A Season with Verona

Saya menikmati buku ini dengan pelan, seperti menyeduh kopi di pagi hari dan membiarkannya dingin. Bulan-bulan berlalu sejak saya mulai membuka halaman depan ‘A Season with Verona’ (selanjutnya disebut Season). Buku ini membantu saya melarikan diri dari narasi-narasi akademis saat tesis: literature review, problem statement, dan kesombongan universitas lainnya. Tak ada tesis di Season, cuma giornata-giornata yang secara kronologis menjalin nostalgi tentang musim yang jauh tertinggal disana.

Italia, pada 2000, adalah puncak sepak bola dunia. Ini narasi universalis yang kita telan mentah-mentah sebagai penikmat calcio. Saya tak ingin mendebatnya hari ini. Pada tahun itu, il sette magnifico masih eksis. Utuh. Batistuta, Totti, dan Veron. Buffon masih  begitu belia di Parma. Ronaldo, Inzaghi, Maldini. Masa-masa yang indah dengan pemain-pemain yang memberi kita sepak bola yang melenakan. Tapi, Tim Parks tak terlena oleh bintang-bintang itu, oleh tujuh klub yang kita gaungkan sebagai ‘magnificent’. Ia  cuma mau bercerita tentang Verona — tanpa Romeo & Juliet.

Singkat cerita, orang Inggris ini mengikuti Hellas Verona — kandang dan tandang — selama semusim penuh. Ia bukan orang asli Verona, tapi ia (belajar) mengimani Hellas dengan ketaatan yang membingungkan. Tapi, saya pikir logis-logis saja. Sepak bola, pada dasarnya, adalah peristiwa sosial-kultural. Di dalamnya kisah-kisah manusia berkelindan, membentuk mitos-mitos, lalu perlahan menjadi semacam agama. Italia adalah tempat yang luhur untuk memeluk agama bernama sepak bola. Tim tinggal di Verona bertahun-tahun, datang ke Bentegodi secara rutin, dan berkawan dengan orang-orang yang mencintai Hellas. Semuanya terjalin begitu wajar.

Season menarik sejak awal karena Verona bertandang di Bari pada giornata perdana. Bari ada di selatan sana, di region Puglia. Verona ada di utara, di region Veneto. Jadi, bayangkan sebuah bus berisi suporter fanatik sepak bola melintasi Italia dari utara ke selatan, dengan alkohol dan cori yang tak putus-putus ditenggak/dinyanyikan sepanjang jalan. Disitulah Tim berada, bersama Brigate Gialloblu yang dikenal sebagai kelompok suporter bola yang fasis, rasis, dan tentu saja doyan berkelahi di jalan. Tim, orang Inggris yang aksen Italianya mungkin tak sempurna, seperti sedang menjalani misi suci di bus menuju Bari.

Setelahnya puluhan giornata lain diceritakan. Kadang dengan bayangan yang begitu jelas tentang sepak bola yang dimainkan di atas lapangan. Kadang sama sekali tak ada urusan tentang lapangan. Yang menyenangkan dari Season adalah Tim memilinnya dengan narasi-narasi di luar sepak bola yang kadang-kadang tampak begitu jauh dari urusan lapangan hijau. Saya teringat, suatu kali ia membandingkan Hellas dengan Inferno-nya Dante. Atau menukas soal wasit dengan melihat struktur yang lebih besar di masyarakat Italia. Atau membahas soal rasisme dengan menyangkutpautkan nyanyian monyet ala Brigate di Bentegodi dan kasus penipuan seorang guru asal Uruguay di kota Verona.

Kesan yang saya tangkap adalah: Tim membeberkan rahasia-rahasia Italia yang cuma bisa diserap ketika seseorang tinggal cukup lama di negeri itu, tapi bukan bagian sepenuhnya dari identitas bernama ‘Italia’. Tim ada di-antara, dia ada di luar sekaligus di dalam. Posisi itu menguntungkannya sebagai pencerita, karena ia tak harus ditelan momok bernama identitas, karena ia bagian tak terpisahkan dari identitas itu. Secara metodologis, Tim memiliki kesempatan dan insting ala antropolog untuk menjadi bagian dari komunitas, tapi sanggup mengambil jarak untuk melihat komunitas itu dengan perspektif yang lebih luas dan utuh.

Di Season, ada begitu banyak bagian yang saya suka. Tiap kalimat, tiap paragraf, atau tiap giornata bisa menjadi ceritanya tersendiri. Masing-masing sanggup memaku saya di sofa dan duduk lama, membayangkan tahun-tahun yang jauh di belakang sana saat saya sedang belajar mencintai permainan ini. Musim 2000-01 adalah yang pertama buat saya. Jadi, itulah kenapa Season begitu nostalgik buat saya. Ia membuat saya mengingat alasan-alasan dan kepingan-kepingan dari perjalanan panjang mencintai sepak bola. Di balik halaman-halaman Season, saya seperti menjadi anak kecil lagi; yang duduk membaca/menonton sepak bola Italia ditulis/ditayangkan.

Oh khidmatnya.

Advertisements