The Jamaican Pele

Jamaika selama ini sangat erat dengan Bob Marley, sang musisi reggae yang kharismatik, berambut gimbal, dan menghisap ganja. Marley mungkin bisa disebut sebagai manusia tersukses asal dunia ketiga. Meski hidupnya singkat dan telah mati sejak lama, namanya senantiasa abadi.

Menyoal kisah hidup Marley, banyak sosok penting yang tak bisa dikesampingkan dari kecemerlangan karir sang Rastaman. Dari sekian banyak nama yang menyokong keberlangsungan karir musik Marley, salah satunya adalah seorang pesepakbola. Nama pesepakbola itu ialah Allan “Skill” Cole.

Cole lahir pada 14 Oktober 1950 dan tumbuh besar di lingkungan kelas pekerja di Kingston, ibukota Jamaika. Karir Cole adalah sebuah ironi yang aneh. Ia sebenarnya bakat yang hebat, namun karirnya tak pernah benar-benar cemerlang. Kehebatan Cole jelas tercermin dari nama tengah yang diberikan publik baginya, Skill. Tentu ada alasan khusus yang membuat ia disebut Skill. Di Jamaika sendiri, Cole disamakan dengan Pele yang pada masa itu sedang jaya-jayanya.

Bagi Jamaika, Skill Cole adalah sejarah. Ia adalah pesepakbola termuda yang pernah mengenakan seragam tim nasional Jamaika. Ia melakukannya saat Reggae Boyz menghadapi klub Brazil, Atletico Portugueso pada 1966. Saat itu ia mengenakan seragam hitam-hijau-emas bernomor 8 di usianya yang baru 15 tahun 4 bulan.

Kisah sukses Cole di usia yang masih sangat ranum dimulai oleh tahun-tahun cemerlang yang ia lalui di level sekolah. Bersama Kingston College, Campion College, dan Vere Technical, Cole sukses mecuri perhatian berkat kemampuan umpan dan visi bermain yang brilian. Bakat Cole lalu tercium oleh klub asal Amerika, Atlanta Chiefs yang kala itu bermain di North American Soccer League. Hanya bertahan dua tahun di Atlanta, Cole lantas kembali ke Jamaika untuk memperkuat Real Mona dan Boys’ Town.

Awal lompatan besar lain dalam karir Cole muncul saat ia memperkuat Boys’ Town. Dalam pertandingan persahabatan melawan klub Brazil, Nautico, Cole membuat para pengurus Nautico jatuh hati. Pada tahun 1971 pergilah Cole ke Brazil dan menjadi pebola Jamaika pertama mendatangani kontrak profesional di Brazil. Satu tahun sebelumnya, Brazil berhasil menuarai Piala Dunia di Meksiko. Boleh dibilang bahwa Cole ada di waktu yang tepat untuk bermain bersama Pele, Jairzinho, Gerson, Tostao, dan bintang-bintang lain yang mengantar Brazil menjadi juara dunia untuk kali ketiga.

Namun karir Cole di Brazil terhitung singkat. Setelah sempat mengantar Nautico ke liga kasta teratas untuk pertama kali dalam 12 tahun, Cole pulang kampung. Cerita yang beredar mengatakan bahwa pelatih Nautico meminta Cole untuk mencukur rambut gimbalnya, sedang versi lain mengatakan Cole dianggap terlalu malas dan pelatih tak suka dengan kebiasaannya menghisap ganja. Ya, sama dengan Marley, Cole adalah penganut Rastafarian yang taat. Sebagai bagian dari kepercayaan itu, Cole juga menggimbal rambut dan menghisap ganja. Sebagai Rasta yang patuh ia menolak permintaan pelatihnya itu dan memilih kembali ke Jamaika.

Sepulang dari Brazil, Cole memperkuat klub lokal Santos FC. Bagi fans sepakbola lokal di Jamaika, periode karir bersama Santos inilah yang terbaik selama karir Cole. Disana ia mempersembahkan 3 gelar juara liga nasional untuk klub yang nama dan logonya terinspirasi dari klub Brazil bernama sama yang diperkuat Pele selama 18 tahun. Salah satu landmark yang dikenang publik Jamaika tentang Cole adalah saat Santos berhadapan dengan klub Amerika, New York Cosmos, dalam sebuah partai persahabatan di National Stadium. Saat itu Cosmos kebetulan diperkuat oleh maestro bernama Pele yang sedang menghabiskan sisa karirnya. Dalam pertandingan itu Cole dan kawan-kawannya di Santos berhasil mengalahkan Cosmos beserta Pele dengan skor 1-0. Sebuah memori indah yang sampai saat ini dikenang publik Jamaika.

Setelah itu, karir sepakbola Cole cenderung redup. Ia lebih dikenal sebagai road manager sahabatnya, Bob Marley. Ia terlalu sibuk untuk bermain bola karena harus mengikuti Marley kemana pun, termasuk dalam tur-tur ke Eropa, Amerika, dan Afrika. Terlebih di tahun-tahun itu karir bermusik Marley justru sedang gilang gemilangnya, sampai maut merenggut dirinya pada tahun 1981.

Dia akhir 1970-an, selama 3 tahun Cole sempat menetap di Ethiopia untuk menebalkan kepercayaan rastafarinya. Disana ia sempat melatih tim nasional Ethiopia sembari meningkatkan spiritualitasnya. Di Ethiopia, sama dengan di negeri asalnya, nama Cole pun dikenang secara positif. Tahun 1980, Cole lalu kembali ke Jamaika untuk menjadi manajer bagi tur terakhir Bob Marley.

Saat upacara pemakaman Marley, Cole sempat membikin cerita. Sebagai salah satu sahabat Marley, Cole diminta untuk maju ke panggung seremoni dan membacakan ayat kitab Mazmur 68. Namun dengan baju khas Rastafari yang dipakainya, Cole justru membacakan ayat-ayat dari kitab lain yang membuat kaum Rastafari bersorak-sorai. Pejabat gereja lalu menyuruhnya untuk turun panggung, namun Cole menolak dan melanjutkan membaca ayat-ayat Rastafarian itu hingga selesai. Ia kemudian turun dan duduk dengan diiringi riuh tepuk tangan banyak orang.

Setelah kematian Marley, Cole sempat bermain bola lagi. Kemudian dia menjadi pelatih bagi beberapa klub lokal di negaranya, namun ia tak pernah sesukses saat menjadi pemain. Namanya sempat terlupakan beberapa tahun lamanya sampai pada 2010 lalu ia diberikan plakat oleh Presiden FIFA, Sepp Blatter, atas kontribusinya bagi perkembangan sepakbola di Jamaika.

Kehidupan Cole adalah mosaik yang indah, hingga kita bingung harus menyebutnya siapa dan menggambarkannya seperti apa. Bob Marley menyebutnya sebagai teman yang hebat dan orang kepercayaan. Dan untuk menghormati nama tengahnya rasanya tak salah jika kita, seperti halnya publik Jamaika, menyebutnya: The Jamaican Pele.

NB: Pernah tayang di Define Football. Ditampilkan kembali dengan tujuan merawat informasi yang siapa tahu berguna bagi seseorang di luar sana.

Kata-kata

Saya merasa berutang pada beberapa orang, atau banyak orang, yang membuat saya sadar kembali. Termasuk kepada Seno Gumira Ajidarma ketika ia menuliskan bait yang terlampau indah ini.

“Alangkah mengerikannya menjadi tua dengan kenangan masa muda yang hanya berisi kemacetan jalan, ketakutan datang terlambat ke kantor, tugas-tugas rutin yang tidak menggugah semangat, dan kehidupan seperti mesin, yang hanya akan berakhir dengan pensiun tidak seberapa.”

Bait itu saya temui di suatu pagi di Facebook. Saya jatuh hati. Bahkan sampai mencetaknya, menaruhnya di bawah kaca di meja belajar. Saya ingin kata-kata itu menjadi pengingat. Siapa tahu suatu waktu saya mengingkari diri sendiri dan menjadi orang yang disindir kata-kata Seno di atas.

Bersamaan dengan itu saya jadi ingat pada masa-masa awal kuliah. Saya punya binder, semacam buku catatan yang jarang digunakan mencatat. Di bagian depan binder itu saya sisipkan kertas bertuliskan “DON’T WORRY ABOUT A THING, EVERYTHING’S GONNA BE ALRIGHT.”  Sejak SMA saya begitu suka kata-kata itu. Dan mungkin saja akan membuat tahun-tahun kuliah lebih santai.

Lalu di bagian belakang binder, kertas lain saya sisipkan. Kali ini merupakan sobekan halaman 97 bab XIV dari buku Tagore berjudul Masa Kecil. Satu kalimat saya highlight dengan stabilo warna ungu: “Sebagian orang ditempa sampai berbentuk dalam pabrik-pabrik pembelajaran dengan buku, dan ini semua dianggap sebagai barang-barang dagang unggulan di pasar.”

Saya lupa hubungan dua sobekan kertas itu. Tapi saya ingat betul dulu keduanya begitu esensial. Saya meletakan dan memilihnya berdasarkan alasan-alasan yang sok filosofis. Demikian pula ketika saya menaruh kutipan Seno. Saya menaruhnya dengan kesepahaman yang mewakili opini personal. Menganggapnya sebagai nats kitab suci yang tak boleh dilupa.

Tapi suatu waktu kata-kata Seno mungkin akan pudar tintanya, akan luntur pula maknanya bagi kehidupan. Saya tak ambil pusing soal yang di depan. Jika toh demikian, bukankah ada kata-kata lain lagi yang akan jadi pengingat atau nats untuk kehidupan di hari depan?

Ende

Suatu siang saya dan seorang kawan perjalanan berambut gondrong dan kusut berjalan tak jelas arah. Tujuan kami mencari tahu dokter di kota kecil ini dan mengetahui letak gereja serta jam ibadahnya. Di bawah terik yang menyengat kami berjalan cukup jauh, lalu kemudian menaiki angkot untuk menyerah pada matahari.

Setelah tahu dimana dokter dan letak gereja, kami menuju salah satu landmark paling tenar di Ende: rumah pengasingan Bung Karno. Sayang, kami datang di hari minggu. Bangunan bersejarah itu sepertinya diliburkan, atau mungkin kami yang kurang beruntung karena kebetulan penjaganya sedang tidak ada. Entahlah.

Kami lalu menuju tempat lain yang masih berhubungan dengan Soekarno. Dengan berjalan pelan dan agak payah, kami mencapai taman renungan Bung Karno. Semacam taman kota yang rindang dan teduh, yang konon di salah satu pohon disitulah Bung Karno senang merenung, mungkin tentang kehidupan, mungkin tentang Pancasila.

Berdasarkan cerita sejarah, Ende memang sering dicap sebagai rahim Pancasila. Akibat kebiasaan merenung di salah satu pohon disana, Bung Karno mendapat ilham soal ide Pancasila. Cerita selanjutnya adalah sejarah. Pancasila abadi hingga kini, bahkan saat pohon bersejarah itu sudah mati dan diganti dengan pohon dari bibit lain.

Saya memandangi areal Bung Karno merenung itu. Sebatang pohon yang dipagari tembok, entah untuk apa, pengingat atau sekat. Saya membayangkan Bung Karno sedang duduk diatasnya, atau dibawah rimbunnya, dengan pandangan ke arah lautan, memikirkan tentang ini dan itu, tentang negara, cinta, perempuan, Flores, Tuhan, dan segalanya.

Dalam proses itu mungkin saya agak merinding, saya lupa. Tapi yang tak akan bisa saya lupa adalah: kepala saya tiba-tiba saja memutar Redemption Song milik Bob Marley, dan bibir saya tanpa perintah pun berkumandang pelan. Saya tak percaya kebetulan. Maka ketika Soekarno dan Redemption Song bersatu padu, maka itulah takdir.

Sebelum beranjak pulang, saya menengok sekali lagi ke arah pohon itu. Saat itu imajinasi saya makin liar. Saya masih melihat Soekarno tertegun dengan tatapan kosong penuh pikiran. Disampingnya seorang berambut gimbal menyanyikan lagu usang sambil menghisap mariyuana. Ah, para pemberontak, para pembebas.

Menyitir Marley

Pada tahun 1977, atau 4 tahun sebelum meninggal, Bob Marley merilis album berjudul Exodus. Album ini merupakan salah satu yang terbaik yang pernah dikeluarkan pria Jamaika itu. Dalam album itu, Marley menyertakan sebuah lagu yang lirih yang kemudian menjadi anthem bagi siapa saja yang sedang menantikan datangnya cinta. Judul lagu tersebut adalah Waiting In Vain.

“I don’t wanna wait in vain for your love” membuka lagu tersebut. Siapa pula yang ingin penantiannya sia-sia? Lagu ini sepertinya pesimistis jika kita kita tak cermat. Tapi kemudian Marley menyanyikan, “but the waitin feel is fine.” Menunggu rupanya bisa juga mengasyikan, meski kadang perasaan bosan membunuh pelan-pelan. Ini soal menikmati sesuatu yang tak pasti.

Saya tak tahu pasti latar belakang Marley menuliskan lagu ini. Mungkin lagu ini berangkat dari pengalaman pribadinya. Jika benar, Marley rasanya orang yang sabar: “cause if summer is here, I’m still waiting there, winter is here, and I’m still waiting there.” Menunggu berarti rela tubuh dan jiwa digerogoti rasa lelah yang seketika bisa membikin menyerah. Jadi, ini soal kegigihan.

“It’s been three years since I’m knockin on your door, and I still can knock some more. Oh girl, oh girl, is it feasible?’ Marley sepertinya mulai letih dan mulai bertanya yang tidak-tidak: apakah semua penantian ini layak, apakah ini semua akan berhasil?  Tapi ia tak peduli, tetap mengetuk pintu, dan mengemukakan alasan: “in life I know there’s lots of grief, but your love is my relief.”

Sayang di akhir syair sepertinya sang penanti mendapat kecewa, “it’s me love that you’re running from.” Cinta yang ditunggu itu rupanya berlari menjauh, penantiannya itu rupanya benar-benar menjadi sia-sia. Maka jadilah Waiting In Vain menjadi lagu wajib bagi mereka yang patah hati. Akan lebih perih lagi jikalau lagu ini sedikit digubah: “I do wanna waiting in vain for your love.”

Reggae

Bicara tentang reggae tak akan terlepas dari sosok Bob Marley, legenda Jamaika. Entah dari mana reggae benar-benar berasal, tapi klaim dunia telah resmi menunjuk Marley sebagai orang yang bertanggung jawab akan hadirnya reggae. Mengalun perlahan dari Jamaika menyusur ke lautan Karibia, menuju Amerika dan Eropa hingga diam menyusup ke setiap telinga penduduk dunia. Reggae tentu tidak hanya tentang tangga nada dan melodi. Atau tidak hanya tentang dentuman drum yang khas, kekuatan pada permainan bas, atau sentuhan dari alat musik tradisional yang menampilkan reggae lebih berciri. Cerita tentang reggae tentu lebih dari sekedar musik. Seperti diawal tertulis, bicara reggae sama dengan bicara tentang Marley.

Reggae adalah paradoks yang indah. Di dalamnya tersimpan nuansa damai nan menyentuh khas pantai-pantai Karibia, namun juga memiliki aroma pemberontakan yang menggebu-gebu ala tentara revolusioner. Reggae identik dengan teriakan perjuangan atau lebih tepatnya teriakan putus asa penuh belas kasihan milik orang-orang kulit hitam Jamaika. Orang-orang yang didatangkan jauh-jauh dari Afrika hanya untuk menjadi budak. Seiring kolonialisme Inggris yang semakin menyiksa, mereka mulai berpikir untuk berontak. Salah satunya dibawah komando Bob Marley, melalui musiknya yang menghipnotis dan membakar gelora orang-orang tertindas itu. Reggae yang dilantunkan Marley ibarat mars. Mungkin juga seperti aba-aba yang menggerakan Jamaika untuk mengusir kekejaman Inggris yang mencoreng keindahan negeri eksotis itu. Isi dari tembang Marley memang banyak yang berisi ajakan untuk memberontak, tidak diragukan lagi. Ya, memang reggae (seperti halnya punk di Inggris) identik dengan rebellion.

Dimana unsur damai pada reggae? Tengok kepada tujuan pemberontakan! Demi terwujudnya perdamaian di Jamaika dan juga di seluruh dunia. Reggae sarat dengan itu semua: perdamaian, cinta kasih, persamaan hak, persatuan. Mungkin cara yang memang diperlukan saat reggae mulai menggema adalah dengan pemberontakan. Pemberontakan atas orang-orang yang duduk manis di atas kursi penguasa. Manusia yang lebih berkuasa seolah buta. Imbasnya mereka sama sekali tak melihat penderitaan rakyat yang mereka bunuh pelan-pelan, rakyat yang sebenarnya saudara mereka juga hanya mungkin berbeda warna kulit.

Terbukti bahwa diskusi tentang reggae tak akan pernah terlepas dari sosok Marley. Semua cerita di atas tak akan terjadi bila tidak ada Marley yang menjadi aktor penting di balik gerakan pemberontakan dan ajakan damai di seluruh dunia tadi. Marley sanggup membawa Jamaika pada akhirnya menuju pintu kemerdekaan. Tak hanya sampai disitu. Pesannya melalui reggae tetap hidup sampai saat ini. Pesan tentang perdamaian dan cinta kasih yang hingga sekarang memang belum terwujud sempurna. Marley mungkin bersedih di atas sana, mungkin sambil memetik gitarnya dan bernyanyi reggae.

Gimbal

Rambut gimbal adalah bentuk yang menyedihkan dari gaya rambut manusia. Masih banyak sebenarnya gaya yang lebih manusiawi, indah, dan tak kusut. Tapi gimbal bukan sekedar gaya, mungkin sebuah cerita. Gimbal bercerita tentang semangat perbedaan yang memungkinkan pemiliknya memiliki ciri yang jauh berbeda dari kebanyakan orang berambut normal.

Gimbal mungkin identik dengan kemiskinan atau ketidakwarasan. Mungkin benar, meski belum tentu. Gimbal adalah sejarah tentang Afrika. Orang-orang Afrika berkulit hitam lebih sering hidup dalam bayang-bayang penindasan, bahkan ketika berada dalam wilayah yang mereka anggap tanah air mereka. Keberadaan orang-orang Afrika ini kemudian menjadi semacam sarana eksploitasi bagi orang-orang yang menginginkan imperialisme dan kolonialisme.

Sejarah kemudian menuliskan tentang sebuah kisah getir di Jamaika dimana banyak orang-orang asal Afrika hidup. Termasuk Bob Marley yang memperkenalkan rambut gimbal lebih luas lagi ke seluruh dunia melalui ketenarannya. Keputusan Marley menggimbal rambut tak hanya sekedar sebagai gaya, tapi juga konsekuensi akan keputusannya memeluk rastafarian sebagai kepercayaannya. Sebuah aliran kepercayaan asal Afrika yang menyuruh pengikutnya menggimbal rambut disamping ritual lain yang tak kalah terkenal, menghisap ganja. Aliran ini memang sangat dekat dengan nuansa alami, termasuk gimbal yang dirasa alami karena memang dibentuk apa adanya. Mengusut dan terikat silang dengan sendirinya.

Versi lain di Jamaika adalah tentang Marcus Garvey, orang yang mendirikan gerakan Back to Africa. Sebuah gerakan kembali ke tanah asal akibat kekecewaan akan kolonialisme yang memberatkan kehidupan imigran Afrika. Ia dengan lantang kemudian memerintahkan seluruh pengikut gerakan dan simpatisan untuk menggimbal rambut. Alasannya adalah untuk membedakan diri dengan orang kulit putih yang menjajah mereka. Mereka tidak ingin sama dengan orang kulit putih yang mereka anggap jahat dan tidak berprikemanusiaan.

Jelas kemudian bahwa gimbal bukan hanya sekedar gaya rambut yang identik dengan orang gila atau musisi reggae pengikut Marley. Gimbal punya cerita yang lebih dari sekedar itu. Cerita tentang kedekatan dengan alam dan proses alamiah, cerita tentang pembentukan ciri, dan juga cerita tentang kebanggaan kaum kulit hitam.

Bagaimanapun gimbal harus disikapi dengan kritis pula. Penelitian medis menuliskan gimbal tidak baik bagi fungsi otak. Tapi gimbal tetaplah warna warni kehidupan yang unik, yang membuat hidup tidak membosankan. Orang-orang yang menganggap dirinya bersih patut mencermati gimbal tak hanya dari sisi yang menjijikkan tapi dari sisi yang cerah, dimana gimbal menawakan nilai-nilai hidup yang tak hanya sekedar kemewahan, uang, atau kekuasaan.

Marley

Terlahir dengan nama Robert Nesta Marley, putra jenderal Inggris dan wanita Jamaika ini kemudian besar dengan nama Bob Marley. Seorang yang mengguncang dunia musik internasional dengan cara yang berbeda, tak lazim, namun dikenang sepanjang masa.

Bob Marley adalah fenomena internasional yang abadi, bagi saya sama dengan The Beatles. Kisahnya seperti tak ada habisnya. Pesonanya membius jutaan penggemarnya. Kharismanya luar biasa. Belum lagi bicara tentang perannya terhadap kehidupan politik negaranya, juga tentang pilihannya menghisap ganja sebagai penganut ajaran rastafari.

Berawal dari jalanan Trench Town, Marley remaja mulai berkenalan dengan dunia musik. Perkenalannya sederhana, sesederhana keputusannya menenggelamkan diri di musik dan meninggalkan bangku sekolah. Tak ada yang salah jika menuruti kata hati, seperti kata orang bijak. Keputusannya tepat, meski jalan yang dilalui penuh aral melintang. Bersama teman-temannya seperti Peter Tosh dan Bunny Livingstone, Marley membentuk sebuah band. Nama band mereka sempat berganti-ganti, hingga dapat nama yang pas, The Wailers.

The Wailers mengusung musik khas Jamaika, mungkin ska tapi agak berbeda. Dengan dentuman bas yang khas juga pukulan drum yang berbeda, ditambah alat musik tradisional berbentuk seperti gendang, mereka memainkan jenis musik baru. Waktu berlalu, hingga kemudian orang banyak menyebutnya reggae. Bob Marley otak dibalik The Wailers kemudian dianggap sebagai orang yang bertanggung jawab atas lahirnya reggae.

Formasi The Wailers bergonta-ganti namun Marley sebagai pemimpin tetap di tempat. Akhirnya tercetus menggunakan nama “Bob Marley and The Wailers”. Nama mereka awalnya hanya bergema seantero Jamaika, lalu meluas sampai ke Amerika dan akhirnya diterima secara internasional. Musik reggae pun perlahan mulai mendengung damai di telinga orang-orang di seluruh dunia.

Mirip seperti punk di Inggris, reggae memang identik dengan pemberontakan. Itu kemudian yang juga terjadi di Jamaika yang saat itu sedang dalam belenggu kolonialisme Inggris. Rakyat berontak ingin kebebasan. Marley seolah hadir sebagai pemimpin mereka dengan keahliannya dalam musik. Hingga akhirnya Jamaika benar-benar merdeka, dan Inggris keluar dari Jamaika. Tak hanya dalam kehidupan politik negaranya, Marley juga hadir sebagai duta sebuah aliran kepercayaan khas Afrika, Rastafari. Mungkin kita sebut saja Marley sebagai nabi ajaran ini. Sebuah ajaran yang menyembah Jah sebagai Tuhan, juga menghisap ganja sebagai ritual disamping menggimbal rambut.

Dengan hiasan-hiasan politik dan religi tadi, Marley jadi sosok berbeda di panggung musik dunia. Dia seolah punya ciri yang mungkin tak dimiliki musisi lain di seluruh dunia. Kita cek: orang Jamaika, gimbal, penganut ajaran “aneh”, dan berpengaruh dalam kehidupan politik negaranya. Kharismanya memang tak bisa ditolak siapapun. Lagu-lagunya menjadi hits di berbagai negara. Puncaknya, album Exodus menjadi album nomor satu sepanjang masa versi majalah TIME.

Karier Marley yang cemerlang ternyata tidak panjang. Dia pergi meninggalkan dunia pada usia yang relatif masih produktif, 36 tahun. Kebiasaannya menghisap ganja lambat laun mengganggu kesehatannya. Berbagai penyakit diam ditubuhnya, hingga kanker otak dengan komplikasi lainnya membunuhnya. Karir Marley selesai namun karya-karyanya masih menghipnotis jutaan orang hingga saat ini, menjadi inspirasi anak-anak negaranya, dan pasti menjadi role model setiap musisi reggae dunia.