Babak Baru Pariwisata Indonesia

Pariwisata Indonesia sepertinya menjalani babak terbaru. Di bawah komando Presiden Jokowi, target 20 juta wisatawan mancanegara pada 2019 dipatok. Menteri yang mantan CEO pun dipilih. Pariwisata akan disulap menjadi mesin pengeruk uang yang handal, sekaligus sebagai alat penting dalam memamerkan citra Indonesia di mata dunia.

Sejak dipilih Oktober lalu, Menteri Pariwisata membuat beberapa terobosan. Misalnya pembebasan visa untuk turis dari beberapa negara, pengembangan jalur yacht, penguatan brand Wonderful Indonesia, strategi pemasaran DOT (Destination, Origin, Time), prioritas pembangunan destinasi 2015-2019, dan sebagainya. Semua itu adalah rencana yang disusun dengan mata terarah pada target 20 juta wisman di tahun 2019.

Apa yang dilakukan Kemenpar dan yang diinginkan Presiden adalah logika yang pantas untuk negeri secantik Indonesia. Dengan sumber daya alam yang menempati peringkat ke-6 sebagai salah satu indikator tourism competitiveness (tahun 2013), Indonesia harusnya ada di papan atas destinasi pariwisata dunia. Namun, nyatanya daya saing pariwisata nasional kita hanya ada di ranking ke-70. Apa yang salah?

Dalam data World Economic Forum tahun 2013 lalu, tiga indikator yang paling melemahkan posisi Indonesia adalah infrastruktur pariwisata, infrastruktur ICT, dan kebersihan/kesehatan. Mendapati fakta itu tentu membuat kita mengangguk-angguk kepala tanda setuju, bukan? Tidak mengejutkan sama sekali.

Tapi sasaran sudah kadung ditentukan. Target 20 juta wisman pada 2019 berbanding dengan 9,4 juta tahun lalu, sanggupkah? Optimisme tentu menjalar seisi gedung Kemenpar mengingat roda pemerintahan anyar masih belum setahun. Dengan gairah itu, pemasaran pariwisata menjadi prioritas. ‘Apapun yang terjadi, 20 juta wisman harus masuk ke Indonesia empat tahun lagi’, saya membayangkan Pak Menpar berkata seperti itu dengan lidah berapi-api. Bahkan, konon anggaran khusus untuk pemasaran naik empat kali lipat menjadi 1,2 triliun pada tahun 2015 ini.

Seperti saya sebut sebelumnya, target 20 juta wisman adalah angka yang wajar. Malaysia dan Thailand saja sudah melebihi angka 25 juta wisman dan mungkin sedang menyasar 30 juta wisman dalam beberapa tahun ke depan. Namun, ambisi itu juga harus diimbangi dengan pemahaman kritis terhadap pariwisata.

Target Pak Jokowi mau tak mau membuat strategi pariwisata nasional akan sangat ekonomistis dan business-oriented. Industri pariwisata akan dimajukan untuk mendorong angka 20 juta itu terwujud. Memang pariwisata sudah lama dipandang sebagai alat yang penting dalam meningkatkan perekonomian, tapi jangan lupa bahwa ia juga peristiwa sosial budaya yang amat terkait dengan masyarakat dan lingkungan.

Memasarkan pariwisata Indonesia sederas mungkin ke dunia luar sah-sah saja. Tapi konsep ‘sustainable’ harus diperhatikan dan dijadikan komitmen bersama para stakeholder pariwisata nasional. Term ‘sustainable’ memang salah satu kata terpopuler di seperempat awal abad ini, mungkin menggantikan popularitas kata ‘globalisasi’ yang menjadikan konsep ‘sustainable’ naik ke permukaan. Maka, sustainable tourism adalah kunci.

Sudah sering kita lihat pertarungan antara industri/bisnis dan masyarakat/lingkungan. Kita juga sudah tahu siapa yang lebih sering kalah dan apa dampaknya bagi kehidupan di bumi ini. Pariwisata memang salah satu cara terbaik bagi manusia untuk mengenali kehidupan, baik tentang dirinya maupun dunia. Namun, ia bisa jadi salah satu penyebab kenapa budaya tradisional tersingkir dan lingkungan rusak.

Tentu pendekatan yang ekonomistis itu harus diimbangi pendekatan yang lebih environmentalis. Bukan apa-apa, jika terlalu gegabah memaksakan angka keramat 20 juta wisman tadi, bisa-bisa keseimbangan sosial, budaya, dan ekologi di destinasi-destinasi pariwisata justru akan goyah. Dan yang terjadi setelahnya adalah penyusutan nilai sumber daya. Jangan sampai itu terjadi.

Untungnya, Pak Menpar yang sekarang tampaknya sangat berbasis pada riset dan data. Semua kebijakannya yang berorientasi bisnis dan industri tadi didasarkan pada angka-angka statistik. Seharusnya, Pak Menpar juga mempertimbangkan riset-riset kualitatif tentang kondisi sosial, budaya, dan lingkungan agar pemahaman yang menyeluruh bisa didapatnya sebelum mengambil putusan.

Pada akhirnya, babak baru pariwisata Indonesia ini patut diperhatikan. Ia akan sangat menentukan arah dan laju tahun-tahun setelahnya. Sepuluh tahun lagi saya ingin sekali menulis lagi tentang pariwisata nasional dalam situasi Indonesia sudah mengalahkan Thailand dan Malaysia sebagai raja di Asia Tenggara.

Advertisements

Fake Travel

Fake travel ialah sebuah produk dari jaman yang lapar akan eksistensi dan hilang arah dalam jalan panjang menemu identitas. Ini adalah perwujudan paling banal dari manusia-manusia post-industri yang masih menyimpan persoalan tentang eksistensialisme dalam masa dimana Sartre dan Camus dibaca hanya dalam kicauan.

Sejak awal, perjalanan wisata memang terkait dengan upaya manusia menempatkan diri dalam masyarakat. Perjalanan wisata pra-modern dilakukan kaum kaya yang berduit untuk menjelajah tempat-tempat asing demi menambah pengetahuan. Dan kita semua tahu, pengetahuan adalah jarak antar kelas dalam masyarakat.

Veblen, nama yang banyak dikutip dalam kajian tentang leisure dan gaya hidup, menuliskan dengan jitu bahwa leisure (termasuk perjalanan wisata) dilakukan dengan mencolok untuk menggambarkan posisi sosial. Karya yang terbit tahun 1899 itu pun masih relevan saat ini, sekaligus menunjukkan bahwa peradaban seolah berjalan di tempat.

Lalu muncullah jaman ini dan lahirlah berbagai rupa media sosial: Instagram, Path, Twitter, Facebook, dsb. Beragam media tersebut pelan-pelan menyandingkan diri dengan televisi dan media cetak sebagai institusi di masyarakat (post) modern. Yang terjadi setelahnya adalah polusi kata-kata dan warna-warni aksi pamer yang ekstatik.

Bersamaan dengan itu, berbagai bentuk gaya hidup naik ke permukaan. Traveling salah satunya. (Tentu ada alasan kenapa frasa ‘traveling’ lebih sering dipakai dibanding ‘jalan-jalan’, sama seperti ‘running’ daripada ‘lari’. Oh inlander). Perjalanan wisata lalu mengalami perubahan bentuknya yang paling populer dan juga paling nahas.

Satu sisi positif dari hal ini adalah demokratisasi perjalanan wisata, bahwa traveling kini bukan lagi mainan kaum kaya raya. Masyarakat biasa, dengan beragam variasinya, bisa melakukan tamasya ke tempat-tempat turistik itu. Perjalanan wisata melepaskan dirinya dari elitisme dan bergerak ke pelukan masyarakat massa.

Namun, pada segala yang bersifat ‘massa’ akan selalu ada kecurigaan terhadap pengkhianatan. Ketika sesuatu menjadi lahapan massa, ia akan kehilangan bentuknya yang asli, yang mungkin bernilai luhur, menjadi bentukan yang palsu, yang mungkin sengaja dibuat seseksi mungkin demi menarik minat seluruh konsumen budaya massa.

Terlalu banyak contoh yang menunjukkan keabsahan gejala itu. Namun, ketika saya mendengar ‘jalan-jalan palsu’ yang dilakukan seorang temannya teman, saya kehabisan kata-kata. Seakan ada yang menjerat lidah. Apalagi ketika mendapat cerita dari seorang kenalan lain yang mengenal beberapa orang yang melakukan hal serupa.

Sederhananya, fake travel adalah aktivitas di media sosial dimana seolah-olah seseorang sedang melakukan perjalanan. Kata ‘seolah-olah’ menggambarkan bahwa orang tersebut sebenarnya tidak kemana-mana. Hanya foto di Instagram atau Path, atau kicauan di Twitter, yang mengatakan dia sedang jalan-jalan. Kenyataannya berbeda.

Misal, seseorang mem-posting foto sebuah tempat yang indah di Italia, dengan caption berbau neo-liberalisme seperti ‘you rule your life, let’s travel around the world’. Termasuk dengan geo-tagging palsu yang menunjukkan dia sedang berada di tempat itu. Padahal, dia hanya sedang duduk santai di sofa empuk di ruang tamunya.

Kebohongan semacam ini hanya bisa terjadi di era digital, plus di masyarakat yang menyedihkan dimana kebebasan hanyalah konsep di atas kertas. Tekanan sosial dari keluarga, pekerjaan, sekolah, masyarakat, dan sebagainya membuat manusia-manusia itu hanya sanggup mengabadikan kebebasan dalam layar smartphone-nya.

Entah apa alasan pasti di balik aktivitas palsu itu. Dugaan kasar saya, pencarian identitas memiliki peran penting dalam pilihan perilaku tersebut. Orang-orang itu mendamba sebuah identitas dan jati diri tertentu yang tak mampu dimilikinya, dan terlalu memaksakan diri hingga akhirnya memilih menjadi penipu yang licin dan menyedihkan.

Meski terlalu banyak pesimisme dan negatif dalam tulisan ini, sebenarnya saya tidak menyalahkan mereka, para pelaku fake travel. Mereka toh hanya bagian unik lain dari masyarakat di millennium ketiga ini. Tak ada yang salah, mereka hanya berbeda. Lagipula mereka hanya korban dari jaman yang amburadul ini. Kasihan.

Menyoal Backpacking

“Westerners will often tell their Chinese acquaintances, with great pride, how little they paid for their watch, their clothes, or their car. This inevitably provokes disappointment. In Asia, the goal is to tell everyone how much you paid for these things.” (The Rebel Sell, p.269)

Saya sedang kangen bacaan yang yang agak berat. Biasanya jika hal ini terjadi, saya akan membuka kembali The Rebel Sell-nya Heath & Potter. Beberapa bab belum saya baca atau baru dibaca sebagian. Kali ini saya membuka bab Thank You India! dan tertegun di tengah bacaan ketika mendapati tiga kalimat yang saya kutip di atas.

Kutipan tersebut membuat saya merenung kembali ke masa-masa ketika menulis skripsi tentang fenomena backpacking di Indonesia. Sayang sekali, saya tak sempat membaca bab Thank You India! saat skripsi-an. Padahal, tiga kalimat itu bisa memberikan elaborasi lebih dalam memahami dan mengkritisi skena backpacking di Nusantara.

Sebelum kalimat pertama, Heath & Potter sempat menjelaskan kenapa orang Barat bersikap demikian. Adalah sisa-sisa pemikiran dari gerakan kounter-kultural 1960-an yang membuat semacam tabu bagi mereka untuk mengonsumsi barang dengan harga mahal. Gelagat anti-kemewahan itu yang masih terbawa hingga saat ini di masyarakat Barat.

Hal itu pula yang kemungkinan besar membuat backpacking begitu populer dan berkembang di sana. Identik dengan gaya perjalanan yang independen dan berbiaya murah, backpacking adalah potret lain dari semangat kounter-kultural di Amerika dan Eropa. Tujuannya cukup jelas, yakni menentang turisme arus utama yang terkesan elitis.

Menjadi menarik ketika backpacking terus bertambah populer dan kemudian merambah Asia. Pada titik ini ada tabrakan nilai yang tak terelakkan dan hasilnya adalah sebuah wujud yang berbeda dari backpacking. Seperti disebut di atas, backpacking mengandung semangat anti-mapan dan identik dengan murah, sedangkan orang Asia cenderung konsumtif.

Pemikiran ini memberi warna baru bagi saya dalam memahami wajah backpacking di Indonesia. “Pantas saja,” pikir saya dalam hati. Memang ada kekhasan dalam gejala backpacking di negeri ini yang berbeda dari konsep aslinya dari Barat. Tabrakan tadi yang rupanya membikin semacam khaos kecil yang menjadi dasar permasalahan di tulisan saya.

Saya menduga, ketika datang dengan kandungan budaya tanding ke Indonesia, backpacking justru ditangkap dan dimaknai dengan pola pikir yang konsumtif khas orang Asia. Ini melahirkan perpaduan yang unik, kalau tak mau dibilang aneh. Mungkin, inilah mengapa banyak yang terasa janggal pada (konsumsi budaya massa) backpacking di Indonesia.

Budaya Jalanan

Hari ini di Jakarta dan kota-kota penyangganya, jalanan adalah ruang yang kacau. Macet sudah terlalu lazim dan dianggap biasa, tak lagi dianggap sebagai penyakit. Kemudian rambu-rambu ditabrak, aturan dipatahkan, dan jalanan menjadi arena pertempuran ganas bagi predator-predator urban kontemporer.

Itu mungkin adalah konsekuensi sebuah kota yang sibuk dimana kapital adalah tuhan dan gedung-gedung pencakar langit adalah gereja. Secara pribadi saya menganggap, tak ada yang lagi yang bisa diselamatkan dari Jakarta. Jokowi dan Ahok bisa saja mengubah sedikit dan memberi harapan, tapi kematian kota ini tak akan terelakkan.

Hal itu tampak di jalanan. Jika anda pernah mengendarai kendaraan di kota lain semacam Solo, Mataram, atau Kupang, anda akan tahu bahwa budaya jalanan di Jakarta parah banget. Motor berbaris di trotoar demi sebuah detik yang terpangkas. Mobil saling sikut demi sebuah ruang yang tak luas. Dan pejalan kaki tak punya tempat lagi dalam kemuraman itu.

Lalu di lampu merah. Tempat yang sesak oleh klakson dimana orang-orang menanti lampu hijau seperti pembalap yang menunggu pistol ditembakkan. Disana orang tak peduli ada zebra-cross. Mereka menunggu lampu hijau di garis pembatas atau melewatinya, peduli setan. Ada kengerian di situasi lampu merah di jalanan Jakarta dan sekitarnya.

Tapi, belakangan ini yang paling meresahkan saya di jalanan ibukota adalah perilaku motor (kadang mobil) yang melawan arus. Tak apa jika melakukannya saat jalanan sepi total. Saya bukan orang yang patuh betul pada aturan, saya juga suka melanggar. Tapi saya tahu konteks. Aturan adalah ‘teks’ dan tiap teks mengandung konteks.

Jadi terkadang saya melawan arus saat hendak menuju minimart di jam 12 malam, atau saat menerobos lampu merah di jam 1 pagi dimana dalam jarak 100 meter tampak tak ada kendaraan lain yang ingin lewat. Saya melakukannya karena konteks yang ada membuat saya merasa pantas melakukan itu (meski tak perlu dicontoh). Tapi saya tak habis pikir dengan mereka yang melawan arus di jam-jam sibuk. Gila.

***

Pada suatu pagi-menjelang, saya mengendarai mobil pulang dari kantor ke rumah. Melewati jalan-jalan yang sepi, hanya berisi beberapa mobil dan motor. Lalu saya sampai di suatu lampu merah di deretan jalan Simatupang. Seperti biasa, saya berbaris menunggu lampu hijau muncul. Juga kendaraan-kendaraan lain.

Namun, kerapihan itu sirna usai sebuah angkot disusul taksi menerobos garis dan menunggu lampu hijau di depan garis pembatas serta mencari celah untuk langsung menginjak gas, mencuri start. Ketololan itu langsung disusul beberapa motor dan mobil yang tadinya mengantre dengan rapih. Bukankah kita, warga jalanan, pernah seperti itu?

Kita awalnya mengantre saat lampu merah, lalu saat angkot atau kendaraan lain, yang entah kenapa biasanya kendaraan umum (semisal angkot dan metromini, atau kendaraan jasa pribadi seperti ojek dan taksi), menyerobot garis, maka kita ikut-ikutan menjadi pelanggar yang patuh pada ‘norma’ saat itu. Saya akui saya pernah melakukan itu.

Saya enggan menuduh atau menunjuk muka orang lain, tapi saya agak curiga pada kendaraan-kendaraan umum itu, yang seolah menjadi garda depan barisan pelanggar jalanan. Saya juga curiga bahwa budaya jalanan kita hari ini sangat terpengaruh oleh apa yang dilakukan (dan dicontohkan) kendaraan-kendaraan umum, sang trend-setter, itu.

Anggapan ini tak saya kesampingkan karena (1) jumlah angkot (sebagai contoh) di Jabodetabek sangat banyak, kita melihatnya dimana-mana, banyak bisa berarti memegang ‘kuasa’, (2) apa yang ‘diajarkan’ angkot pada warga jalanan adalah hal yang logis untuk diikuti, di Jakarta jika anda tak melanggar aturan, anda akan sampai setengah jam atau satu jam lebih lama.

Maka jalanan kita hari ini berisi pelanggaran-pelanggaran yang dimaafkan dan akhirnya membudaya. Melanggar bukan lagi penyimpangan. Bagaimana itu dikatakan menyimpang jika semua orang melakukannya? Dari segi hukum mungkin itu menyimpang, tapi secara sosiologis itu telah jadi norma yang berlaku. Yang tidak melanggarlah yang menyimpang.

Seandainya anggapan di atas benar, tetap tidak tepat untuk menyalahkan kendaraan-kendaraan umum. Karena setelah mereka memberi contoh (yang buruk) pertama kali, motor-motor, yang notabene jumlahnya seperti bintang di langit, mengikuti contoh itu dengan sempurna. Lalu disusul mobil dan semua pengendara di jalanan ibukota.

Maka ia menjadi budaya. Dan kita pun turut serta menjadi warga jalanan yang ber’budaya’.

Selfie dan Paradoks Kesendirian

Konon, selfie adalah kata terpopuler 2013. Jadi, berarti pula selfie ialah aktivitas populer di tahun yang sama. Mengacu pada kamus Oxford, selfie ialah “a photograph that one has taken of oneself, typically one taken with a smartphone or webcam and uploaded to a social media website”.

Lantas ketika merenungkan kata tersebut, saya terpikir pada situasi dimana saya sedang melakukan perjalanan seorang diri. Di suatu pantai, saya ingin mengambil gambar diri sebagai kenangan. Lalu saya merentangkan kamera sejauh mungkin demi menangkap wajah saya dengan latar lautan yang biru.

Namun saya tak mengunggah ke situs maya atau media sosial, maka ia bukan selfie, menurut definisi Oxford. Tetap saja saya melakukan ‘setengah selfie dan setengah bukan-selfie’, karena saya melakukan kegiatan selfie dengan tidak lengkap. Tapi itu tak penting, mari bicara soal lain.

Pada dasarnya selfie adalah kegiatan yang dilakukan seorang diri (pada tulisan ini saya tak akan membahas selfie yang dilakukan dua orang atau lebih). Karena tak ada orang lain, atau mungkin karena malu difoto orang lain, maka orang memotret dirinya sendiri. Hal ini telah jamak dilakukan sejak handphone kamera muncul.

Apa yang membuat selfie meledak adalah keputusan untuk menyebarkan foto itu melalui media sosial.  Hasrat purba bernama narsisme, serta dorongan absurd dari media sosial hari ini, membuat selfie menjadi fenomena. Saya membayangkan sebuah paradoks disini, tentang kesendirian yang tak sendiri.

Pada mulanya orang sendirian (mungkin juga kesepian) lalu dia menyalurkan kesendirian dan kesepian itu dengan berfoto narsis. Lantas dia membagi pengalaman (kesendirian dan kesepian itu) ke khalayak media sosial, mungkin dengan alasan yang tak tersadari agar dia tak lagi sendiri dan kesepian.

Pada akhirnya adalah ocehan yang ramai dan balas-membalas komentar. Sepi tumpas, kesendirian tandas. Orang tak lagi sepi dan sendiri. Tapi semua itu tak berlangsung lama. Kesendirian dan kesepian muncul lagi, juga selfie, dan saling oceh di media sosial. Semua itu berulang terus menjadi sebuah ritus.

Memang, jelas tak sesimpel itu. Setidaknya selfie mampu menggabungkan kesendirian dan ketidaksendirian, kesepian dan keramaian, menjadi satu paket. Selfie hanyalah proses alamiah manusia untuk memamerkan diri untuk menunjukkan eksistensi, serta mencari orang lain (baca: kerumunan) agar tak merasa sendiri.

Tak ada yang salah dengan selfie, sama sekali tak ada. Hanya, pada tiap hal yang menjadi tren dan menjadi masif, kita patut berhati-hati. Itu saja.

(P.S: Tulisan ini belum selesai, bisa saja patah dengan argumen apa pun.)

Neymar

Saya ingat suatu momen di Piala Konfederasi 2013 lalu di Brasil. Tuan rumah berhadapan dengan Uruguay di laga semifinal yang akhirnya dimenangkan oleh Seleccao. Pada suatu fragmen di televisi, Neymar tampak kesakitan. Wajahnya mengandung nyeri yang meradang. Ia ditekel dengan brutal oleh salah seorang pemain La Celeste. Diego Perez kalau tidak salah.

Entah kenapa, bukannya kasihan pada Neymar atau kesal pada Perez, saya justru tak ambil pusing. Saya malah teringat salah satu esai tenar Roland Barthes saat dirinya berseloroh filosofis tentang gulat. Esainya dalam versi Indonesia diberi judul: Dunia Gulat. Secara garis besar, gulat dalam esai itu adalah teater manusia yang kejam, penuh darah, luka, dan rasa sakit. Tapi di dalamnya pun ada gegap gempita penonton, gairah memukul, dan uang yang bertukar pemilik. Orang-orang menikmati sadisme yang dibuat-buat.

Lantas ketika melihat wajah meradang yang ditunjukkan Neymar, saya membayangkan bahwa ia sedang berpura-pura, berteatrikal layaknya pegulat-pegulat dalam esai Barthes. Ia mungkin saja tak terlalu kesakitan. Mungkin saja tekel Perez tak parah, toh akhirnya Neymar bisa main lagi dan membuat assist di ujung laga. Tapi ekspresi Neymar kala itu terkesan sangat menderita, juga gerak tubuhnya yang mengesankan seseorang yang begitu dikasari.

Tapi yang lebih menarik adalah reaksi setelah fragmen itu. Suara-suara bergemuruh, seisi stadion seperti berteriak, mengutuk Perez, menudingnya sebagai bajingan tengik yang tak karuan, menaruh iba pada Neymar. Yang teringat kemudian adalah penonton-penonton dalam acara-acara gulat hiburan di televisi itu, juga penonton-penonton gulat yang digambarkan Barthes: mereka yang bersorak, berteriak, dan mengutuk, terutama ketika melihat darah dan tendangan yang telak.

Orang-orang boleh membenci Perez, tapi mereka harus tahu bahwa mereka sebenarnya mencintai Perez karena aksinya itu. Tanpa peran yang diusung Perez, sepakbola tak akan sebergairah itu. Penonton akan kecewa karena pertandingan begitu datar, tak ada gegap gempita yang tumpah, tak ada teriakan yang ramai, dan sepakbola hanyalah permainan yang terlalu bersih. Dan pada sebuah iklan sabun cuci kita sadar bahwa “berani kotor itu baik”.

Saya belum tahu pasti apakah Neymar benar-benar kesakitan saat itu. Seperti banyak rekan seprofesinya, ia mungkin sedang berdrama di detik yang tepat, meminta welas asih wasit dan penonoton sejagat, mengonstruksi dirinya sendiri sebagai pemain lincah nan jago yang harus dihajar keras untuk dihentikan. Ia mungkin sedang memainkan perannya sebagai petarung yang baik dan membiarkan Perez berakting sebagai petarung yang kasar. Ia tahu ia perlu sedikit pura-pura untuk menghibur khalayak.

Di akhir laga, semua tahu bahwa yang baiklah yang menang. Sepakbola terkesan mudah ditebak seperti hasil akhir sebuah partai gulat yang seru. Saat Neymar mencetak assist penonton tuan rumah bersorak-sorai, mengelu-eluan sang jagoan. Wasit seakan mengangkat tangan Neymar tinggi-tinggi dan menobatkannya sebagai juara. Sejak awal laga Neymar tahu ia akan menang.

Waisak

Saya membayangkan sosok Siddharta di bawah pohon bodhi. Ia akhirnya mencapai nirvana. Segala perenungan dan usahanya melawan hasrat duniawi berakhir pada surga. Namanya lalu menjadi abadi, memiliki banyak pengikut yang kemudian dilabeli sebagai agama Buddha. Tiga hari yang terkait dengannya kemudian diperingati sebagai Tri Suci Waisak. Pengikutnya berdoa dengan khusyuk di hari-hari itu.

Tapi kemudian datanglah turisme. Arus deras industri waktu luang menjadikan Waisak menjadi festival yang gegap gempita, perayaan yang memabukkan, pencarian status sosial, kegilaan yang ditaruh persis di atas kesucian Waisak. Biksu-biksu yang sedang berdoa dengan khusyuk terpaksa terganggu oleh berisik penonton dan silau jepretan kamera. Semua yang sakral akhirnya menjadi keping-keping.

Demikianlah hidup di jaman yang rakus, tempat konsumsi menjadi sentral. Semua yang ada, kalau bisa dimakan, termasuk tanda-tanda, terutama yang mendatangkan keuntungan, material maupun sosial maupun kultural. Maka berbondong-bondonglah menuju festival Waisak di candi yang tenar itu. Lengkap sudah: budaya antik, candi nan fotogenik, serta keramaian yang asik. Mampus.

Semua menjadi kompilasi dari hasrat untuk menjadi eksis dan tangan panjang industri. Waisak tetaplah Waisak, tapi festivalisasi dan turisfikasi karenanya adalah pembunuhan yang menikam jantung Siddharta. Semua yang diajarkannya menjadi lenyap tepat di hari-hari sucinya. Tak ada lagi ketenangan jiwa dan pelepasan hasrat. Pada hujan di candi itu, yang ada tinggal air mata Sang Buddha.

Selebriti

Semuanya adalah selebriti sekarang: menampilkan coreng-moreng dengan penuh kebanggaan sambil menghias diri dengan kata-kata puitik yang impresif. Semuanya menyebar menjadi virus yang parah, menjalar ke seluruh tubuh hingga tak ada tempat untuk mengelak. Semuanya menjadikan dunia orang lain sebagai milik pribadi dan dunia privat menjadi milik publik. Kemanakah kegilaan ini akan berakhir?

Kultus selebriti memarah dengan saluran-saluran yang mudah. Menjadikannya ada seraya membunuh sekat-sekat yang memenjara. Kebebasan meledak, terlalu meledak-ledak hingga tak tersisa apa-apa. Jaman ini adalah tentang pamer ini dan itu, baik yang patuh pada aturan budaya maupun yang berusaha menabrak norma. Semua terhanyut dalam mimpi masing-masing untuk menjadi keren.

Abad ini menyajikan segalanya untuk jadi terkenal, baik lewat ceramah-ceramah bullshit maupun citra-citra penuh tipu daya. Hanya dengan sedikit ketidaktahumaluan dan hasrat yang menggebu untuk dianggap ada maka jadilah selebriti. Arus ini deras mengalir, merasuki darah dan tulang, menjadikan semacam kepastian yang mau tak mau ditempuh. Di ambang pagi, semua terhenyak: siapa aku?

Pada akhirnya yang harus menang adalah kejenuhan, hingga semua omong kosong ini berakhir. Tapi putusan untuk berontak dan keluar harus didesak dari dalam sanubari. Semua terserah pada masing-masing: menjadi diam seraya berteriak-teriak di kemayaan ini, atau perlahan menutup mulut dan menggebrak pintu hingga tak mampu membuka lagi. Semuanya adalah selebriti. Kecuali siapa?

Keluhan tentang Keluhan

Di suatu malam yang pucat, setelah gelas-gelas alkohol, sebuah tweet seorang senior tampil di depan mata saya, kurang lebih berbunyi begini: Jakartans emang tolol ya, tiap hari ngeluh macet tapi tiap ada mobil keluaran baru langsung dibeli. Oke, kata tolol itu memang saya tambahkan sendiri sesuka hati. Menyebut orang Jakarta sebagai orang tolol memang tak terasa sebagai sebuah dosa.

Tadi pagi saya bangun dengan cara yang eksentrik. Belum sempat melek, otak saya sudah memikirkan tentang ide konsumerisme. Keren dan patut dikasihani, bukan? Saya tak tahu persis kenapa hal itu terjadi: mungkin tadi malam alam bawah sadar saya menyimpan konsepsi itu seraya alam sadar saya mengetik kata-kata konseptual tentang budaya massa, gaya hidup, konsumsi, dan tetek-bengeknya.

Atau mungkin juga karena tiba-tiba saat terbangun saya over-heard percakapan di luar kamar. Seseorang berbicara tentang mobil, lalu tentang membeli. Saya tak tahu persis apa topik yang sebenarnya dibicarakan. Tapi omong-omong tentang membeli mobil membawa kegelisahan saya yang masih samar-samar menjadi semakin jelas. Saya bangun dengan mengucek mata, mengira semua mimpi.

Namun, Jakarta yang macet yang penuh mobil, yang orang-orangnya sedang terkena euforia pertumbuhan ekonomi dan sedang gila-gilanya mengonsumsi tanda-tanda, yang ketika ada mobil keluaran baru langsung menuju showroom dan menukarnya dengan uang, yang mengeluh tentang macet namun makin menyuburkan kemacetan dengan mobil tergres yang baru mereka beli: itu semua bukan mimpi.

Cerita soal Jakarta dan Jakartans memang sudah bosan saya tulis. Tapi saya tak pernah punya alasan untuk berhenti, mungkin karena saya belum menemukan penyaluran atau melihat cahaya atas awan kelabu yang menggelayut. Semua keluhan saya memang tak ada artinya, mengingat setiap hari milyaran mobil tetap terbeli di bawah langit ibukota. Sama tak ada artinya dengan keluhan para Jakartans yang merengek tentang macet di dalam kenyamanan kereta kencana bermerk Jepang atau Eropa.

Ketidakberartian saya makin terasa karena saya bukan superman yang bisa meledakkan seluruh jalanan ibukota yang merembet hingga ke kota tempat saya hidup dari kecil, yang secara geografis bukan bagian Jakarta, tapi secara kultural ia adalah Jakarta. Maka ketika saya marah, saya terasa seperti seorang masokis yang menikmati penderitaan perasaan yang tak terobati.

Jakarta akan tetap gila, seperti biasa. Jakartans akan tetap tolol, seperti biasa. Saya akan tetap mengeluh, seperti biasa. Atau, mungkin suatu waktu saya akan berkesempatan menuliskan keluhan-keluhan lain tentang kehidupan Jakarta melalui gadget keren di tangan saya, saat saya sedang berhenti menyetir di dalam mobil yang lux, di tengah rimba Sudirman di Jumat malam yang legendaris itu. Semoga tidak. Tidak.