Bon Appetit

Bon appetit katamu
Aku memesan kari babi
Dan kau menatap
Ingin tapi enggan

Gereja dan mesjid runtuh
Agama abadi
Menjadi jalan
Menjadi pagar

Foto yang membekukan kita
Pada sore yang tua
Di depan rumahmu
Masih adakah?

Kita merekam masa muda
Tanpa foto dan video
Ingatan melarutkan kita
Ingatan merapuhkan kita

Di sudut meja makan
Masa depan koyak
Dan masa lalu robek
Au revoir katamu

Advertisements

Sajak Kosmopolit

Kupakai hari ini:
Converse seribu umat
Jeans Volcom nyaris sejuta
Polo shirt asal Munich

Dan aku merasa kosmopolit sekali

Menenteng Coetzee ke stasiun
Tak kubaca selembar saja
Alas untuk yogurt yang tandas
Memalukan

Dan aku sibuk dengan Xperia

Menulis sajak payah ini
Mendengar band folk Surabaya
Lewat earphone dari China
Dengan penjepit kabel Amerika

Dan aku warga dunia seutuhnya

(4 November 2015,
Di atas KRL)

Sekolah adalah Tempat Senggama

Sekolah adalah tempat senggama:
Kita mereproduksi kelas
Dan tipuan
Dan seribu omong kosong

Sekolah adalah tempat senggama:
Nikmatilah melaratmu selamanya
Hai orang miskin
Korban kekejaman sekat sosial

Sekolah adalah tempat senggama:
Kelas menengah santai di Starbucks
Menyesap bau Cappuccino
Dan terjebak di antara

Sekolah adalah tempat senggama:
Ayah-ibu memupuk deposito
Kau sekolah ke Eropa
Mewarisi bisnis, merawat kasta

Sekolah adalah tempat senggama:
Dan aku ingin mencokok
Para pembual bersuara parau
Apa itu pembebasan?

Sekolah adalah tempat senggama:
Ranjang gairah kemapanan
Hening tanpa gerak
Entah malas, entah terpaksa

Sekolah adalah tempat senggama:
Bayi budaya lahir, bubarkan saja?
Dan aku ingat Bourdieu, Illich, etc
Kangen sekolah

(4 November 2015)

La Semplice Vita

Aku pikir hidup harusnya seperti ini:
potongan-potongan kecil
narasi-narasi pendek
dan sedikit bumbu warna-warni

Lalu kita berdansa-dansi
di bawah terik lampu kota
di malam yang terlupakan
di bising jalan raya metropolitan

Semuanya adalah detail
Tak ada skenario mega dan basa-basi busuk
Kita minum, mabuk, dan melantur
Sesederhana itu

(27 Oktober 2015)

Terkadang

Terkadang
Di tengah malam seperti ini
Aku merindukan bapakku
Yang suka tertidur larut
Di masa lalu

Aku membayangkan adegan
Dimana dua lelaki berbincang
Tentang surga dan sepak bola
Di teras yang temaram
Asap rokok ditiup tawa ria

Lalu kita masuk ke dalam
Dan menonton di lantai atas
Satu di sofa, satu di kursi malas
Menggonta-ganti siaran
Dalam keheningan yang tak kikuk

Satu dua jam menonton film polisi
Terbahak dan terkejut
Oleh aksi aktor layar kaca
Lalu tulisan the end muncul
TV dimatikan dan kita turun

Besoknya malam sama terulang
Kopi, puisi, dan jeda antarkata
Tak ada yang istimewa
Dua pria berbagi gelap
Dalam kesunyian masing-masing

(5 April 2015)

Permutasi

adalah permutasi
yang terjadi saat
matamu menatap
dan kata-kata terselip
di ujung ucapan
namun tak kunjung lepas
hingga kalimat
mengulum waktu
dan menyusun ulang
dirinya sendiri
baris kata dan huruf
tanpa titik koma
permutasi terjadi
tak ada makna
hanya putaran
dan perubahan
dan gerakan
dan permutasi
kalimat batal
dan maksud tanggal
apa yang sisa?
permutasi
permutasi
tanpa arti
tanpa akhir
lalu kau dan aku
menjadi dua
di batas waktu
dibatasi klausa
yang urung satu

(2015)

Saut and I

tiba-tiba saja
aku mengingat potongan tulisan
saut situmorang
“maukah kau kucintai dengan cinta yang pernah kecewa?
…aku ingin mencintaimu dengan cinta yang pernah kecewa,
bukan dengan metafora metafora seperti penyair tua yang sok tahu tentang cinta itu!”

saut seperti aku
berjalan sepanjang hari
dengan koyak di dada
dengan luka yang menganga
dan masa lalu yang nestapa
“maukah kau menerimanya?”

seperti saut
kata-kataku patah di kerongkongkan
dan puisi adalah pelarian
saat dunia tak menerima
nasib yang terlalu pilu
“masih murnikah cinta yang pernah kecewa?”

aku dan saut
berdiam dalam hampa
memandang bayangan perempuan
yang tersenyum elok
di kepala masing-masing
“tapi apakah kau juga akan mencintaiku dengan cinta yang pernah kecewa?”

(tengah malam
15 agustus 2015)

One Day I’ll Write A Book

one day
i’ll write a book
kira-kira judulnya:
“a life of lifestyle journalist who read adorno and adore leftist thinkers”

i don’t know yet
how it’ll be written
tapi titelnya aja udah panjang dan keren dan ada left
jadi pasti laku

secara ini 2015 dan millenial berkuasa
so everything left and subversive are selling!
dan aku takkan lagi peduli soal gaji bulanan
because art is the only thing that matter

the book could be a bit kafkaesque
mungkin agak gonzo jurnalistik juga
and i’ll add some tasty theoretical gimmicks
ala-ala the rebel sell lah

mikirin aja udah menggairahkan
so i can’t wait to start writing
but i must resign first
karena nulis sambil jadi karyawan adalah pengkhianatan

(14 agustus 2015,
kereta gondangdia-depok)

Alergi

aku pergi ke dokter
menanyakan soal penyakit
yang ku tak tau apa namanya

memang apa yang lu rasa
tanya dokter

aku kesal di jakarta, dok
ndak betah
pingin minggat saja
ndak tau kenapa

dokter memeriksa
sepuluh, duapuluh menit

ia duduk lagi
mencorat-coret kertas
lalu bicara
lu punya alergi
terhadap ketololan

pantas saja
pikirku dalam hati

dokter memberi resep
dan ku pergi setelah terima kasih
di luar
aku membaca tulisan dokter
obat anti-jakarta:
nyali untuk keluar.