Air Mata Messi

Melihat Lionel Messi menangis di New Jersey adalah elegi tersendiri. Final keempat yang gagal dimenangkannya bersama timnas Argentina. Setelahnya adalah kejutan. Ia, kemungkinan besar masih dipengaruhi rasa frustrasi pasca-pertandingan, memutuskan pensiun dari tim nasional.

Keputusan itu jelas mengejutkan mengingat Messi baru berumur 29 tahun dan tentu saja masih dibutuhkan Albiceleste. Namun, patah hati adalah perkara lain. Saya membayangkan menjadi Messi: memanggul beban negara, disorot seluruh dunia, dan gagal untuk kali keempat. Empat! Frustrasi. Saya tak tahu apakah Messi mulai berhenti berdoa dan pergi ke gereja setelah ini.

Tak bisa disalahkan jika banyak orang meragukan keputusan pensiun Messi. Saya salah satunya. Saya menerka ucapannya hanyalah rasa frustrasi sesaat. Ia dilanda kekalutan tak terpermanai setelah Biglia gagal dan mengucapkan kata-kata yang mungkin akan disesalinya dua atau tiga hari kemudian. Namun, bagaimana jika ia benar-benar mundur dari tim nasional?

Jika Messi bersetia pada kata-katanya, toh kita harusnya bisa memahami. Messi, pada akhirnya, memang bukan alien. Kita telah melihat sisi manusiawi Messi di New Jersey. El Messiah ternyata bisa menangis, sama seperti Yesus yang meraung di atas kayu salib: Eli, Eli, lama sabakhtani? (Tuhanku, Tuhanku, kenapa Kau meninggalkan aku?)

Dan satu hal yang perlu diingat, memutuskan berhenti bukanlah hal yang mudah. Terlebih dalam dunia yang menuntut kita untuk terus berlari, berhenti mungkin ialah keputusan tersulit. Sedangkan, mengetahui kapan harus berhenti adalah kemampuan yang tak semua orang bisa memiliknya.

Memahami itu kita jadi menemukan paradoks dalam air mata yang menggenang di pipi Messi. Di satu sisi kita memandang betapa lemahnya dia. Di sisi lain kita mendapati betapa kuat dan tegarnya dia. Selemah-lemahnya Messi, ia masih bisa memancarakan kekuatan.

Kita bisa belajar banyak darinya. Jika pada suatu waktu kita gagal untuk entah-keberapa-kalinya, berhenti mencoba mungkin saja adalah hal terbaik yang bisa dilakukan. Pada satu titik, kita harus bisa memahami bahwa that is not belong to me. Sama seperti Messi yang sadar bahwa timnas Argentina bukan untuknya. Setidaknya kita dan Messi pernah mencoba.

Hal ini mungkin sulit dilakukan, sekali lagi karena kultur yang menuntut kita terus berusaha. Oh, buanglah buku-buku motivasi sialan itu! We cannot have everything in life.

Besok atau lusa, Messi mungkin akan bangun pagi dengan pikiran yang lebih jernih. Mungkin ia telah sanggup mencerna semua yang terjadi. Mungkin ia akan berubah pikiran atau mungkin tidak. Mungkin dua tahun lagi dia akan pergi ke Rusia dan menonton Argentina memenangkan Piala Dunia dari tribun. Mungkin ia akan senang, mungkin pula kecewa.

Tapi setidaknya ia bisa pulang ke Barcelona, ke rumahnya, dan menyadari ia memiliki segalanya.

(28 Juni 2016, setelah final Copa America 2016, sempat terbit di Farpost Journal)

Here Comes the Sun

Matahari cerah di Wageningen. Saya bersepeda, membonceng Adiska di belakang. Kami menuju Aula di dekat pusat kota, untuk wisuda kami. Dengan jas abu-abu yang juga saya pakai di wisuda sarjana, saya menggowes sepeda dengan gontai, di siang yang asyik di Wageningen. Oh wisuda, lalu pulang, lalu apa?

Di perempatan lampu merah dekat Lidl, di dekat stasiun bus, saya berhenti. Lampu merah. Saya memencet tombol untuk lampu hijau. Tik-tok-tik-tok. Angka bergerak mundur. Saya memegang tiang lampu merah, lalu pelan-pelan melantunkan “here comes the sun and I say it’s alright…”

Dari bangku belakang, Adiska memprotes. “Here comes the sun mulu bos,” katanya. Di musim yang menghangat, lagu itu memang menjadi lantunan saya dimana-mana, terutama kala bersepeda, entah dari dan ke Jumbo, stasiun kereta, kampus, Droevendaal, atau tempat-tempat lain di kota kecil kami.

“It’s been a long cold lonely winter…” Cerah musim semi begitu melenakan. Senyum-senyum mengembang. Kacamata hitam terpasang terus, seperti siap menikmati hari yang panjang di depan. Sampai jam 10 malam? Boleh. Maka kita kan menggelar piknik yang asyik di De Rijn: bir, barbekyu, dan buku.

Lampu hijau. Saya melanjutkan gowesan. Lurus terus hingga perempatan ketika aspal berhenti, dan batu-batu bata coklat-merah menemui roda sepeda. Lurus terus, kemudian belok kiri, hingga Hotel de Wereld tiba di kiri. Sedikit lagi, dan sepeda berhenti di depan Aula. Adiska melompat. Saya memarkir sepeda.

Pariwisata Pasca-Corona: Utopia

Saya pribadi melihat corona sebagai onto-epistemological proposal for radical futures.

Yang ia tawarkan sebenarnya adalah interupsi: atas rutinitas, atas bumi yang mau meledak oleh asap-asap di pabrik-pabrik sialan yang membayar upah buruh dengan kurang ajar, atas pariwisata yang berlebihan.

Kadang saya sedih ketika negara dan media menyuruh kita untuk ‘memerangi’, ‘melawan’, atau ‘mengalahkan’ corona. Seperti sebuah spanduk di perempatan Sagan, pada suatu siang yang murung di Yogyakarta.

Apanya yang dilawan, ketika yang harusnya dilawan adalah hasrat manusia yang masuk ke hutan terdalam, membabat pohon-pohon, dan membiarkan virus-virus zoonotic terkejam subur di mana-mana, semata-mata karena habitatnya dirampas homo erectus postmodern.

Tapi ini mungkin karena saya kebanyakan membaca risalah-risalah more-than-human ontology, antropologi multispesies, atau geografi posthumanist. Sehingga yang saya pikirkan adalah frasa-frasa semacam ‘learning to live with virus’ atau ‘corona as nonhuman agency’.

Hal-hal semacam itu tak perlu ditelan, semata-mata karena itu tak penting. Menyitir Mahfud Ikhwan di Mojok, yang terpenting saat ini cuma bahasa medis! Bahasa lain, entah itu sastrawi atau filsafati, tak ada artinya di dunia yang separuh kiamat ini.

***

Kalimat-kalimat di atas hanya pengantar. Semacam sekapur sirih.

Yang ingin saya utarakan sebenarnya adalah proposal yang utopis, tentang dunia perjalanan dan pariwisata setelah pandemi corona – seandainya ia memang benar-benar bisa berakhir. Utopia itu penting, meskipun tidak realis, karena ia memberi cercah harapan, yang meski kecil, memberi kita alasan untuk hidup setidaknya satu siang lagi. Besok.

Yang pertama saya bayangkan adalah runtuhnya cara berpikir kapitalis-neoliberal dalam melakukan perjalanan dan mengorganisir pariwisata. Bahkan, kalau bisa, semuanya diserahkan saja ke commune masing-masing. Kita tak perlu industri dan kementerian yang mengurusi pariwisata, karena dua-duanya toh tidak penting.

Meminjam Higgins-Desbiolles dkk. (2019), pariwisata harusnya dikembalikan ke ide awalnya soal keramahtamahan (hospitality – hospitaliti yang sebenarnya, bukan yang industrial) dan koneksi. Untuk itu, pariwisata perlu didefinisikan ulang sebagai voluntary hosting, menerima tamu/turis/wisatawan/pejalan secara sukarela dan sukacita.

Dengan semangat semacam itu, kita mengembalikan hal-hal yang luput dibicarakan ketika kita sibuk membahas, mengulik, dan menjual turisme sebagai industri. Hal-hal itu mencakup hubungan antarmanusia, kesetaraan lokal-tamu, dan keramahan yang sejajar. Tamu bukan untuk dilayani sebagai orang-yang-memberi-uang, tapi karena ia manusia.

Libido industri, pembangunan pariwisata, dan pertumbuhan ekonomi selama ini tak peduli soal detil-detil subtil semacam itu. Ketika pariwisata disusun dan diorganisir sebagai industri yang kapitalistik, yang penting cuma uang, kapital, dan bagaimana cara mengakumulasi keduanya. Di situ manusia mati, kita cuma sekrup-sekrup yang menjalankan mesin kapitalisme.

Lalu, tugas pejalan/turis pun bukan lagi mengonsumsi. Kita bukan konsumen, bung. Kita itu orang. Tugas orang itu mengasihi satu sama lain, bukan membeli pengalaman, atraksi, atau omong kosong turistik lain. Mengubah paradigma dari konsumen menjadi bukan-konsumen ini penting, karena kita akan tahu bahwa perjalanan itu proses menjadi manusia, bukan menjadi manusia jadi-jadian yang bisanya cuma jalan-jalan, selfie, dan update Instagram.

***

Pandemi ini harusnya memberi kita perenungan bahwa 1) diam di rumah itu mungkin dan 2) negara/kota/wilayah mampu menutup ruang spasial masing-masing dari gerombolan pendatang, entah itu turis, pencari konten medsos, atau tukang dagang. Selama ini, retorika disusun seolah-olah traveling itu tak terhindarkan. Corona membuktikan semua itu nonsens.

Overtourism akan jadi sejarah setelah ini. Kita tak akan lagi mendengar kota-kota yang ditinggal penghuninya karena gedung-gedung di pusat kota dijadikan airbnb. Kita tak akan lagi melihat turis yang berkerumun seperti cacing kepanasan. Bukan karena traveling tak ada lagi, tapi karena kita tahu ada batas untuk segenap kegilaan ini.

Nafsu untuk menaklukkan bumi, alam, atau lanskap pun bakal lenyap tak berbekas, sebab pandemi corona menyadarkan kita bahwa aktor-aktor non-manusia bukan hanya ada di komik dan klenik. Gunung berapi menginterupsi. Tsunami juga. Demikian pula virus dan bakteria.

Dan karena kita telah sadar itu, kita jadi respek pada apa-apa yang bukan manusia. Arogansi kita sebagai manusia, yang berpikir dan berakal, akan musnah. Corona membuat kita jadi nothing!  Jika setelah wabah ini usai masih ada yang sok-sokan mau menaklukkan puncak x atau negara y, mungkin ia perlu dikarantina lebih lama. Karena badannya sehat, otaknya lock down.

Pada akhirnya, kita punya pejalan yang asyik dan perjalanan yang menekankan pada proses, bukan hasil (fotografis). Pariwisata telah dikemas sebagai interhuman/interspecies relationship, dalam rangka saling memahami budaya dan kebiasaan berbeda, serta bentang alam yang tak sama, di rumah sendiri dan di rumah orang. Ingat, destinasi itu rumah orang, bukan tempat buang mayat.

Dan, yang terbaik adalah kita tak punya lagi lembaga-lembaga pariwisata yang tak diperlukan, yang sok-sokan mengatur apa-apa yang sebenarnya bisa diurus secara kekeluargaan, keakraban, dan perasaan saling memiliki (sense of belonging) sebagai umat manusia. Salam sapta pesona.

Pembakaran Sampah: Fragmen

Seorang kakek membakar sampah di halaman. Asapnya kemana-mana. Seperti membawa cerita dari masa yang jauh. Sore-sore dihabiskannya untuk mengumpulkan daun-daun yang kering, jika tidak hujan, dan menyalakan api di gunungan daun-daun kering yang ditumpuknya. Wajahnya mengandung melankolia yang tak kita pahami. Ia menyiratkan sebuah buku yang sampulnya keropos, tapi di dalamnya ada kisah-kisah yang asyik dibaca. Terlebih di hari-hari ketika wabah melanda.

Aku membaca buku itu dengan pelan, setiap pagi saat asap dari cangkir kopiku mengepul ke langit-langit teras. Halaman demi halaman, seperti kota yang mendadak vakum oleh bakteria, atau epidemi, atau apalah yang bukan-manusia. Sementara sekolah-sekolah ditutup, dan universitas dipindah ke internet, buku itu rutin mengisi pagi, siang, sore, malamku dengan ketabahan yang tak terpemanai. Di sela-sela paragraf, aku pergi ke kompor dan merebus jahe, membiarkan wanginya merebak ke sendi-sendi dan saraf-saraf, serta memberi makna untuk tanah yang melahirkannya. Lalu, pendar jingga sore muncrat di balik jendela, dan aku mematikan kompor untuk menyesapnya di bibir teras.

Saat-saat itulah si kakek sedang sibuk dengan vakansinya, yang rutin ia jalani sejak entah kapan. Daun-daun kering itu telah memberinya alasan yang juga entah apa. Dan asap-asap yang dihasilkannya memberinya jawaban atas pertanyaan yang urung diselesaikannya. Bagaimana caranya kita bertahan hidup di tengah dunia yang serba salah, ketika mesin-mesin terganas masuk ke hutan terdalam untuk membabat pohon-pohon dan menciptakan tanah-tanah perkebunan luas sebagai pembangkangan untuk Ibu Bumi? Lalu, daun-daun perlahan lenyap, menjadi abu, dan asap menjadi abu-abu, dan kota menjadi kelabu.

Corona

Corona adalah tanda tanya yang menganga di depan muka.

Ia telah memberi kita banyak pertanyaan, tanpa jawaban. Juga banyak perenungan. Kita jadi bertanya-tanya apa makna dari perjalanan-perjalanan ini, jika ia hanya berakhir sebagai pandemi? Haruskah kita berangkat pulang ke rumah, dan tinggal diam selamanya di hutan-hutan terdalam di jantung ibu?

Kota-kota menjadi sepi. Isolasi dan solidaritas membentuk paradoksnya di tengah pandemi ini. Kita memahami bahwa kolektivitas dan individualitas itu bukan kontradiksi. Ia adalah semacam paket yang utuh. Kita bertanya-tanya tentang apa guna sendiri sendirian tanpa sendiri ramai-ramai?

Setelah ini, filsafat baru akan tumbuh di pusat bumi. Kita akan memahami biologi dengan mata berbeda. Makhluk hidup bukan-manusia, pada akhirnya, telah menjadi agensi yang menginterupsi kerakusan kita, yang memangkas hutan hingga ke akar-akar, hingga virus-virus paling jahat mekar di kota.

Di tengah karantina ini, sebenarnya kita diberi waktu untuk bertanya. Kita terlalu sibuk mengakumulasi, sehingga lupa menerka coreng di muka sendiri. Bagaimana caranya iklim bisa berkelahi dengan takdirnya sendiri? Haruskah kita berhenti berpergian dan duduk manis mengisi teka-teki silang di bibir teras?

Selama ini, demonstrasi telah gagal menghentikan pabrik, juga diktat-diktat tebal Marxisme. Tapi, sebuah virus telah menciptakan revolusinya sendiri. Ia datang tanpa undangan, dengan sebuah dor! yang bising. Huru-hara di supermarket. Huru-hara di kepala. Segulung tisu toilet muncrat dari mulutku.

Sebuah Taman

Aku mendamba sebuah taman. Di petak-petaknya aku ingin menanam brokoli dan melankoli. Aku ‘kan memanennya setiap sabtu, supaya bisa menikmati akhir pekan dengan sepiring brokoli campur melankoli. Kan kusantap ia dengan secentong nasi merah, dan kulap sisa-sisa makanan dengan likuor.

Di taman itu, sebentuk orang-orangan kan kudirikan, untuk mengusir gagak yang mengintai tanamanku. Aku kan memberinya seragam abri, lengkap dengan pangkat-pangkat yang mengerikan, supaya si gagak tak berani masuk menggasak brokoli dan melankoliku. Jika tidak, ia kan didor oleh pak abri.

Taman itu penuh dengan hujan. Aku tak perlu memupukinya dengan cita-cita yang jauh, karena hujan ‘kan datang tepat waktu, setiap kali tanahku mendambakan air dan tanamanku menginginkan mineral. Kemarau takkan mampir di tamanku. Ia akan stop di depan pagar dan melipir pergi tanpa permisi.

Sebuah taman, yang kugarap di tepi kota itu, akan menjelma iklim yang berontak. Ontologinya tak bernama. Filsafat akan kehilangan makna di dalamnya. Dan kita tak perlu menjadi apa-apa di luarnya. Kita hanya perlu membiarkannya tumbuh, dan ia akan memberi kita apa-apa yang secukupnya.

Manila

Manila, pada sebuah pagi.

Bus-bus berloncatan kesana-kemari. Fragmen-fragmen dalam film ‘Metro Manila’ memenuhi isi kepala saya, sedang perut saya kosong. Apa gunanya kepala yang penuh tanpa perut yang terisi? Omong kosong?

Dari atas pesawat, beberapa menit sebelumnya, saya melihat sebuah kota dengan gedung-gedung yang tinggi. Mau tak mau saya mengingat Jakarta. Saya bertanya-tanya bagaimana caranya manusia membangun gedung-gedung setinggi itu? Dan untuk apa? Dan saya mengingat Menara Babel, yang selalu diceritakan guru sekolah minggu di gereja, dan Pak Poniman, guru agama di SD dulu.

Di dalam Grabcar yang saya tumpangi dari NAIA, saya duduk diam. Bapak supir saya tak banyak bicara. Mungkin ia murung. Atau mungkin ia hanya malas berbahasa yang bukan bahasa ibunya. Berbahasa Inggris itu melelahkan. Dan saya bersyukur bapak itu tak banyak bicara, terlebih perut saya masih kosong pagi itu.

Saya menuju Terminal Buendia. Suzy menunggu saya. Kami akan sama-sama naik bus menuju Los Banos, kira-kira 2 jam dari Manila. Saya turun di dekat terminal dengan koper kabin yang harus saya tenteng melewati Manila pukul 7 pagi. Mungkin jam tersibuk sepanjang 24 jam. Mungkin saya takkan selamat.

Tapi, ternyata tidak. Jakarta telah memberi saya pelajaran berharga tentang bagaimana caranya menyebrang dengan baik dan benar, dan dengan koper yang mesti dijinjing, dan pada peak hour ketika banyak orang berlalu-lalang, dan ketika bus-bus besar bergerak seperti siap menggilas siapa pun yang menghalangi.

Suzy sudah menunggu di McDonald’s. Kami berkenalan. Lalu, bergerak menuju bus yang akan mengantar kami ke Los Banos. Perut saya masih kosong. Tapi, saya lebih lelah daripada lapar. Setelah sedikit basa-basi dua orang beda negara yang baru pertama kali bertemu, saya pamit ke Suzy untuk rehat sejenak.

Catatan Jalanan

Saya kerap membayangkan bagaimana caranya sebuah kota menghisap cerutu? Seperti sebatang sigar Kuba yang saya hisap di Droevendaal. Setelah gelas-gelas yang panjang, dan obrolan-obrolan semifilosofis tentang masa depan, hoek!

Mungkin seperti itu. Kita menelan asap-asap, yang diproduksi motor dan mobil buatan Jepang, Korea, Amerika atau Eropa, lalu kita muntah. Lalu kita kehilangan makna pada waktu, pada kecepatan, pada jarak.

Semua ini membuat saya mengingat Kundera, ketika ia memulai ‘Slowness’ dengan sebuah realisasi yang sederhana tentang bagaimana kecepatan menyandera kita. Membuat saya mengingat gerakan-gerakan slow (atau selo). Mungkin, revolusi yang sebenarnya berwujud lebih subtil dari demo-demo di pagar DPR atau aksi-aksi heroik di Amerika Latin.

Mungkin kita harus belajar berjalan kaki lagi, atau bersepeda, atau apa pun yang memaksa kita melambatkan laju, seraya memikirkan ulang: apa itu waktu dan jarak?

***

Dua hari ini saya melewati Godean yang murung dengan observasi selintas tentang mereka (dan kita) yang melawan arah. Saya membayangkan kemungkinan alasan-alasannya. Dan saya ingin keluar dari narasi moralis tentang warga yang patuh lalu lintas. Cuih!

Saya ingin menyelam lebih dalam. Mungkin saya harus berhenti dan menodong mereka dengan recorder, lalu menciptakan semacam etnografi yang mendadak. Dor! Tapi, saya etnografer di sana. Bukan moralis. Bukan polisi. Bukan mereka yang hidup lurus oleh regulasi dan undang-undang. Saya pikir: mungkin saja sebenarnya melawan arah di jalanan adalah sangat logis.

Lalu, saya mengingat-ingat saat-saat saya melawan arah. Dan memikirkan semacam hipotesa yang menggeneralisir. Sementara – namanya juga hipotesa. Kegiatan melawan arah logis pada situasi-kondisi tertentu. Itu fakta ontologis yang tak bisa kita pungkiri. Kenapa?

Mungkin karena kita telah lama hidup dengan kecepatan, dengan motor dan mobil yang meraung-raung dengan gegas, sehingga sangat sulit untuk menyebrang ke arah yang benar. Buang-buang waktu. Lagi pula, kita sebenarnya juga telah terbiasa dengan ketergegasan. Sehingga, apa salahnya melawan arah ketika tidak ada pak polisi dengan rompinya yang menyala-nyala?

***

Di Yogyakarta, saya kerap membayangkan Jabodetabek yang tak kalah murung. Mungkin saya rindu. Atau mungkin tidak. Mungkin saya hanya sekadar membandingkan kota-kota yang telah dan sedang saya lakoni. Mungkin sebenarnya, dengan membayangkan Jakarta, saya sedang belajar bagaimana caranya menjadi warga Yogyakarta yang baik.

Di jalanan Jogja, setidaknya saya lebih banyak belajar bersabar. Dan menunggu lampu merah dengan tenang. Dan tidak menyerobot. Dan menyalip dengan santun. Dan mengurangi sedikit rata-rata speedometer di motor pinjaman yang saya kendarai.

Bukan berarti Yogyakarta tak dijajah oleh kecepatan. Seiring waktu saya menyadari bahwa ketergesaan juga realitas yang tak bisa ditawar di sini. Ada banyak faktor. Mungkin kenaikan jumlah kelas menengah, yang selaras dengan kenaikan konsumsi kendaraan pribadi, yang selaras dengan kemacetan, yang selaras dengan siasat praktikal untuk mengakali kemacetan.

Melawan arah sebenarnya hanyalah siasat beradaptasi di tengah masyarakat yang sibuk mengakumulasi kapital. Ia logis, karena itu ia menjadi jamak. Dan karena itu aturan-aturan lalu lintas sebaiknya harus segera direvisi untuk mengakomodir perubahan ini.

Kemungkinan kedua, terkait dengan aturan lalu lintas, adalah struktur jalanan kita yang terlalu dikotomis. Ia hanya menyediakan dua opsi. Di situ tidak ada pilihan ketiga dan seterusnya. Padahal, di masyarakat posmodern yang kian blur dan non-dualistik, opsi ketiga akan selalu ditempuh. Masalahnya, ketika ia tak diakomodir oleh regulasi, ia berlabel ‘ilegal’.

Kemungkinan ketiga, terkait struktur sosio-material jalanan, adalah ketiadaan trotoar. Ini kasus yang sangat Indonesia. Setidaknya dari hasil amatan sambil lalu saya, praktik-praktik melawan arah lebih banyak terjadi pada jalan-jalan yang tidak memiliki trotoar, sehingga para pelawan arah – kebanyakan pengendara motor dan motornya – punya celah untuk memangkas waktu.

Dalam kota yang kian menyempit (involusi; mungkin itu istilah kerennya), spasi adalah kemewahan. Dan kita harus memanfaatkan peluang sekecil apa pun untuk mengambilnya. Seperti halnya anak-anak yang bermain bola di komplek pemakaman di Jakarta. Logis.

***

Jadi, sebenarnya tak ada yang terlalu salah dengan melawan arah di jalanan. Setidaknya ketika kita berani sedikit mengenyampingkan argumen moralis tentang taat aturan, menjadi warga kota budiman, dan klise-klise sampah lain yang hanya membikin polisi cengar-cengir.

Melawan itu selalu perlu. Saya jadi mengingat sebuah marka jalan di Depok, di dekat rel di Jalan Dewi Sartika. Di sana ada tulisan: ‘dilarang melawan arus’. Saya selalu tersenyum ketika mengantre kereta lewat di situ. Dan saya membayangkan betapa indahnya melawan arus.

2019

Saya mengingat 2019 sebagai maraton yang panjang dan melelahkan. Dan saya berhenti di garis finis nyaris sebelum panitia membubarkan acara.

Jika setahun silam saya menulis tentang ambivalensi sebagai hal terpenting yang saya pelajari dan pikirkan di tahun 2018, maka pada 2019 saya tak banyak belajar: kecuali kenyataan bahwa kehidupan bergulir dengan pelan dan cepat secara bersamaan, dan satu-satunya hal paling masuk akal yang bisa kita lakukan adalah menyelesaikan hari ini, melakukan apa yang di depan mata dengan langkah-langkah kecil yang pasti.

Tapi sebenarnya tak ada yang pasti. Kita hanya berjudi, seraya berdoa langkah-langkah itu akan berujung pada sesuatu. Di 2019 saya lebih banyak bersyukur dan mengutuk secara bersama-sama. Seperti seorang umat yang kelelahan menebak-nebak makna dari ayat-ayat yang mengawang di altar gereja.

Toh, saya juga memahami bahwa persistensi dan idealisme itu harus dirawat sama baiknya, dan harus dijalankan sama temponya. Satu tanpa yang lain hanyalah omong kosong. Dan kedunya memerlukan bahan-bahan lain yang tak kalah penting, yaitu lingkungan sekitar (keluarga, teman, pacar, dll) yang mendukung. Idealisme tanpa lingkungan yang suportif adalah nonsens besar.

Saya beruntung punya lingkungan yang kondusif itu. Itulah mengapa saya banyak bersyukur di sela-sela kesibukan saya mengutuk diri sendiri di malam hari.

Di ujung tahun 2019 kemarin, saya mengingat adagium usang yang selalu saya suka dan percayai. Bunyinya begini: good things happen when least expected. Setidaknya mantra itu nyata bagi saya. Sudah dua kali saya mengalaminya sendiri. Pertama, ketika mendapat beasiswa yang membawa saya studi ke Belanda. Kedua, baru-baru ini, ketika akhirnya saya bisa pindah ke Yogyakarta, kota yang selalu saya idam-idamkan sejak dulu, untuk mengajar di Universitas Gadjah Mada.

Setelahnya, saya ingin menikmati 2020 dengan pelan, dan dengan mencerna pemahaman bahwa 2019 begitu melelahkan secara energi dan emosi, sehingga saya perlu sedikit melambatkan laju, supaya saya bisa menikmati hidup yang indah ini, yang seringkali berkabut, gelap dan misterius.