahbiskan Spanyol sebagai raja. Di sana, Matador menghabisi nyawa Belanda yang sempurna sejak babak kualifikasi. Adalah sebuah gol Andres Iniesta yang menangisi ribuan manusia berbaju oranye. Gol yang didekasikan untuk Dani Jarque, pemain Spanyol yang meninggal setahun sebelumnya, dan tentu seluruh rakyat Spanyol.

Belanda gagal ketiga kalinya, Spanyol sukses besar di final perdananya. Sekaligus, Matador mengawinkan trofi Piala Eropa yang diambilnya dua tahun lalu di Austria.

Tim Matador memang tampil memesona malam itu, di atas rumput stadion Soccer City di kota Johannesburg. Ratusan juta orang jadi saksi kepiawaian bakat-bakat Spanyol memainkan Jabulani yang meresahkan banyak orang itu. Mereka tegas memainkan identitas mereka, Tiki-taka. Sebuah model permainan sepak bola gaya Spanyol yang memainkan bola dengan umpan dari kaki ke kaki, sabar dan tak terburu-buru. Spanyol pun menjadi tim yang tampil dengan gaya personalnya di tengah tren pragmatisme yang tengah melanda sepak bola dunia.

Spanyol pun tegas membuktikan bahwa piala bisa dibeli dengan sepak bola indah. Tak melulu dengan sepak bola pragmatis yang cenderung negatif dan membosankan. Termasuk Belanda, juga terkena virus pragmatisme. Sepak bola ‘total voetbal’ yang diagung-agungkan mereka tak tampak belakangan ini. Berganti dengan sepak bola yang mengutamakan hasil saja. Bahkan di final, Belanda tegas menunjukkan itu. Buktinya tentu adalah 7 kartu kuning dan sepotong kartu merah untuk Johnny Heitinga.

Lain dari itu, Spanyol memang fantastis. Kalah di partai perdana kala ditekuk Swiss (yang juga memainkan sepak bola negatif), mereka tak terbendung di laga-laga selanjutnya. Menjadi juara grup, Spanyol lalu mengalahkan Portugal di 16 besar. Kemudian Paraguay dan Jerman dipulangkan satu per satu di babak perempatfinal dan semifinal. Puncaknya adalah ketika Iker Cassilas mengangkat trofi Jules Rimet dengan kebanggaan tak terperi, dengan pemandangan bendera Spanyol (dan sebagian Catalan) dikibarkan oleh tangan-tangan fans.

Matador keluar arena dengan gembira, tentu dengan iringan tepuk tangan fans mereka plus pengagum sepak bola indah nan menghibur.

Espana, campeones del mundo.