Remang/Tenang

: untuk Christal

Bagaimana jika aku meminjam cahaya dari matamu
agar aku bisa tetap membaca Murakami
saat rumahku murung karena lampu
tak kunjung menyala?

Ketika kota jadi remang
aku seketika teringat Ebay yang tenang
saat senang tak bersinonim dengan terang
dan ombak menjadi tembang yang sendu.

Di puncak-puncak lilin
aku ingin meniupkan namamu di situ
supaya ruang jadi kelam
dan gelap jadi selimut yang menidurkanku.

Apakah kita harus seperti laron
yang tak henti terbang mencari cahaya
dan mati dihunus lidah-lidah api
di ujung lilin-lilin yang kita sulut?

Aku ‘kan memilih bukan-terang
sebab neon-neon memberiku silinder
dan cahaya-cahaya dari ponsel
menanam radiasi di pusat retinaku.

Jadi, kenapa kita harus gusar
saat kota jadi tenang
dan sunyi jadi nyanyi
yang mengiringi malam-malam yang syahdu?

(5 Agustus 2019)

Advertisements

antara

di jalanan kota
pada sebuah musim gugur yang gigil
aku merindukan matahari dengan gemetar
dengan kegetiran seorang umat
yang mencari tuhannya di tanda-tanda alam

di perpustakaan
buku-buku itu terasa asing dan jauh
orang-orang kulit putih yang bicara tentang dunianya
sedang aku mendamba bahasa
yang berantakan, yang melenakan

di atas kereta
aku melihat hutan-hutan buatan nederland
dan membayangkan matarmaja
yang melintasi jawa
dan sawah-sawah petani yang tak diacuhkan

di kedai pinggir stasiun
aku memesan roti keju dan omong kosong eropa
lapar aku dihantam angin
makanan ibuku merasuk
menjelma melankoli yang tak tuntas

di sini
aku indonesia yang menjelma belanda
kelelahan menyusun jembatan
yang menyambungkan adat timur
dengan etiket ala barat

di tubuhku
mengalir suara ayahku
yang parau dan letih
mencari anaknya yang tersesat
di negeri nan murung ini

(27 agustus 2017)

 

Post-scriptum: Dibacakan dan divisualisasikan di film pendek “Mozaik”.

post-wageningen’s first poem yeah!

In the night commuter train
I red Meki’s WE ARE NOWHERE AND IT’S WOW
It made me forgettin ‘bout headsets
Oh how human-sound relation is reinvented
By stupid/smart technologies

In between poems
Imaginaries of Wageningen came
Like a melancholia from the past
De Kater and Nederrijn
And the girls I met in the park

In the way to parking lot
I remembered Djuran
And our wishy-washy convo in Grand Café
“I do things slowly now. I learned it from you.”
Was it a compliment?

In the streets heading home
Meghann’s email appeared up front
Within a form of yellowed silhouette
She demanded my stories of settling back in
: Moile moile

In the lights of laptop screen
I see Christal smiling sadly
She’s getting period and jaded
Djakarta lyfe
Why don’t we escape, darlin?

(6-11-2018)

mimpi-mimpi

“Every movement needs to pause at times.” (Paulo Coelho)

Bunga-bunga tidur
berserakan di halaman
mereka seperti fragmen-fragmen
yang tak beraturan
tapi menyiratkan pesan
atau mungkin tidak

Di atas kasur
air mata dan air mani bercampur
dalam cangkir suci perjamuan
kita menangis
kita bercinta
kita merayakan hidup
yang sementara ini

Mabuklah!

(Stade, 4 September 2018)

I should (not) write an apology

I should write an apology for the past
But life goes on
And I can only jump on
The fleeting moments of life
Like catching the rolling packed train
In Jakarta, or Utrecht, or wherever else
A constant run with
Endless/pointless breathing

I should write an apology for the future
But life is here/now
So I am busy making (un)poetic efforts
Of catching my own (un)imaginary trains
The days ahead are the days forgotten
And it got to be a sin to think
Of tomorrows, or whatever-what-nexts
As they’re illusive, never arriving, breathless

I should not write any apologies
If I die today
I die today
End of stories
Then I am caught by the train of death
The inescapable human tragedy/beauty
It should be always today
So my last breath will be a relief

(Wageningen, 06-08-2018)

Setelah Espresso

Setelah espresso
Dan puntung kretek
Aku berdansa dengan jam
Yang bergerak mundur
Ke masa-masa yang jauh
Saat pagi berupa bola
Berbentuk kertas
Atau biji pohon entah-apa

Di sekolah dulu
Kita menyepaknya
Dan ribut di lorong-lorong
Guru-guru tak hirau
Karena begitulah
Menjadi anak-anak
Bermain, berisik, menangis

Seketika waktu berlari
Kencang kembali kesini
Pagi minus lima derajat
Cerah matahari silau
Tubuh anak kecil itu
Lenyap ditelan tahun
Tinggal sisa potongan
Jiwa yang berteriak
Tanpa suara

Sosok itu masih ada
Mengendap di dalam
Dada yang sesak
Oleh keharusan
Menjadi dewasa
Mengetik, diam, tanpa tangis
Suatu hari ia akan
Meledak, boom!
Menjelma kesenangan
Yang sederhana

(Leeuwenborch – 8 februari 2018)

 

Bertamasya

Hari ini mari kita ke kota
Aku kan menyusun puncak gunung di matamu
Kita tak butuh kemah
Tak perlu walking pole
Dan kita akan menjadi sore
Kita akan menjelma matahari terbit

Di kota kita mengitari pusat
Dibuai gerai-gerai dari atlantik
Aku ingin memesan masa depan
Lalu menaruhnya di kantong celanamu
Dan kita akan menjadi embun pagi
Kita akan menjelma keabadian

Lelah membawa kau dan aku
Duduk di kafe trendi tepi kanal
Aku merangkai tembakau di paru-parumu
Sedang cappuccino meleleh di lidahku
Dan kita akan menjadi biji kopi
Kita akan menjelma uap

Hari tiba-tiba abu-abu
Metro melintas ke pinggiran kota
Aku merapikan odol di gigimu
Lalu selimut menjadi langit-langit
Dan kita akan menjadi satu
Kita akan menjelma bulan

(sebelas september, 2017)

Rijn Blues

nothing was blurred in the Rijn
neither fire nor sky
voice of yours filled the ears with melancholic rhythm
like a song from distant lands in the south
we kept talking on agony, on ballad, on brutality
the lives we live on is the broken ones since it began
but it was not an apathy that keeps fire burning
it was the archaic wisdom that fire will die someday

(21 Juni 2017)

Katakata

Kutenggak segelas penuh kata-kata
ambruk aku diinjak pagi
berkelana di baris-baris televisi
mampus ditelan fantasi imajinasi

Biarlah kau santap puisi itu
mabuk, hanyut ke dalam melankoli
tangis menjelma paragraf-paragraf
tentang pria tua yang sendiri di pojok

Rakus kita melahap aksara
buku-buku menampar pipi
tersadar, tersaruk ke yang nyata
hilang dibuai nominal angka

(16 Juli 2016)