Hal Kecil untuk Bumi

Tak lagi kupandang gumpal awan yang benar-benar putih

Warna abu-abu samar yang jahat lebih sering tampak

Tak pernah lagi kujumpa sungai yang masih jernih tak terkontaminasi

Tangan manusia tak bertanggung jawab mengotori atas nama industrialisasi

Bibir pantai yang hangat pun disisir lautan yang tak sebiru dulu

Mungkin saja makhluk berjumlah miliaran bernama ikan akan punah suatu hari

Hijau pohon memudar seiring tumbangnya jutaan pohon

Mungkin mereka menangis dan air mata menyamarkan hijaunya

Di kejauhan cakrawala, matahari menyapa hangat dahulu

Sekarang tak lagi, sinarnya panas merusak

Hujan juga tak sekedar membasahi daratan

Kali ini titik-titik hujan lebih sering berujung musibah

Bumi tak seindah dahulu ketika nenek moyang merawat dengan seksama

Kita tak ada yang memerhatikan apa yang bumi alami, yang bumi tangisi

Kita lebih suka bergaul dengan lembaran kertas bertulis rupiah

Kita lebih mementingkan kepentingan perut

Kita lebih suka mengelak dari kenyataan yang berubah signifikan

Kita lebih sering mengeluh daripada berbuat, mengusahakan sesuatu

Tak perlulah berdebat ini semua salah siapa

Atau beradu mulut tentang siapa yang harus bertanggung jawab

Kita semua penyebab tangisan bumi yang bisu

Benahi bumi ini dari dalam hati kita, salurkan keluar dan sebarkan ke ujung dunia sekalipun

Setiap kebajikan kecil yang kita bentuk, percayalah itu memberi pengaruh

Pengaruh bagi keadaan bumi

Pengaruh bagi binatang-binatang dan tumbuhan yang tak berakal di luar sana

Pengaruh bagi keberadaan kita sebagai manusia

Dan lebih mulia bagi penerus kita di bumi ini kelak

Dialog Pepaya

“Kok pepayanya aneh gini? Kayaknya baru matang tapi malah udah busuk.”

“Cuaca mungkin, kan panas hujan gak jelas.”

Dialog singkat yang sederhana penuh makna. Sebuah refleksi ketidakpekaan akan lingkungan sekitar. Ketidaktahuan akan ilmu alam. Ketidakmengertian akan apa yang terjadi. Atau mungkin hanya pura-pura tidak tahu. Sebenarnya tahu tapi tidak mau tahu apa-apa.

Percakapan tadi terlintas di tengah hening sebuah dapur, di pagi yang sibuk. Seorang mengeluhkan tentang buah pepaya yang akan dikupasnya. Yang lain berdalih dengan menyalahkan situasi iklim yang goyah. Sebenarnya dialog ini akan biasa saja, atau memang biasa. Tapi entah kenapa ada yang menyentak dan menyuruh untuk berpikir, mungkin ada sesuatu dalam dialog buru-buru ini. Sederhana tapi rumit.

Dialog tentang perubahan iklim yang mengacaukan hampir semuanya. Pemanasan global yang benar-benar panas. Situasi alam yang tidak menentu yang berdampak apa saja yang cenderung buruk. Kondisi yang katanya salah manusia, mungkin benar mungkin tidak. Tapi terima sajalah. Bagaimanapun kita memang bagian yang turut menjadi terdakwa atas bumi yang menangis terisak-isak lambat laun sambil menjerit kepanasan.

Kita yang sibuk oleh ini dan itu, yang disetir jaman yang keliru, yang diatur apapun yang salah, seringkali tidak menyadari kondisi ini semakin menjadi-jadi. Mungkin akan menjadi pembunuh kita. Kita sering mengeluh tentang matahari yang jauh lebih panas, tentang malam yang tidak dingin lagi, tentang bencana-bencana kecil dan besar, namun kita tak sadar apa yang sedang terjadi. Kita sudah terlalu sibuk dengan apapun yang menguntungkan profit dan melakukannya sambil merusak alam. Tanpa sadar atau sadar tapi pura-pura tidak tahu.

Adalah sebuah kepicikan apabila kita masih diam dan membisu. Mestinya kita melakukan sesuatu, minimal untuk bertanggung jawab, minimal untuk memperbaiki harga diri. Tak perlu berlaku dengan tingkah pintar penuh dana besar. Lakukan sajalah dengan awalan yang sederhana mulai dari diri sendiri. Berperilakulah bijak dengan alam seperti kita bijak dengan rupiah kita. Berkata-katalah manis pada bumi seperti kita merayu pasangan kita. Berpikirlah positif tentang ini semua demi kita juga. Toh, kita kadang perlu merasakan sesuatu atas apa yang kita lakukan pada sesuatu.  Mungkin ini semua adalah putusan Tuhan untuk menampar kita yang terlena dengan hal-hal lain dan melupakan bahkan menghancurkan alam.

Katakanlah pada bumi kita dengan mengutip sajak Sapardi “aku ingin mencintaimu dengan sederhana”