Gereja dan Hal-Hal yang Tak Dibicarakan

Eropa dan gereja adalah semacam pasangan yang bercerai, tapi tak pernah benar-benar berpisah. Ada ujar-ujar di sini: jika kau berkelana di sebuah kota Eropa dan lalu tersesat, carilah menara gereja yang tinggi menjulang, di sanalah pusat kota. Seperti masjid agung dan alun-alun yang nyaris selalu duduk berdampingan di pusat kota-kota di Jawa, demikianlah gereja dan kota-kota Eropa. Tapi, sepertinya tak lebih dari itu.

Sejarah Eropa adalah sejarah yang berdarah-darah. Waktu kecil dulu saya selalu ingat bagaimana Galileo Galilei dan Copernicus dimaki-maki oleh gereja karena menyatakan matahari adalah pusat, bertentangan dengan kepercayaan gereja pada waktu itu yang percaya bumi adalah pusat. Belakangan, kita semua tahu bahwa Galilei dan Copernicus yang benar. Pelan-pelan Eropa tumbuh menjadi skeptis terhadap gereja. Kita lalu mengenal enlightenment, abad pencerahan. Eropa hari ini adalah tradisi yang diteruskan dari semangat pencerahan itu.

Namun, gereja tak pernah benar-benar selesai. Tentu saja, seperti tempat lain di muka bumi, ada kelompok-kelompok yang tetap setia pergi ke gereja di hari Minggu. Demikian juga di sini. Bedanya sekularisme mendidik orang-orang Eropa untuk tak menyangkutpautkan agama dengan urusan sehari-hari, apalagi politik. Agama adalah urusan personal, kata seorang lelaki paruh baya ketika saya berkunjung ke sebuah gereja tua di Freiburg. Tentu kita bisa membantah ucapannya karena Alkitab menyebut sejarah gereja mula-mula tumbuh dari komunitas.

Tentu saja ada rantai histori panjang yang telah merangkai benang pikiran manusia-manusia Eropa hari ini. Kita manusia adalah proses yang tak berkeseduhan, yang dibentuk jauh sebelum kita lahir, dan mungkin akan bertahan melampaui hari kematian. Saya bicara tentang budaya, tradisi, dan ide: hal-hal yang dirawat dan diperbarui oleh setiap generasi. Tapi lupakanlah hal-hal abstrak ini, mari kita berwisata sejenak.

Seperti saya sebut di awal, gereja adalah penanda pusat kota-kota di Eropa. Maka, ia menjadi simbol penting. Dan setelahnya menjadi atraksi wisata yang tak luput dikunjungi. Orang-orang masuk ke gereja, mengagumi arsitekturnya, dan pergi. Ia seperti Disneyland. Saya ingat ketika di Ljubljana (Slovenia), saat itu hari Minggu pagi, dan gereja tetap dibuka untuk turis pada saat misa berjalan. Bayangkan situasi ini: kita sedang beribadah di gereja, lalu turis-turis masuk ke dalam untuk melihat-lihat dan sesekali memotret.

Saat itu saya kaget. Tapi saya lihat para jemaat biasa-biasa saja, demikian juga Pastor yang memimpin ibadah. Ibadah tetap berlangsung sesuai liturgi, meski saya tak tahu apakah itu misa yang khidmat atau tidak. Pengalaman ini seperti jembatan saya yang membawa saya memahami (atau semakin tidak memahami) budaya lain. Eropa, bagi manusia-manusia Indonesia seperti saya, adalah narasi yang sulit dimengerti. Demikian pula soal ibadah Minggu.

Ibadah Minggu pertama saya di Eropa adalah di Gereja St. Wilhadi, Stade, Jerman. Gereja itu adalah bekas gereja Katolik yang eksis sejak abad ke-11, dan kemudian digubah menjadi gereja Protestan setelah masyarakat ramai-ramai menjadi Lutheran ratusan tahun lalu. Ibadah pagi itu digelar dalam bahasa Jerman. Karena tak mengerti isi ibadahnya, saya jadi sibuk mengamati sekeliling. Ruangan gereja tak terisi penuh dan mayoritas jemaat adalah adiyuswa. Kata tante saya, adik kandung bapak, hari itu mendingan karena ada prosesi baptis anak. “Biasanya tante dan om jemaat yang paling muda,” ucap tante saya, yang usianya 50-an.

Ucapan itu memang terbukti ketika saya bergereja di kota tempat tinggal saat ini, Wageningen. Memasuki gereja, saya cuma bisa melihat rambut-rambut beruban. Cuma sedikit orang muda yang terlihat. Jumlah jemaat pun bisa dibilang sedikit. Sepanjang tinggal disini, saya tak pernah melihat gereja penuh. Lambat-laun saya mulai terbiasa dengan suasana ibadah seperti ini. Sesekali, saat ingin sesuatu yang lebih “muda”, saya pergi ke ibadah Minggu oikumene berbahasa Inggris yang digagas dan diikuti mahasiswa-mahasiswa internasional.

Kita mungkin bertanya, kemana perginya anak-anak muda itu? Jawabannya bisa banyak. Ateisme adalah hal normal di Eropa, apalagi Belanda, negara yang super-bebas. Beberapa teman tak ragu mendaku diri sebagai ateis, beberapa yang lain berhenti pergi ke gereja sejak remaja karena gereja membosankan. Tapi selebihnya, lingkaran pertemanan disini tak banyak membahas soal agama. Jadi saya tak pernah benar-benar tahu urusan agama teman-teman saya. Karena seperti ucapan seorang bapak di Freiburg pada awal tulisan, agama adalah urusan masing-masing. Kita boleh setuju atau tidak. Tapi, setidaknya, demikianlah faktanya.

(20 Januari 2017)

Bunga

Di Jakarta, bunga dibakar. Kita memang suka membakar, ya? Membakar buku, membakar gereja, membakar massa, membakar tali, membakar api, membakar kita.

Di sini, di musim semi yang gamang, bunga adalah cerita lain. Kita pergi jauh mengagumi bunga, entah di Keukenhof atau Texel atau Lisse atau entah dimana lah. Bunga jadi tanda untuk merayakan musim yang menghangat. Bahwa kita mampu melewati musim dingin yang suram itu. Kita merayakan bunga dan matahari. Tapi tanpa membakar.

Di Jakarta, kita berdebat soal bunga. Kita beradu kata, menanam bara api di kepala, dan lupa untuk apa bersuara. Kita berdebat untuk berdebat. Kita bicara tentang bunga, tapi lupa menanam bunga. Kita tak pernah tahu apa-apa soal bunga. Kita tak tahu bagaimana ia tumbuh. Kita hanya suka membakar dan berteriak soal bunga. Tak lebih.

Di sini, bukankah kita harus jadi bunga? Kita harus jadi wiji yang tumbuh di tubuh tembok-tembok beton itu. Kita percaya, suatu saat tembok itu harus hancur.

(2 Mei 2017)

Angin

Aku ingin menjadi angin di musim semi. Dan kau membiarkanku berhembus, sesekali, di tengah hari-hari 20 derajat celcius. Lente, kata mereka. Kita mendamba matahari dan merayakan terik dengan duduk-duduk di rumput depan kampus. Menenggak bir di siang hari, seraya melupakan klise-klise di dalam kelas.

Di hari Minggu yang terik, aku bersepeda dengan kaos. Dengan kaos! Kulihat anak-anak pirang bermain bola di taman, berskate-board ria di skatepark, atau sekadar berlarian di bawah matahari. Di negeriku, di selatan dunia sana, matahari adalah semacam rutinitas yang kita abaikan. Disini, kita merindukannya mati-matian.

Hari-hari ini, musim semi memberi wajah keduanya. Suhu menukik lagi seperti bulan-bulan di musim dingin. Senyum-senyum menghilang lagi. Angin memberi gigil, sedang hujan sesekali jatuh rintik-rintik. Tapi, kita harus tetap bersyukur, bukan? Karena musim dingin sudah lalu dan musim panas kian jelang.

Beberapa bulan lagi, aku mungkin akan tersesat di hutan-hutan Siberut. Aku akan kuyup oleh hujan di pulau tropis. Mungkin aku akan merindukan Belanda di saat itu. Atau mungkin tidak. Mungkin aku hanya akan membayangkan Wageningen sebagai postcard, yang memberi imaji yang melankolis. Tak lebih, tak kurang.

India

Menjelang dua setengah pagi aku pergi dari Luca. Kita berpapasan di depan dan mengumbar senyum. Lalu sepeda memisahkan kita. Tenun sumba di depan stang dan sepatu bayi kecil berwarna putih mengantarku ke Dijkgraaf. Kau entah kemana. Mungkin Born atau ke tempat temanmu entah dimana.

Suatu hari nanti, aku akan mengembara ke India. Aku akan mampir di Mumbai: bercengkrama dengan orang tua di pinggir jalan atau mengikuti kursus yoga. Di India, aku tak mencari spiritualitas timur. Aku mencarimu di sudut-sudut Mumbai, meski engkau mungkin saja masih tersaruk di kota-kota Eropa.

Di lantai dansa, kita bertukar mata. Aku menatapmu dengan La Chouffe di genggaman. Kau menari dengan teman pirangmu. Kita bergerak bersama Afrika, mengikuti gerak orang-orang yang terlalu larut entah dalam musik atau melankolia. Dan kau menghilang seperti udara yang terbang dihembus masa depan.

Setelah ini, kita bisa saja bertemu di perpustakaan atau jalanan atau kantin atau rerumputan di dekat danau. Tapi kita belum tentu menyapa. Aku akan mengingatmu dengan kesenduan yang dalam. Tapi aku akan mencarimu di koridor. Aku tau kau dimana dan suatu hari aku kan menjemputmu. Percayalah.

Post-Toekomst

It was a metro direction Gein number 50.

Jakarta collapsed in my mind and altered its form into an imaginary. All the past passed through the cells in the head: a night of Soccer closure, the post-Jumat ceria driving to home, ever-crowded commuter line, people in Sudirman, memorable small office in Karang Tengah, tiring working days in the central, and so on, and so forth.

It was an Intercity naar Ede-Wageningen.

Depok came into me as melancholy. I tried to grasp the meaning but failed. It was its residual which I sipped with poetic mind-digging. Then, I missed Bahasa. A kind of magical thing through which I shape and reshape myself: talking with strangers in train, asking people in the cities I had never been, reading old poems.

It was a bus via Hoevestein number 88.

Indonesia blurred like an egg in the pan. It is a puzzle I will never solve: the sea and the mountains, the people and the customs, the cities and the rural, the greats and the shits. And I might be never giving up. Walking into the past, running into the future, and trapped in the now with the knives in the heart. Oh the blood everywhere.

It was Haagsteg after midnight. Everything stopped.

Nostal…gila

Di Eropa, nostalgia menjebak kita. Bangunan-bangunan entah dari abad berapa seperti perangkap. Kita terus merestorasi, merenovasi, dan membayangkan abad pertengahan. Di Eropa, nostalgia adalah musuh yang tengik.

Tapi kita belajar tentang sustainability dan omong kosong lain di kelas. Kita melihat ke depan. Kita memupuk etika-etika orang kulit putih dan memanggul beban dunia di pundak. Kita tergila-gila oleh masa depan.

Dan, kita merajah carpe diem di tubuh. Kita ingin merayakan hari ini. Kita mabuk-mabukkan, kita melakukan hal-hal for the sake of today, kita bebas. Persetan masa depan, persetan masa lalu. Seize the day, katanya.

Selalu seperti ini setiap hari. Nostalgia menarik kita mundur, sedang abstraksi masa depan mendorong kita ke depan. Di tengah, carpe diem menusuk-nusuk kita. Di tengah malam kita linglung bukan main. O fuck the time.

Porto

Porto, bagi saya, adalah seorang bapak di Do Dragao pada Jumat malam itu. Sebelum wasit meniup peluit tanda mulai laga, si bapak membuat tanda salib. Saya lihat bibirnya seperti mengucap sesuatu. Mungkin semacam doa dalam bahasa Portugis. Raut mukanya menunjukkan keseriusan dan ketulusan di saat bersamaan.

Sejak kecil, saya telah melihat banyak orang berdoa. Tapi, selamanya saya tak akan melupakan momen itu. Saya tahu persis bapak yang duduk di sebelah saya itu mengimani FC Porto dengan ketaatan yang penuh. Baginya, Porto tak lagi sekadar klub sepakbola. Saya tak mau menyebut agama. Karena saya rasa lebih dari itu.

Malam itu Porto bertemu Tondela yang duduk di peringkat paling bawah di klasemen. Empat hari setelahnya mereka akan menjamu Juventus di Liga Champions. Banyak pemain utama yang dicadangkan. Tapi stadion tetap sesak, setidaknya di bagian belakang kedua gawang. Do Dragao mungkin adalah semacam gereja.

Saya lihat orang-orang saling menyalami sebelum duduk di bangku masing-masing. Persis seperti kebiasaan yang saya pelajari sejak kecil di ibadah hari Minggu. Di sekeliling saya, kebanyakan adalah bapak-bapak paruh baya. Saya membayangkan mereka adalah pemegang tiket terusan selama berpuluh-puluh tahun.

Tapi, bapak di sebelah saya adalah yang paling saya ingat. Tentu saja karena ia dekat. Maka saya bisa mendengar helaan nafasnya saat Porto membuang peluang emas atau salah oper yang membahayakan pertahanan. Bapak itu tak pernah berteriak. Tampaknya ia bukan tipe fans yang bawel. Ia mengimani FC Porto dalam sunyi.

Melihat bapak itu membuat saya teringat cerita seorang teman asal Jerman. Dia fans Kaiserslautern. Pilihannya adalah warisan keluarga. Dia pernah cerita bahwa kakeknya pernah tiga kali terkena serangan jantung karena menonton Kaiserslautern. Salah satunya membuat sang kakek meninggal dunia. Ya, karena sepakbola.

Bapak itu mungkin saja adalah salah satu orang yang punya tendensi untuk mati karena sepakbola. Itu yang saya pikirkan saat mendengar helaan nafasnya yang berat. Saya yakin jantungnya berdegup kencang setiap menonton Porto. Saya tak tahu bapak itu punya masalah jantung atau tidak. Jika pun iya, saya yakin ia tak peduli.

Porto, bagi saya, adalah seorang bapak di Do Dragao pada Jumat malam itu. Di akhir laga, Porto menang telak empat gol tanpa balas. Bapak itu meninggalkan tribun sekitar 10 menit sebelum laga berakhir. Berkali-kali ia mengangkat telepon genggamnya. Mungkin ada hal penting yang menunggunya di luar stadion. Di luar sepakbola.

Tentang Kota Kecil yang Tak Berisik

Kemarin saya pulang ke rumah setelah menyantap french fries 2 euro di samping Jumbo. Hujan turun rintik-rintik. Jalanan sepi. Di tengah jalan saya seperti mencerna bulan-bulan yang berlarian di belakang. Sudah setengah tahun saya tinggal di kota kecil ini. Segalanya berjalan sangat cepat seperti mimpi indah di malam yang gegas.

Dan saya nyaris tak pernah mencatat apa-apa soal kota ini, kota yang suatu nanti di macet Jakarta akan saya rindukan dengan teramat sangat. Disini, saya meresapi sunyi dengan ketaatan yang total. Kita tak perlu kata-kata untuk menjadi ada di Wageningen. Kita hanya perlu diam dan membiarkan kata-kata membentuk dirinya sendiri.

Seperti lonceng Grote Kerk yang berdentang berkali-kali di hari Minggu, dan tetap saja sepi, kita mungkin perlu sesekali bicara: tentang bir yang leleh di pub atau toko Asia di centrum, tentang blues night yang memabukkan atau betapa melelahkannya bersepeda di tengah angin. Selebihnya, bisakah kita nikmati saja udara tanpa bunyi disini?

Kota ini seperti menyanyikan lagu yang tak bersuara, mirip 4’33’’-nya John Cage tapi dengan melankoli yang tak bisa diserap ke Youtube. Disini, suara menjadi definisi yang tak lagi sama. Ia adalah bukan-kata, bukan-nada, bukan-klakson, bukan-teriak, bukan-makian. Ia hanyalah sekumpulan senyawa yang tak pernah bisa kita pahami.

Setelah ini kalender akan salip-menyalip dengan jam dinding. Kita akan kembali, bukan? Kita akan mendekap lagi bantal di kamar dan menikmati sore di teras rumah. Lalu, kita akan berkawan lagi dengan suara-suara yang tak pernah ada di kota ini. Di suatu pagi beberapa tahun lagi, kita akan mengingat Wageningen. Justru karena ia diam.

(Februari 2, 2017)

Forget Society

Darling, forget society. We will sit in the rainbow when the revolution blows up in the streets. We will drink the good wines of French and talk about being young forever. We will kiss as if time stops in the night of snows and wars. Are you getting drunk? Can we just move up to the sky and fly freely like a pair of sparrows?

Darling, forget society. I want to dance in the smoke and blow the whole world in your eyes. I will sing you a song I never heard, like a drunken poet in the Fifth Avenue. Jazz is swinging and we are sleeping in the clouds. It is so serene without humans, without cars, without televisions, isn’t it? I want to die in the hug of yours.

Darling, forget society. No Vaticans, no Kutas, no Marrakeshs. We don’t need names for cities we pass through. We need no stories, we need no souvenirs. But, we are gonna be eternal. Like the statues, like the Bibles, like the suns. Do we have to go mad now and ski in the frozen river in the north? Or maybe not, we need a rest.

Darling, forget society. Forget the antique phrase in Sanskrit, and the Communist Manifesto, and the Einstein & co. We should just pick an ukulele and go to the roof. Play me the sad songs from nowhere, from the land that never been told. Then, I will slowly be absorbed into air. And gone, like we’ve never been really exist.