I should (not) write an apology

I should write an apology for the past
But life goes on
And I can only jump on
The fleeting moments of life
Like catching the rolling packed train
In Jakarta, or Utrecht, or wherever else
A constant run with
Endless/pointless breathing

I should write an apology for the future
But life is here/now
So I am busy making (un)poetic efforts
Of catching my own (un)imaginary trains
The days ahead are the days forgotten
And it got to be a sin to think
Of tomorrows, or whatever-what-nexts
As they’re illusive, never arriving, breathless

I should not write any apologies
If I die today
I die today
End of stories
Then I am caught by the train of death
The inescapable human tragedy/beauty
It should be always today
So my last breath will be a relief

(Wageningen, 06-08-2018)

Advertisements

Setelah Espresso

Setelah espresso
Dan puntung kretek
Aku berdansa dengan jam
Yang bergerak mundur
Ke masa-masa yang jauh
Saat pagi berupa bola
Berbentuk kertas
Atau biji pohon entah-apa

Di sekolah dulu
Kita menyepaknya
Dan ribut di lorong-lorong
Guru-guru tak hirau
Karena begitulah
Menjadi anak-anak
Bermain, berisik, menangis

Seketika waktu berlari
Kencang kembali kesini
Pagi minus lima derajat
Cerah matahari silau
Tubuh anak kecil itu
Lenyap ditelan tahun
Tinggal sisa potongan
Jiwa yang berteriak
Tanpa suara

Sosok itu masih ada
Mengendap di dalam
Dada yang sesak
Oleh keharusan
Menjadi dewasa
Mengetik, diam, tanpa tangis
Suatu hari ia akan
Meledak, boom!
Menjelma kesenangan
Yang sederhana

(Leeuwenborch – 8 februari 2018)

 

Bertamasya

Hari ini mari kita ke kota
Aku kan menyusun puncak gunung di matamu
Kita tak butuh kemah
Tak perlu walking pole
Dan kita akan menjadi sore
Kita akan menjelma matahari terbit

Di kota kita mengitari pusat
Dibuai gerai-gerai dari atlantik
Aku ingin memesan masa depan
Lalu menaruhnya di kantong celanamu
Dan kita akan menjadi embun pagi
Kita akan menjelma keabadian

Lelah membawa kau dan aku
Duduk di kafe trendi tepi kanal
Aku merangkai tembakau di paru-parumu
Sedang cappuccino meleleh di lidahku
Dan kita akan menjadi biji kopi
Kita akan menjelma uap

Hari tiba-tiba abu-abu
Metro melintas ke pinggiran kota
Aku merapikan odol di gigimu
Lalu selimut menjadi langit-langit
Dan kita akan menjadi satu
Kita akan menjelma bulan

(sebelas september, 2017)

Rijn Blues

nothing was blurred in the Rijn
neither fire nor sky
voice of yours filled the ears with melancholic rhythm
like a song from distant lands in the south
we kept talking on agony, on ballad, on brutality
the lives we live on is the broken ones since it began
but it was not an apathy that keeps fire burning
it was the archaic wisdom that fire will die someday

(21 Juni 2017)

Katakata

Kutenggak segelas penuh kata-kata
ambruk aku diinjak pagi
berkelana di baris-baris televisi
mampus ditelan fantasi imajinasi

Biarlah kau santap puisi itu
mabuk, hanyut ke dalam melankoli
tangis menjelma paragraf-paragraf
tentang pria tua yang sendiri di pojok

Rakus kita melahap aksara
buku-buku menampar pipi
tersadar, tersaruk ke yang nyata
hilang dibuai nominal angka

(16 Juli 2016)

Kadang Aku Bertanya

Kadang aku bertanya
Pada diriku sendiri
Kenapa kutelan luka kota
Kujejali kepala mereka
Dengan tipu dan eskapisme
Semu, palsu, artifisial

Kadang aku bertanya
Pada diriku sendiri
Kenapa ku terjaga hingga pagi
Menulisi mimpi orang lain
Sedang bara ide dalam kepalaku
Teredam, terlupakan

Kadang aku bertanya
Pada diriku sendiri
Kenapa kutaruh nalar
Di sudut rimba megapolitan
Hingga ku hilang akal
Terhempas, terbuang

Kadang aku bertanya
Pada diriku sendiri
Kenapa ku tak pergi saja
Ke bawah langit
Ke atas tanah orang lain
Seperti sajak bapakku

(12 februari 2016,
kereta gondangdia-depok)

Ribelle Merda

Gelas-gelas kaca
Berdentingan
Dan alun musik berbahasa
Entah darimana

Tersesat kita
Di labirin konsumerisme
Gaya hidup banal!
Filsafat pemberontakan?

Teringat Camus
Bayangkan terduduk ia
Tatap, renung, lompat
Tersaruk di lumpur 2000-an

Generasi-generasi
Yang diringkus
Jadi pasar
Sasaran jualan konglomerasi

Bapak-ibu membanting
Tulang terpelanting
Anak-anak merengek
Ditipu tetek-bengek

Kita membeli bahasa
Dan mimpi, masa depan
Segala rupa abstraksi
Dibuai kata dan logika brengsek!

Gedung-gedung gagah
Kapital, vagina, trend
Perbudakan post post post modern
Semua ini omong kosong!

(28 Januari 2016
jelang brunch, oh fuck brunch!)

Bon Appetit

Bon appetit katamu
Aku memesan kari babi
Dan kau menatap
Ingin tapi enggan

Gereja dan mesjid runtuh
Agama abadi
Menjadi jalan
Menjadi pagar

Foto yang membekukan kita
Pada sore yang tua
Di depan rumahmu
Masih adakah?

Kita merekam masa muda
Tanpa foto dan video
Ingatan melarutkan kita
Ingatan merapuhkan kita

Di sudut meja makan
Masa depan koyak
Dan masa lalu robek
Au revoir katamu

Sajak Kosmopolit

Kupakai hari ini:
Converse seribu umat
Jeans Volcom nyaris sejuta
Polo shirt asal Munich

Dan aku merasa kosmopolit sekali

Menenteng Coetzee ke stasiun
Tak kubaca selembar saja
Alas untuk yogurt yang tandas
Memalukan

Dan aku sibuk dengan Xperia

Menulis sajak payah ini
Mendengar band folk Surabaya
Lewat earphone dari China
Dengan penjepit kabel Amerika

Dan aku warga dunia seutuhnya

(4 November 2015,
Di atas KRL)