?

Judul di atas sama dengan salah satu judul film nasional. Film yang penuh tanda tanya, sama seperti judulnya. Saya ingin cerita, tapi jangan anggap saya sosok yang mengerti film. Saya tak akan bicara soal sinematografi, dramaturgi, atau skenario. Saya hanya akan meracau seperti orang yang mabuk. Sesuka saya.

Film ini mungkin ingin bercerita soal agama, Tuhan, dan realitas tentang keduanya di negeri ini. Ketika agama dan Tuhan berubah jadi alasan untuk membunuh dan mencibir orang lain. Film ini juga bicara soal identitas lain diluar agama, misalnya etnisitas. Dan perbenturan identitas itu kadang menjadi ruwet seperti benang pikiran manusia modern. Ya, film ini mungkin saja hendak bicara soal pluralisme di negeri yang plural.

Realita yang terjadi adalah kita yang beragam ini sulit untuk menerima keragaman. Mungkin justru karena beragam jadi kita takkan pernah seragam. Semuanya selalu beragam, termasuk soal menghargai keragaman. Ada yang bisa, ada juga yang tidak. Akankah terus selalu seperti itu? Sulit memang jika bermimpi menjadikan keragaman sebagai kedamaian yang tak terusik. Suatu waktu yang sunyi akan terhenyak.

Tuhan bahkan diusik. Dengan agama kita seolah memikirkan Tuhan itu banyak, setiap agama punya Tuhannya masing-masing. Tapi ada satu dialog dalam film ini yang sadarkan kita. Kita ini punya jalan setapak yang berbeda-beda untuk tujuan yang sama. Dan tujuan itu ialah Tuhan. Kita mencari Tuhan lewat cara masing-masing. Kenapa sempat untuk mengusik cara orang lain padahal kita perlu konsentrasi pada tujuan itu?

Mungkin karena itu film ini berjudul tanda tanya. Mungkin karena Tuhan adalah suatu tanda tanya besar. Sebuah misteri kehidupan yang jawabannya tak pernah tertemu. Tapi Ia ada. Kita bertanya tentangnya, tapi tak ada jawabnya. Tuhan tetap jadi tanda tanya. Mungkin karena itulah pada tanda tanya ada titik. Supaya ketika tanya kita tak berujung jawab kita lebih baik berhenti. Beriman dan tak perlu bertanya lagi.

Kemungkinan lain kenapa judulnya tanda tanya adalah karena memang sang pembuat bertanya. Bertanya kenapa dalam hidup bersama kita harus bertanya tentang agama, tentang suku, tentang negara, tentang asal-usul, tentang sekolah, tentang ideologi, dan perbedaan-perbedaan lain. Tak bisakah tanda tanya hanya sebagai tanda yang mati, yang tak perlu terucap dan hidup dalam interaksi dengan manusia lain?

Fans

Sepakbola adalah sensasi peradaban manusia. Siapa yang menyangka tendang-tendangan kulit bundar bisa jadi populer, heboh, dan penuh daya hipnotis? Itulah sepakbola yang fantastis itu, yang bahkan versi sejarahnya diperebutkan beberapa negara. Inggris mengklaim sebagai rahim sepakbola modern, Cina pun mengaku demikian. Tapi kita kadang perlu mengenyampingkan sejarah karena lika-likunya yang penuh tipu.

Sebagai sebuah permainan di atas lapangan rumput yang dimainkan 22 orang memperebutkan sebuah bola, sepakbola ternyata tak sesederhana itu. Terlebih di era ini, dimana sepakbola tak sekedar jadi sebuah cabang olahraga, tapi juga suatu industri yang menggiurkan. Pemain sepakbola tak lagi 22 orang yang berlarian di atas lapangan, tapi juga orang-orang lain yang membangun atmosfer sepakbola yang heboh, yang berisik, yang unik. Mereka adalah fans.

Merekalah nyawa sepakbola modern, jiwa dari permainan dan pemain-pemain. Mereka yang berteriak dan bernyanyi sepanjang 90 menit, atau yang mengamati tanpa lepas pandang dari layar kaca, adalah alasan kenapa sepakbola jadi industri yang maju pesat.  Fans atau suporter adalah orang-orang yang menikmati sepakbola secara garis besar dan mencintai suatu klub atau tim pada skala yang lebih kecil. Meski fans pun punya tipenya masing-masing.

Saya tak tau apa sajakah tipe-tipe itu. Tapi secara sederhana bagi sajalah menjadi dua: suporter sejati yang benar-benar mencintai suatu tim pujaannya dan suporter karbitan yang ikut-ikutan arus, hatinya tak tulus mencintai suatu klub. Mereka yang ikut-ikutan sering disebut sebagai glory hunter, fans yang hanya suka tim yang berada di puncak kemapanan dan prestasi. Fans sejati adalah mereka yang darahnya sama warnanya dengan warna klub idolanya.

Sepakbola mungkin satu-satunya olahraga dimana penggemarnya menyebut tim pujaannya dengan sebutan “kita”. Sebutan itu mengacu bahwa klub idola yang berada di seberang lautan sana merupakan bagian dari dirinya juga, bagian yang tak terpisah dari kehidupannya. Dan rasa memiliki itu pun didapat dengan menjual hati pada sejarah klub, baik buruknya. Fans, dalam hal ini fans sejati, adalah mereka yang menangis kala timnya kalah atau terpuruk, dan girang bagai gila ketika timnya menuai prestasi-prestasi gemilang.

Fans adalah mereka yang tak perlu alasan untuk suka pada sebuah klub, yang cintanya tak bisa dibeli dengan piala.  Bahkan banyak yang menganggap bahwa klub idola adalah pacar pertama, atau lebih ekstrim ada yang menganggapnya sebagai agama. Sepakbola memang sensasional dan akan selalu begitu. Juga fans. Salut buat seluruh fans di tiap belahan bumi, terlebih mereka yang mencintai tanpa pamrih dan sepenuh hati, mereka yang hatinya terlebur bersama tim idolanya. Bukan piala.

Agama

Kata Marx, “agama adalah candu”. Candu macam apa? Entah seperti apa, tapi seluruh dunia tahu dia bukan orang yang dikungkung institusi bernama agama. Agama memang suatu persoalan dilematis, seperti banyak hal lain di dunia. Baik buruknya bisa muncul, positif negatifnya selalu ada. Itu semua kembali kepada manusianya, bagaimana untuk menanggap agama. Perihal memeluk agama apapun atau bahkan memilih tidak beragama adalah kebebasan.

Dari Banten lalu muncul berita panas soal kebebasan beragama yang direnggut. Tak usah disebut nama korban dan pelakunya, kelompok yang diserang dianggap menyesatkan oleh kelompok lain yang mentahbiskan diri sebagai pembela sebuah agama, padahal keduanya agama yang sama. Sekte yang dituding sesat jadi sasaran empuk bagi kelompok sok suci nan munafik tadi. Entah apakah kelompok penyerang tersebut benar-benar melakukannya, atau hanya segelintir oknum yang mengatasnamakan kelompok tersebut, yang jelas kejadian ini bagai lecutan bagi bangsa yang plural ini.

Bagi saya secara pribadi kemerdekaan beragama adalah hal yang harus dilindungi dan terlebih dimengerti, sekali lagi terutama di negeri yang penuh keberagaman. Menghargai orang lain dan kelompok lain apapun agama dan ideologinya adalah suatu keharusan mutlak. Tapi toh kenyataan bicara lain, saya lupa dunia ini masih seru, hingga cerita-cerita seperti ini masih ada. Akan selalu ada. Selalu ada “tuhan-tuhan” lain, yang merasa pantas menunjuk jari dan bilang, “kamu sesat!”

Tak lama kemudian, di Temanggung cerita serupa berulang. Kali ini yang diserang adalah kelompok agama lain, bukan sekedar berbeda aliran. Cerita ini bagai cerita yang anarkis, sedih, sadis, dan keterlaluan. Entah apa lagi cerita yang akan terjadi, entah apa yang akan dilakukan pemerintah, entah apa yang dipikirkan Tuhan. Mungkin Dia kecewa melihat manusia bertikai dengan membawa namaNya, menjadikan alasan untuk membantai orang lain, yang menyembah Tuhan Yang Esa, hanya berbeda sebutan.

Mungkin Marx benar dengan mengatakan agama adalah candu. Agama mungkin memang memabukkan hingga orang lupa kebenaran dan bahkan menodai ajaran agama yang dinikmatinya. Agama mungkin sebuah ciptaan paling keliru yang dibuat manusia, agama mungkin tak perlu ada. Daripada ada untuk jadi alasan membunuh orang, mungkin karena  iseng tak punya kerjaan. Atau mungkin tanpa agama manusia tetap saling pukul? Entahlah, mungkin agama tidak salah. Siapa yang salah?