Rijn Blues

nothing was blurred in the Rijn
neither fire nor sky
voice of yours filled the ears with melancholic rhythm
like a song from distant lands in the south
we kept talking on agony, on ballad, on brutality
the lives we live on is the broken ones since it began
but it was not an apathy that keeps fire burning
it was the archaic wisdom that fire will die someday

(21 Juni 2017)

Advertisements

Vilnius

Di Vilnius, saya bertemu seorang gadis Argentina yang manis di tengah-tengah balaikota, saat matahari sedang bersahabat. Kita bertukar senyuman dan saya memberinya kuesioner. Lalu kata-kata berpindah.

“Do you like Vilnius?” tanya saya.

“Yes. I like this city, because it is chaotic.”

Kita bicara dengan bahasa yang sama, bahasa yang diucap orang-orang dari selatan ketika membaca kota-kota Eropa. Eropa barat, bagi kita, adalah semacam struktur kaku yang rapi dan terlalu mekanikal. Kita tumbuh di selatan, di Jakarta dan Buenos Aires. Maka, Amsterdam dan Milan terlampau menjemukan. Bangunan-bangunan yang serbatertata, jalanan yang supermulus, dan ritme hidup yang disebut “beradab” oleh banyak orang.

Tapi, kita tahu ada yang keliru. Kita tumbuh di selatan, di Jakarta dan Buenos Aires. Maka, kita merindu yang chaotic, yang kacau, yang ribut, yang tak karuan, yang tak tertata, yang serbaberantakan. And we put value in chaos, because we find humanity in it.

Vilnius, bagi kita, terasa lebih humane. Kota-kota di barat sana terlalu palsu. Kita butuh yang dinamis. Dinamis yang sebenarnya, bukan yang diatur-atur negara atau walikota.

Maka, kita menikmati Vilnius seperti menikmati rumah, seperti menikmati Jakarta dan Buenos Aires. Tempat kita mengeluh setiap hari: mengutuk jalanan yang macet, atau kereta yang selalu sesak, atau pengemis di mana-mana, atau pemerintah yang tak becus mengurusi warga negara.

Di Vilnius, kita merindu itu semua seraya menemukan sudut pandang yang baru. Kita melihat dunia dengan cara yang tak sama lagi. Karena kita tumbuh di selatan, belajar di Wageningen dan Milan, lalu berkelana kemana-mana. Ke Vilnius atau kota-kota lain yang tak disebut sebagai “barat”.

Suatu hari nanti, kita akan pulang. Jakarta dan Buenos Aires akan menjadi jarak yang tak terkendali. Tapi kita tetap memelihara agama yang sama, kita masih bicara dengan bahasa yang sama. Kita adalah anak-anak selatan yang memahami bahwa khaos adalah manusiawi dan Barat adalah konstruk yang membosankan. Kita ingin hidup bebas di selatan, bukan menjadi neolib di utara sana.

Totti

Totti adalah (sebuah) Roma(n). Di hari Minggu kemarin, kita membacanya sebagai epilog. Bahwa waktu adalah gerak yang tak bisa dihadang. Kita boleh menulis roman seromantik apapun, tapi ujung akan selalu ada. Di Olimpico, Totti memberi kita air mata dan kenyataan itu. Kita larut dalam melonkolia bersama kota nan abadi.

Menjelang laga terakhir Totti, seorang teman asal Venezia berseloroh ringan. “Totti pensiun berarti kita benar-benar sudah tua,” ujarnya. Kita melewati masa kecil dengan Totti di televisi. Dan ia bertahan hingga kita melewati pubertas, masa remaja, dan pelan-pelan menua. Dan ia masih memakai seragam yang sama. Totti menjelma jadi nasihat: bahwa selalu ada yang berubah, bahwa selalu ada yang tidak berubah.

Kemarin, di Hollandseweg, saya berbincang dengan seorang gadis cantik dari Roma. Tentu saja, kita bicara soal Totti. Ia berkisah betapa linimasa Facebook-nya dipenuhi kata-kata manis untuk Totti. Semua temannya, entah perempuan atau laki-laki, mengumbar puisi untuk Sang Pangeran. Totti pergi dengan sajak nan harum.

Hari ini, di sela-sela kerja kelompok yang membosankan, saya menyetel video perpisahan Totti. Seorang teman asal Sardinia menerjemahkan beberapa kata dari Totti, saat ia memberi kata-kata terakhirnya di Olimpico. Lalu air mata tetes begitu saja. Setelahnya adalah nostalgia bercampur roman bercampur melankoli.

Kemarin dan hari ini, kita telah membaca Totti dengan romantisme yang berlarut-larut. Kita mengingat yang di belakang. Nostalgia menjebak kita. Juga kisah tentang betapa tengiknya sepakbola modern, saat Totti menjadi manifestasi terakhir dari antitesisnya. Dan waktu terus bergerak. Totti telah berakhir. Dan kita juga suatu nanti.

30°

Aku ingin meminjam matahari yang terbenam di pukul 10 dan menaruhnya di sudut meja. Agar aku terjaga terus, walau lejar menghantam sekujur tubuh. Keringat mengucur di hari-hari 30 derajat di musim semi yang menggairahkan. Di pantai Rijn, aku menikmati nyanyi tropikal di tengah negara yang tampak begitu suram sebelumnya.

Adalah Sumbawa. Adalah Sumba. Dari balik ranting-ranting, aku mengintip terik matahari pukul 4 sore. Anak-anak bermain bola di sungai dan aku rebah di dekat pohon. Beralas kaos bertulis Ljubljana dan sandal untuk bantal. Aku mengingat Bali-Lombok di tengah malam. Saat ferry melintasi selat dan membawaku tiba di Mataram pada pagi yang dini.

Di hutan kecil di tepi Rijn, aku mengingat tempat-tempat asing yang kulewati dahulu. Saat masa muda berupa perjalanan-perjalanan yang tak pernah terlalu direncanakan. Saat masa depan berupa kaleng bir kosong yang terlupakan begitu saja. Aku mengingat orangutan di Mentarang yang menghiasi pagi saat ku bermandian di air terjun Semolon.

Hari-hari ini begitu memilukan. Karena matahari membuatmu merindu rumah. Dan tanaman-tanaman yang ditanam ibuku di halaman. Waktu kecil dulu, aku suka menyapu daun-daun pohon nangka kami. Aku suka menyiram mawar atau membasahi rumput supaya ia tak mati. Di akhir Mei yang hangat, rumah menghiasi mimpi-mimpiku.

Setelah ini, aku harus membaca banyak. Mentawai kan menjelma pintu yang membawaku pulang. Aku kan menulis omong kosong untuk universitas dan Garuda mengantarku ke peluk ibu. Aku kan rebah di kamar dan bermalas-malasan di teras. Aku kan mengunjungi bapak dan memberinya cerita-cerita soal Eropa. Lalu aku kan  ke Mentawai.

Lalu Belanda lagi. Fyuh.

Oh journalism

It was a beautiful sunny afternoon in Nederrijn. And I miss journalism a lot. Oh the deadline, editorial meeting, and conference press.

It was a nice goodbye BBQ party in Droevendaal. And I was asked about going back to journalism. Oh life of mine, where are you heading to?

There were great great days in the field, in Karang Tengah, in Kebon Jeruk. And I am stuck here in the library that speaks nothing, but hypocrisy.

It was a pleasure to go back to university. And going somewhere out of Jakarta life. And, I believe nothing. Neither journalism nor academia. Nihilo.

Ahok

There are always those sad days. When life burned into ruptures.

Today was one of them. When you started morning with the disappointment, deep deep agony. It was like you lose hope of everything. It was a day when you stop believing in anything, not in democracy or post-democracy or whatever it is.

It was an exam. I did a lot of bullshit around many things: land tenure, biopower, politic of ontology, post-democracy, post-development, and bla bla.

But, there was one phrase which never failed to catch me every time: disavowal of antagonism. That we are, basically, created through antagonism, difference. It is through antagonism that we shape and reshape ourselves. We disavow antagonism too often, meaning we disavow the chance for egalitarianism too often.

It is what always happens, right? We have been trying too hard to become same, to become equal, but we will have never been. We are antagonistic. But, not in negative way. It is just the way things are. And we disavow it for so many times. Thus, we fail to grasp the essence. We believe we practice democracy well, but we are not.

Fuck everything.

Gereja dan Hal-Hal yang Tak Dibicarakan

Eropa dan gereja adalah semacam pasangan yang bercerai, tapi tak pernah benar-benar berpisah. Ada ujar-ujar di sini: jika kau berkelana di sebuah kota Eropa dan lalu tersesat, carilah menara gereja yang tinggi menjulang, di sanalah pusat kota. Seperti masjid agung dan alun-alun yang nyaris selalu duduk berdampingan di pusat kota-kota di Jawa, demikianlah gereja dan kota-kota Eropa. Tapi, sepertinya tak lebih dari itu.

Sejarah Eropa adalah sejarah yang berdarah-darah. Waktu kecil dulu saya selalu ingat bagaimana Galileo Galilei dan Copernicus dimaki-maki oleh gereja karena menyatakan matahari adalah pusat, bertentangan dengan kepercayaan gereja pada waktu itu yang percaya bumi adalah pusat. Belakangan, kita semua tahu bahwa Galilei dan Copernicus yang benar. Pelan-pelan Eropa tumbuh menjadi skeptis terhadap gereja. Kita lalu mengenal enlightenment, abad pencerahan. Eropa hari ini adalah tradisi yang diteruskan dari semangat pencerahan itu.

Namun, gereja tak pernah benar-benar selesai. Tentu saja, seperti tempat lain di muka bumi, ada kelompok-kelompok yang tetap setia pergi ke gereja di hari Minggu. Demikian juga di sini. Bedanya sekularisme mendidik orang-orang Eropa untuk tak menyangkutpautkan agama dengan urusan sehari-hari, apalagi politik. Agama adalah urusan personal, kata seorang lelaki paruh baya ketika saya berkunjung ke sebuah gereja tua di Freiburg. Tentu kita bisa membantah ucapannya karena Alkitab menyebut sejarah gereja mula-mula tumbuh dari komunitas.

Tentu saja ada rantai histori panjang yang telah merangkai benang pikiran manusia-manusia Eropa hari ini. Kita manusia adalah proses yang tak berkeseduhan, yang dibentuk jauh sebelum kita lahir, dan mungkin akan bertahan melampaui hari kematian. Saya bicara tentang budaya, tradisi, dan ide: hal-hal yang dirawat dan diperbarui oleh setiap generasi. Tapi lupakanlah hal-hal abstrak ini, mari kita berwisata sejenak.

Seperti saya sebut di awal, gereja adalah penanda pusat kota-kota di Eropa. Maka, ia menjadi simbol penting. Dan setelahnya menjadi atraksi wisata yang tak luput dikunjungi. Orang-orang masuk ke gereja, mengagumi arsitekturnya, dan pergi. Ia seperti Disneyland. Saya ingat ketika di Ljubljana (Slovenia), saat itu hari Minggu pagi, dan gereja tetap dibuka untuk turis pada saat misa berjalan. Bayangkan situasi ini: kita sedang beribadah di gereja, lalu turis-turis masuk ke dalam untuk melihat-lihat dan sesekali memotret.

Saat itu saya kaget. Tapi saya lihat para jemaat biasa-biasa saja, demikian juga Pastor yang memimpin ibadah. Ibadah tetap berlangsung sesuai liturgi, meski saya tak tahu apakah itu misa yang khidmat atau tidak. Pengalaman ini seperti jembatan saya yang membawa saya memahami (atau semakin tidak memahami) budaya lain. Eropa, bagi manusia-manusia Indonesia seperti saya, adalah narasi yang sulit dimengerti. Demikian pula soal ibadah Minggu.

Ibadah Minggu pertama saya di Eropa adalah di Gereja St. Wilhadi, Stade, Jerman. Gereja itu adalah bekas gereja Katolik yang eksis sejak abad ke-11, dan kemudian digubah menjadi gereja Protestan setelah masyarakat ramai-ramai menjadi Lutheran ratusan tahun lalu. Ibadah pagi itu digelar dalam bahasa Jerman. Karena tak mengerti isi ibadahnya, saya jadi sibuk mengamati sekeliling. Ruangan gereja tak terisi penuh dan mayoritas jemaat adalah adiyuswa. Kata tante saya, adik kandung bapak, hari itu mendingan karena ada prosesi baptis anak. “Biasanya tante dan om jemaat yang paling muda,” ucap tante saya, yang usianya 50-an.

Ucapan itu memang terbukti ketika saya bergereja di kota tempat tinggal saat ini, Wageningen. Memasuki gereja, saya cuma bisa melihat rambut-rambut beruban. Cuma sedikit orang muda yang terlihat. Jumlah jemaat pun bisa dibilang sedikit. Sepanjang tinggal disini, saya tak pernah melihat gereja penuh. Lambat-laun saya mulai terbiasa dengan suasana ibadah seperti ini. Sesekali, saat ingin sesuatu yang lebih “muda”, saya pergi ke ibadah Minggu oikumene berbahasa Inggris yang digagas dan diikuti mahasiswa-mahasiswa internasional.

Kita mungkin bertanya, kemana perginya anak-anak muda itu? Jawabannya bisa banyak. Ateisme adalah hal normal di Eropa, apalagi Belanda, negara yang super-bebas. Beberapa teman tak ragu mendaku diri sebagai ateis, beberapa yang lain berhenti pergi ke gereja sejak remaja karena gereja membosankan. Tapi selebihnya, lingkaran pertemanan disini tak banyak membahas soal agama. Jadi saya tak pernah benar-benar tahu urusan agama teman-teman saya. Karena seperti ucapan seorang bapak di Freiburg pada awal tulisan, agama adalah urusan masing-masing. Kita boleh setuju atau tidak. Tapi, setidaknya, demikianlah faktanya.

(20 Januari 2017)

Bunga

Di Jakarta, bunga dibakar. Kita memang suka membakar, ya? Membakar buku, membakar gereja, membakar massa, membakar tali, membakar api, membakar kita.

Di sini, di musim semi yang gamang, bunga adalah cerita lain. Kita pergi jauh mengagumi bunga, entah di Keukenhof atau Texel atau Lisse atau entah dimana lah. Bunga jadi tanda untuk merayakan musim yang menghangat. Bahwa kita mampu melewati musim dingin yang suram itu. Kita merayakan bunga dan matahari. Tapi tanpa membakar.

Di Jakarta, kita berdebat soal bunga. Kita beradu kata, menanam bara api di kepala, dan lupa untuk apa bersuara. Kita berdebat untuk berdebat. Kita bicara tentang bunga, tapi lupa menanam bunga. Kita tak pernah tahu apa-apa soal bunga. Kita tak tahu bagaimana ia tumbuh. Kita hanya suka membakar dan berteriak soal bunga. Tak lebih.

Di sini, bukankah kita harus jadi bunga? Kita harus jadi wiji yang tumbuh di tubuh tembok-tembok beton itu. Kita percaya, suatu saat tembok itu harus hancur.

(2 Mei 2017)

Angin

Aku ingin menjadi angin di musim semi. Dan kau membiarkanku berhembus, sesekali, di tengah hari-hari 20 derajat celcius. Lente, kata mereka. Kita mendamba matahari dan merayakan terik dengan duduk-duduk di rumput depan kampus. Menenggak bir di siang hari, seraya melupakan klise-klise di dalam kelas.

Di hari Minggu yang terik, aku bersepeda dengan kaos. Dengan kaos! Kulihat anak-anak pirang bermain bola di taman, berskate-board ria di skatepark, atau sekadar berlarian di bawah matahari. Di negeriku, di selatan dunia sana, matahari adalah semacam rutinitas yang kita abaikan. Disini, kita merindukannya mati-matian.

Hari-hari ini, musim semi memberi wajah keduanya. Suhu menukik lagi seperti bulan-bulan di musim dingin. Senyum-senyum menghilang lagi. Angin memberi gigil, sedang hujan sesekali jatuh rintik-rintik. Tapi, kita harus tetap bersyukur, bukan? Karena musim dingin sudah lalu dan musim panas kian jelang.

Beberapa bulan lagi, aku mungkin akan tersesat di hutan-hutan Siberut. Aku akan kuyup oleh hujan di pulau tropis. Mungkin aku akan merindukan Belanda di saat itu. Atau mungkin tidak. Mungkin aku hanya akan membayangkan Wageningen sebagai postcard, yang memberi imaji yang melankolis. Tak lebih, tak kurang.