Menari di Utara

Disclaimer: Catatan kecil ini saya tulis untuk mengingat dan merawat bulan-bulan yang berlalu di Belanda. Saya menaruh catatan ini dalam kerangka berpikir poskolonial dengan menghayati posisi saya sebagai ‘anak dari periferi’ yang belajar di ‘metropole’. Mengabaikan relasi dan esensi historis-poskolonial semacam ini adalah separah-parahnya penyangkalan diri.

Yang paling problematik dari situasi poskolonial adalah orientalisme internal. Kira-kira begitu yang dikatakan Brickenridge dan Veer (1993) dalam Orientalism and the Post-colonial Predicament: Perspectives on South Asia. Narasi-narasi orientalis telah ditulis di utara sejak lama, dan anak-anak selatan belajar menyerapnya utuh-utuh. Maka, kengerian itu tiba: self-orientalism. Kita membaca diri sendiri dengan cara yang telah diajari utara/barat. Lupakan kemerdekaan. Orientalisme telah menjadi darah yang mengalir di nadi-nadi kita, tepat di bawah kulit sawo matang kita. Kita adalah orientalis berkulit coklat.

Di kampus-kampus Belanda – juga di negeri-negeri utara lain – anak-anak selatan duduk di kelas dengan ketegangan-ketegangan poskolonial yang kadang tak diacuhkan. Wageningen, misalnya, dihuni mahasiswa dari ratusan negara, termasuk berbagai negara selatan. Orang-orang dari dunia kedua dan ketiga berkumpul dan merajut harapan di dunia pertama. Anak-anak Yunani, Spanyol, dan Italia paham betapa brengseknya ekonomi dan politik di dalam negeri masing-masing. Pantai, pizza, dan siesta tak cukup. Neoliberalisme ala Eropa Barat adalah destinasi. Brussels adalah kenyataan brutal yang tak bisa dibendung.

Lalu, anak-anak dari Asia, Afrika, dan Amerika (yang bukan Serikat). Disini kita menikmati kemewahan-kemewahan dunia yang kita sebut ‘modern’, ‘beradab’, dan yang paling penting, ‘maju’. Kita terpesona oleh ‘kecanggihan’ ala metropole: transportasi, pendidikan, kesehatan, dan lain sebagainya. Sistem-sistem ala utara membuat kita merenungi betapa tengiknya negara yang kita tinggalkan di selatan sana; betapa ringseknya sendi-sendi kehidupan sehari-hari di periferi sana. Sayangnya, banyak dari kita yang lupa bahwa sebenarnya kita sedang membaca selatan dengan kacamata utara; dengan mengabaikan fakta bahwa pengalaman historis-sosiokultural utara dan selatan tak sama; dengan menelan mentah-mentah narasi soal modernitas, pembangunan, kemajuan, dan omong kosong lainnya.

Pada catatan kecil ini, saya sebenarnya ingin mengajak untuk berkaca dan bertanya tentang dua hal besar: kebudayaan dan relasi poskolonial metropole-periferi. Saya ingin membaca keduanya dengan menengok acara-acara ‘kebudayaan’ yang saya amati di utara, dan dengan merenungi betapa melelahkannya (dan mencurigakannya) wacana bernama kosmopolitanisme.

‘Budaya Indonesia’: Pertunjukan dan pemuasan gairah orientalis

Dekolonialisasi, kata del Arco (2017), harusnya jangan dilihat sebagai proyek tapi sebagai everyday ethics. Tapi, bagaimana bisa mendekolonialisasi pikiran di tengah gairah orientalis/kolonial yang tak kunjung redup? Di utara, benturan itu nyata dalam wujud ‘budaya’. Entah berapa kali saya melihat poster di linimasa Facebook tentang pentas seni budaya Indonesia. Tentu saja, yang dijual adalah Indonesia ‘tradisional’; kebudayaan yang diserap dari daerah-daerah, lalu dipayungi label ‘budaya Indonesia’; dan kita menyuapi orang-orang kulit putih itu dengan eksotisme. Ini 2018 dan yang eksotis masih dicari: tubuh-tubuh sawo matang yang berlenggang-lenggok di depan meneer-meneer; suara-suara yang keluar dari alat-alat musik berbentuk aneh; dan makanan berbau rempah-rempah timur – alasan 350 tahun yang mengerikan itu.

Jadi, ketika perkumpulan-perkumpulan pelajar menghelat acara-acara ‘budaya’ di metropole, yang secara tidak langsung terjadi adalah pemuasan gairah kolonial. Kita terbang dari jauh ke ‘pusat’ untuk mereproduksi colonial psyche. Penjajahan telah selesai, buat sebagian orang; tapi residu-residunya masih bisa kita cium hari ini. Realitas poskolonial ada dimana-mana, di selatan dan utara. Kita mungkin mengingat tempat-tempat di Indonesia dimana budaya lokal dipertontonkan, dimodifikasi, dikomodifikasi, direifikasi, didangkalkan, dan dikomersialisasi untuk memuaskan nafsu turis-turis pirang itu. Di Eropa, pada hari-hari akhir pekan, hal yang sama kerap terjadi. Oposise biner itu pun terjaga: selatan adalah budaya, utara adalah sains; utara adalah penonton, selatan adalah tontonan; selatan adalah objek, utara adalah subjek.

Jika orientalisme masih sahih dibicarakan hari ini, maka kita adalah aktor kunci. Seperti yang saya tulis di awal, yang paling mengerikan dari realitas poskolonial adalah self-orientalism. Kita mengorientalisasi diri sendiri (self). Orientalisme internal ini bisa didasari banyak hal. Dalam konteks pariwisata, misalnya, self-orientalism kadung diterima sebagai normalitas. Dokumenter Framing the Other menunjukkan bagaimana suku Mursi di Etiopia menyesuaikan diri terhadap gairah orientalis turis-turis Belanda atas nama uang. Saat orang-orang Eropa itu mendekat ke desa, mereka sibuk memasang atribut-atribut ‘budaya’, supaya terkesan ‘etnik’, ‘primitif’, dan ‘tradisional’. Kita bisa berkaca dan harusnya sepakat bahwa hal yang sama terjadi dimana-mana. Indonesia, yang kaya budaya, tak luput dari pertunjukan/drama turistik semacam itu.

Jadi, dengan cara berpikir ini, pentas ‘budaya’ Indonesia di utara hanyalah pengejewantahan self-orientalism. Retorikanya bisa macam-macam. Seperti suku Mursi, uang bisa jadi satu alasan; yang berarti ‘budaya’ telah menjadi komoditi. Beberapa lainnya memakai retorika bernama ‘pelestarian budaya’, ‘mengenalkan budaya Indonesia’, ‘memamerkan kekayaan budaya’, dan sebagainya. Retorika-retorika semacam itu memang masuk akal, entah untuk alasan praktikal atau ideologis. Masalahnya, ketika kita menganggap semua itu ‘masuk akal’, kita sebenarnya telah kehabisan paradigma di luar narasi-narasi orientalis. Kita sudah kehabisan cara untuk berpikir di luar yang telah diajarkan/diarahkan metropole.

‘Kosmopolit dan internasional’: Dua jebakan

Untuk memahami bagaimana self-orientalism dalam wujud pertunjukan ‘budaya’ dinormalisasi, saya menganjurkan kita menengok ke persoalan kosmopolitanisme dan internasionalisasi. Wageningen bisa menjadi studi kasus yang menarik. Dalam satu video Youtube, seorang mahasiswa menyebut Wageningen sebagai ‘the most cosmopolitan village in the world’. Wacana-wacana semacam ini, buat saya pribadi, terlanjur menjadi basi. Sejak awal masa orientasi, rektor sudah menyebut ‘atmosfer internasional’ sebagai keunggulan universitas. Memang tak ada yang bisa mengelak dari kenyataan itu. Ribuan mahasiswa dari ratusan negara menghuni desa kecil kami. Adalah di Wageningen saya berkesempatan bertemu manusia dari Kazakhstan, Lithuania, Guatemala, Rwanda, Suriname, dll. ‘Internasional’ adalah mantra yang tak habis-habisnya saya dengar hingga penghujung masa studi ini.

Apa yang terjadi pada pertemuan, dialog, atau interaksi internasional adalah pertukaran budaya. Dalam hal ini, budaya bisa mencakup hal-hal yang abstrak seperti sudut pandang, cara hidup, atau kepercayaan; juga hal-hal yang konkrit seperti makanan, pakaian, atau bahasa. Di dalam ruang yang di luar ‘sehari-hari’, budaya bisa menyerupai tarian, kesenian, musik, dan lain-lain. Pada titik inilah, ketika ‘budaya’ dipertukarkan dalam sebuah pertemuan internasional, praktik dan narasi soal (self-)orientalisme bisa saja menemukan momentumnya.

Salah satu wujud paling banal adalah One World Week. Di acara tahunan ini, retorika yang muncul di permukaan adalah ‘merayakan keberagaman’, ‘kooperasi interkultural’, ‘berbagi tradisi budaya’, dan sebagainya. Di One World Week, pertunjukan seni budaya menjelma bagian penting. Mahasiswa dari berbagai negara menunjukkan budaya, kesenian, kuliner, dan keunikan masing-masing. Menariknya, berdasarkan amatan saya yang lancang, kebanyakan pementas adalah mereka yang berasal dari negara-negara ‘selatan’; yang budaya dan manusianya kerap diberi label ‘eksotis’. Kecuali Belanda sebagai ‘tuan rumah’, saya kesulitan menemukan ‘budaya’ dari negara-negara ‘barat’ lain; yang kerap kita sebut sebagai ‘negara maju’.

Yang sebenarnya terjadi, kemungkinan tanpa intensi, adalah orang-orang selatan diberi panggung untuk mengorientalisasi diri dan budayanya di hadapan publik ‘internasional’. Semua diamini atas mantra pergaulan internasional, pertukaran budaya, dan kosmpolitanisme (oh kita menjadi warga dunia!). Kita bisa saja curiga bahwa yang dimaksud ‘publik internasional’ sebenarnya didominasi orang-orang barat. Tapi, dalam konteks Wageningen, saya tak ingin mereduksi kemungkinan interaksi selatan-selatan. Kendati begitu, kecurigaan saya pada kosmopolitanisme tetap pada tempatnya. Beberapa penulis telah memakai istilah ‘Wester cosmopolitanism’ untuk merujuk praktik dan ide kosmpolit yang secara epistemik lahir di barat. Tak ada keadilan dan keseimbangan yang bisa diharapkan dari proses epistemik semacam itu.

Ujung catatan

Di catatan singkat ini, saya hanya memberi gambaran sekilas tentang bagaimana anak-anak selatan, termasuk Indonesia, mengorientalisasi dirinya sendiri sesuai dengan apa yang telah ditetapkan narasi-narasi orientalis tentang seperti apa itu oriental, ‘yang liyan’, dan non-barat. Sudah lama saya ingin menulis catatan kritis untuk praktik-praktik self-orientalisme yang saya temui, amati, dan alami selama belajar di Belanda. Pentas seni budaya hanyalah satu sampel untuk mewakili realitas-realitas poskolonial dan interaksi metropole-periferi lain di utara sini. Setiap realitas dan interaksi punya retorika dan logikanya masing-masing.

Secara lebih luas, seperti yang sudah saya sebut di awal, saya hanya ingin mengajak untuk berkaca tentang kenyataan poskolonial yang kita hidup sehari-hari. Residu-residu orientalis/kolonial masih terasa, bukan? Jika kita berusaha menciumnya, iya. Jika tidak, ya tidak. Pengelakan terhadap ketimpangan/ketidakseimbangan relasi metropole-periferi hanya akan berujung pada pengelakan-pengelakan lain. Ujung-ujungnya, praktik-praktik reproduktif terhadap narasi-narasi orientalis/kolonial hanya akan berlanjut tanpa kontrol, tanpa kesadaran, tanpa kritik. Dan selamanya kita ‘kan jadi objek yang ditulis, dan dipertontonkan.

Versi lebih padat tayang disini.

Advertisements

Big City Blues

Well, some people unquestionably weren’t born to be the big city guy. There’s always something intolerable about living in busy urban sphere. I always imagine being in busway and seeing those foreign faces with desperation, vanity, and fatigue. All those expressions turned into some brief yet firm advice: do not live in false routine of this city, brother.

The idea of breathing clear air of less busy and smaller town is constantly fascinating me. What I yearn is simplicity, a life without bullshit and lies and banality. To think so, I must be accused of being victim of romanticism. True or not, I don’t care. What if they are just stupid cowards and helpless slaves of prison-like life of big city. Again, I’ll be accused as romanticist.

However, escaping this fate is not as easy as it seems. Going and living somewhere more peaceful and tranquil are, in fact, not a simple task. I don’t know where it’s been wrong. Yet, I think jail runaway is obviously tricky and dramatic. I remember that famous Shawshank Redemption movie and I guess the path of mine is maybe similar. Who knows.

I don’t know where and when my wish fulfilled, yet. For such desire is now number one driving force of my life, this is just the matter of time and place. Whether suburban of Netherlands or Yogyakarta, whether next year or 2016, it is going to happen. Now, the only things left to do are killing time as brutal as I can and spitting on this pathetic urbanity.

Matador

Selesai sudah pesta Afrika Selatan 2010.

Afrika menahbiskan Spanyol sebagai raja. Di sana, Matador menghabisi nyawa Belanda yang sempurna sejak babak kualifikasi. Adalah sebuah gol Andres Iniesta yang menangisi ribuan manusia berbaju oranye. Gol yang didekasikan untuk Dani Jarque, pemain Spanyol yang meninggal setahun sebelumnya, dan tentu seluruh rakyat Spanyol.

Belanda gagal ketiga kalinya, Spanyol sukses besar di final perdananya. Sekaligus, Matador mengawinkan trofi Piala Eropa yang diambilnya dua tahun lalu di Austria.

Tim Matador memang tampil memesona malam itu, di atas rumput stadion Soccer City di kota Johannesburg. Ratusan juta orang jadi saksi kepiawaian bakat-bakat Spanyol memainkan Jabulani yang meresahkan banyak orang itu. Mereka tegas memainkan identitas mereka, Tiki-taka. Sebuah model permainan sepak bola gaya Spanyol yang memainkan bola dengan umpan dari kaki ke kaki, sabar dan tak terburu-buru. Spanyol pun menjadi tim yang tampil dengan gaya personalnya di tengah tren pragmatisme yang tengah melanda sepak bola dunia.

Spanyol pun tegas membuktikan bahwa piala bisa dibeli dengan sepak bola indah. Tak melulu dengan sepak bola pragmatis yang cenderung negatif dan membosankan. Termasuk Belanda, juga terkena virus pragmatisme. Sepak bola ‘total voetbal’ yang diagung-agungkan mereka tak tampak belakangan ini. Berganti dengan sepak bola yang mengutamakan hasil saja. Bahkan di final, Belanda tegas menunjukkan itu. Buktinya tentu adalah 7 kartu kuning dan sepotong kartu merah untuk Johnny Heitinga.

Lain dari itu, Spanyol memang fantastis. Kalah di partai perdana kala ditekuk Swiss (yang juga memainkan sepak bola negatif), mereka tak terbendung di laga-laga selanjutnya. Menjadi juara grup, Spanyol lalu mengalahkan Portugal di 16 besar. Kemudian Paraguay dan Jerman dipulangkan satu per satu di babak perempatfinal dan semifinal. Puncaknya adalah ketika Iker Cassilas mengangkat trofi Jules Rimet dengan kebanggaan tak terperi, dengan pemandangan bendera Spanyol (dan sebagian Catalan) dikibarkan oleh tangan-tangan fans.

Matador keluar arena dengan gembira, tentu dengan iringan tepuk tangan fans mereka plus pengagum sepak bola indah nan menghibur.

Espana, campeones del mundo.

van Bronckhorst

Tendangan jarak jauh tiba-tiba dilontarkan pemain bernomor 5. Beberapa detik kemudian gawang Uruguay robek. Pemain bernomor 5 itu adalah Giovanni van Bronckhorst, salah satu ‘wakil’ Indonesia di tim nasional Belanda. Dan tendangan yang berbuah gol itu dicetak pada semifinal Piala Dunia 2010, gol pembuka yang akhirnya menghantar Belanda ke final ketiga sepanjang sejarah. Final yang kemudian gagal, lagi.

Dan cerita soal pemain yang biasa disapa Gio ini tak akan sebatas gol tadi. Ini juga cerita tentang hal-hal yang berbau Indonesia, seperti dirinya yang punya aroma Nusantara. Seperti sudah banyak yang tahu, Gio adalah keturunan Maluku. Ayahnya keturunan Maluku dan ibunya memang orang Maluku. Gio pun dikenal memiliki aksen khas orang Indonesia Timur. Namun begitu, dia mengaku belum sempat menghirup wangi udara Indonesia, yang sesak dan gerah. Yang polutif, kotor, dan kelaparan. Lapar akan pengakuan yang berbau positif dan prestatif.

Oleh karenanya ketika Belanda melaju kencang tanpa noda hingga masuk final, dengan Gio sebagai kapten, orang-orang Indonesia ramai menyebut namanya. Menyebutnya dengan bumbu puji dan kebanggaan. Mereka merasa bangga terhadap ‘putra bangsa yang tercuri’. Mereka memujinya setinggi langit, apalagi dengan ban kapten melingkar dilengannya. Sebuah kebanggaan yang mungkin tak terucap, ketika keturunan bangsa terjajah kini memimpin penjajahnya. Dan itulah yang van Bronckhorst lakukan, dengan baik dengan warna. Warna yang menggores langit Indonesia dengan harapan.

Harapan itu tentu berkaitan dengan prestasi sepak bola nasional. Kita tentu rindu punya pemain sekelas van Bronckhorst di dalam tim nasional Merah Putih yang sedang loyo dan nihil prestasi ini. Kita merasa butuh untuk punya ‘Gio-Gio lainnya’ di atas rumput Gelora Bung Karno, yang diharapkan akan mampu melambungkan nama Indonesia. Tak usah hingga final Piala Dunia, minimal hingga sempat masuk Piala Dunia. Sama seperti van Bronckhorst yang telah tiga kali.

Van Bronckhorst adalah gambaran yang menyenangkan sekaligus miris. Gembira karena minimal dia punya darah Merah Putih. Miris karena dia menunjukkan bahwa kita butuh prestasi yang bisa dipandang dunia. Orang-orang Indonesia memujanya bukan hanya karena dia keturunan Maluku, tapi juga karena memang tak ada yang bisa dibanggakan dari negeri ini. Ya semoga saja suatu hari van Bronckhorst yang akan bangga pada Indonesia.