Mati Muda

Tulisan tentang kematian Pierpaolo Morosini masih saja ramai dimana-mana. Sang pemain yang meninggal dunia saat sedang bertanding itu sudah dikebumikan kemarin di Bergamo, tempat kelahirannya. Mengingat kematiannya saya sekaligus mengingat kematian italiano lainnya, Marco Simoncelli. Saya meresapi kematian kedua pemuda itu sebagai contoh kematian yang sempurna.

Titus Maccius Plautus pernah menuliskan kalimat “he whom the gods love dies young”, sementara itu kitab Bhagavad Gita menyertakan ayat yang kurang lebih berbunyi “tak ada kematian yang lebih baik dari kematian di jalan kehidupan.” Berdasarkan itu, Morosini dan Simoncelli sangat beruntung. Mati muda saja sudah baik, apalagi mati saat sedang melakukan apa yang dicintai. Tak ada yang lebih baik dari kombinasi semacam itu.

Perihal mati muda, saya jadi berpikir sesuatu. Banyak tokoh panutan dan pujaan saya yang hidupnya tak lama. Mereka bernafas hanya sebentar di dunia, tapi hebatnya itu cukup untuk membuatnya melekat pada hati banyak orang. Sebut saja yang pertama adalah Yesus. Saat disalibkan Ia dikisahkan berusia sekitar 33 tahun. Sebagai seorang Kristen saya mungkin tak terlalu taat, tapi saya tetap tersentuh oleh kasihNya yang tak terbayarkan itu.

Kemudian seorang pria asal Jamaika, Robert Nesta Marley. Ia dikenal dunia sebagai Bob Marley. Si pengusung genre musik reggae yang berambut gimbal dan menghisap ganja. Ia meninggal pada usia 36 tahun karena penyakit kanker jempol kaki yang didapatnya karena bermain bola. Kakinya disarankan diamputasi tapi ia menolak dengan alasan hal tersebut melanggar ajaran rastafarinya.

Chris McCandless yang mengubah namanya menjadi Alexander Supertramp mati di usia 24 tahun. Pria cerdas ini mati di tengah cita-citanya hidup dalam model kehidupan yang ia ciptakan sendiri. Ia terbujur kaku dalam kebekuan alam liar Alaska karena memakan biji-bijian beracun. Jika ditanya siapakah petualang favorit dan inspirasi saya, saya takkan berpikir dua kali untuk menyebut namanya.

Ernesto Che Guevara juga mati pada usia yang relatif muda bagi saya, 39 tahun. Ia mati ditembak di Bolivia oleh regu penembak yang menjalankan hukuman matinya. Si revolusioner sebelum ditembak mengucap kalimatnya yang cukup populer “I know you are here to kill me. Shoot, coward, you are only going to kill a man.” Che yang hebat itu juga mengagumkan saya oleh petualangan mengelilingi Amerika Latin dengan motor bersama sahabatnya Alberto Granado.

Chairil Anwar mungkin nama terakhir yang akan saya sebut. Si binatang jalang meninggal pada usia 26 tahun. Banyak yang menyebut bahwa TBC kronis dan sipilis yang menyebabkan kematiannya. Hidupnya yang penuh pemberontakan dan sajak-sajaknya yang abadi jelas tergores pada sejarah sastra Indonesia. Puisi-puisinya banyak yang melukiskan tentang kematian. Saya yakin ia juga orang yang tak terlalu suka hidup. Mungkin.

Mereka semua idola saya, baik dalam skala fanatik maupun biasa saja. Mereka semua mati muda. Entah itu kebetulan atau tidak. Saya pun lupa apakah saya orang yang percaya kebetulan atau tidak, sungguh. Tapi yang jelas kehidupan dan kematian mereka memberi arti pada hidup saya. Selanjutnya saya berharap Tuhan yang baik hati itu menyayangi saya juga, seperti ia menyayangi Morosini, Simoncelli, Yesus, Marley, McCandless, Che, dan Chairil.

Pelarian

Tak ada yang lebih baik dari menjadi diri sendiri. Sayang itu sulit untuk dilakukan sempurna. Kita terpenjara dalam sistem yang membuat kita jadi semacam boneka panggung yang bergerak oleh arahan. Kita bersandiwara. Bahkan terlalu sering hingga kita lupa membedakan mana saat untuk berdrama, mana saat untuk jadi telanjang, murni. Dalam keterpaksaan yang mulai fasih dimainkan, kita sejatinya perlahan menjadi badut permanen.

Sebegitu lengketnya peran yang kita mainkan hingga di saat sendiripun kadang kita tetap jadi orang lain. Tak ada waktu sama sekali untuk memerankan diri yang sebenarnya. Perlahan ia mati, ditelan waktu, ditelan bosan menunggu tuannya kembali. Seiring matinya diri sendiri, apa yang sisa dari kita? Hanya seonggok daging bernama yang berjalan sesuai tombol remote control yang entah ada di tangan siapa.

Tapi itu semua bukan suatu yang abadi, ia bisa juga dihentikan. Sesiapnya kita saja untuk membuang gincu itu dan berbalik menemui diri sendiri yang telah jadi usang  terpojok di suatu sudut yang gelap dan sunyi. Alkisah ada seorang bernama Chris McCandless yang eksentrik itu. Lewat kematian dan petualangan yang tragis ia terkenal ke seluruh dunia lewat goresan buku dan adegan film. Ia jadi abadi.

Chris anak yang pintar dari keluarga yang kaya raya. Ia lulus cumlaude dan sanggup masuk Harvard, penjara paling baik di dunia. Masa depan cerah menunggunya di ujung waktu. Ia hanya perlu berjalan gontai dan meraihnya. Tapi ia menolak bentuk kepastian semacam itu dan lari mencari apa yang tak diketahui. Ia menjauh dari masyarakat yang membentuknya. Seorang diri ia berkelana, lalu menemukan dirinya sendiri, seutuhnya. Polos dan tanpa nama.

Menemui kehidupan baru yang asing sebagai diri sendiri yang terasa seperti orang lain, ia mengganti nama menjadi Alexander Supertramp. Ia buang pula segala atribut yang melekat pada dirinya yang dulu. Ia menjadi baru. Terlepas ia dari tetek-bengek aturan norma dan nilai yang mengekang. Bebas pula ia dari tanggung jawab peran sosial yang selama ini menjauhkan dirinya dari diri sendiri. Ia merdeka. Merdeka dari kemunafikan dan omong kosong ciptaan masyarakat.

Demikian ia juga meninggalkan jaman yang sedang berkembang di belakangnya. Anehnya ia menuju ke tengah alam yang sunyi sepi dan tak ada apapun. Ia hidup dalam alam bebas yang murni, tak ada industri, tak ada uang, tak ada telepon, tak ada gemerlap masa depan. Ia tinggal dalam kekelaman alam raya yang luas, yang tak terkira luasnya hingga ia tersesat. Tersesat dalam kesesatan yang dibuatnya sendiri, yang diinginkannya.

Pada akhirnya ia mati juga. Mati dalam kesepian yang mendekap bagai cahaya bulan memeluk langit malam. Sayangnya ia mati dalam keraguan. Ia sempat ingin kembali ke peradaban, tapi gagal. Seperti Sidharta, ia juga setuju bahwa bahagia hanya nyata jika dibagi. Ia pun menulis nama lamanya dalam sepucuk kertas perpisahan yang ia taruh dekat mayatnya yang membusuk. Adakah ia keliru melarikan diri dari masyarakat?

Albert dan Friedrich

Waktu membawa saya menemui seorang bernama Albert. Dia muncul dan bicara tentang persoalan paling hakiki dalam filsafat menurutnya. Baginya persoalan tersebut adalah “mengapa manusia tidak bunuh diri?” Orang tersebut kelahiran Algeria dan telah meninggal di Prancis 52 tahun yang lalu. Albert terkenal sebagai filsuf eksistensialis yang tak mau disebut eksistensialis. Ia menuliskan naskah terkenal berjudul L’Etranger. Nama belakangnya Camus.

Saya lalu merenungi pertanyaannya. Ada benarnya juga. Kenapa manusia tak bunuh diri? Padahal hidup tak lebih indah dari mati. Beban hidup dan kefanaan hidup seharusnya menjadikan orang tak perlu ragu untuk bunuh diri, menyelesaikan hidup secepatnya, supaya tak lebih sia-sia dari detik ini. Ah, tapi perkara bunuh diri tak semudah itu rupanya. Saya mau mati muda, tapi tetap tak mau bunuh diri. Kenapa?

Saya termenung lama, cukup lama sampai seorang pria tua berkumis panjang menegur, lalu berfilosofi. Ia bicara panjang lebar, lalu sampai pada kalimat “kita mencintai kehidupan bukan sebab kita sudah biasa hidup, tapi karena kita biasa mencintai.”  Pria tua tersebut asal Jerman, wataknya kadang dianggap gila, dan masyhur karena kisahnya tentang seorang nabi dari Persia bernama Zarathustra. Pria itu dikenal dunia sebagai Friedrich Nietzsche.

Kalimatnya yang saya kutip mendekam beberapa waktu lamanya dalam pikiran saya. Sampai kemudian saya memikirkan pertanyaan Albert kembali, saya baru sadar bahwa frasa yang dilontarkan Friedrich mungkin bisa jadi jawaban. Mungkin bukan jawaban final yang pasti, sebutlah semacam hipotesis. Seakan alam semesta mempertemukan saya dengan kedua pria mati tersebut untuk sebuah pesan. Untuk sebuah nasihat. Untuk sebuah omong kosong lagi.

Ya, mungkin Friedrich ada benarnya juga. Kita mencintai kehidupan, oleh karenanya kita tak bunuh diri dan mati. Tapi kecintaan kita pada hidup bukanlah karena kita sudah biasa hidup, tapi karena kita biasa mencintai. Kita terbiasa untuk menaruh cinta kasih pada apa yang ada di sekitar kita, termasuk kehidupan itu sendiri. Jadi dengan terbiasa mencintai hidup, kita tak punya daya untuk bunuh diri. Paling tidak sampai kita terbiasa mencintai kematian.

Tapi mencintai kematian itu sulit. Begitu sulitnya hingga bunuh diri bukan pilihan. Begitu sulit karena kita tak tahu seperti apa wujud kematian itu, warnanya, wanginya, suaranya. Kita tak tahu apakah ia harum atau busuk, tak tahu hitam atau putih, tak tahu merdu atau sumbang. Beda halnya dengan hidup. Kita sudah jelas tahu bahwa hidup itu “bukan seperti kembang setaman yang cerah dan lembut, tapi hutan rimba yang oleh orang sopan disebut brutal.”

Kita mengenal hidup sejak air mata tumpah tiap hari dalam wujud bayi kecil. Kita belajar hidup sembari belajar merangkak dan berjalan dengan kaki sendiri. Kita tetap belajar ketika tangan mulai mencari uang untuk diri sendiri. Dan takkan pernah berhenti belajar tentang kehidupan bahkan sampai rambut memutih dan ajal sudah di ujung pintu. Kita begitu mengenalnya, lalu mencintainya, lalu tak tega membunuhnya.

Camus ketika menanyakan hal tersebut mungkin tak berharap ada yang menjawab. Ia sadar bahwa saking hakikinya pertanyaannya tak butuh jawaban lagi. Ia mungkin mencari terus jawabannya dan tak kunjung menemu sampai mati mendekap. Demikian juga Nietzsche yang hidup lebih dulu jelas tak berniat menjawab persoalan Camus. Ia hanya menuliskannya di bab Tentang Membaca dan Menulis dalam Also Sprach Zarathustra. Lalu apa arti tulisan ini?

Durkheim

Emile Durkheim adalah salah satu dari tiga raksasa sosiologi, yang pundaknya menjadi pijakan bagi mereka yang belajar sosiologi. Sosiolog Prancis ini terkenal dengan konsepsi fakta sosialnya yang menjadi dasar pemikiran dari paradigma yang positivistik. Selain itu kebanyakan mahasiswa sosiologi mengenalnya lewat telaahnya tentang bunuh diri dan pembagian kerja dalam masyarakat. Dalam kajiannya mengenai pembagian kerja ia bicara soal solidaritas.

Durkheim membagi solidaritas berdasar tipe masyarakat. Solidaritas mekanik identik dengan masyarakat rural, tradisional, dimana tidak ada pembagian kerja yang khusus dalam masyarakat. Sementara itu, solidaritas organik erat dengan masyarakat perkotaan, modern, dan industrial, dimana terdapat spesialisasi pekerjaan. Pada tipe pertama, tiap orang mampu mengerjakan segala sesuatu sendiri tanpa bantuan orang lain. Pada tipe kedua, karena pekerjaan telah terspesialisasi pada tiap-tiap orang, maka masyarakat saling membutuhkan satu sama lain.

Intinya, semakin modern masyarakat akan semakin terspesialisasi pembagian kerjanya dan berdampak pada semakin sedikitnya keahlian yang dimiliki tiap orang dibanding pendahulunya, hal itu dikarenakan tiap orang hanya perlu mengkhususkan pada satu dua keahlian saja, sementara orang lain satu dua keahlian lain, hingga timbullah kerja sama satu sama lain. Pada masyarakat tradisional tiap orang menguasai berbagai keahlian, tak hanya satu atau dua. Saya dengan sembarang melihat antitesis telaah Durkheim ini dalam sepakbola.

Jika Durkheim melihat bahwa modernitas cenderung mengkhususkan pekerjaan atau keahlian seseorang, dalam sepakbola justru terbalik. Sepakbola modern justru memaksa pesepakbola untuk menguasai berbagai kemampuan, berbagai posisi, berbagai gaya sepakbola. Tak seperti sepak bola jaman sebelumnya yang memberikan semacam hak pada pemain bola untuk menentukan dan mengkhususkan dirinya pada satu posisi, atau satu keahlian.

Jaman sekarang seorang bek harus bisa menyerang sama baiknya dengan gelandang atau bahkan striker. Penyerang juga harus memiliki kemampuan bertahan yang baik sama seperti defender dan pemain tengah harus bisa menguasai betul kemampuan mencetak gol khas striker dan tackle keras yang bersih ala defender. Selain itu, setiap pemain pada sepak bola modern diharapkan bisa bermain di berbagai posisi, juga menguasai kedua kaki sama baiknya. Jika memenuhi syarat-syarat diatas, dipastikan si pemain punya nilai jual yang tinggi dan jadi rebutan berbagai tim di era kini.

Saya jadi berusaha membayangkan apa yang dipikirkan Durkheim jika ia tahu bahwa teorinya tak berlaku pada keajaiban global bernama sepak bola. Mungkin ia kesal, mempertahankan teorinya mati-matian meski terkesan memaksa seperti kebanyakan ilmuwan yang berdalih ini dan itu. Atau mungkin ia mengalah, mengakui bahwa realita punya cara berbicaranya, mengakui bahwa teorinya tak bisa diterapkan pada hal paling universal di dunia.

Conte

Hari itu akhir pekan. Kalau tidak salah hari minggu, kalau salah berarti hari sabtu. Seingat saya malam itu adalah pertama kalinya secara sadar saya menonton sebuah pertandingan sepak bola. Pertandingan malam itu adalah penyisihan grup Euro 2000 antara Italia dan Turki. Turnamen yang tahun itu dihelat di Belanda dan Belgia menempatkan Prancis sebagai kampiun dengan Italia sebagai runner-up. Tapi saya lebih peduli pada malam saat Italia menundukkan Turki 2-1. Malam itu.

Di malam yang spesial bagi saya itu ada dua sosok pemain yang takkan terlupakan. Yang pertama adalah Filippo Inzaghi. Siang hari sebelum pertandingan itu saya dibelikan ayah saya baju sepak bola pertama saya. Baju itu bergariskan hitam dan putih dengan bagian belakang tertulis “Inzaghi”. Baju Juventus bernomor punggung 9 itu entah dimana sekarang, tapi saya tak akan lupa. Malam itu, Inzaghi mencetak gol penalti penentu kemenangan. Ia langsung jadi favorit saya.

Yang kedua adalah Antonio Conte. Pemain bernomor delapan yang malam itu mencetak gol salto nan indah. Gol yang di ujung turnamen ditahbiskan sebagai gol terbaik Piala Eropa 2000. Sangat indah dan tak terlupakan. Terlebih bagi saya. Terlebih di malam pertama saya menonton sepakbola dengan penuh kesadaran. Si gol dan si pemain selalu tinggal dalam ingatan saya. Bahkan hingga kini, sebelas tahun berselang.

Si pemain itu tak lagi berlarian di tengah lapangan hijau. Sepatunya telah digantung tujuh tahun yang lalu, atau empat tahun setelah gol saltonya tersebut. Tapi sosoknya masih hidup di sepak bola. Tetap tinggal dalam stadion. Kini ia jadi pelatih yang berteriak lantang di pinggir garis lapangan. Memberi arahan, memuji pemainnya, marah jika ada yang salah, dan melompat bersorak saat timnya mencetak gol.

Tim yang dilatihnya adalah tim yang paling dicintainya. Tim yang dibelanya selama dua belas tahun. Juventus. Klub Italia tersukses yang juga sedang dibelanya saat gol istimewa itu terjadi. Klub yang dua tahun belakangan hancur lebur. Mencoba berevolusi dengan seorang pelatih yang tak terlalu berpengalaman namun punya cinta dan passion mendalam pada sejarah dan tradisi klub. Conte kembali demi sebuah revolusi.

Ia rupanya tak berbeda seperti tahun-tahun sebelumnya, saat masih mencari bola di tengah lapangan. Dengan semangat ala Juve ia mengatur lapangan tengah dan sebagai kapten (sebelum ia serahkan kepada Del Piero) turut memompa gairah teman-temannya. Ia tak ada bedanya. Dengan gairah yang persis ia terguyur hujan di saat mendampingi Juve yang dicintainya melawan Catania. Partai yang siaran ulangnya saya tonton sambil menulis teks ini.

Antonio Conte makin terlihat tak berubah saat big match pertama Juve di stadion baru. Juve melawan Milan. Malam itu mungkin malam paling indah setelah calciopoli. Juve dengan tegas membunuh Milan 2-0 di rumah barunya. Marchisio, si nomor delapan yang mewarisi nomor Conte, mencetak dua gol sekaligus. Dua gol yang cukup bagi saya untuk membuktikan bahwa Conte selalu sama.

Saat gol pertama Marchisio, ia kegirangan sekali. Ia melompat bak anak kecil, meninju udara, berteriak lantang. Ia sama sekali tak peduli sorot kamera, tak peduli apapun. Ia lampiaskan emosinya sebagai Juventino sejati. Bukan hanya sebagai seorang pelatih yang gembira karena sebiji gol. Ia tak berubah. Gairahnya, cintanya, semangatnya, gayanya, semuanya. Ia yang akan menaruh kembali Lo Spirito Juve di hati tiap pemain Juve. Antonio Conte!

Marx

Bapak komunis dunia, berambut urakan, berjenggot khas, berpikir dengan sungguh-sungguh untuk menyetarakan manusia. Karl Marx, seorang Jerman yang namanya malang melintang di berbagai disiplin ilmu pengetahuan. Ia juga dikenal sebagai salah satu tokoh paling berpengaruh yang memiliki banyak pengikut dan pengagum. Mungkin ia seperti nabi, bahkan Tuhan bagi sebagian orang.

Sebagai mahasiswa yang juga dicekoki pemikirannya, saya terkagum sekaligus kasihan. Kagum atas caranya menempatkan diri untuk berpihak pada kaum-kaum yang marjinal. Kagum juga atas usahanya untuk menjadikan ilmu sebagai cara mendobrak kekuasaan, bukan sekedar ilmu yang diajari dan diam kekal di ruang kuliah. Tapi saya juga agak kasihan.

Kasihan pada diri sendiri karena harus mempelajari keruwetan pemikirannya yang berat. Dan kasihan pada Marx sendiri yang terlalu utopis mengharapkan suatu masyarakat tanpa kelas. Sebuah mimpi yang tampaknya hanya tersandar dalam tidur tanpa pernah loncat ke realitas. Tapi rasa iba  itu toh tak seberapa besarnya dibanding rasa iba Marx terhadap mereka yang tertindas dan diinjak-injak oleh kapitalisme.

Bicara tentang beratnya pemikiran Marx, seorang dosen memang mengakuinya dan mengatakan bahwa untuk dapat mencerna pikirannya kita harus pernah merasakan hidup miskin, hidup tertindas. Marx sendiri memang hidup susah. Mungkin karena itulah ia dapat memahami kaum proletar yang dibelanya dan yang memujanya. Ia dapat masuk menyelami kehidupan mereka dan memikiran cara untuk mendobrak sistem yang berkuasa. Meski tak mudah direalisasikan.

Entah sampai kapan cita-cita Marx dapat terwujud merata di tiap belahan dunia. Beberapa negara pernah merasakan tata cara bernegara yang diimpikan Marx, meski tetap tak sempurna. Selain itu, banyak sekali tokoh-tokoh dunia yang membacanya dan kagum. Salah satunya adalah Soekarno, bapak negara yang memodifikasi Marxisme menjadi Marhaenisme. Meski cita-cita Marx urung terwujud, setidaknya ia bermimpi. Dan mimpi itulah yang kadang membuat orang bertahan hidup.

Lennon

John Lennon adalah sebuah fenomena internasional yang abadi. Mendengar namanya orang tak akan luput dari nama lain, The Beatles. Band rock asal kota Liverpool yang lagu-lagunya masih sangat sering terdengar dan diperbincangkan orang-orang dari seluruh dunia pada masa sekarang. Lennon bersama Paul McCartney, Ringo Starr, dan George Harrison mengembangkan Beatles dari tadinya bukan siapa-siapa menjadi legenda dunia sepanjang masa.

Dan, Lennon bisa dibilang cukup sentral di Beatles. Sebagai vokalis dan penulis lagu utama, juga dengan gitarnya, Lennon seolah roh bagi melodi-melodi yang dihasilkan Beatles. Tentu tanpa mengenyampingkan peran-peran anggota Beatles lainnya. Lennon juga yang menjadi awal bagi kelahiran The Beatles. Ia tadinya bermain dalam bersama bandnya The Quarrymen. Satu per satu dia mendapatkan McCartney, Harrison, lalu Ringo Starr yang masuk sebagai pengganti Pete Best, drummer sebelumnya.

Lennon ialah pemberontak tulen. Seseorang yang antikemapanan dan dengan segala daya upayanya berusaha mendobrak kemapanan tersebut. Dia tampil dengan gagah untuk bisa merusak hegemoni musik dunia yang terkesan statis dan itu-itu saja. Menyajikan musik yang lalu terkenal di seluruh dunia dengan sebutan rock. Gebrakan Lennon benar-benar menggoncangkan dunia. Kehebatan Beatles yang bubar pada 1970, masih terasa sampai sekarang, dan kapanpun.

Dengan segala pesonanya, Beatles masih menyimpan penggemar-penggemar fanatik. Penggemar-penggemar yang bahkan mungkin lahir setelah bubarnya mereka. Beatles juga jadi salah satu pengaruh terbesar bagi band-band di seantero dunia. Pengaruh Beatles dijamin kekal. Orang-orang sampai selamanya akan selalu mendengarkan musik mereka, meski usia mereka sebenarnya telah berakhir jauh-jauh hari. Berakhir karena perseteruan antara Lennon dan McCartney. Konflik yang menyudahi Beatles, meski tak benar-benar menyudahinya.

Setelah Beatles bubar, Lennon memutuskan untuk bersolo karir. Selama karir solonya dia sempat menoreh beberapa catatan emas. Salah satu yang tak akan dilupakan orang adalah karyanya berjudul Imagine. Lagu yang disebut-sebut sebagai himne perdamaian dan antiperang. Juga lagu lain yang berjudul Give Peace A Chance. Lennon ternyata mencintai perdamaian meski jiwanya pemberontak. Saya jadi ingat dengan sosok Bob Marley. Bagi saya, sosok keduanya sekilas mirip. Sama-sama pemberontak, dan sama-sama pecinta perdamaian.

Usia Lennon tak panjang. Sepuluh tahun setelah Beatles bubar, Lennon meninggal. Ia meninggal dengan cara ditembak oleh penggemarnya yang gila di depan tempat tinggalnya di New York. Lennon mati, tapi namanya masih hidup hingga kini. Menjadi inspirasi musisi-musisi dunia, anak-anak kecil yang bermimpi menjadi bintang, dan seluruh orang yang ingin berontak dari kehidupan yang membosankan. Dan karena hari ini adalah tepat peringatan ulang tahunnya yang ke-70, saya tentu ingin juga mengucapkan: selamat ulang tahun, Lennon!

van Bronckhorst

Tendangan jarak jauh tiba-tiba dilontarkan pemain bernomor 5. Beberapa detik kemudian gawang Uruguay robek. Pemain bernomor 5 itu adalah Giovanni van Bronckhorst, salah satu ‘wakil’ Indonesia di tim nasional Belanda. Dan tendangan yang berbuah gol itu dicetak pada semifinal Piala Dunia 2010, gol pembuka yang akhirnya menghantar Belanda ke final ketiga sepanjang sejarah. Final yang kemudian gagal, lagi.

Dan cerita soal pemain yang biasa disapa Gio ini tak akan sebatas gol tadi. Ini juga cerita tentang hal-hal yang berbau Indonesia, seperti dirinya yang punya aroma Nusantara. Seperti sudah banyak yang tahu, Gio adalah keturunan Maluku. Ayahnya keturunan Maluku dan ibunya memang orang Maluku. Gio pun dikenal memiliki aksen khas orang Indonesia Timur. Namun begitu, dia mengaku belum sempat menghirup wangi udara Indonesia, yang sesak dan gerah. Yang polutif, kotor, dan kelaparan. Lapar akan pengakuan yang berbau positif dan prestatif.

Oleh karenanya ketika Belanda melaju kencang tanpa noda hingga masuk final, dengan Gio sebagai kapten, orang-orang Indonesia ramai menyebut namanya. Menyebutnya dengan bumbu puji dan kebanggaan. Mereka merasa bangga terhadap ‘putra bangsa yang tercuri’. Mereka memujinya setinggi langit, apalagi dengan ban kapten melingkar dilengannya. Sebuah kebanggaan yang mungkin tak terucap, ketika keturunan bangsa terjajah kini memimpin penjajahnya. Dan itulah yang van Bronckhorst lakukan, dengan baik dengan warna. Warna yang menggores langit Indonesia dengan harapan.

Harapan itu tentu berkaitan dengan prestasi sepak bola nasional. Kita tentu rindu punya pemain sekelas van Bronckhorst di dalam tim nasional Merah Putih yang sedang loyo dan nihil prestasi ini. Kita merasa butuh untuk punya ‘Gio-Gio lainnya’ di atas rumput Gelora Bung Karno, yang diharapkan akan mampu melambungkan nama Indonesia. Tak usah hingga final Piala Dunia, minimal hingga sempat masuk Piala Dunia. Sama seperti van Bronckhorst yang telah tiga kali.

Van Bronckhorst adalah gambaran yang menyenangkan sekaligus miris. Gembira karena minimal dia punya darah Merah Putih. Miris karena dia menunjukkan bahwa kita butuh prestasi yang bisa dipandang dunia. Orang-orang Indonesia memujanya bukan hanya karena dia keturunan Maluku, tapi juga karena memang tak ada yang bisa dibanggakan dari negeri ini. Ya semoga saja suatu hari van Bronckhorst yang akan bangga pada Indonesia.

Nedved

Pria Ceko ini sosok yang spesial buat saya sebagai Juventini. Rambutnya yang pirang gondrong dan bebas seolah menceritakan kebebasannya menggiring bola sesukanya di lapangan hijau. Laiknya pebola dari Eropa Timur, Pavel Nedved sangat kuat, cerdas, dan militan. Pensiun di usia 36 tahun pada musim panas 2009, Nedved mengakhirinya karirnya di Turin tanpa gelar.

Pemain berjuluk Czech Cannon ini ditransfer pada 2001 dari Lazio seiring eksodus besar-besaran yang dilakukan klub sekota AS Roma itu. Dengan transfer mahal dia membayarnya dengan habis-habisan bertarung bagi Juve. Puncaknya pada 2003 dia memenangi Ballon D’Or, penghargaan bagi pebola Eropa terbaik.

Padahal di tahun itu, ketika Juve berhasil melenggang ke final Liga Champions dan menantang tim senegara AC Milan, Nedved tak bisa tampil di final yang saat itu berlangsung di Manchester. Penyebabnya: kartu kuning yang diterimanya kala Juve mempercundangi Real Madrid. Dengan jelas dia mengekspresikan kekecewaannya segera setelah wasit menghadiahi kartu kuning itu, sadar bahwa dia tak akan bisa tampil di final yang diidamkannya.

Toh, dia pria yang dewasa. Dia menerima lapang dada, karena aturan memang seperti itu. Bukti pentingnya pemain bernomor 11 ini pun tampak dari kekalahan dari Milan di final. Nedved malang, Juve malang. Selanjutnya, Nedved berusaha sekuat tenaga mengembalikan Juve di final Liga Champions, namun hingga karirnya berakhir dia gagal.

Pavel Nedved semakin digemari seluruh Juventini di dunia atas keputusannya bertahan di Juve meski mereka harus bermain di Serie B. Sebuah dampak yang ditanggung klub akibat skandal Calciopoli yang melibatkan otak transfer Juve, Luciano Moggi. Seluruh tim berkabung, degradasi pertama sepanjang sejarah klub. Selanjutnya hal yang terjadi memang telah terprediksi, sebuah eksodus.

Pemain-pemain bintang Juve yang enggan bermain di kasta kedua pergi mencari klub lain yang lebih “layak”. Ibrahimovic, Zambrotta, Vieira, Cannavaro, dan nama besar lainnya banyak yang pergi meninggalkan Juve begitu saja. Tapi Nedved yang gemilang dan banyak diincar banyak klub besar bergeming. Dia mengikrarkan janji setianya bagi Juve bersama bintang lainnya yang rela bermain mengembalikan harga diri Juve. Cukup setahun dia turut andil mengembalikan Juve ke habitatnya, Serie A.

Kembali ke Serie A ternyata Juve masih seperti yang dulu. Dengan Nedved juga masih sama, beringas dan spartan. Di lapangan tak ada yang menyangka jika dia adalah pemain yang sudah berada di ujung karir, umurnya tak lagi muda. Namun yang ditunjukkannya justru sebaliknya. Dia tampil bak pemain berusia awal 20-an yang berlari kesana kemari tanpa mengenal lelah.

Itulah Nedved. Di musim terakhirnya dia masih tampil sama seperti ketika pertama kali tiba di Turin. Tapi usia memang tak bisa dibohongi. Dengan kepala tegak, Pavel Nedved meninggalkan lapangan hijau sebagai pemain. Kita tak tahu mungkin saja suatu saat dia kembali sebagai pelatih.