Deventer-Zwolle (2)

Tiba di Zwolle, matahari tampak kian terang.

Saat berjalan ke arah centrum, saya mendapati sebuah museum gagah berdiri di hadapan bioskop tua. Dari tangga-tangga di depan museum, saya mengamati sepeda-sepeda yang dijejer sembarang di dinding bioskop. Sebuah bar ada di sebelahnya. Hari masih sore. Bar belum terisi. Saya melewatinya dan bergegas jalan lebih dalam ke jantung kota.

Centrum demi centrum telah saya jalani. Dan saya membayangkan sebuah dunia yang membosankan. McDonalds, H&M, Primark, Subway, dan merek-merek lain mendominasi pusat kota. Di Zwolle, kenyataan yang sama saya dapati. Saya jadi membayangkan Wageningen yang tenang, yang pusat kotanya tak diisi H&M atau McDonalds. Hanya sekumpulan kios yang namanya tak familiar, dan beberapa bar yang tak pernah terlalu sesak di akhir pekan.

Tapi, Zwolle kota yang asyik. Saya bisa menciumnya dari udaranya. Seperti ada yang sudah selesai di sini. Saya duduk santai di dekat kanal dengan kapal-kapal yang terparkir di sana. Matahari membanjiri retina dengan sinarnya, juga memanggang kulit wajah yang bosan digilas beku musim dingin. Waktu seperti melambat di bangku kayu panjang itu, di pinggir sebuah kanal.

Saya sempat berpikir untuk menonton bioskop di sana. Tapi jadwalnya tak pas. Terlalu malam, pikir saya di depan loket bioskop. Saya membatalkannya. Saya melanjutkan jalan kaki. Pada sebuah persimpangan, seseorang menyetop saya. Jalannya tampak gontai, matanya tampak sayu. Dia menanyakan letak coffee shop. Kebetulan saja saya baru melewatinya dan menunjukkan arahnya.

Di depan stasiun, saya mampir sebentar di Albert Heijn untuk sepotong croissant coklat. Gelap pelan-pelan jatuh di Zwolle. Udara kian dingin. Saya menggigil sedikit. Kereta tiba beberapa menit sebelum 18.30. Saya ingat karena hari itu saya menggunakan tiket promo khusus NS. Stasiun-stasiun terlewat. Perlahan Ede-Wageningen muncul di jendela.

(Selesai)

Post-scriptum: Keesokan harinya saya kembali ke meja tempat saya biasa mengerjakan tesis. Kalimat-kalimat meluncur dengan gegas, dengan bebasnya. Kata demi kata, paragraf demi paragraf. Pada akhirnya, saya tahu bahwa berhenti sejenak adalah bagian dari perjalanan. Seperti halnya tanda koma dalam kalimat. 

Deventer-Zwolle (1)

Ada kalanya writer’s block tiba di depan mata.

Seperti sebuah Senin yang kelabu di Wageningen. Saya membuka dokumen-dokumen tesis. Membaca-baca transkrip, field notes, dan artikel-artikel guna mencari inspirasi untuk menyusun temuan. Tapi, seperti ada batu bata yang menghalangi. Layar komputer seperti menatap balik dan mengernyitkan dahinya.

Pagi hingga sore berlalu. Tak sepatah kata pun tuntas oleh keyboard. Microsoft Word menganga. Putih bersih. Seperti ada yang keliru. Saya duduk berjam-jam untuk sebuah kekosongan. Beberapa menit lamanya saya keluar ke danau dekat kampus untuk menyegarkan pikiran, tapi writer’s block itu nyata.

Esoknya saya meliburkan diri dari tesis. Percuma jika hanya duduk di depan komputer dan tak menulis apa-apa. Saya berangkat ke Deventer untuk sebuah vakansi mini, semacam eskapisme dari tesis yang berontak untuk menulis dirinya sendiri. Lagi pula, apa yang lebih indah dari break di tengah pekan?

Langkah saya terayun ringan saat keluar stasiun Deventer dan berjalan ke arah centrum. Seperti flaneur, saya hanya melihat-lihat. Toko ini dan itu. Di salah satu toko itu, saya mampir membeli kaos kaki untuk Christal. Lalu, saya berjalan lebih jauh lagi. Sesekali berhenti di depan toko buku atau kios cd musik.

Deventer punya gemeente yang cukup asyik. Sidik jari warganya menjadi bagian dari arsitektur. Saya ingat di dalam gementee saya sempat duduk beristirahat, lalu matahari tiba-tiba muncul. Segar rasanya. Matahari musim dingin. Lalu saya berjalan ke arah sungai. Kapal-kapal tampak lalu lalang di perairan.

Apa lagi yang saya ingat dari Deventer? Menyantap kapsalon, duduk di bangku pusat kota sambil menikmati keramaian manusia (matahari bersinar hari itu, sehingga orang-orang keluar rumah), dan konstruksi jalanan di dekat stasiun. Selebihnya saya hanya berlalu-lalang, seperti turis yang mencari entah apa.

Kemudian saya ke Zwolle.

(Bersambung)