Fake Travel

Fake travel ialah sebuah produk dari jaman yang lapar akan eksistensi dan hilang arah dalam jalan panjang menemu identitas. Ini adalah perwujudan paling banal dari manusia-manusia post-industri yang masih menyimpan persoalan tentang eksistensialisme dalam masa dimana Sartre dan Camus dibaca hanya dalam kicauan.

Sejak awal, perjalanan wisata memang terkait dengan upaya manusia menempatkan diri dalam masyarakat. Perjalanan wisata pra-modern dilakukan kaum kaya yang berduit untuk menjelajah tempat-tempat asing demi menambah pengetahuan. Dan kita semua tahu, pengetahuan adalah jarak antar kelas dalam masyarakat.

Veblen, nama yang banyak dikutip dalam kajian tentang leisure dan gaya hidup, menuliskan dengan jitu bahwa leisure (termasuk perjalanan wisata) dilakukan dengan mencolok untuk menggambarkan posisi sosial. Karya yang terbit tahun 1899 itu pun masih relevan saat ini, sekaligus menunjukkan bahwa peradaban seolah berjalan di tempat.

Lalu muncullah jaman ini dan lahirlah berbagai rupa media sosial: Instagram, Path, Twitter, Facebook, dsb. Beragam media tersebut pelan-pelan menyandingkan diri dengan televisi dan media cetak sebagai institusi di masyarakat (post) modern. Yang terjadi setelahnya adalah polusi kata-kata dan warna-warni aksi pamer yang ekstatik.

Bersamaan dengan itu, berbagai bentuk gaya hidup naik ke permukaan. Traveling salah satunya. (Tentu ada alasan kenapa frasa ‘traveling’ lebih sering dipakai dibanding ‘jalan-jalan’, sama seperti ‘running’ daripada ‘lari’. Oh inlander). Perjalanan wisata lalu mengalami perubahan bentuknya yang paling populer dan juga paling nahas.

Satu sisi positif dari hal ini adalah demokratisasi perjalanan wisata, bahwa traveling kini bukan lagi mainan kaum kaya raya. Masyarakat biasa, dengan beragam variasinya, bisa melakukan tamasya ke tempat-tempat turistik itu. Perjalanan wisata melepaskan dirinya dari elitisme dan bergerak ke pelukan masyarakat massa.

Namun, pada segala yang bersifat ‘massa’ akan selalu ada kecurigaan terhadap pengkhianatan. Ketika sesuatu menjadi lahapan massa, ia akan kehilangan bentuknya yang asli, yang mungkin bernilai luhur, menjadi bentukan yang palsu, yang mungkin sengaja dibuat seseksi mungkin demi menarik minat seluruh konsumen budaya massa.

Terlalu banyak contoh yang menunjukkan keabsahan gejala itu. Namun, ketika saya mendengar ‘jalan-jalan palsu’ yang dilakukan seorang temannya teman, saya kehabisan kata-kata. Seakan ada yang menjerat lidah. Apalagi ketika mendapat cerita dari seorang kenalan lain yang mengenal beberapa orang yang melakukan hal serupa.

Sederhananya, fake travel adalah aktivitas di media sosial dimana seolah-olah seseorang sedang melakukan perjalanan. Kata ‘seolah-olah’ menggambarkan bahwa orang tersebut sebenarnya tidak kemana-mana. Hanya foto di Instagram atau Path, atau kicauan di Twitter, yang mengatakan dia sedang jalan-jalan. Kenyataannya berbeda.

Misal, seseorang mem-posting foto sebuah tempat yang indah di Italia, dengan caption berbau neo-liberalisme seperti ‘you rule your life, let’s travel around the world’. Termasuk dengan geo-tagging palsu yang menunjukkan dia sedang berada di tempat itu. Padahal, dia hanya sedang duduk santai di sofa empuk di ruang tamunya.

Kebohongan semacam ini hanya bisa terjadi di era digital, plus di masyarakat yang menyedihkan dimana kebebasan hanyalah konsep di atas kertas. Tekanan sosial dari keluarga, pekerjaan, sekolah, masyarakat, dan sebagainya membuat manusia-manusia itu hanya sanggup mengabadikan kebebasan dalam layar smartphone-nya.

Entah apa alasan pasti di balik aktivitas palsu itu. Dugaan kasar saya, pencarian identitas memiliki peran penting dalam pilihan perilaku tersebut. Orang-orang itu mendamba sebuah identitas dan jati diri tertentu yang tak mampu dimilikinya, dan terlalu memaksakan diri hingga akhirnya memilih menjadi penipu yang licin dan menyedihkan.

Meski terlalu banyak pesimisme dan negatif dalam tulisan ini, sebenarnya saya tidak menyalahkan mereka, para pelaku fake travel. Mereka toh hanya bagian unik lain dari masyarakat di millennium ketiga ini. Tak ada yang salah, mereka hanya berbeda. Lagipula mereka hanya korban dari jaman yang amburadul ini. Kasihan.

Menjadi Nothing

“I’m sick of not having the courage to be an absolute nobody.” -J.D.Salinger

Saya lupa baca dimana, tapi kira-kira seperti ini: banyak yang keliru dengan eksistensialisme, yang terpenting justru menjadi nothing. Kalimat ini seakan menabrak mereka yang tengah berlari, mencari, dan memberontak, mengupayakan kebebasan, demi menjadi manusia seutuhnya. Katanya, itu tak lebih penting dibanding menjadi bukan apa-apa.

Di tengah hiruk pikuk penuh euforia ini, di kerumunan massa yang terlalu ambisius untuk menjadi cool dan rebel, di barisan orang-orang yang menuju light in the end of tunnel, di masa dimana vox motivator vox dei, di jaman ketika menjadi muda dan pengusaha dan gak lulus kuliah itu keren: memilih menjadi nothing adalah kemungkinan yang sulit ditempuh.

Dari dalam gedung sekolah dan gereja kita diajari untuk menjadi sukses, kaya, dan mapan. Seiring waktu, oleh media sosialisasi lain, kita disuruh lulus dari universitas bagus, punya keluarga yang sakinah, membesarkan anak-anak soleh, membeli mobil (kalau bisa dua), liburan ke luar negeri, dan mengikuti perkembangan jaman beserta gadget-gadgetnya.

Terakhir, kita didorong untuk memberontak dan bebas.

Semua seakan membentuk khaos yang tak putus-putus, membikin murung, dan membuat kita bertanya-tanya sebenarnya jaman apa yang sedang kita hidupi ini. Semua itu melahirkan pusing di kepala tentang harus menjadi ini dan itu, baiknya punya abc sampai xyz, tapi juga harus terus merasa free as a bird dan menjadi Che Guevara kecil-kecilan. Gila.

Pula, kita diharuskan punya mimpi-mimpi raksasa, mewujudkan dengan pantang menyerah seperti Oprah, tapi tetap hip laiknya Steve Jobs, dan tak perlu khawatir kalau punya masa kecil payah kaya Einstein. Pokoknya kita harus bermimpi. Tidak ada apologi untuk mereka yang kecut dan tak punya ambisi, apalagi mereka yang hanya ingin jadi orang biasa.

Hingga di satu titik, kita semua lelah berlari dan berkejaran menuju angkasa. Kaki-kaki kita mulai bengkak dan bisulan, mata kita sembab. Kita lantas sadar menjadi debu dan tanah ialah kemungkinan yang selalu fifty-fifty dan semua ini sebenarnya cuma kesia-siaan. Saat itu kita tahu bahwa menjadi biasa itu luar biasa dan menjadi nothing adalah segalanya.