Libre & Licere

Di tengah malam, saat kesulitan tidur, saya terbangun dan melanjutkan bacaan. Saya sedang membaca Handbook of Leisure Studies, tepatnya di bagian yang membahas disiplin ilmu sosiologi dan cultural studies.

Di tengah bacaan saya tertegun saat mendapati bahwa leisure berakar dari kata Latin ‘licere’ yang artinya ‘to be allowed to’. Entah bagaimana pemahaman baru ini membuka cakrawala baru tentang mengapa saya begitu tertarik dengan leisure studies.

***

Saya percaya tiap orang punya pencarian paling esensial di kehidupannya masing-masing: harta, jabatan, keluarga, tuhan, surga, spiritualitas, cita-cita, kematian, dan sebagainya. Dalam kasus saya, pencarian paling besar adalah perihal kebebasan.

Hal itu yang membuat saya berniat membuat tato bertuliskan ‘libre’ suatu hari nanti. Pula, itulah mengapa saya begitu kagum dengan sosok macam Bob Marley, Che Guevara, Jack Kerouac, atau Siddharta Gautama. Mereka adalah orang-orang yang bebas dan pencinta kebebasan.

Pencarian akan kebebasan ini (tanpa disadari sebelumnya) ternyata linear dengan kenapa saya ingin melanjutkan studi di leisure studies. Kita semua tahu leisure berkaitan dengan waktu luang (free time). Ia berbicara tentang bagaimana manusia menghidupi waktu ‘bebas’-nya.

Sekarang, semuanya tampak jelas dan masuk akal. Ada keyakinan yang bulat bahwa apa yang diusahakan selama ini sudah tepat.

Post-scriptum: Catatan ini dibuat melalui handphone pada tengah malam 28 Oktober lalu. Teringat catatan ini setelah membaca bab pertama Labour of Leisure-nya Chris Rojek.

Menjadi Nothing

“I’m sick of not having the courage to be an absolute nobody.” -J.D.Salinger

Saya lupa baca dimana, tapi kira-kira seperti ini: banyak yang keliru dengan eksistensialisme, yang terpenting justru menjadi nothing. Kalimat ini seakan menabrak mereka yang tengah berlari, mencari, dan memberontak, mengupayakan kebebasan, demi menjadi manusia seutuhnya. Katanya, itu tak lebih penting dibanding menjadi bukan apa-apa.

Di tengah hiruk pikuk penuh euforia ini, di kerumunan massa yang terlalu ambisius untuk menjadi cool dan rebel, di barisan orang-orang yang menuju light in the end of tunnel, di masa dimana vox motivator vox dei, di jaman ketika menjadi muda dan pengusaha dan gak lulus kuliah itu keren: memilih menjadi nothing adalah kemungkinan yang sulit ditempuh.

Dari dalam gedung sekolah dan gereja kita diajari untuk menjadi sukses, kaya, dan mapan. Seiring waktu, oleh media sosialisasi lain, kita disuruh lulus dari universitas bagus, punya keluarga yang sakinah, membesarkan anak-anak soleh, membeli mobil (kalau bisa dua), liburan ke luar negeri, dan mengikuti perkembangan jaman beserta gadget-gadgetnya.

Terakhir, kita didorong untuk memberontak dan bebas.

Semua seakan membentuk khaos yang tak putus-putus, membikin murung, dan membuat kita bertanya-tanya sebenarnya jaman apa yang sedang kita hidupi ini. Semua itu melahirkan pusing di kepala tentang harus menjadi ini dan itu, baiknya punya abc sampai xyz, tapi juga harus terus merasa free as a bird dan menjadi Che Guevara kecil-kecilan. Gila.

Pula, kita diharuskan punya mimpi-mimpi raksasa, mewujudkan dengan pantang menyerah seperti Oprah, tapi tetap hip laiknya Steve Jobs, dan tak perlu khawatir kalau punya masa kecil payah kaya Einstein. Pokoknya kita harus bermimpi. Tidak ada apologi untuk mereka yang kecut dan tak punya ambisi, apalagi mereka yang hanya ingin jadi orang biasa.

Hingga di satu titik, kita semua lelah berlari dan berkejaran menuju angkasa. Kaki-kaki kita mulai bengkak dan bisulan, mata kita sembab. Kita lantas sadar menjadi debu dan tanah ialah kemungkinan yang selalu fifty-fifty dan semua ini sebenarnya cuma kesia-siaan. Saat itu kita tahu bahwa menjadi biasa itu luar biasa dan menjadi nothing adalah segalanya.