Ia yang berdiri di antara tiang

Untuk mereka yang berdiri di bawah mistar dan jarang menendang bola dalam sebuah permainan yang dinamai sepak-bola.

Di salah satu tatal dalam ‘Tuhan dan Hal-hal yang Tak Selesai’, Goenawan Mohamad menuliskan bait ini:

Seorang penjaga gawang adalah seorang yang soliter, tapi ia juga seorang yang solider: ia seorang yang paling tersisih tapi ia hadir dalam sebuah kesetiakawanan. Ia mungkin sang kapten kesebelasan, tapi dalam sebuah permainan yang agresif, ia jarang sekali sang pemberi arah, irama, ataupun semangat timnya di medan pergulatan. Ia teramat jauh di garis belakang.

Itu adalah tatal nomor 57 dari total 99. Pada tulisan itu, GM sedang bercerita tentang Albert Camus, “satu-satunya sastrawan yang pernah mengatakan bahwa ia mendapatkan pelajaran moralitasnya dari olahraga”. Lalu ia bicara tentang sedikit pemikiran Camus: l’exil, le royaume, dan pemberontakan.

Memang Camus sendiri ialah seorang penjaga gawang. Dalam sebuah tulisan di Telegraph, Jim White memulai dengan pertanyaan menarik: “Just because Camus was a goalkeeper, does that make all goalies intellectuals?” Tulisan White itu merupakan sebuah ulasan tentang buku Jonathan Wilson berjudul ‘The Outsider: A History of the Goalkeeper’. Judul ‘The Outisider’ itu pun mengingatkan pada salah satu karya Camus, L’Etranger yang diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggris sebagai ‘The Outsider’ (selain juga ‘The Stranger’).

Posisi penjaga gawang, seperti yang dikatakan GM, memang soliter dan solider. Ia adalah seorang yang kesepian dan sendirian. Meski begitu ia tetaplah bagian dari sebuah totalitas, bagian dari sistem yang menempatkannya di belakang, bersandar di tiang, atau sekedar mengamati dalam sebuah permainan yang menyerang. Tanpa kiper, sebuah tim bukanlah sebuah tim, sistem tidak akan berjalan tanpa orang yang rela terasing di kotaknya sendiri. Ia penting, tapi dalam sebuah situasi defensif ia begitu rentan, dan tak jarang menjadi kambing hitam yang dicecar dalam sebuah kekalahan.

Bermain sebagai kiper memang mengandung dilematika tersendiri. Bagaimana pun transformasi peran kiper dalam sepak bola modern (atau post-modern?), seorang yang berdiri di antara tiang adalah seorang yang berbeda, atau sengaja dibedakan.

Dari tampilan luar kita tahu bahwa kiper memakai seragam yang tak pernah sama dengan 10 pemain lain dalam tim. Ia tampak spesial. Sementara itu dalam statistik-statistik, terdapat semacam aturan tak tertulis bahwa kiper tidak boleh disamakan dengan pemain di posisi lain yang masuk dalam kategori outfield player. Ia eksentrik. Dari segi law of the game, kiper senantiasa mendapat perlakuan khusus: boleh memakai tangan di area tertentu, tidak boleh diganggu di wilayahnya, dan sebagainya. Ia eksklusif.

Perbedaan (atau pembedaan) itulah letak dilema penjaga gawang. Benarkah ia spesial? Atau jangan-jangan ia dikucilkan, sengaja diberi baju dan aturan khusus agar rela berdiri terpisah dan menjaga gawang agar tak ada bola masuk, sedang kawan-kawan lain berlarian demi tujuan permainan, demi goal? Debat ini tentu akan menghasilkan simpulan yang berbeda-beda di masing-masing konteks masyarakat. Orang Italia jelas lebih menghargai seorang penjaga gawang dibanding orang Brazil.

Meski begitu, secara umum dalam skena dan wacana sepak bola arus utama yang diselenggarakan FIFA, posisi kiper bukanlah posisi yang utama, ia hanyalah pinggiran, pelengkap. Tengoklah nama-nama yang pernah merebut Ballon D’Or: disana hanya ada seorang Lev Yashin. Sementara, kiper lain yang dihargai dengan award level dunia mungkin ialah Oliver Kahn, peraih Golden Ball World Cup 2002. Selebihnya, pemenang-pemenang penghargaan individu adalah outfield player, dan kebanyakan adalah gelandang atau penyerang.

Yang terlihat kemudian adalah orientasi sepak bola pada umumnya: bahwa mencetak gol lebih penting daripada menahan gol, menyerang lebih terpandang daripada bertahan, tendangan ke arah gawang lebih berharga dibanding jatuh menghalau bola. Menjadi kiper sering tampak seperti pilihan paling akhir dari keputusan seorang yang ingin menjadi pesepakbola. Karena tidak berbakat menggiring bola, tidak bisa lari dengan kencang, tidak bisa menendang dengan baik, maka seseorang menjadi kiper. Dalam permainan sepak bola waktu kecil dulu kita pasti pernah berdebat dengan teman-teman lain tentang siapa yang akan menjadi kiper. Semua enggan. Putusan lalu diambil dengan melakukan gambreng.

Pada akhirnya, posisi kiper selamanya akan selalu sama: terpisah, terasing, berbeda. Meski begitu, dalam segala keterpisahan, keterasingan, dan perbedaan itu seluruh pemain lain tahu bahwa di belakang mereka ada seorang yang rela tak diikutkan dalam permainan demi sebuah tanggung jawab yang seringkali dipandang tak berarti.

(Oktober 2013)

NB: Pernah tayang di Define Football. Ditampilkan kembali dengan tujuan merawat informasi yang siapa tahu berguna bagi seseorang di luar sana.

Padang Pasir

Salah satu esai Albert Camus berjudul Minotaur atau Perhentian di Oran dimulai dengan membicarakan soal padang pasir. Kalau tidak salah ia menggagas padang pasir sebagai ruang untuk merenungi kehidupan, untuk mengambil sedikit jarak pada kehidupan untuk bisa mengerti kehidupan itu. Padang pasir identik dengan musafir, identik pula dengan kontemplasi yang memang seringkali tercuat dalam sebuah perjalanan melintasinya.

Lalu mengapa harus menuju padang pasir hanya untuk merenungi sejumput hal tentang hidup? Jelas, karena kota dan suasana urban adalah tempat yang sesak lagipula bising untuk dapat berkontemplasi. Kota beserta rutinitasnya tak menyediakan ruang sedikit saja bagi perenungan. Maka untuk mencari pengertian akan apa yang dicari dalam hidup ini, tak sedikit orang yang pergi melakukan perjalanan, menuju “padang pasir” dan mendapati nilai-nilai kehidupan.

Tapi padang pasir tak melulu dimaknai secara denotatif. Ia bisa pula diresapi sebagai konotasi untuk merujuk pada “gua meditasi” tadi. Camus pun memberi contoh pada diri seorang Rene Descartes yang menemukan padang pasirnya dalam wujud kota Amsterdam yang sibuk, riuh, dan mungkin pula sudah sesak kala itu. Dalam ketidaktenangan sebuah kota, sang pemikir rupanya mendapatkan ruang merenung itu.

Memang ada dua suasana terbaik untuk merenung, berpikir, atau berkontemplasi. Pertama, dalam situasi yang sangat hening, sepi, hingga bunyi udara dapat terdengar. Kedua, justru dalam kondisi yang paling ramai, paling bising, berisik, dan gaduh. Karena dalam kebisingan yang total, kesepian justru menemukan tempatnya. Maka keheningan dan kegaduhan sempurna sama saja. Mereka bisa jadi padang pasir bagi masing-masing orang.

Saya sendiri belum tahu pasti dimana padang pasir saya berada. Saya menduga ia tak berada di satu lokasi, satu titik, satu tempat, atau satu kota, melainkan di sepanjang garis perjalanan. Padang pasir saya tak punya nama resmi, ia hanyalah kumpulan titik-titik yang dihubungkan oleh sesuatu bernama petualangan. Tapi saya tak tahu pasti benar tidaknya. Maka rasanya saya perlu mengepak tas dan membuktikannya sendiri.