Pariwisata Pasca-Corona: Utopia

Saya pribadi melihat corona sebagai onto-epistemological proposal for radical futures.

Yang ia tawarkan sebenarnya adalah interupsi: atas rutinitas, atas bumi yang mau meledak oleh asap-asap di pabrik-pabrik sialan yang membayar upah buruh dengan kurang ajar, atas pariwisata yang berlebihan.

Kadang saya sedih ketika negara dan media menyuruh kita untuk ‘memerangi’, ‘melawan’, atau ‘mengalahkan’ corona. Seperti sebuah spanduk di perempatan Sagan, pada suatu siang yang murung di Yogyakarta.

Apanya yang dilawan, ketika yang harusnya dilawan adalah hasrat manusia yang masuk ke hutan terdalam, membabat pohon-pohon, dan membiarkan virus-virus zoonotic terkejam subur di mana-mana, semata-mata karena habitatnya dirampas homo erectus postmodern.

Tapi ini mungkin karena saya kebanyakan membaca risalah-risalah more-than-human ontology, antropologi multispesies, atau geografi posthumanist. Sehingga yang saya pikirkan adalah frasa-frasa semacam ‘learning to live with virus’ atau ‘corona as nonhuman agency’.

Hal-hal semacam itu tak perlu ditelan, semata-mata karena itu tak penting. Menyitir Makhfud Ikhwan di Mojok, yang terpenting saat ini cuma bahasa medis! Bahasa lain, entah itu sastrawi atau filsafati, tak ada artinya di dunia yang separuh kiamat ini.

***

Kalimat-kalimat di atas hanya pengantar. Semacam sekapur sirih.

Yang ingin saya utarakan sebenarnya adalah proposal yang utopis, tentang dunia perjalanan dan pariwisata setelah pandemi corona – seandainya ia memang benar-benar bisa berakhir. Utopia itu penting, meskipun tidak realis, karena ia memberi cercah harapan, yang meski kecil, memberi kita alasan untuk hidup setidaknya satu siang lagi. Besok.

Yang pertama saya bayangkan adalah runtuhnya cara berpikir kapitalis-neoliberal dalam melakukan perjalanan dan mengorganisir pariwisata. Bahkan, kalau bisa, semuanya diserahkan saja ke commune masing-masing. Kita tak perlu industri dan kementerian yang mengurusi pariwisata, karena dua-duanya toh tidak penting.

Meminjam Higgins-Desbiolles dkk. (2019), pariwisata harusnya dikembalikan ke ide awalnya soal keramahtamahan (hospitality – hospitaliti yang sebenarnya, bukan yang industrial) dan koneksi. Untuk itu, pariwisata perlu didefinisikan ulang sebagai voluntary hosting, menerima tamu/turis/wisatawan/pejalan secara sukarela dan sukacita.

Dengan semangat semacam itu, kita mengembalikan hal-hal yang luput dibicarakan ketika kita sibuk membahas, mengulik, dan menjual turisme sebagai industri. Hal-hal itu mencakup hubungan antarmanusia, kesetaraan lokal-tamu, dan keramahan yang sejajar. Tamu bukan untuk dilayani sebagai orang-yang-memberi-uang, tapi karena ia manusia.

Libido industri, pembangunan pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi selama ini tak peduli soal detil-detil subtil semacam itu. Ketika pariwisata disusun dan diorganisir sebagai industri yang kapitalistik, yang penting cuma uang, kapital, dan bagaimana cara mengakumulasi keduanya. Di situ manusia mati, kita cuma sekrup-sekrup yang menjalankan mesin kapitalisme.

Lalu, tugas pejalan/turis pun bukan lagi mengonsumsi. Kita bukan konsumen, bung. Kita itu orang. Tugas orang itu mengasihi satu sama lain, bukan membeli pengalaman, atraksi, atau omong kosong turistik lain. Mengubah paradigma dari konsumen menjadi bukan-konsumen ini penting, karena kita akan tahu bahwa perjalanan itu proses menjadi manusia, bukan menjadi manusia jadi-jadian yang bisanya cuma jalan-jalan, selfie, dan update Instagram.

***

Pandemi ini harusnya memberi kita perenungan bahwa 1) diam di rumah itu mungkin dan 2) negara/kota/wilayah mampu menutup ruang spasial masing-masing dari gerombolan pendatang, entah itu turis, pencari konten medsos, atau tukang dagang. Selama ini, retorika disusun seolah-olah traveling itu tak terhindarkan. Corona membuktikan semua itu nonsens.

Overtourism akan jadi sejarah setelah ini. Kita tak akan lagi mendengar kota-kota yang ditinggal penghuninya karena gedung-gedung di pusat kota dijadikan airbnb. Kita tak akan lagi melihat turis yang berkerumun seperti cacing kepanasan. Bukan karena traveling tak ada lagi, tapi karena kita tahu ada batas untuk segenap kegilaan ini.

Nafsu untuk menaklukkan bumi, alam, atau lanskap pun bakal lenyap tak berbekas, sebab pandemi corona menyadarkan kita bahwa aktor-aktor non-manusia bukan hanya ada di komik dan klenik. Gunung berapi menginterupsi. Tsunami juga. Demikian pula virus dan bakteria.

Dan karena kita telah sadar itu, kita jadi respek pada apa-apa yang bukan manusia. Arogansi kita sebagai manusia, yang berpikir dan berakal, akan musnah. Corona membuat kita jadi nothing!  Jika setelah wabah ini usai masih ada yang sok-sokan mau menaklukkan puncak x atau negara y, mungkin ia perlu dikarantina lebih lama. Karena badannya sehat, otaknya lock down.

Pada akhirnya, kita punya pejalan yang asyik dan perjalanan yang menekankan pada proses, bukan hasil (fotografis). Pariwisata telah dikemas sebagai interhuman/interspecies relationship, dalam rangka saling memahami budaya dan kebiasaan berbeda, serta bentang alam yang tak sama, di rumah sendiri dan di rumah orang. Ingat, destinasi itu rumah orang, bukan tempat buang mayat.

Dan, yang terbaik adalah kita tak punya lagi lembaga-lembaga pariwisata yang tak diperlukan, yang sok-sokan mengatur apa-apa yang sebenarnya bisa diurus secara kekeluargaan, keakraban, dan perasaan saling memiliki (sense of belonging) sebagai umat manusia. Salam sapta pesona.

Corona

Corona adalah tanda tanya yang menganga di depan muka.

Ia telah memberi kita banyak pertanyaan, tanpa jawaban. Juga banyak perenungan. Kita jadi bertanya-tanya apa makna dari perjalanan-perjalanan ini, jika ia hanya berakhir sebagai pandemi? Haruskah kita berangkat pulang ke rumah, dan tinggal diam selamanya di hutan-hutan terdalam di jantung ibu?

Kota-kota menjadi sepi. Isolasi dan solidaritas membentuk paradoksnya di tengah pandemi ini. Kita memahami bahwa kolektivitas dan individualitas itu bukan kontradiksi. Ia adalah semacam paket yang utuh. Kita bertanya-tanya tentang apa guna sendiri sendirian tanpa sendiri ramai-ramai?

Setelah ini, filsafat baru akan tumbuh di pusat bumi. Kita akan memahami biologi dengan mata berbeda. Makhluk hidup bukan-manusia, pada akhirnya, telah menjadi agensi yang menginterupsi kerakusan kita, yang memangkas hutan hingga ke akar-akar, hingga virus-virus paling jahat mekar di kota.

Di tengah karantina ini, sebenarnya kita diberi waktu untuk bertanya. Kita terlalu sibuk mengakumulasi, sehingga lupa menerka coreng di muka sendiri. Bagaimana caranya iklim bisa berkelahi dengan takdirnya sendiri? Haruskah kita berhenti berpergian dan duduk manis mengisi teka-teki silang di bibir teras?

Selama ini, demonstrasi telah gagal menghentikan pabrik, juga diktat-diktat tebal Marxisme. Tapi, sebuah virus telah menciptakan revolusinya sendiri. Ia datang tanpa undangan, dengan sebuah dor! yang bising. Huru-hara di supermarket. Huru-hara di kepala. Segulung tisu toilet muncrat dari mulutku.