Waisak

Saya membayangkan sosok Siddharta di bawah pohon bodhi. Ia akhirnya mencapai nirvana. Segala perenungan dan usahanya melawan hasrat duniawi berakhir pada surga. Namanya lalu menjadi abadi, memiliki banyak pengikut yang kemudian dilabeli sebagai agama Buddha. Tiga hari yang terkait dengannya kemudian diperingati sebagai Tri Suci Waisak. Pengikutnya berdoa dengan khusyuk di hari-hari itu.

Tapi kemudian datanglah turisme. Arus deras industri waktu luang menjadikan Waisak menjadi festival yang gegap gempita, perayaan yang memabukkan, pencarian status sosial, kegilaan yang ditaruh persis di atas kesucian Waisak. Biksu-biksu yang sedang berdoa dengan khusyuk terpaksa terganggu oleh berisik penonton dan silau jepretan kamera. Semua yang sakral akhirnya menjadi keping-keping.

Demikianlah hidup di jaman yang rakus, tempat konsumsi menjadi sentral. Semua yang ada, kalau bisa dimakan, termasuk tanda-tanda, terutama yang mendatangkan keuntungan, material maupun sosial maupun kultural. Maka berbondong-bondonglah menuju festival Waisak di candi yang tenar itu. Lengkap sudah: budaya antik, candi nan fotogenik, serta keramaian yang asik. Mampus.

Semua menjadi kompilasi dari hasrat untuk menjadi eksis dan tangan panjang industri. Waisak tetaplah Waisak, tapi festivalisasi dan turisfikasi karenanya adalah pembunuhan yang menikam jantung Siddharta. Semua yang diajarkannya menjadi lenyap tepat di hari-hari sucinya. Tak ada lagi ketenangan jiwa dan pelepasan hasrat. Pada hujan di candi itu, yang ada tinggal air mata Sang Buddha.